Penyebab Rematik hingga Cara Mengobati

rematik-doktersehat

DokterSehat.Com– Rematik adalah penyakit yang menyerang persendian dan struktur di sekitarnya. Rematik bisa menyerang bagian kepala sampai kaki. Rematik juga biasa disebut dengan nama rheumatoid arthritis (RA). Penyakit ini dapat diatasi menggunakan obat rematik yang biasa diberikan dokter adalah analgesik untuk menghilangkan rasa nyeri.

Penyebab rematik yang perlu Anda ketahui

Seperti diungkapkan Riadi, faktor pencetus OR biasanya karena ada penyakit lain atau keadaan tertentu. “Belum diketahui apa penyebab primer, namun penyebab rematik sekunder bisa karena kegemukan, sehingga beban yang harus disangga oleh lutut terlalu besar, atau karena berlebihan memakai lutut, misalnya pemain bola profesional,” katanya.

Sementara jenis penyakit rematik lain yang banyak diderita masyarakat Indonesia adalah arthritis reumatoid (AR). Penyakit ini paling sering menyerang kelompok usia 20-50 tahun. Gejala rematik yang umum ditemukan adalah sendi kaku saat bangun tidur dan penderita sulit bergerak.

Penyebab rematik pada orang berusia produktif umumnya diakibatkan oleh peradangan. Peradangan ini bisa karena asam urat atau sebab-sebab lain. Penyebab rematik karena asam urat ini banyak dijumpai pada pria berusia 30-an dan 40-an tahun.

Jenis ini, menurut Dr Harry Isbagio, terjadi karena kelebihan hasil metabolisme purin yang tertimbun di persendian. Timbunan ini yang menimbulkan rasa sakit di persendian.

Dokter Harry sering menemui kesalah pahaman masyarakat mengenai asam urat. Pasien sering datang berkonsultasi sambil membawa hasil tes asam urat. “Mereka bertanya mengapa asam uratnya normal tetapi dokter mendiagnosis terkena rematik. Mereka salah mengerti soal rematik. Tidak semua penyebab rematik dikarenakan asam urat,” jelasnya.

Gangguan autoimun seperti pada penyakit Lupus termasuk jenis rematik yang disebabkan peradangan. Pada gangguan ini kekebalan tubuh tidak berfungsi sebagai pembasmi bakteri, virus atau benda asing yang memasuki tubuh. Kekebalan tubuh justru merusak jaringan tubuh yang sehat, termasuk jaringan yang ada di persendian.

Begitupun dengan rheumatoid arthritis (RA). Penyakit itu termasuk peradangan persendian yang penyebabnya masih belum diketahui. Menurut Encyclopedia of Public Health, telah ada indikasi bahwa pola-pola genetik bertanggungjawab terhadap timbulnya penyakit ini.

RA bisa menyerang orang pada umur berapa pun, termasuk balita. Peradangan penyakit ini terjadi pada jaringan synovial yang terdapat dalam persendian. Jaringan ini berfungsi untuk menghasilkan cairan pelumas sendi. Pada pasien RA, jaringan ini membengkak dan menunjukkan banyak sel yang meradang.

Obat rematik yang sekarang ada di pasaran belum ada yang bisa menyembuhkan penyakit rematik. Obat-obat itu hanya untuk mengurangi rasa nyeri dan mencegah kerusakan sendi lebih lanjut. “Pengobatan rematik biasanya jangka panjang,” ujarnya.

Jika rematik yang menyerang pasien sudah sampai tahap deformitas sendi (perubahan bentuk sendi) maka biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan termasuk mahal, bahkan ada obat yang harganya mencapai puluhan juta rupiah sekali suntik.

Mengenali gejala rematik pada tubuh

Secara umum ada sejumlah gejala rematik, seperti pembengkakan, kemerahan, nyeri di lutut, siku, pergelangan maupun di bagian sendi-sendi lain, gangguan di otot dan tendon. Gejala rematik memang cukup luas.

Rematik awal cenderung memengaruhi sendi kecil Anda terlebih dahulu – terutama sendi yang menempelkan jari ke tangan dan jari-jari kaki ke kaki Anda.

Ketika penyakit berkembang, gejala rematik sering menyebar ke pergelangan tangan, lutut, pergelangan kaki, siku, pinggul dan bahu. Dalam kebanyakan kasus, gejala rematik terjadi pada sendi yang sama di kedua sisi tubuh.

Sekitar 40 persen orang yang menderita rematik juga mengalami tanda dan gejala rematik yang tidak melibatkan sendi. Rematik dapat memengaruhi banyak struktur lainnya, termasuk:

  • Kulit
  • Mata
  • Paru-paru
  • Jantung
  • Ginjal
  • Kelenjar ludah
  • Jaringan saraf
  • Sumsum tulang
  • Pembuluh darah

Tanda-tanda dan gejala rematik dapat bervariasi dalam tingkat keparahan dan bahkan bisa datang dan pergi. Periode peningkatan aktivitas penyakit, yang disebut flare, bergantian dengan periode remisi relatif – ketika pembengkakan dan rasa sakit berkurang atau menghilang. Seiring waktu, rematik dapat menyebabkan sendi berubah bentuk dan bergeser keluar dari tempatnya.

Jenis-jenis rematik

Rematik terdiri dari 150-an jenis. Tetapi ada empat jenis rematik yang paling sering dijumpai di masyarakat kita. Berikut penyebab rematik yang sering terjadi, di antaranya:

  1. Oteoarthritis yang disebabkan oleh pengapuran
  2. Rematik luar sendi yang menyerang jaringan di luar tulang rawan
  3. Rematik peradangan
  4. Rematik yang disebabkan oleh pengeroposan.

Sekitar 50 persen keluhan nyeri sendi disebabkan oleh pengapuran. Pengapuran berarti menipisnya jaringan tulang rawan yang berfungsi sebagai bantalan persendian.

Bantalan dalam persendian yang aus itu menyebabkan terjadinya gesekan tulang sehingga menyebabkan nyeri. Pengapuran ini merupakan proses degenerasi yang dimulai pada usia 40 tahun. Kecepatan proses degenerasi berbeda pada tiap-tiap orang.

Sendi seseorang bisa mulai bermasalah di usia 40-an. Namun ada orang yang sampai usia 70-an sendinya baik-baik saja. Cepat lambatnya proses tadi ditentukan oleh beberapa faktor risiko, antara lain: mutu tulang rawan dan kelebihan berat badan. Tulang rawan yang bagus akan lebih tahan terhadap kondisi aus. Ibarat ban mobil jika kualitasnya bagus maka persendian tidak mudah aus walau dipakai lama.

Jenis rematik yang paling banyak diderita

Sebelum tahu cara mengobati rematik, berikut ini rematik paling sering diderita di dunia yang perlu Anda tahu, di antaranya:

1. Arthritis reumatoid

Jenis rematik yang paling banyak diderita penduduk dunia adalah arthritis reumatoid (AR), yaitu rematik radang sendi, gout (asam urat). Penyebab rematik ini oleh kadar asam urat yang berlebihan dalam darah.

2. Osteoarthritis

Osteoarthritis (OR), yaitu pengapuran sendi. Menurut dr. Riardi Pramudiyo, SpPD-KR dari RS.Hasan Sadikin, Bandung, OR adalah penyakit sendi yang paling banyak dijumpai. Rematik jenis ini bersifat degenaratif, yang angka kejadiannya meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Gejala rematik yang menyertainya antara lain, nyeri pada persendian setelah penderita melakukan aktivitas, atau saat perubahan cuaca dari panas ke dingin.

Bagaimana cara mengobati rematik?

Rematik dapat diatasi dengan obat rematik, yang biasa diberikan dokter pada pasien penyakit rematik adalah golongan analgesik (penghilang rasa nyeri), yang bisa menekan prostaglandin, penyebab timbulnya peradangan. Obat ini memiliki efek samping gangguan lambung. Karena itu, hadirnya obat rematik yang lebih spesifik seperti celecoxib, disambut gembira karena memiliki efek samping yang kecil pada lambung dan ginjal.

Golongan obat lain adalah kortikosteroid, untuk mengatasi inflamasi (peradangan) dan menekan sistem kekebalan tubuh sehingga reaksi radang pada rematik berkurang. Bentuk obat ini bisa berupa krim yang dioles pada kulit atau suntikan. Sayangnya, obat ini memiliki efek samping seperti pembengkakan, nafsu makan bertambah, berat badan naik, serta emosi yang labil.

Selain dengan obat-obatan, untuk mengurangi rasa nyeri juga bisa dilakukan tanpa obat, misalnya dengan kompres es. Cara ini bisa menurunkan ambang nyeri dan mengurangi fungsi enzim. Kemudian, banyak jenis sayuran yang bisa dikonsumsi penderita rematik, misalnya seledri, kubis atau wortel yang bisa mengurangi gejala rematik. Beberapa jenis herbal juga bisa membantu melawan nyeri rematik, misalnya jahe dan kunyit, biji seledri, daun lidah buaya, rosemary, aroma terapi, atau minyak juniper yang bisa menghilangkan bengkak pada sendi. Penyakit ini juga bisa diatasi dengan tanaman brotowali yang dipercaya dapat mengobati rematik.

Cara mengurangi rematik secara alami

Selain obat-obatan dan tanaman herbal, pengobatan rematik dapat dilakukan dengan cara berikut ini:

1. Menjaga berat badan

Menjaga berat badan ideal adalah salah satu langkah bijaksana untuk mengurangi nyeri di sendi lutut. Setiap kelebihan berat badan membebani sendi lutut serta panggul, dan menambah rasa nyeri karena rematik. Selain itu bobot tubuh berlebih memperbesar risiko asam urat.

2. Olahraga ringan

Pengobatan rematik selanjutnya melakukan olahraga ringan seperti jalan kaki yang bermanfaat untuk penderita rematik karena asam urat. Manfaat jalan kaki dapat membakar kalori, memperkuat otot dan membangun tulang yang kuat tanpa mengganggu persendian yang sakit.

Untuk melakukan olahraga sebaiknya meminta pendapat dokter atau terapis, supaya mengetahui gerakan-gerakan yang terbaik. Disarankan untuk menghindari olahraga yang terlalu membebani lutut yuang menjadi penyebab rematik. Olahraga bulutangkis, voli, tenis, joging, dan bela diri sebaiknya tidak dilakukan. Apalagi ketika rematik jenis asam urat itu sedang kumat. Berdiri terlalu lama akan menimbulkan sakit yang luar biasa.

Bagaimana cara mencegah rematik?

Selain pengobatan rematik, Anda juga bisa mencegah datangnya penyakit ini, seperti tidak melakukan olahraga secara berlebihan, menjaga berat badan tetap stabil, serta menjaga agar asupan makanan selalu seimbang sesuai dengan kebutuhan tubuh, terutama banyak memakan ikan dari laut dalam.

Jika Anda merasa tidak cukup makan ikan laut, mengonsumsi suplemen bisa menjadi pilihan, terutama yang mengandung omega 3. Dalam omega 3 terdapat zat yang sangat efektif untuk memelihara persendian agar tetap lentur.

Jangan anggap enteng gejala rematik yang timbul. Begitu rasa nyeri mulai muncul, segeralah periksakan diri ke dokter untuk mendeteksi mana yang sekedar pegal linu biasa atau yang merupakan gejala rematik.

Nah, sekarang sudah tahu apa itu rematik hingga pengobatan rematik kan, Teman Sehat?