Terbit: 5 Maret 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Ada banyak penyebab nyeri haid yang dialami wanita. dismeNyeri haid atau dismenore adalah salah satu masalah paling umum yang dirasakan wanita. Rasa nyeri ini bervariasi mulai dari yang biasa hingga yang sangat kuat sehingga banyak wanita terganggu aktivitasnya. Kondisi ini biasanya terjadi saat sebelum masuk siklus menstruasi atau berlanjut hingga beberapa hari saat menstruasi.

7 Penyebab Nyeri Haid yang Ringan hingga Berbahaya

Penyebab Nyeri Haid yang Harus Diketahui Wanita

Rasa sakit yang muncul dengan intensitas rendah dan segera hilang mungkin tidak perlu dikhawatirkan. Peluruhan endometrium yang ada di rahim memang dapat menyebabkan rasa sakit dan ini disebut sebagai dismenore primer, di mana rasa sakit muncul tapi tidak ada penyakit yang terdeteksi.

Di sisi lain, dismenore atau nyeri haid juga dapat hadir sebagai dismenore sekunder, yaitu nyeri haid yang disebabkan oleh kondisi medis tertentu.

Berikut adalah beberapa penyebab nyeri haid yang penyebabnya adalah kondisi medis tertentu, yaitu:

1. Endometriosis

Salah satu penyebab nyeri haid yang umum dan rasanya tidak bisa ditahan adalah endometriosis. Penyakit ini muncul karena lapisan endometrium mengalami pertumbuhan  penyebaran dan tumbuh di luar rahim.

Endometriosis paling umum melibatkan ovarium, tuba falopi, dan jaringan yang melapisi panggul. Endometrium juga dapat menyebar di luar organ panggul, namun kasus ini lebih jarang terjadi. Ketika melibatkan ovarium, kondisi ini dapat menyebabkan kista yang disebut endometrioma terbentuk.

Endometriosis sangat umum menyebabkan nyeri, terutama selama periode menstruasi. Selain menjadi penyebab nyeri haid, endometriosis juga dapat menyebabkan beberapa gejala lain seperti:

  • Pendarahan berlebihan saat menstruasi
  • Pendarahan di luar menstruasi
  • Nyeri saat berhubungan intim
  • Nyeri ketika buang air besar atau kecil.

Nyeri haid yang disebabkan oleh endometriosis tidak dapat mengukur tingkat keparahan kondisi ini. Pemeriksaan lebih lanjut dibutuhkan untuk mengetahui tingkat keparahan penyakit ini. Seseorang yang memiliki gejala endometriosis sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter karena kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi lain, seperti infertilitas.

Perawatan untuk endometriosis merupakan perawatan jangka panjang. Dokter mungkin akan menyarankan penggunaan obat pereda nyeri atau terapi hormon untuk membantu mengatasi gejala nyeri perut.

Perawatan lanjutan akan disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Jika Anda berkeinginan untuk memiliki anak, dokter akan menyarankan pembedahan konservatif (pengangkatan sebagian jaringan rahim) atau perawatan kesuburan, sedangkan histerektomi (pengangkatan rahim) mungkin disarankan bagi Anda yang tidak berencana untuk memiliki anak.

Perawatan seperti pembedahan konservatif dapat mengatasi endometriosis sementara, tetapi masih terdapat risiko kondisi ini akan terjadi lagi di kemudian hari.

2. Mioma atau Fibroid Uterus

Mioma atau uterine fibroid merupakan tumor bersifat nonkanker yang tumbuh di otot rahim. Pertumbuhannya bisa terjadi di permukaan luar, tengah, dan dalam rahim. Kondisi ini sangat jarang berkembang menjadi kanker dan memang tidak terkait dengan peningkatan risiko kanker rahim.

Ukuran fibroid dapat sebesar biji dan tidak terdeteksi oleh mata telanjang, namun bisa juga membesar hingga memperbesar rahim. Fibroid dapat tumbuh sebagai fibroid tunggal atau fibroid ganda. Dalam kasus yang sangat parah, multiple mioma dapat menyebabkan rahim membesar hingga ke tulang rusuk.

Banyak wanita yang mengalami kondisi ini namun tidak menyadarinya karena fibroid sering kali tidak menimbulkan gejala apa pun. Lokasi, ukuran, dan jumlah fibroid biasanya akan memengaruhi gejala.

Gejala fibroid rahim atau mioma dapat meliputi:

  • Pendarahan menstruasi yang berat
  • Menstruasi berlangsung lebih dari seminggu
  • Tekanan atau nyeri panggul
  • Sering buang air kecil
  • Sembelit
  • Kesulitan mengosongkan kandung kemih
  • Nyeri punggung atau kaki

Pengobatan untuk fibroid kemungkinan bukan merupakan perawatan tunggal. Perawatan dapat meliputi perubahan pola makan, perubahan gaya hidup, terapi obat, hingga prosedur operasi. Konsultasikan ke dokter jika Anda mengalami gejala yang disebutkan di atas.

3. Penyakit Radang Panggul

Penyakit radang panggul atau pelvic inflammatory disease (PID) juga dapat menjadi penyebab nyeri haid. Kondisi ini muncul akibat komplikasi penyakit seperti infeksi saluran kemih atau karena ada infeksi penyakit menular seksual. Infeksi gonore dan klamidia adalah yang paling umum menyebabkan kondisi ini.

Bakteri yang dapat menyebabkan PID juga dapat masuk ke saluran reproduksi ketika penghalang yang diciptakan serviks terganggu. Hal ini dapat terjadi setelah seseorang melahirkan, keguguran, atau aborsi.

PID dapat menyebabkan rasa sakit di perut bagian bawah dan panggul. Selain itu, penyakit ini juga dapat menimbulkan gejala lain seperti:

  • Keputihan parah dengan bau tidak sedap
  • Pendarahan rahim abnormal
  • Nyeri atau pendarahan saat berhubungan intim
  • Kesulitan dan sakit saat buang air kecil
  • Demam disertai menggigil

Kondisi yang tidak parah biasanya hanya menyebabkan gejala ringan atau bahkan tidak menunjukkan gejala sama sekali. Anda harus melakukan pemeriksaan apabila mengalami gejala seperti nyeri parah, mual dan muntah, demam, dan keputihan berbau busuk.

Cara mengatasi nyeri haid yang diakibatkan oleh PID adalah dengan perawatan antibiotik. Jika Anda memiliki pasangan, maka pasangan Anda juga harus diperiksa dan mendapatkan perawatan karena terdapat kemungkinan bakteri ditularkan dari pasangan Anda.

Selama perawatan penyakit radang panggul, Anda dan pasangan diharuskan untuk tidak melakukan hubungan seksual sementara waktu.

4. Adenomiosis

Adenomiosis adalah kondisi merambahnya atau bergeraknya jaringan endometrium yang melapisi rahim ke dalam otot-otot rahim. Kondisi ini menyebabkan dinding rahim menebal yang kemudian memicu pendarahan menstruasi yang berat, nyeri perut selama menstruasi, dan nyeri ketika berhubungan seksual.

Penyebab adenomiosis tidak diketahui secara pasti, namun diduga akibat dari peningkatan kadar hormon estrogen. Ketika kadar estrogen menurun pada saat wanita mengalami menopause, biasanya adenomiosis akan hilang dengan sendirinya.

Gejala adenomiosis meliputi:

  • Nyeri haid berkepanjangan
  • Pendarahan di luar menstruasi
  • Pendarahan menstruasi berat
  • Siklus haid yang lebih lama dari biasanya
  • Gumpalan darah selama pendarahan menstruasi
  • Sakit saat berhubungan seksual
  • Bagian perut terasa sakit ketika disentuh

Perawatan untuk adenomiosis bergantung pada tingkat keparahannya. Perawatan dapat berupa obat antiinflamasi, terapi hormon, atau dapat juga prosedur operasi. Adenomiosis berbeda dengan endometriosis, tapi keduanya dapat terjadi secara bersamaan.

Adenomiosis tidak selalu berbahaya, tapi kondisi ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan karena terganggunya aktivitas normal. Contohnya karena kondisi ini dapat menyebabkan rasa sakit ketika berhubungan seksual.

Selain itu, penderita adenomiosis juga memiliki risiko yang tinggi mengalami anemia. Kondisi ini dapat menimbulkan gejala seperti kelelahan, lemas, dan pusing.

5. Stenosis Serviks

Serviks adalah bagian sistem reproduksi wanita yang menghubungkan vagina dan rahim. Serviks dapat terbuka dan tertutup atau menyempit. Serviks tertutup dapat terjadi pada sebagian siklus menstruasi. Namun terdapat juga kondisi di mana serviks terlalu sempit atau selalu tertutup yang disebut dengan stenosis serviks.

Seseorang yang memiliki kondisi ini kemungkinan akan merasakan menstruasi yang tidak teratur dan menyakitkan. Hal ini disebabkan karena aliran menstruasi yang melambat dan menyebabkan tekanan dalam rahim meningkat sehingga menyebabkan rasa sakit.

Stenosis serviks juga dapat menyebabkan ketidaksuburan. Pasalnya, serviks yang tertutup menyebabkan sperma tidak dapat masuk ke dalam rahim dan membuahi sel telur.

Seseorang dapat terlahir dengan kondisi ini atau dapat juga mengembangkan kondisi ini karena penyebab lain seperti operasi atau prosedur uterus, prosedur serviks, kanker serviks, kista, terapi radiasi, jaringan parut, dan endometriosis.

Perawatan yang dilakukan bergantung pada gejala dan kebutuhan pasien. Jika tidak menimbulkan gejala, stenosis serviks kemungkinan tidak membutuhkan perawatan apa pun.

Jika seseorang yang memiliki kondisi ini memiliki keinginan untuk hamil, maka dokter mungkin akan merekomendasikan penggunaan dilator serviks. Perangkat kecil yang ditempatkan di serviks ini dapat mengembang seiring waktu dan meregangkan serviks.

Stenosis serviks dapat menyebabkan beberapa komplikasi seperti ketidaksuburan, menstruasi tidak teratur, dan akumulasi cairan. Kondisi ini juga berisiko menyebabkan hematoma (darah menstruasi menumpuk di rahim) dan piometra (akumulasi nanah di dalam rahim).

6. Efek Samping IUD Tembaga

IUD adalah alat kontrasepsi yang cukup efektif untuk mencegah kehamilan. Salah satu jenis IUD yang dapat digunakan adalah IUD tembaga. Kontrasepsi jenis ini merupakan kontrasepsi nonhormonal yang dapat mencegah kehamilan hingga 10 tahun.

Sama seperti penggunaan IUD lainnya, penggunaan IUD tembaga juga dapat menimbulkan sejumlah efek samping. Salah satu efek sampingnya adalah menstruasi yang lebih berat dan menyakitkan. Efek samping biasanya terjadi pada beberapa bulan pertama setelah pemasangan,

Jika Anda telah menggunakan IUD selama beberapa tahun dan nyeri haid dan pendarahan yang lebih berat terjadi, kemungkinan nyeri tersebut disebabkan oleh faktor lain. Sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk mengetahui penyebabnya.

Sebelum Anda menggunakan alat kontrasepsi apapun, pastikan Anda telah memahami berbagai manfaat dan risiko yang mungkin terjadi.

7. Bentuk Rahim Abnormal

Pembentukan rahim terjadi sudah sejak janin perempuan berada dalam kandungan. Rahim berkembang dari dua struktur yang disebut dengan saluran Müllerian. Dalam beberapa kasus, perkembangan rahim dapat tidak sempurna dan menyebabkan kelainan pada bentuk rahim.

Kelainan bentuk rahim dapat meliputi:

  • Bicornuate  uterus (terdapat dua uterus mengarah ke satu serviks)
  • eptate uterus (uterus normal dengan pita fibrosa dari jaringan yang membelahnya)
  • Unicornuate  uterus (uterus berkembang hanya dari satu saluran Müllerian)
  • Uterus didelphys (terdapat dua uterus, dua serviks, dengan satu vagina

Setiap bentuk yang berbeda memiliki risiko yang juga berbeda-beda. Kondisi ini dapat menyebabkan sakit saat berhubungan seksual, meningkatnya risiko keguguran, hingga ketidaksuburan. Bentuk rahim yang abnormal juga sangat mungkin menjadi penyebab nyeri haid.

Kram menstruasi yang disebabkan karena bentuk rahim abnormal berasal dari sumbatan dan membran yang membagi uterus dan vagina.

Kelainan bentuk rahim dapat memberikan efek yang berbeda-beda pada penderitanya. Konsultasikan dengan dokter tentang berbagai risiko yang mungkin terjadi apabila Anda memiliki kondisi ini.

Baca Juga: Perbedaan Keputihan Mau Haid dan Hamil, Ternyata Tidak Jauh Berbeda

Faktor Risiko Nyeri Haid

Sebelumnya telah disinggung tentang dismenore primer dan juga sekunder. Setiap wanita berkemungkinan untuk mengalami dismenore primer, namun terdapat beberapa kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi.

Berikut adalah beberapa faktor risiko nyeri haid:

  • Berusia di bawah 30 tahun
  • Mulai pubertas lebih awal (usia 11 tahun atau lebih muda)
  • Mengalami pendarahan hebat selama menstruasi
  • Memiliki riwayat keluarga mengalami dismenore
  • Merokok

Cara Mengatasi Nyeri Haid

Penyebab nyeri haid memang berbeda-beda dan cara mengatasinya juga tentu berbeda-beda disesuaikan dengan penyebabnya. Namun jika yang Anda rasakan merupakan nyeri haid primer, maka Anda dapat mencoba perawatan di rumah untuk mengatasi kondisi ini.

Berikut adalah beberapa perawatan di rumah untuk membantu nyeri haid:

  • Kompres hangat bagian panggul atau punggung
  • Mandi air hangat
  • Memijat perut
  • Latihan fisik atau olahraga secara teratur
  • Berlatih teknik relaksasi dan yoga
  • Menjaga asupan makanan bergizi
  • Mengonsumsi vitamin dan suplemen seperti vitamin B6, vitamin B1, vitamin E, omega-3, kalsium, atau magnesium
  • Berbaring dengan lutut ditekuk
  • Mencegah perut kembung dengan mengurangi asupan alkohol, kafein, garam, dan gula
  • Konsumsi obat pereda nyeri yang dijual bebas (tidak disarankan untuk dilakukan jangka panjang)

Kapan Harus ke Dokter?

Nyeri haid akibat dismenore primer umumnya dapat diatasi dengan perawatan di rumah. Apabila nyeri haid tidak dapat diatasi dengan cara-cara tersebut dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, Anda mungkin perlu berkonsultasi ke dokter untuk memastikan kondisi Anda.

Diskusikan dengan dokter apabila Anda memiliki kondisi seperti:

  • Mengalami menstruasi yang menyakitkan paling tidak selama 3 bulan
  • Menemukan gumpalan darah saat menstruasi
  • Rasa sakit yang berlanjut setelah pemasangan kontrasepsi IUD
  • Mengalami kram yang disertai dengan diare dan mual
  • Mengalami nyeri panggul saat tidak sedang menstruasi.

Itu dia informasi mengenai penyebab nyeri haid yang perlu diketahui. Penyebab nyeri haid memang sangat beragam dan membutuhkan penanganan yang berbeda-beda. Jika Anda memiliki kondisi yang cukup parah, jangan ragu untuk berkonsultasi ke dokter. Deteksi dini penyakit akan sangat membantu dalam memilih penanganan yang paling tepat.

 

  1. Anonim. 2018. Pelvic inflammatory disease (PID). https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pelvic-inflammatory-disease/diagnosis-treatment/drc-20352600. (Diakses 5 Maret 2020).
  2. Anonim. Endometriosis. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/endometriosis/diagnosis-treatment/drc-20354661. (Diakses 4 Maret 2020).
  3. Anonim. Uterine Fibroids. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/uterine-fibroids/symptoms-causes/syc-20354288. (Diakses 4 Maret 2020).
  4. Davidson, Jordan. 2018. 7 Reasons You Have Period Pain. https://www.everydayhealth.com/pictures/reasons-your-period-might-painful/. (Diakses 5 Maret 2020).
  5. Martel, Janelle dan Erica Cirino. 2017. What Causes Painful Menstrual Periods and How Do I Treat Them?. https://www.healthline.com/health/painful-menstrual-periods. (Diakses 4 Maret 2020).
  6. Moore, Kristeen dan Jacquelyn Cafasso. 2017. Adenomyosis. https://www.healthline.com/health/adenomyosis. (Diakses 5 Maret 2020).
  7. Osborn, Corinne O’Keefe. 2018. Why Is My Cervix Closed If I’m Not Pregnant?. https://www.healthline.com/health/closed-cervix. (Diakses 4 Maret 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi