Terbit: 5 April 2020
Ditulis oleh: Mutia Isni Rahayu | Ditinjau oleh: dr. Antonius Hapindra Kasim

Penyebab leher bengkak sangat beragam. Sebagian penyebab leher bengkak bukan kondisi yang perlu dikhawatirkan, tapi terdapat juga beberapa sebab yang perlu Anda waspadai. Kenali berbagai kondisi yang dapat menyebabkan pembengkakan pada leher berikut ini!

10 Penyebab Leher Bengkak dari Ringan hingga Berbahaya

Penyebab Leher Bengkak

Pembengkakan atau benjolan pada leher dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Kondisi ini dapat disebabkan oleh pembengkakan yang ada di sekitar leher seperti kelenjar getah bening, kelenjar tiroid, atau kelenjar parotis.

Kenali 10 penyebab leher bengkak yang mungkin menyerang Anda berikut ini!

1. Pembengkakan Kelenjar Getah Bening

Pembengkakan kelenjar getah bening merupakan salah satu penyebab leher bengkak yang paling umum.

Kelenjar getah bening adalah kelenjar kecil yang menyaring cairan getah bening, yang merupakan cairan bening yang bersirkulasi melalui sistem limfatik. Kelenjar getah bening terletak di beberapa bagian tubuh seperti ketiak, bawah rahang, kedua sisi leher, kedua sisi pangkal paha dan atas tulang selangka.

Membengkaknya kelenjar getah bening biasanya merupakan respons terhadap infeksi, penyakit, atau stres. Ketika dihadapkan dengan infeksi atau penyakit, kelenjar getah bening akan menumpuk sel-sel mati atau berpenyakit.

Pembengkakan kelenjar getah bening di bagian leher menandakan adanya infeksi di sekitar leher seperti flu, infeksi saluran pernapasan atas, infeksi telinga, infeksi sinus, radang tenggorokan, infeksi gigi, hingga infeksi HIV.

Pada kondisi yang lebih serius seperti gangguan sistem kekebalan tubuh dan kanker biasanya seluruh kelenjar getah bening di tubuh akan mengalami pembengkakan.

Penggunaan obat-obatan tertentu juga terkadang dapat memicu pembengkakan pada kelenjar getah bening.

2. Nodul Tiroid

Nodul tiroid adalah benjolan padat dan keras atau berisi cairan yang berkembang di kelenjar tiroid.

Tiroid adalah kelenjar kecil berbentuk kupu-kupu yang terletak di dekat laring dan di depan trakea. Kelenjar ini menghasilkan hormon yang berperan dalam sistem metabolisme tubuh.

Nodul tiroid merupakan kondisi yang cukup umum dan biasanya tidak berbahaya. Benjolan ini dapat muncul sebagai satu nodul atau sekelompok nodul.

Klasifikasi nodul tirodi s terbagi menjadi tiga yaitu dingin, hangat, dan panas, tergantung pada nodul memproduksi hormon tiroid atau tidak. Nodul dingin tidak menghasilkan hormon tiroid, nodul hangat bekerja seperti kelenjar tiroid normal, dan nodul panas menghasilkan hormon tiroid berlebihan.

Sebagian besar nodul tiroid tidak berbahaya dan tidak menimbulkan gejala apapun, bahkan keberadaannya sering tidak disadari, kecuali nodul berkembang cukup besar.

Nodul yang besar dapat menekan batang tenggorokan dan menimbulkan beberapa gejala seperti:

  • Leher bengkak
  • Sakit di pangkal leher
  • Kesulitan menelan
  • Kesulitan bernapas
  • Suara serak.

Apabila nodul panas yang menghasilkan hormon tiroid berlebihan, Anda mungkin akan mengalami beberapa gejala lainnya seperti:

  • Detak jantung cepat dan tidak teratur
  • Lemah otot
  • Penurunan berat badan tanpa sebab
  • Kesulitan tidur
  • Gugup

3. Mononukleosis

Mononukleosis atau demam kelenjar adalah sekelompok gejala yang biasanya disebabkan oleh infeksi virus Epstein-Barr (EBV).

Kondisi ini paling umum menyerang remaja, meskipun sebenarnya virus ini dapat menyerang di usia berapa saja. Seseorang yang pernah mengalami infeksi EBV biasanya tidak akan terkena infeksi ini lagi semasa hidupnya karena akan kebal terhadap infeksi ini.

Virus EBV dapat menular melalui ciuman atau berbagi makanan dan minuman dengan orang yang terinfeksi karena virus ini dapat menular melalui air liur. Mononukleosis dapat menjadi penyebab leher bengkak sebab infeksi ini menyebabkan kelenjar getah bening dan leher membengkak.

Selain pembengkakan leher, penyakit ini juga dapat menyebabkan gejala lain seperti:

  • Sakit kepala
  • Kelelahan
  • Lemah otot
  • Bintik-bintik merah muda atau ungu datar yang muncul di kulit dan mulut
  • Pembengkakan amandel
  • Berkeringat di malam hari
  • Pembengkakan hati atau limpa (jarang terjadi)

Mononukleosis biasanya tidak serius dan biasanya akan hilang dengan sendirinya dalam waktu 1 hingga 2 bulan.

4. Gondok

Gondok adalah kondisi di mana kelenjar tiroid mengalami pembengkakan disebabkan oleh berbagai faktor.

Penyebab umum gondok adalah kekurangan yodium. Yodium membantu tiroid menghasilkan hormon tiroid. Kekurangan yodium menyebabkan tiroid bekerja lebih keras sehingga kelenjar akan membesar.

Selain kekurangan yodium, ada banyak faktor lain yang dapat menyebabkan gondok, salah satunya adalah nodul tiroid yang sudah disebutkan sebelumnya. Penyakit gondok juga dapat disebabkan oleh:

  • Penyakit Graves
  • Penyakit Hashimoto
  • Peradangan tiroid
  • Kanker tiroid
  • Kehamilan

Penyebab gondok yang berbeda menghasilkan berbagai jenis penyakit gondok yang berbeda juga. Berikut adalah beberapa jenis penyakit gondok:

  • Gondok koloid (endemik). Gondok ini disebabkan oleh kekurangan yodium. Kondisi ini biasanya menyerang orang-orang yang tinggal di daerah yang langka akan yodium.
  • Gondok non toxic (sproradik ). Penyebab jenis gondok ini  belum diketehaui pasti. Gondok sporadik ini termasuk jinak, karena tidak mempengaruhi produksi dan fungsi dari tiroid itu sendiri. Namun untuk memperbaiki gangguan mood biasanya dapat digunakan lithium sebagai pengobatannya, sama halnya dengan pengobatan untuk gangguan bipolar. 
  • Gondok multinodular atau gondok nodul toxic . Merupakan jenis gondok yang terbentuk dari pembesaran satu atau lebih nodul-nodul kecil. Nodul-nodul ini memproduksi hormon tiroid nya sendiri, sehingga menyebabkan tingginya kadar hormon tiroid dalam darah (hipertiroid).

5. Tonsilitis atau Radang Amandel

Amandel merupakan dua kelenjar getah bening yang terletak di setiap sisi belakang tenggorokan.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa fungsi kelenjar ini adalah sebagai mekanisme pertahanan membantu mencegah infeksi pada tubuh. Terkadang amandel dapat mengalami infeksi dan kondisi ini disebut dengan tonsilitis.

Tonsilitis merupakan penyakit yang cukup umum, terutama pada anak-anak dan remaja. Biasanya penyakit ini disebabkan oleh virus atau bakteri yang menyebabkan radang tenggorokan.

Gejala tonsilitis paling umum adalah sakit tenggorokan, pembengkakan amandel, kesulitan menelan, hingga demam. Pembengkakan pada amandel akan terlihat di dalam mulut, tapi tidak jarang juga menyebabkan leher terlihat sedikit membengkak.

Tonsilitis dapat hadir sebagai tonsilitis akut, tonsilitis kronis, dan tonsilitis berulang. Beberapa kasus tonsilitis dapat menyebabkan komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan baik. Jika kondisi ini terjadi, dokter mungkin akan menyarankan pembedahan untuk mengangkat amandel.

6. Kista Celah Brankial

Penyebab leher bengkak pada anak dapat disebabkan oleh kondisi yang disebut dengan branchial cleft cyst.

Kista celah brankial atau branchial cleft cyst adalah sebuah kelainan bawaan yang menyebabkan munculnya benjolan di satu atau kedua sisi leher bayi. 

Kelainan ini terjadi selama pertumbuhan embrio saat jaringan di leher atau branchial cleft tidak berkembang secara normal. Dalam beberapa kasus, kista ini dapat terinfeksi atau merembes keluar kulit.

Gejala kista celah brankial meliputi:

  • Benjolan atau label kulit pada leher, bahu atas, atau sedikit di bawah tulang selangka.
  • Cairan mengalir dari leher anak
  • Pembengkakan atau nyeri tekan di leher yang biasanya dibarengi dengan infeksi saluran pernapasan atas.

7. Penyakit Hodgkin

Penyebab leher bengkak selanjutnya adalah penyakit Hodgkin yang merupakan salah satu jenis limfoma.

Limfoma adalah jenis kanker darah yang dimulai pada sistem limfatik, sistem yang membantu sistem kekebalan tubuh, ‘membuang limbah’, dan melawan infeksi. Seiring dengan perkembangan penyakit ini, kemampuan tubuh melawan infeksi semakin menurun.

Pembengkakan kelenjar getah bening adalah salah satu gejala paling umum dari kondisi ini. Pembengkakan dapat terjadi di sisi leher, ketiak, atau sekitar pangkal paha.

Gejala lain dari penyakit Hodgkin meliputi:

  • Berkeringat di malam hari
  • Kulit gatal
  • Demam
  • Kelelahan
  • Penurunan berat badan
  • Batuk persisten
  • Kesulitan bernapas
  • Nyeri dada
  • Nyeri pada kelenjar getah bening setelah konsumsi alkohol
  • Pembesaran limpa

Gejala yang disebutkan di atas tidak selalu menunjukkan penyakit Hodgkin. Dibutuhkan beberapa pemeriksaan seperti tes darah, tes pencitraan, hingga biopsi untuk memastikan diagnosis penyakit ini.

8. Limfoma Non-Hodgkin

Limfoma non-Hodgkin adalah bentuk lain dari limfoma, yaitu kanker yang berkembang dari limfosit yang merupakan jenis sel darah putih.

Penyakit ini lebih umum dari penyakit Hodgkin. Perbedaan keduanya terdapat pada keberadaan jenis sel abnormal yang disebut sel Reed-Sternberg yang hanya ada pada penyakit Hodgkin. Kedua penyakit ini membutuhkan perawatan yang berbeda.

Gejala limfoma non-Hodgkin meliputi:

  • Sakit perut atau pembengkakan perut
  • Sakit dada
  • Batuk
  • Kesulitan bernapas
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Kelelahan
  • Demam
  • Berkeringat di malam hari

Gejala pembengkakan kelenjar getah bening pada penyakit ini yang menyebabkan pembengkakan pada leher.

Sama seperti limfoma Hodgkin, penyakit ini juga membutuhkan berbagai pemeriksaan untuk memastikan diagnosisnya.

Baca Juga: Mengenali Jenis dan Gejala Kanker Darah (Disertai Cara Pengobatan)

9. Gondong

Gondong atau gondongan adalah infeksi pada kelenjar ludah atau kelenjar parotis yang disebabkan oleh virus.

Kelenjar parotis adalah kelenjar yang bertanggung jawab untuk memproduksi air liur. Kelenjar ini berada di belakang dan di bawah telinga. Ketika infeksi terjadi, kelenjar air liur mengalami pembengkakan. Hal ini yang menyebabkan bagian pipi dan leher terlihat membesar.

Seperti virus EBV, virus penyebab gondong juga menular melalui air liur. Gejala umumnya akan muncul sekitar 2 minggu setelah paparan virus. Gejala gondongan meliputi:

  • Kelelahan
  • Pegal-pegal
  • Sakit kepala
  • Kehilangan selera makan
  • Demam

Awalnya demam yang muncul ringan, tapi demam dapat meningkatkan beberapa hari selanjutnya yang juga dibarengi dengan pembengkakan kelenjar ludah. Seseorang biasanya dapat mulai menularkan virus ketika kelenjar air liur mulai membengkak.

10. Lipoma

Penyebab leher bengkak selanjutnya adalah lipoma yang merupakan pertumbuhan jaringan lemak yang berkembang perlahan di bawah kulit.

Kondisi ini dikategorikan sebagai pertumbuhan jinak atau tumor dari jaringan lemak. Lipoma jarang berbahaya dan bukan merupakan kanker. Benjolan ini dapat muncul di leher dan beberapa bagian tubuh lain seperti bahu, lengan bawah, tangan, dan paha.

Benjolan lipoma bertekstur lembut dan dapat bergerak dengan mudah ketika digerakkan dengan jari tangan. Benjolan ini tumbuh perlahan dan tidak berwarna. Lipoma juga jarang menimbulkan rasa sakit, kecuali benjolan membesar dan mengenai saraf di sekitarnya.

Cara Mengobati Leher Bengkak

Melihat dari penyebab leher bengkak yang berbeda-beda, cara mengobati leher bengkak juga tentunya berbeda-beda.

Apabila penyebabnya adalah infeksi bakteri, maka pengobatannya adalah terapi antibiotik. Apabila disebabkan oleh kanker, cara mengobati leher bengkak adalah dengan prosedur seperti operasi, terapi radiasi, dan kemoterapi.

Hal yang penting dilakukan dalam mengatasi leher bengkak adalah deteksi dini. Penyebab seperti kanker juga dapat diatasi dengan baik apabila kondisi ini dideteksi sejak awal.

Segera konsultasikan ke dokter apabila Anda mengalami gejala seperti leher bengkak dan nyeri yang dibarengi dengan berbagai gejala lainnya.

 

  1. Cafasso, Jacquelyn dan Laura Goldman. 2019. Everything You Need to Know About Mono. https://www.healthline.com/health/mononucleosis. (Diakses 5 Februari 2020).
  2. Herndon, Jaime. 2017. Hodgkin’s Disease. https://www.healthline.com/health/hodgkins-lymphoma. (Diakses 5 Februari 2020).
  3. Kahn, April. What’s Causing My Swollen Lymph Nodes?. https://www.healthline.com/health/swollen-lymph-nodes. (Diakses 5 Februari 2020).
  4. Lee Macon, Brindles dan Winnie Yu. 2019. What You Need to Know About Goiter. https://www.healthline.com/health/goiter-simple. (Diakses 5 Februari 2020).
  5. Lights, Verneda dan Tricia Kinman. 2018. What’s Causing This Lump on My Neck?. https://www.healthline.com/health/neck-lump. (Diakses 5 Februari 2020).
  6. Moore, Kristeen. 2019. What You Should Know About Thyroid Nodules. https://www.healthline.com/health/thyroid-nodule. (Diakses 5 Februari 2020).
  7. Moore, Kristeen. 2019. Lipoma (Skin Lumps). https://www.healthline.com/health/skin/lumps. (Diakses 5 Februari 2020).
  8. Normandin, Bree dan Elizabeth Boskey. 2016. Non-Hodgkin’s Lymphoma. https://www.healthline.com/health/non-hodgkins-lymphoma. (Diakses 5 Februari 2020).
  9. Pietrangelo, Ann dan Rachel Nall. 2019. Everything You Need to Know About Tonsillitis. https://www.healthline.com/health/tonsillitis. (Diakses 5 Februari 2020).
  10. Pietrangelo, Ann. 2017. Branchial Cleft Cyst. https://www.healthline.com/health/branchial-cleft-cyst. (Diakses 5 Februari 2020).
  11. Roth, Erica. 2017. Mumps: Prevention, Symptoms, and Treatment. https://www.healthline.com/health/mumps. (Diakses 5 Februari 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi