Terbit: 27 Januari 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Sindrom Tourette adalah gangguan yang menyebabkan seseorang melakukan gerakan atau suara berulang yang tidak diinginkan (tics) dan tidak dapat dikontrol dengan mudah. Misalnya, Anda mungkin berulang kali mengedipkan mata, mengangkat bahu, atau mengeluarkan suara dan kata-kata yang tidak biasa. Di Indonesia, angka kejadian kasus ini terjadi lebih dari 150 ribu kasus per tahun. Simak penjelasan selengkapnya mengenai sindrom Tourette di bawah ini.

Sindrom Tourette: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan

Penyebab Sindrom Tourette

Penyebab pasti sindrom Tourette tidak diketahui dengan pasti. Kondisi ini disebabkan oleh sesuatu yang kompleks seperti kombinasi faktor keturunan (genetik) dan lingkungan. Selain itu, senyawa kimia di otak yang mengirimkan impuls saraf (neurotransmitter)—termasuk dopamin dan serotonin, mungkin memainkan peran.

Faktor Risiko

Faktor risiko untuk sindrom ini meliputi:

  • Riwayat keluarga. Memiliki keluarga dengan sindrom Tourette atau kelainan lainnya dapat meningkatkan risiko mengembangkan sindrom ini.
  • Jenis kelamin. Dibanding perempuan, laki-laki sekitar tiga hingga empat kali lebih mungkin mengalami sindrom Tourette.

Gejala Sindrom Tourette

Gejala utama penyakit sindrom Tourette adalah tics, ada yang terlihat sangat ringan hingga yang tidak terlihat. Pada beberapa kasus, gejala ada yang sering terjadi dan terlihat jelas. Stres, bahagia, atau rasa sakit dapat membuat gejala lebih buruk. Pada kondisi yang lebih parah, sindrom ini bisa memengaruhi kehidupan sosial dan pekerjaan.

Terdapat dua jenis tics:

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Kids Baby - Advertisement

Motor tics melibatkan gerakan seperti:

  • Lengan atau kepala menyentak.
  • Berkedip.
  • Perubahan raut wajah.
  • Mulut berkedut.
  • Menggerakan bahu.

Vocal tics meliputi:

  • Merengek.
  • Suara seperti membersihkan tenggorokan.
  • Batuk.
  • Mendengkur.
  • Mengulangi apa yang orang lain katakan.
  • Berteriak.
  • Mengendus.
  • Mengumpat.

Perlu diketahui, tics bisa memiliki bentuk yang sederhana atau kompleks. Tics sederhana memengaruhi satu atau hanya beberapa bagian tubuh, seperti mengedipkan mata atau memengaruhi raut wajah. Tics kompleks melibatkan banyak bagian tubuh atau mengucapkan banyak kata-kata. Melompat dan sumpah serapah adalah contohnya.

Sebelum mengalami gejala motor tics, Anda mungkin mendapatkan sensasi seperti kesemutan atau mengalami ketegangan. Anda mungkin bisa menahan tics untuk sementara waktu, tetapi Anda mungkin tidak bisa menghentikannya.

Sebagian besar penderita sindrom Tourette adalah adalah orang-orang yang memiliki gejala attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), kondisi yang sering kali membuat seseorang sulit untuk duduk diam dan menyelesaikan tugas dengan baik.

Sindrom Tourette juga dapat menyebabkan masalah seperti:

  • Kegelisahan.
  • Ketidakmampuan belajar seperti disleksia.
  • Obsessive-compulsive disorder (OCD), pikiran dan perilaku yang tidak bisa dikendalikan.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Segera temui dokter jika Anda atau anak Anda menampilkan gerakan atau suara di luar kebiasaan. Namun perlu diketahui bahwa tidak semua tics mengindikasikan sindrom TouretteBeberapa penderita tics bisa hilang dengan sendirinya setelah beberapa minggu atau bulan. Setiap kali penderita menunjukkan perilaku yang tidak biasa, penting untuk mengidentifikasi penyebabnya dan menyingkirkan masalah kesehatan yang serius.

Diagnosis Sindrom Tourette

Tidak ada tes khusus yang dapat mendiagnosis sindrom ini. Diagnosis didasarkan pada riwayat dan gejala. Berikut ini adalah beberapa kriteria yang digunakan untuk mendiagnosis sindrom Tourette adalah:

  • Motor tics atau vocal tics muncul, meskipun tidak harus terjadi pada saat yang sama.
  • Tics terjadi beberapa kali sehari, selama lebih dari setahun.
  • Tics dimulai sebelum usia 18 tahun.
  • Tics tidak disebabkan oleh obat, zat lain, atau kondisi medis lainnya.
  • Tics berubah dari waktu ke waktu di lokasi, frekuensi, jenis, kompleksitas atau tingkat keparahan.

Diagnosis sindrom ini mungkin diabaikan karena beberapa gejala dapat meniru kondisi lain. Kedipan mata mungkin awalnya dikaitkan dengan masalah penglihatan atau karena alergi. Guna menyingkirkan penyebab tics lainnya, dokter mungkin merekomendasikan:

  • Tes darah.
  • Magnetic resonance imaging (MRI).

Komplikasi Sindrom Tourette

Seseorang yang memiliki sindrom ini bisa menjalani hidup yang sehat dan aktif. Namun, kondisi ini sering kali melibatkan tantangan perilaku dan sosial yang dapat merusak citra diri. Kondisi yang sering dikaitkan dengan sindrom Tourette meliputi:

  • Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).
  • Obsesif-kompulsif (OCD).
  • Gangguan spektrum autisme.
  • Gangguan tidur.
  • Depresi.
  • Gangguan kecemasan.
  • Sakit kepala.
  • Ketidakmampuan mengatur emosi.

Baca Juga: Sindrom Asperger: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan

Pengobatan Sindrom Tourette

Adakah cara menyembuhkan sindrom Tourette? Pada dasarnya tidak ada obat untuk mengobati sindrom ini. Perawatan diperlukan untuk mengendalikan tics yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Jika tics tidak membahayakan, perawatan mungkin tidak diperlukan.

Obat-obatan

Obat-obatan untuk membantu mengendalikan atau mengurangi gejala terkait, antara lain:

  • Obat yang menghalangi atau mengurangi dopamin

Fluphenazine, haloperidol, risperidone, dan pimozide dapat membantu mengendalikan tics. Kemungkinan efek samping termasuk penambahan berat badan dan gerakan berulang yang tidak disengaja. Tetrabenazine mungkin direkomendasikan, meskipun dapat menyebabkan depresi berat.

  • Suntikan Botulinum (Botox)

Suntikan ke otot yang terkena mungkin membantu meringankan tics sederhana atau vocal.

  • Obat ADHD

Stimulan seperti methylphenidate dan obat-obatan yang mengandung dextroamphetamine dapat membantu meningkatkan perhatian dan konsentrasi. Namun, untuk beberapa orang dengan sindrom Tourette, obat-obatan untuk ADHD dapat memperburuk tics.

  • Central adrenergic inhibitors

Obat-obatan seperti clonidine dan guanfacine biasanya diresepkan untuk tekanan darah tinggi. Obat ini dapat membantu mengendalikan gejala perilaku seperti masalah kontrol impuls dan kemarahan. Efek samping yang bisa terjadi adalah menimbulkan rasa kantuk.

  • Antidepresan

Fluoxetine dapat membantu mengendalikan gejala kesedihan, kecemasan dan OCD.

  • Obat antikejang

Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa beberapa orang dengan sindrom Tourette merespons obat topiramate yang digunakan untuk mengobati epilepsi.

Terapi

  • Terapi perilaku

Terapi untuk tics termasuk pelatihan untuk menghilangkan kebiasaan terkait dengan sindrom ini, membantu memantau tics, mengidentifikasi dorongan firasat, dan belajar untuk bergerak normal

  • Psikoterapi

Selain membantu Anda mengatasi sindrom Tourette, psikoterapi dapat membantu mengatasi masalah, seperti ADHD, OCD, depresi, atau kecemasan.

  • Deep brain stimulation (DBS)

DBS atau stimulasi otak dalam digunakan untuk tics parah yang tidak menanggapi pengobatan lain. DBS melibatkan penanaman alat medis di otak yang dioperasikan dengan baterai  untuk memberikan stimulasi listrik ke area target yang mengontrol gerakan. Namun, perawatan ini masih dalam tahap penelitian dan perlu penelitian lebih lanjut untuk menentukan apakah itu pengobatan yang aman dan efektif untuk sindrom Tourette.

Pada akhirnya, tidak ada cara menyembuhkan sindrom ini dengan pasti, banyak individu yang membaik ketika memasuki masa akhir remaja atau awal usia 20-an.  Meskipun kelainan ini umumnya berlangsung seumur hidup dan kronis, sindrom Tourette bukanlah kondisi degeneratif. Individu yang memiliki sindrom ini memiliki harapan hidup normal karena tidak merusak kecerdasan.

Meskipun gejala ini cenderung menurun seiring bertambahnya usia, ada kemungkinan gangguan neurobehavioral seperti ADHD, OCD, depresi, kecemasan umum, serangan panik, dan perubahan suasana hati dapat bertahan dan menyebabkan gangguan ketika dewasa.

Dukungan untuk Penderita Sindrom Tourette

Bagian tersulit dari seseorang yang memiliki sindrom ini adalah terkait dengan rasa malu atau frustasi ketika memiliki tics yang tidak dapat dikendalikan. Berikut ini adalah beberapa hal yang membuat beberapa kondisi penderita lebih baik, di antaranya:

  • Keluarga, teman, atau tim perawatan kesehatan dapat membantu menghadapi tantangan sindrom ini.
  • Tetap aktif. Olahraga, melukis, atau menjadi sukarelawan adalah contoh kegiatan yang akan mengalihkan pikiran dari gejala-gejala.
  • Bersantai. Baca buku, mendengarkan musik, meditasi, atau lakukan yoga. Aktivitas-aktivitas sederhana yang Anda nikmati dapat melawan stres yang dapat memicu tics.
  • Mendidik diri sendiri. Pelajari semua  tentang kondisi yang dialami sehingga Anda akan tahu apa yang harus dilakukan ketika memiliki gejala.

Jika anak Anda memiliki sindrom Tourette, bicarakan dengan sekolahnya mengenai hal ini. Anda dapat memberitahu fakta dan kondisi untuk melihat jenis dukungan apa yang bisa diberikan. Bantu anak untuk berlatih bagaimana cara menanggapi ejekan atau komentar dari anak-anak lain.

 

  1. Anonim. Tourette syndrome. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/tourette-syndrome/symptoms-causes/syc-20350465. (Diakses pada 27 Januari 2020).
  2. Anonim. Tourette’s Syndrome. https://www.webmd.com/brain/tourettes-syndrome#1. (Diakses pada 27 Januari 2020).
  3. Anonim. Tourette Syndrome Fact Sheet. https://www.ninds.nih.gov/Disorders/Patient-Caregiver-Education/Fact-Sheets/Tourette-Syndrome-Fact-Sheet. (Diakses pada 27 Januari 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi