Terbit: 18 Juni 2020 | Diperbarui: 20 Juli 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Terdapat berbagai kondisi yang bisa menjadi penyebab ngiler, bisa terkait dengan kondisi telinga, hidung, tenggorokan, atau kelainan saraf. Jika ngiler terjadi pada bayi, hal tersebut adalah sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan. Sementara, jika kondisi ini dialami oleh orang dewasa, keluarnya air liur berlebih adalah sesuatu yang harus diwaspadai. Simak penjelasan lengkap mengenai penyebab tidur ngiler dan cara mengatasinya.

7 Penyebab Ngiler saat Tidur dan Cara Mengatasinya

Penyebab Ngiler saat Tidur

Dalam banyak kasus, penyebab tidur ngiler bisa disebabkan oleh produksi air liur yang berlebihan, masalah dengan menelan, atau konsumsi obat tertentu. Air liur berlebihan yang juga dikenal sebagai hipersalivasi atau sialorrhea ini kadang bisa menjadi tanda terdapat masalah kesehatan yang serius.

Jika Anda bangun setiap pagi dengan bantal yang penuh dengan air liur, mungkin sudah waktunya untuk mencari tahu apa yang terjadi pada tubuh. Berikut adalah beberapa kondisi yang mungkin menjadi penyebab ngiler saat tidur, di antaranya:

1. Alergi Musiman

Penyebab ngiler ini jarang disadari karena bisa disebabkan oleh alergi musiman. Apakah mata terasa gatal, hidung meler, dan bersin menyertai keluarnya air liur? Jika iya, berarti Anda mungkin menderita alergi musiman, kondisi yang bisa menyebabkan produksi air liur berlebih. Alergen yang paling umum menyebabkan hal ini adalah jamur dan serbuk sari.

2. Sinus Congestion atau Infeksi Saluran Pernapasan

Sinus terletak di bagian belakang tulang dahi, bagian dalam struktur tulang pipi, kedua sisi batang hidung, dan belakang mata. Sinus bisa meradang karena pilek, alergi, atau masalah pada hidung. Jika sinus Anda meradang atau terinfeksi, hal itu dapat menyebabkan penyumbatan dan menyebabkan drainase yang tidak diinginkan. Drainase ini akhirnya bisa keluar dalam bentuk air liur.

3. Radang Tenggorokan (Faringitis) dan Radang Amandel

Jika Anda kesulitan menelan karena sakit tenggorokan, Anda mungkin menderita faringitis. Kondisi ini bisa disebabkan oleh virus atau bakteri serta dapat menimbulkan bercak merah dan putih di tenggorokan. Menurunnya kemampuan menelan, baik itu karena faringitis atau radang amandel dapat menyebabkan air liur berlebih di mulut dan bisa menjadi penyebab tidur ngiler.

4. Sleep Apnea

Gangguan tidur yang disebut sleep apnea juga dapat dikaitkan penyebab ngiler saat tidur. Sleep apnea dapat terdiri dari dua bentuk: obstructive sleep apnea dan central sleep apnea. Obstructive sleep apnea adalah ketika saluran napas Anda berulang kali terhambat selama tidur. Sedangkan central sleep apnea adalah ketika otak tidak mengirim sinyal yang tepat yang digunakan untuk bernapas.

Pernapasan yang tidak teratur ini dapat menyebabkan produksi air liur yang berlebihan dan menjadi penyebab tidur ngiler.

5. Kelainan Saraf

Kondisi medis tertentu dapat menjadi penyebab ngiler saat tidur, terutama kondisi yang menyebabkan hilangnya kontrol otot wajah. Kondisi neurologis seperti cerebral palsy, penyakit Parkinson, amyotrophic lateral sclerosis (ALS), atau stroke, dapat menyebabkan kelemahan otot yang memengaruhi kemampuan menutup mulut dan menelan air liur

Kondisi lain yang dapat menjadi penyebab ngiler adalah epiglotitis, bell’s palsy, atau sindrom Guillain-Barré.

6. Mononukleosis

Penyebab ngiler lainnya juga bisa disebabkan oleh mononukleosis. Kondisi yang juga disebut demam kelenjar ini adalah infeksi yang disebabkan oleh virus Epstein-Barr (EBV). Penyebaran virus ini terjadi melalui cairan tubuh, terutama air liur.

Selain mengakibatkan produksi air liur berlebih atau menjadi penyebab tidur ngiler, gejala lainnya yang bisa terjadi apabila seseorang mengalami kondisi ini adalah:

  • Radang tenggorokan
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di bagian leher, bawah ketiak, dan selangkangan
  • Muncul bintik merah tua atau ungu di langit mulut

7. Efek Samping dari Pengobatan

Penyebab ngiler saat tidur, kadang-kadang juga bisa disebabkan akibat konsumsi obat-obatan tertentu. Berikut ini adalah beberapa obat yang bisa menyebabkan produksi air liur berlebihan, antara lain:

  • Obat untuk mengatasi gangguan kejiwaan
  • Obat untuk mengatasi penyakit Alzheimer
  • Obat untuk mengatasi myasthenia gravis

Cara agar Tidak Ngiler saat Tidur

Setelah Anda mengetahui berbagai penyebab ngiler saat tidur, hal penting yang harus diketahui adalah mengetahui cara agar tidak tidur ngiler. Pada dasarnya, opsi perawatan dilakukan berdasarkan penyebab yang mendasarinya.

Misalnya, pendekatan non-invasif seperti pengobatan dan terapi motorik oral. Dalam kasus yang lebih serius, dokter mungkin mempertimbangkan pendekatan yang lebih invasif, termasuk pilihan perawatan seperti pembedahan dan radioterapi.

Berikut ini adalah berbagai cara agar tidak tidur ngiler yang bisa dicoba, di antaranya:

1. Mengubah Posisi Tidur

Jika penyebab ngiler terkait dengan posisi tidur, cobalah untuk beralih tidur terlentang. Posisi ini dapat mencegah air liur merembes keluar dari mulut. Sebagai tambahan, Anda juga bisa menggunakan bantal wedge—bantal dengan sudut kemiringan sebesar 15°—yang dapat membantu tubuh berada dalam posisi yang sama sepanjang malam.

2. Terapi wicara

Seorang dokter dapat merekomendasikan terapi wicara. Tujuannya adalah untuk meningkatkan stabilitas rahang dan kekuatan lidah serta mobilitas. Terapi ini juga dapat membantu seseorang untuk menutup bibir sepenuhnya.

Terapi wicara mungkin memerlukan waktu, tetapi seseorang dapat mempelajari teknik untuk meningkatkan menelan dan mengurangi air liur.

3. Mengobati Alergi dan Sinus

Infeksi dan alergi sinus dapat menyebabkan peningkatan produksi air liur dan menyebabkan hidung tersumbat. Hidung tersumbat menyebabkan seseorang bernapas melalui mulut, sehingga air liur lebih mudah keluar.

4. Obat-Obatan

Seorang dokter dapat merekomendasikan obat untuk menghilangkan air liur berlebih, terutama pada pasien dengan kondisi neurologis. Beberapa obat yang bisa digunakan adalah:

  • Scopolamine, obat yang diberikan dalam bentuk patch dan ditempatkan pada kulit sepanjang hari. Patch melepaskan obat secara terus menerus dan satu patch biasanya berlangsung selama sekitar 72 jam.
  • Glycopyrrolate, obat bisa diberikan dalam bentuk suntikan atau dalam bentuk pil. Obat ini mengurangi produksi air liur tetapi dapat menyebabkan mulut kering.
  • Atropine sulfate, obat yang diberikan dalam bentuk tetes di mulut ini biasanya digunakan sebagai perawatan terakhir.

5. Botox Injections

Injeksi botulinum toksin (Botox) telah digunakan untuk mengobati air liur pada orang dengan gangguan neurologis. Seorang dokter dapat menyuntikkan Botox ke kelenjar ludah, biasanya dengan bantuan pencitraan ultrasound. Botox melumpuhkan otot-otot dan mencegah kelenjar ludah berfungsi. Efek samping metode ini biasanya bertahan sekitar 6 bulan.

6. Operasi

Pembedahan adalah pilihan terakhir dan biasanya hanya digunakan ketika kondisi neurologis yang mendasari menyebabkan air liur yang parah.

Metode bedah mungkin direkomendasikan untuk orang yang mengalami air liur yang banyak dan terus menerus setelah perawatan lain tidak berhasil. Metode ini mungkin termasuk menghilangkan kelenjar ludah sublingual atau submandibular.

 

  1. Barry, Paula S. 2018. Why Am I Drooling? 4 Causes of Excessive Drooling. https://www.pennmedicine.org/updates/blogs/health-and-wellness/2018/october/drooling. (Diakses pada 18 Juni 2020).
  2. Hayes, Kristin. 2020. Drooling Causes and Treatments. https://www.verywellhealth.com/what-causes-drooling-1191909. (Diakses pada 18 Juni 2020).
  3. Pietro, MaryAnn De. 2018. What is the cause of drooling?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/321622. (Diakses pada 18 Juni 2020).
  4. The Healthline Editorial Team. 2019. What Causes Drooling?. https://www.healthline.com/health/drooling. (Diakses pada 18 Juni 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi