Terbit: 19 Januari 2020
Ditulis oleh: Devani Adinda Putri | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Apa penyebab masokis pada seseorang? Masokis adalah kelainan seksual dimana seseorang memiliki rasa kesenangan untuk disakiti atau disiksa. Seorang pecandu masokis seksual memiliki kecenderungan ingin dipukuli, diikat, dihina, atau dibuat menderita untuk mencapai kepuasan seksualnya. Ketahui apa itu masokis, penyebab, dll.

7 Penyebab Masokis, Kelainan Seksual yang Harus Diwaspadai!

Apa Itu Masokis?

Masokis adalah gangguan psikoseksual yang ditandai dengan kepuasan seksual dengan cara disakiti, dipukuli, diikat, dihina, dilecehkan, atau dibuat menderita oleh pasangan seksualnya.

Pecandu masokis juga merasa senang untuk mengalami tekanan berupa kecemasan, rasa bersalah, ketakutan, rasa malu, dan pikiran obsesif tentang masokisme seksual tersebut.

Perilaku ini termasuk dalam kategori penyimpangan seksual atau disebut juga dengan paraphilias, yaitu kondisi dimana seseorang memiliki fantasi, keinginan, preferensi, dan desakan untuk membangkitkan gairah seksual dengan menjadi masokis.

Istilah masokis ini pertama kali dicetuskan oleh seorang penulis dari Australia bernama Chevalier Leopold von Sacher-Masoch, ia menuliskan betapa ia merasa puas saat dipukuli dan disakiti secara fisik. Istilah ini juga digunakan untuk mendefinisikan perilaku orang yang menikmati situasi penghinaan.

Baca Juga: Penyimpangan Seksual: Jenis, Cara Mengatasi, dll

Penyebab Masokis

Serupa dengan beberapa penyimpangan seksual yang tidak diketahui penyebabnya, belum ada penelitian yang membuktikan secara pasti tentang apa yang menyebabkan seseorang memiliki perilaku masokis karena indikatornya sangat luas.

Beberapa teori mencoba menjelaskan penyebab masokis, berikut ini:

1. Fantasi Seksual

Masokis termasuk dalam jenis paraphilias seksual. Sebagian perilaku paraphilias seksual disebabkan karena fantasi seksual yang ditahan atau tidak ditunjukan dan malah menjadi lebih besar dan kuat.

Ketika fantasi seksual tersebut tidak ditindaklanjuti atau berusaha untuk disembunyikan, orang tersebut akan berada dalam tekanan dan malah merasa semakin terangsang. Perilaku masokisme seksual ini sering dikaitkan dengan perilaku seksual yang tidak tersalurkan.

2. Bentuk Pelarian

Teori lain menyampaikan bahwa perilaku masokis ini adalah sebuah bentuk pelarian dari berbagai faktor kehidupan yang pernah orang tersebut alami. Dengan pelarian dalam fantasi ini, orang tersebut merasa menjadi orang yang baru dan berbeda, serta mereka mungkin mendapat pengalihan dan kepuasan tersendiri.

3. Trauma

Berdasarkan dari teori psikoanalitik, pemicu seseorang memiliki perilaku masokis ini adalah karena adanya trauma di masa anak-anak atau di masa lalu terkait dengan pelecehan seksual atau mengalami kekerasan yang berdampak buruk.

Trauma akan kejadian traumatis yang menyakitkan tersebut bermanifestasi dari waktu ke waktu menjadi gangguan paraphilic atau kecenderungan penyimpangan seksual dimana orang tersebut malah menikmati kesakitan tersebut.

4. Kepuasan Seksual

Masokisme adalah perilaku seksual yang cukup jarang karena umumnya tidak ada orang yang menyukai untuk disakiti, dipukuli, atau dilecehkan saat berhubungan seksual dengan pasangan yang umumnya adalah seorang sadistis, yaitu seseorang yang mencapai kepuasan seksual dengan cara menyakiti pasangannya.

Berbeda dengan kebanyakan orang, pecandu masokisme mencapai titik kepuasan dalam proses disakiti tersebut. Inilah pemicu terbesar yang membuat mereka menjadi seorang masokis.

Penyebabnya adalah untuk memenuhi fantasi, rangsangan, kenikmatan, dan puncak seksual yang tidak bisa digantikan dengan aktivitas seksual biasa seperti yang dicetuskan oleh Chevalier Leopold von Sacher-Masoch.

Baca Juga: Masokis, Kelainan Seksual yang Harus Diwaspadai

5. Kekerasan Seksual

Pengalaman seksual yang buruk juga memicu seseorang menjadi masokis walaupun indikator ini sangat luas dan tidak sepenuhnya bisa dipastikan.

Beberapa teori mempercayai bahwa seseorang yang memiliki pengalaman buruk berupa kekerasan seksual, kekerasan fisik, kesedihan mendalam, hingga trauma masa lalu dapat memicunya menjadi seorang masokis. Walaupun demikian, tidak ada bukti valid yang membuktikan teori ini.

6. Perilaku yang Tidak Diketahui

Perilaku masokis dapat dipicu oleh kecenderungan untuk selalu bersikap bersalah, menunduk, dan mematuhi sesuatu atau seseorang yang kemudian dikaitkan dengan kebutuhan dan status gender dalam lingkungan sosial . Berdasarkan data terkait, masokisme lebih sering terjadi pada pria daripada pada wanita.

Selain itu, seorang masokis memiliki perilaku khas yaitu ketakutan, khawatir tidak diinginkan, mengalahkan diri sendiri, menuduh orang lain namun menghukum dirinya sendiri. Semua perilaku tersebut indikatornya sangat luas dan tidak diketahui penyebabnya.

7. Pengaruh Lingkungan

Faktor lingkungan dapat memengaruhi perilaku, pola pikir, gaya hidup, hingga preferensi seksual seseorang.

Sebagai contoh, seseorang yang tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis, pernah mengalami kekerasan dalam keluarga, atau pernah menjalin hubungan dengan seorang sadistik dapat memicu perilaku masokis terbentuk di dalam dirinya.

Terlepas dari semua faktor penyebab masokisme tersebut, pemicu masokis yang pasti tidak diketahui karena indikatornya sangat luas dan setiap pecandu masokis cenderung memiliki penyebab yang berbeda-beda.

Gejala Masokisme

Setelah mengetahui penyebab masokisme, berikut ini adalah gejala masokisme, yaitu:

  • Memiliki dorongan seksual yang nyata untuk dipukuli, dihina, diikat, atau disiksa.
  • Dorongan atau fantasi seksual ini sudah berlangsung setidaknya selama enam bulan.
  • Fantasi seksual tersebut menyebabkan gangguan, kesulitan, dan kecemasan yang membuat dirinya tidak nyaman bila tidak melakukannya.

Kebanyakan orang menyadari gejala tersebut namun menganggap hal tersebut tidak wajar untuk diceritakan, sehingga umumnya tidak ada upaya untuk mengatasi atau mengontrol fantasi seksual tersebut.

Baca Juga: Mengenal Apa Itu BDSM, Seks yang Sering Dikaitkan dengan Kekerasan

Hubungan Masokis dan Sadistik

Segala bentuk perilaku masokisme dikaitkan dengan perilaku sadisme. Bila seorang masokis mencapai kepuasan seksual dengan cara disakiti, maka pecandu sadistis mencapai kepuasannya dengan cara menyakiti pasangan seksualnya.

Kedua perilaku seksual ini saling berhubungan dan cenderung saling membutuhkan. Keduanya termasuk dalam jenis penyimpangan seksual dan dapat membahayakan terutama untuk pecandu masokis. Perilaku ini mungkin dapat diatasi atau dikontrol dengan beberapa jenis psikoterapi dan obat-obatan.

 

  1. AMERICAN JOURNAL OF PSYCHOTHERAPY, Vol. 51, NO. 4, Fd 1997. Masochism Revisited:
    Reflections on Masochism and Its Childhood Antecedents. https://psychotherapy.psychiatryonline.org/doi/pdf/10.1176/appi.psychotherapy.1997.51.4.552. (Diakses pada 17 Januari 2020).
  2. M. John, Grohol, Psy.D. 2019. Sexual Masochism & Sadism Disorder Symptoms. https://psychcentral.com/disorders/sexual-masochism-sadism-symptoms/. (Diakses pada 17 Januari 2020).
  3. R. George Brown , MD. 2019. Sexual Masochism Disorder. https://www.msdmanuals.com/professional/psychiatric-disorders/sexuality,-gender-dysphoria,-and-paraphilias/sexual-masochism-disorder. (Diakses pada 17 Januari 2020).
  4. Study. 2020. Sexual Masochism & Sexual Sadism: The Characteristics of Paraphilias Derived From Pain. https://study.com/academy/lesson/sexual-masochism-sexual-sadism-the-characteristics-of-paraphilias-derived-from-pain.html. (Diakses pada 17 Januari 2020).
  5. The Editors of Encyclopaedia Britannica. 2019. Masochism. https://www.britannica.com/topic/masochism. (Diakses pada 17 Januari 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi