Penyebab Flek Paru-Paru yang Harus Anda Tahu

flek-paru-paru-doktersehat

DokterSehat.Com – Indonesia adalah salah satu negara yang penderita flek paru-paru atau tuberkulosis (TB/TBC) paling tinggi di dunia. Penyakit flek paru ini cenderung lebih sering menyerang balita dan anak-anak. Oleh karena itu, peran orang tua diperlukan untuk mencegah penyebaran penyakit ini–dengan mengetahui berbagai penyebab flek paru-paru.

Mengetahui Lebih Jauh Penyebab Flek Paru-Paru

Perlu diketahui, flek paru-paru adalah penyakit yang sangat berbahaya. Oleh karenanya, penting untuk Anda ketahui gejala awal dan penyebab penyakit tersebut serta langkah pengobatan penyakit flek paru.

Kualitas hidup penderita flek paru-paru bisa dipengaruhi oleh cepat-tidaknya penanganan yang diberikan dan kedisiplinan mengonsumsi obat.

Penyebab utama flek paru-paru adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini dapat menular ke orang lain melalui semburan dahak atau ingus yang dikeluarkan penderita. Oleh sebab itu, jika Anda berada dekat dengan penderita flek paru-paru Anda harus lebih berhati-hati.

Namun, pada beberapa kasus seseorang yang dinyatakan mengalami flek paru-paru tidak sadar bahwa tubuhnya sudah terjangkit bakteri ini. Bakteri Mycobacterium tuberculosis dapat masuk ke dalam tubuh dan menjadi tidak aktif selama beberapa tahun, kemudian bisa berubah menjadi aktif kembali.

Kondisi ini membuat seseorang yang pernah mengalami flek paru-paru, mempunyai risiko yang lebih besar terjangkit lagi di kemudian hari. Namun tidak semua penderita mengalami hal ini, ada juga yang bisa dinyatakan positif menderita flek paru-paru beberapa minggu setelah infeksi.

Gejala yang bisa dikenali saat seseorang menderita flek paru-paru adalah batuk berdahak, berdarah atau batuk lebih dari 3 minggu, munculnya demam, mengalami penurunan berat badan hingga menurunnya nafsu makan. Guna memastikan flek paru-paru, dibutuhkan pemeriksaan langsung, pemeriksaan fisik dan tes penunjang seperti rontgen dan tes dahak.

Selain itu, mereka yang berpotensi terkena flek paru-paru, di antaranya:

  • Seseorang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah seperti penderita diabetes, kanker dan HIV.
  • Orang yang sudah lanjut usia dan anak-anak.
  • Mereka yang sering mengonsumsi minuman beralkohol dan merokok.
  • Pekerja medis yang sering berinteraksi dengan penderita flek paru-paru.
  • Mereka yang bermukim di lingkungan yang kumuh dan padat.

Mengobati Flek Paru-Paru

Saat Anda dipastikan menderita flek paru-paru, dokter akan memberikan obat antibiotik dan umumnya diberikan dalam beberapa kombinasi. Kombinasi itu melibatkan 3-4 antibiotik harian.

Setelah mengonsumsi antibiotik, pasien akan merasa lebih baik dalam beberapa minggu, namun bukan berarti bakterinya sudah hilang dari tubuh. Oleh karenanya, penting bagi penderita flek paru-paru untuk menyelesaikan tahapan pengobatan hingga akhir meski gejala-gejalanya sudah menghilang.

Perlu Anda ketahui, jika pengobatan tidak dilaksanakan hingga tuntas, bakteri dapat tersisa di dalam tubuh yang membuat penyakit flek paru kembali terjadi. Penggunaan antibiotik yang tidak selesai sesuai anjuran dokter bisa membuat bakteri kebal terhadap antibiotik. Kondisi ini akan semakin mempersulit pengobatan flek paru-paru.

Guna menghindari bakteri menjadi kebal, karenanya ikuti anjuran dokter. Penghentian penggunaan antibiotik hanya berdasarkan anjuran dokter.

Berikut adalah jenis antibiotik yang umum digunakan untuk mengatasi flek paru-paru, di antaranya: ethambutol, rifampicin, isoniazid dan pyrazinamide. Sementara itu beberapa obat seperti ethambutol, isoniazid dan rifampicin memiliki sejumlah efek samping.

Ethambutol dapat memengaruhi kondisi penglihatan, isoniazid berpotensi merusak saraf dan rifampicin dapat menurunkan keefektifan alat kontrasepsi yang mengandung hormon.

Selain itu, beberapa obat antibiotik yang diberikan dokter bisa membuat urine Anda berwarna merah (namun bukan darah), kesemutan, kulit menguning, telinga berdenging dan mual.

Apabila tubuh mengalami perubahan suhu menjadi panas atau dingin hingga tubuh Anda menunjukkan gejala yang terus memburuk seperti batuk berdarah, segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan.

Masa penyembuhan flek paru-paru tiap orang berbeda tergantung pada kondisi kesehatan dan tingkat keparahan yang dialaminya. Penderita flek paru-paru umumnya akan mulai membaik dan berhenti menular setelah mengonsumsi antibiotik selama 2 minggu.

Namun untuk memastikan Anda sembuh total, pengidap flek paru-paru harus mengonsumsi antibiotik selama 6 bulan. Jika penderia tidak mengonsumsinya sesuai anjuran dokter, bakteri flek paru-paru tidak hilang seluruhnya meski kondisi kesehatan terlihat membaik.

Infeksi bakteri juga berpotensi menjadi resistan terhadap antibiotik. Jika ini terjadi, flek paru-paru akan menjadi lebih sulit diobati dan jauh lebih berbahaya.

Hal penting lainnya yang harus Anda ketahui saat menjalani pengobatan flek paru-paru adalah beberapa gejala justru memburuk 2-3 minggu setelah mendapatkan perawatan.

Bahkan, hasil sinar X juga bisa tidak menunjukkan dampak yang signifikan dari pengobatan hingga beberapa bulan. Oleh karenanya, penanganan dan deteksi harus segera dilakukan jika Anda sudah menunjukkan gejala terinfeksi.

Pencegahan Flek Paru-Paru

Meski flek paru-paru adalah penyakit berbahaya, Anda tidak perlu khawatir karena penyakit ini dapat dicegah melalui vaksin BCG atau Bacillus Calmette–Guérin. Di Indonesia, vaksin ini termasuk dalam daftar imunisasi wajib dan diberikan sebelum bayi berusia 2 bulan.

Meski wajib diberikan pada usia anak-anak, vaksin BCG juga diperbolehkan diberikan pada orang dewasa yang masa anak-anak nya belum mendapatkan vaksin ini. Akan tetapi, efektivitas vaksin ini pada orang dewasa akan lebih rendah, sehingga sering kali tidak dianjurkan kecuali untuk orang-orang yang berisiko tinggi seperti petugas medis.

Anda juga bisa mencegah flek paru-paru dengan mengenakan masker saat berada di tempat umum atau berinteraksi dengan pengidap TB, hingga rutin mencuci tangan. Lantas, apabila Anda mengidap flek paru-paru, beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah penyebarannya adalah:

  • Jangan membuang dahak sembarangan.
  • Tutupi mulut saat batuk atau bersin.
  • Memiliki sirkulasi udara rumah yang baik dan pencahayaan dari sinar matahari yang cukup.
  • Hindari tidur dengan orang lain sampai beberapa minggu setelah menjalani pengobatan.