Terbit: 16 September 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Penyebab kejang pada anak bisa dipengaruhi oleh berbagai kondisi, hal itu yang membuat penyebab pasti kejang belum diketahui dengan pasti. Lantas, keadaan seperti apa yang bisa membuat anak menjadi kejang? Simak selengkapnya di bawah ini.

8 Penyebab Kejang pada Anak yang Harus Diwaspadai Orang Tua

Mengenali Berbagai penyebab Kejang pada Anak

Sebelum menjelaskan mengenai berbagai hal yang bisa menyebabkan seorang anak mengalami kejang, penting untuk diketahui bahwa sel saraf (neuron) di otak membuat, mengirim, dan menerima impuls listrik, di mana hal itulah yang memungkinkan sel saraf otak berkomunikasi. Apa pun yang mengganggu jalur komunikasi ini dapat menyebabkan kejang.

Berikut adalah berbagai penyebab kejang pada anak yang harus dipahami oleh orang tua, di antaranya:

1. Epilepsi

Penyebab paling umum dari kejang adalah epilepsi. Namun tidak setiap orang yang mengalami kejang menderita epilepsi. Penyakit yang dikenal juga sebagai penyakit ayan ini terjadi saat impuls listrik pada otak melebihi batas normal.

Kondisi ini bisa menyebar ke area di sekitarnya dan menimbulkan sinyal listrik yang tidak terkendali. Sinyal yang juga terkirim pada otot tersebut menimbulkan kedutan hingga kejang. Tingkat keparahan setiap orang berbeda-beda, ada yang berlangsung beberapa detik atau menyebabkan gerakan berulang.

2. Meningitis

Peradangan yang terjadi pada meningen, lapisan pelindung yang menyelimuti otak dan saraf tulang belakang ternyata juga bisa menjadi penyebab kejang pada anak. Meski kondisi ini memiliki gejala yang mirip dengan flu, orang tua harus mewaspadai bahwa selain menimbulkan kejang, kondisi ini dapat menyebabkan kekakuan pada leher.

3. Hiponatremia

Hiponatremia adalah kondisi di mana kadar kadar natrium (sodium) dalam darah di bawah batas normal. Padahal, natrium memiliki banyak fungsi bagi tubuh. Apabila kadar natrium turun dengan cepat, beberapa gejala yang bisa terjadi adalah kejang, mual, muntah, sakit kepala, lemas, kram, hingga menyebabkan penurunan kesadaran.

4. Cedera Kepala

Cedera kepala adalah kondisi di mana kepala mengalami benturan dari luar dan bisa menyebabkan menurunnya fungsi otak. Cedera kepala sendiri memiliki tingkat keparahan dari ringan, sedang, dan berat. Penyebab kejang pada anak umumnya terjadi jika anak mengalami cedera tingkat sedang hingga berat.

5. Tumor Otak

Penyebab kejang pada anak berikutnya juga bisa disebabkan oleh tumor otak. Kondisi ini terjadi akibat perubahan atau mutasi genetik di dalam sel otak, namun penyebab perubahan genetik ini belum diketahui dengan pasti.

Gejala tumor otak berbeda-beda tergantung jenis, ukuran, lokasi tumor, dan kecepatan pertumbuhannya. Selain kejang, kondisi ini juga bisa menimbulkan gangguan saraf dan sakit kepala.

6. Hidrosefalus

Penumpukan cairan di rongga otak atau sering disebut hidrosefalus bisa meningkatkan tekanan pada otak. Pada bayi/anak-anak, kondisi ini bisa membuat kepala membesar. Selain perubahan ukuran kepala, gejala yang bisa dialami anak adalah kejang, rewel, mudah mengantuk, muntah, enggan untuk menyusu, dan pertumbuhan yang terhambat.

7. Penurunan Kadar Oksigen ke Otak

Selain otak, kondisi yang juga disebut hipoksia serebral ini juga dapat mengakibatkan kerusakan sel, jaringan, maupun organ tubuh lainnya. Setiap orang yang memiliki kondisi ini dapat mengalami gejala yang berbeda-beda, ada yang muncul tiba-tiba dan memburuk dengan cepat (akut) atau berkembang secara perlahan (kronis).

8. Kejang Demam

Penyebab kejang pada anak yang paling umum terjadi adalah kejang demam. Kondisi ini dipicu oleh demam yang dialami anak, bukan kelainan di otak. Kejang demam umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun. Kejang pada anak yang terjadi saat demam sebenarnya adalah kondisi yang tidak berbahaya dan bukan penyakit serius.

Perlu diketahui, kejang demam tidak sama dengan epilepsi. Epilepsi ditandai dengan kejang berulang tanpa demam. Meski kondisi ini tidak berbahaya, orang tua harus waspada jika kejang demam terjadi lebih dari 5 menit diiringi muntah, sesak napas, dan leher kaku.

Apa yang Harus Orang Tua Lakukan saat Anak Mengalami Kejang?

Jika anak Anda mengalami kejang, hal penting yang harus dilakukan adalah tetap tenang sambil menempatkan anak pada permukaan yang empuk. Hal lain yang harus diperhatikan orang tua adalah:

  • Jangan memasukkan apa pun ke dalam mulutnya
  • Setelah kejang berakhir, arahkan tubuhnya untuk tidur menyamping
  • Posisi miring diperlukan untuk mengeluarkan cairan yang ada di mulutnya
  • Pastikan anak dapat bernapas dengan normal setelahnya

Sementara itu perawatan medis dengan segera harus dilakukan jika:

  • Kejang berlangsung lebih dari 5 menit atau mengalami lebih dari satu kali kejang
  • Kejang dengan makanan atau cairan di mulut
  • Kondisi tidak sadar atau tidak bernapas dengan normal
  • Kejang pertama yang dialami
  • Kejang terjadi di kamar mandi atau kolam
  • Tidak sadarkan diri selama lebih dari 5 menit atau tidak bernapas dengan normal
  • Mengalami cedera
  • Tidak yakin mengenai kondisi anak

Baca Juga: Kejang Demam: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Kejang pada Anak yang Berbahaya

Meskipun sebagian besar kejang tidak berbahaya dan tidak memerlukan perhatian medis segera, terdapat jenis kejang yang harus diwaspadai. Status epilepticus adalah kondisi yang mengancam jiwa di mana seseorang mengalami kejang yang berkepanjangan dan bisa menyebabkan penderitanya mengalami penurunan kesadaran.

Kondisi ini lebih sering terjadi pada orang dengan epilepsi, tetapi sekitar sepertiga orang yang mengembangkan kondisi tersebut belum pernah mengalami kejang sebelumnya. Risiko status epileptikus meningkat semakin lama kejang berlangsung, itulah mengapa Anda harus selalu mendapatkan bantuan medis darurat jika kejang berlangsung lebih dari lima menit.

Sementara itu, terdapat suatu kondisi yang disebut sudden unexplained death (kematian mendadak tanpa penyebab), di mana seseorang meninggal tanpa alasan yang diketahui. Kondisi langka tersebut bisa terjadi pada siapa saja, tetapi lebih mungkin terjadi pada seseorang dengan epilepsi.

Mengontrol kejang, terutama yang terjadi saat tidur adalah rencana paling efektif untuk membantu mencegah terjadinya gangguan ini.

 

  1. Anonim. Seizures in children. https://www.pregnancybirthbaby.org.au/seizures-in-children. (Diakses pada 16 September 2020).
  2. Anonim. Seizures. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/seizure/symptoms-causes/syc-20365711. (Diakses pada 16 September 2020).
  3. Anonim. Seizures in Children. https://www.webmd.com/epilepsy/epilepsy-in-children#1. (Diakses pada 16 September 2020).
  4. Anonim. Causes of Epilepsy in Childhood. https://www.epilepsy.com/living-epilepsy/epilepsy-and/parents-and-caregivers/about-kids/causes-epilepsy-childhood. (Diakses pada 16 September 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi