Terbit: 22 Januari 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Chlamydia atau klamidia adalah infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh bakteri bernama Chlamydia trachomatis. Penyakit ini dapat terjadi pada pria dan wanita di usia berapa pun, namun lebih sering terjadi pada wanita dibanding pria. Berdasarkan riset yang dihimpun Badan Kesehatan Dunia (WHO) dari seluruh dunia, menyebutkan bahwa telah terjadi sekitar 127 juta kasus klamidia baru pada wanita dan pria berusia 15-49 tahun pada 2016. Sementara penyakit seksual lainnya, yaitu 6,3 juta kasus sifilis, 86 juta kasus gonore, dan 156 juta kasus trikomoniasis.

Klamidia: Penyebab, Gejala Pengobatan, dan Pencegahan

Penyebab Klamidia

Klamidia disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis, yang menginfeksi penis, vagina, leher rahim, uretra, anus, mata, dan tenggorokan, ini dapat menyebabkan kerusakan serius dan terkadang permanen pada sistem reproduksi.

Infeksi klamidia dapat ditularkan dengan beberapa cara, di antaranya:

1. Kontak Seksual

Bakteri Chlamydia trachomatis biasanya menular melalui hubungan seksual secara vaginal, oral dan anal dari orang yang terinfeksi.

2. Kontak Kelamin (tanpa penetrasi)

Klamidia dapat tertular melalui kontak antar-kelamin atau tanpa penetrasi, terutama pada wanita. Penularan dapat melalui cairan pra ejakulasi pada pria, yang mengandung bakteri Chlamydia trachomatis. 

3. Ibu Hamil yang Terinfeksi

Ibu hamil yang terinfeksi dapat menularkan kepada bayinya saat melahirkan, ini mengakibatkan pneumonia dan  infeksi mata yang serius pada si kecil. Jika ibu hamil terinfeksi klamidia, biasanya memerlukan tes 3 sampai 4 minggu setelah perawatan untuk memastikan infeksi belum kembali.

4. Tidak Menyadari Penyakit

Penyakit kelamin ini mungkin tidak disadari penderitanya karena banyak orang tidak mengalami tanda-tanda dan gejala, seperti nyeri pada kelamin atau keluarnya cairan pada vagina atau penis. Karena ketidaktahuan inilah dapat menularkan. 

Selain penyebab klamidia di atas, penyakit ini dapat ditularkan melalui:

  • Menyentuh permukaan yang telah disentuh atau terkena percikan batuk atau bersin oleh orang yang terinfeksi.
  • Berada di dekat dan menghirup udara yang terkontaminasi percikan batuk atau bersin orang yang terinfeksi.
  • Kontak dengan kloset duduk yang telah digunakan oleh orang yang terinfeksi (terutama toilet umum).
  • Sauna bersama dengan orang yang terinfeksi.
  • Berenang dalam satu kolam dengan orang yang terinfeksi.

Faktor Risiko

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko klamidia termasuk:

  • Aktif secara seksual sebelum usia 25 tahun.
  • Memiliki banyak pasangan seks dalam setahun terakhir.
  • Tidak menggunakan kondom secara konsisten saat berhubungan seks dengan pasangan yang berisiko.
  • Memiliki riwayat infeksi menular seksual sebelumnya.

Baca Juga: 10 Jenis Penyakit Kelamin Pria dan Wanita (No. 9 Paling Berbahaya)

Gejala Klamidia

Telah disinggung sebelumnya, tidak mudah mengetahui apakah Anda terinfeksi klamidia karena gejalanya tidak selalu tampak jelas. Tetapi ketika diketahui, ciri-ciri klamidia biasanya terlihat dalam satu sampai tiga minggu setelah terkena bakteri Chlamydia trachomatis.

Gejala klamidia pada wanita:

  • Nyeri perut disertai demam
  • Pendarahan diluar siklus menstruasi 
  • Haid yang menyakitkan
  • Keputihan yang tidak normal dan mungkin berbau
  • Rasa sakit saat berhubungan seks
  • Gatal atau sensasi terbakar di dalam atau di sekitar vagina
  • Nyeri saat buang air kecil 

Gejala klamidia pada pria:

  • Buang air kecil yang menyakitkan
  • Mengeluarkan cairan bening atau keruh dari ujung penis
  • Sensasi terbakar dan gatal di sekitar lubang penis
  • Nyeri dan bengkak di sekitar testis

Kapan Harus ke Dokter?

Bila Anda atau pasangan mengeluarkan cairan dari vagina, penis dan dubur, atau sakit saat buang air kecil, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat. Dokter mungkin akan meresepkan antibiotik untuk meredakan ciri-ciri klamidia.

Komplikasi

Bila tidak segera diobati ketika mengalami gejala awal dan didiagnosis penyakit ini, klamidia dapat menyebabkan komplikasi, di antaranya:

1. Infeksi Menular Seksual Lainnya

Orang yang menderita klamidia berisiko lebih tinggi untuk menderita infeksi menular seksual lainnya, seperti gonore dan HIV, virus penyebab AIDS.

2. Penyakit Radang Panggul

Pelvic inflammatory disease (PID) atau penyakit radang panggul adalah infeksi rahim dan saluran tuba yang menyebabkan nyeri panggul dan demam. Infeksi yang parah mungkin diperlukan rawat inap untuk mendapatkan antibiotik intravena. PID dapat merusak saluran tuba, indung telur dan rahim, termasuk leher rahim.

3. Epididimitis

Klamidia dapat menyebabkan peradangan pada epididimitis, saluran di bagian belakang testis yang membawa sperma dari testis ke uretra. Infeksi ini dapat menyebabkan demam, pembengkakan, dan nyeri skrotum.

4. Infeksi Kelenjar Prostat

Organisme klamidia dapat menjalar menuju kelenjar prostat pria. Infeksi kelenjar prostat dapat menyebabkan demam dan menggigil, nyeri selama atau setelah berhubungan seks, buang air kecil terasa menyakitkan, dan nyeri punggung bagian bawah.

5. Infeksi pada Bayi Baru Lahir

Infeksi klamidia dapat menular dari saluran vagina ke anak selama persalinan, yang menyebabkan pneumonia atau infeksi mata yang serius.

6. Artritis Reaktif

Penderita klamidia berisiko lebih tinggi terkena arthritis reaktif, yang juga dikenal sebagai sindrom Reiter. Kondisi ini biasanya memengaruhi sendi, mata, dan uretra, tabung yang membawa urine dari kandung kemih ke luar tubuh.

7. Infertilitas

Klamidia yang tidak menunjukkan tanda-tanda atau gejala dapat menyebabkan jaringan parut dan obstruksi pada tuba falopi, yang dapat membuat wanita tidak dapat memiliki keturunan alias mandul.

Baca Juga: 7 Jenis Penyakit Kelamin Wanita yang Banyak Diderita

Diagnosis Klamidia

Diagnosis mencakup pemeriksaan fisik untuk mencari adanya gejala fisik seperti keputihan, dan juga pengambilan sampel dari penis, leher rahim, uretra, tenggorokan, dubur, atau sampel urine.

Skrining Klamidia

Infeksi klamidia biasanya tidak menunjukkan gejala, untuk itu dokter mungkin menyarankan skrining untuk beberapa orang. Skrining klamidia ini disarankan untuk:

  • Wanita di bawah 25 tahun
  • Wanita hamil
  • Pria dan wanita yang berisiko tinggi

Wanita dapat menjalani prosedur ini di rumah atau di laboratorium, baik dengan sampel urine atau dengan mengambil sampel dari vagina bagian bawah. Kapas ditaruh dalam wadah dan dikirim ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan. Sementara untuk pria, biasanya melalui tes urine.

Berkonsultasilah dengan dokter tentang cara terbaik untuk menjalani tes. Beberapa orang mungkin melakukan tes dubur atau tenggorokan, terutama bagi penderita HIV.

Pengobatan Klamidia

Penggunaan obat resep seperti antibiotik dapat mengobati klamidia secara efektif. Biasanya obat klamidia dalam bentuk pil. Setelah perawatan mungkin disarankan untuk tes berulang sekitar 3 sampai 4 bulan, tergantung pada faktor risiko.

Perawatan untuk klamidia meliputi:

  • Azithromycin: Pemberian obat klamidia ini hanya satu dosis.
  • Doxycycline: Biasanya minum pil selama 1 minggu.

Penting menghabiskan dosis untuk memastikan infeksi tidak kembali.

Tetapi, doxycycline dapat memengaruhi perkembangan tulang dan gigi bayi. Sedangkan azithromycin terbukti aman dan efektif.

Sementara pada beberapa penderita penyakit ini, salah satunya ibu hamil mungkin diberikan antibiotik alternatif yang disarankan, termasuk:

  • Erythromycin
  • Levofloxacin
  • Ofloxacin

Beberapa pasien yang mungkin mengalami efek samping setelah minum antibiotik, di antaranya diare, sakit perut, masalah pencernaan, dan mual. Sementara pasien yang menggunakan doxycycline mungkin mengalami ruam kulit jika terpapar sinar matahari.

Pencegahan Klamidia

Cara yang paling efektif mencegah infeksi Chlamydia trachomatis adalah dengan tidak melakukan hubungan seksual jika tanpa mengikuti pencegahan berikut:

1. Batasi Jumlah Pasangan Seks

Memiliki banyak pasangan seks dapat meningkatkan risiko tertular klamidia dan infeksi menular seksual lainnya. Oleh karena itu, batasilah jumlah pasangan seks Anda. 

2. Menggunakan Kondom

Gunakanlah kondom berbahan lateks untuk pria atau kondom poliuretan untuk wanita, selama melakukan hubungan seksual. Kondom yang digunakan dengan benar setiap kali berhubungan seksual dapat mengurangi tetapi tidak menghilangkan risiko infeksi.

3. Hindari Douching

Untuk wanita, douching (mencuci vagina dengan menyemprotkan air dan cairan khusus) tidak dianjurkan karena mengurangi jumlah bakteri baik dalam vagina, yang dapat meningkatkan risiko infeksi.

4. Melakukan Skrining secara Rutin

Jika aktif secara seksual, terutama jika Anda memiliki banyak pasangan, konsultasikan dengan dokter tentang seberapa sering Anda harus diskrining untuk klamidia dan infeksi menular seksual lainnya.

 

 

  1. Anonim. Chlamydia, gonorrhoea, trichomoniasis and syphilis: global prevalence and incidence estimates, 2016. https://www.who.int/bulletin/volumes/97/8/18-228486/en/. (Diakses 22 Januari 2020).
  2. Anonim. Chlamydia. https://www.webmd.com/sexual-conditions/chlamydia#1. (Diakses 22 Januari 2020).
  3. Mayo Clinic Staff. 2018. Chlamydia trachomatis. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/chlamydia/symptoms-causes/syc-20355349. (Diakses 22 Januari 2020).
  4. Smith, Lori. 2017. Everything you need to know about chlamydia. https://www.medicalnewstoday.com/articles/8181.php. (Diakses 22 Januari 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi