Terbit: 21 Juli 2020 | Diperbarui: 9 September 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Ada banyak penyebab depresi yang patut untuk dihindari agar kesehatan mental dan fisik tetap terjaga. Namun, ada beberapa penyebab yang tidak dapat dihindari. Apa saja penyebabnya? Simak penjelasan lengkap tentang penyebab dan cara mengatasinya di bawah ini!

12 Penyebab Depresi yang Sering Dialami dan Cara Mengatasinya

Penyebab Depresi yang Paling Umum

Depresi adalah salah satu gangguan mental yang paling umum terjadi pada setiap orang. Namun, pemicu depresi pada beberapa orang tidak selalu diketahui. Para peneliti menduga ada banyak penyebabnya yang berbeda-beda dan tidak selalu dapat dicegah.

Berikut ini sejumlah penyebab depresi yang paling umum:

1. Genetik

Memiliki anggota keluarga dengan riwayat depresi dapat meningkatkan risiko Anda mengalami depresi. Diasumsikan bahwa depresi adalah sifat yang kompleks, artinya kemungkinan ada banyak gen berbeda yang masing-masing memberikan sedikit dampak, daripada gen tunggal yang berperan terhadap risiko penyakit.

Genetik depresi seperti kebanyakan gangguan kejiwaan, yaitu tidak sesederhana atau tidak mudah dikenali seperti¬† penyakit genetik murni, termasuk Huntington’s chorea atau cystic fibrosis.

2. Perubahan Hormon

Perubahan keseimbangan hormon dalam tubuh mungkin berperan serta dalam menyebabkan atau memicu depresi pada seseorang. Kondisi ini tidak dapat dihindari, terutama pada ibu hamil.

Perubahan hormon ini dapat terjadi ketika kehamilan dan selama minggu atau bulan pertama setelah melahirkan (postpartum). Penyebab depresi lainnya seperti masalah tiroid, menopause, atau sejumlah kondisi lainnya.

3. Ketidakseimbangan Kimia Otak

Salah satu penyebab biologis yang potensial menyebabkan depresi adalah ketidakseimbangan dalam neurotransmitter yang mengontrol mood atau suasana hati. Neurotransmitter tertentu seperti dopamin, serotonin, dan norepinefrin, berperan penting dalam suasana hati.

Neurotransmitter adalah zat kimia yang membantu beberapa area otak untuk berkomunikasi satu sama lain. Ketika neurotransmiter tertentu kekurangan pasokan serotonin misalnya, dapat menyebabkan gejala yang dikenal sebagai depresi klinis.

4. Kesehatan Fisik & Kondisi Medis Tertentu

Seseorang lebih mungkin mengalami gejala depresi jika memiliki penyakit kronis, gangguan tidur, atau kondisi tiroid. Para penderita sakit kronis, diabetes, multiple sclerosis, dan kanker, rata-rata memiliki tingkat depresi yang cenderung lebih tinggi.

Pikiran dengan tubuh terhubung langsung, maka dari itu jika mengalami masalah kesehatan fisik, Anda mungkin juga dapat mengalami perubahan dalam kesehatan mental.

Penyakit yang terkait dengan depresi ada dua cara, yaitu stres karena penyakit kronis yang dapat memicu depresi berat. Berikutnya penyakit tertentu seperti gangguan tiroid, penyakit Addison, dan penyakit hati dapat menjadi penyebab depresi.

5. Perubahan Hormon Seks Wanita

Ada banyak pengalaman bahwa wanita mengalami depresi berat sekitar dua kali lebih sering daripada pria. Ini karena gangguan depresi yang memuncak selama bertahun-tahun dalam reproduksi wanita, sehingga diyakini bahwa faktor risiko hormonal mungkin menjadi pemicu.

Wanita sangat berisiko mengalami depresi selama masa hormon mereka berubah, termasuk ketika waktu periode menstruasi mereka, kehamilan, melahirkan, dan perimenopause.

Perubahan hormon yang disebabkan oleh persalinan dan kondisi tiroid juga dapat memicu depresi. Depresi setelah persalinan dapat terjadi setelah melahirkan dan diyakini akibat perubahan hormon yang cepat segera setelah melahirkan.

Baca Juga: Depresi: Penyebab, Gejala, Diagnosis dan Pengobatan

6. Gangguan Irama Sirkadian

Salah satu jenis depresi, yaitu gangguan afektif musiman (dikenal sebagai gangguan depresi mayor dengan pola musiman) diyakini akibat gangguan pada ritme atau irama sirkadian normal tubuh.

Ketika musim panas, cahaya yang memasuki mata dapat memengaruhi ritme sirkadian. Selama musim hujan atau musim dingin, ketika orang biasanya menghabiskan waktu di dalam rumah, ritme sirkadian dapat terganggu.

Orang-orang yang tinggal di daerah beriklim lebih dingin di mana sering mendung dan berkabut mungkin berisiko tinggi mengalami depresi.

7. Gizi Buruk

Kekurangan nutrisi dari makanan dapat menjadi salah satu penyebab depresi. Kekurangan berbagai vitamin dan mineral diketahui menyebabkan gejala depresi.

Bukan tanpa alasan, beberapa penelitian telah menemukan bahwa kekurangan asupan asam lemak omega-3 atau dengan rasio omega-6 yang tidak seimbang terhadap omega-3 terkait dengan peningkatan risiko depresi. Selain itu, terlalu banyak asupan gula dapat memicu depresi.

8. Stres

Peristiwa hidup penuh tekanan atau stres, yang membuat seseorang kesulitan dalam mengatasinya, juga bisa menjadi penyebab depresi.

Para peneliti memperkirakan bahwa kadar hormon kortisol yang terus meningkat selama stres dapat menekan neurotransmitter serotonin, sehingga memicu depresi.

9. Kehilangan Seseorang

Setelah kehilangan seseorang yang dicintai, orang yang berduka mungkin akan mengalami banyak gejala depresi. Gejalanya seperti kesulitan tidur, tidak nafsu makan, dan kehilangan kesenangan atau minat dalam aktivitas adalah respons normal terhadap kehilangan seseorang.

Gejalanya diperkirakan akan berkurang seiring waktu, tetapi ketika gejalanya memburuk, kesedihan bisa berubah menjadi depresi.

10. Alkohol dan Narkoba

Ketika dalam kondisi yang semakin memburuk atau stres, beberapa orang mungkin melampiaskannya dengan minum alkohol berlebihan atau menyalahgunakan obat terlarang seperti narkoba. Tindakan ini justru dapat menjadi penyebab depresi.

Ganja misalnya dapat membantu seseorang rileks, tetapi ada bukti bahwa ganja juga dapat menyebabkan depresi, terutama pada remaja.

Melampiaskan kesedihan dengan minum minuman beralkohol juga tidak dianjurkan, karena alkohol dapat memengaruhi kimia otak dan pada akhirnya meningkatkan risiko depresi.

11. Melahirkan

Beberapa wanita sangat rentan terhadap depresi setelah persalinan. Ini karena terjadi perubahan hormon dan fisik, serta tanggung jawab tambahan untuk merawat bayi, yang mungkin dapat menyebabkan depresi pascanatal.

Belum lagi menjadi seorang ibu juga harus melayani suami secara bersamaan, jika tidak memiliki asisten rumah tangga. Hal ini akan menambah gejala depresi.

12. Kesepian

Perasaan kesepian atau merasa sendiri yang disebabkan oleh hal-hal tertentu seperti jauh dari keluarga, putus hubungan dengan pacar, atau dengan teman-teman, dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami depresi.

Berdasarkan penelitian di Harvard, kesepian dapat memicu hormon otak yang berhubungan dengan stres, misalnya kortisol, sehingga mampu menimbulkan depresi. Cara yang dapat membantu mengatasi depresi adalah aktif berinteraksi dengan orang lain.

Baca Juga: 10 Jenis Depresi dan Penanganannya (Paling Lengkap dan Akurat)

Cara Mengatasi Depresi

Depresi dapat mengganggu kesehatan mental dan fisik, sehingga harus mendapatkan perawatan yang dapat membantu meningkatkan kualitas hidup. Salah satunya berkonsultasi dengan dokter atau seorang psikiater tentang gejala depresi.

Selain itu ada sejumlah pilihan perawatan secara mandiri menggunakan bahan alami atau obat-obatan yang diresepkan dokter.

Berikut ini beberapa pilihan cara mengatasi depresi:

  • Ginseng: Praktisi pengobatan tradisional mungkin akan menyarankan menggunakan ginseng untuk menjernihkan mental dan mengurangi stres.
  • Lavender: Bunga ini dapat membantu mengurangi kecemasan dan susah tidur, sehingga dapat membantu meredakan gejala depresi.
  • Chamomile: Bunga yang dapat dijadikan teh ini mengandung flavonoid yang mungkin memiliki efek antidepresan, yang dapat mengobati gangguan depresi mayor.
  • Olahraga. Latihan aerobik bisa menjadi salah satu cara mengatasi depresi, karena latihan ini dapat meningkatkan kadar endorfin dan menstimulasi neurotransmitter norepinefrin, yang terkait dengan suasana hati.
  • Obat-obatan. Beberapa obat-obatan yang dapat digunakan untuk meredakan gejala depresi, di antaranya selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), serotonin-norepinephrine reuptake inhibitors (SNRIs), atypical antidepressants, tricyclic antidepressants, dan monoamine oxidase inhibitors (MAOIs).

 

  1. Anonim. 2019. Clinical depression. https://www.nhs.uk/conditions/clinical-depression/causes/. (Diakses pada 21 Juli 2020)
  2. Goldman, Laura. 2019. What is depression and what can I do about it?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/8933. (Diakses pada 21 Juli 2020)
  3. Higuera, Valencia dan Kimberly H. 2020. Everything You Want to Know About Depression. https://www.healthline.com/health/depression#symptoms. (Diakses pada 21 Juli 2020)
  4. Mayo Clinic Staff. 2018. Depression (major depressive disorder). https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/depression/symptoms-causes/syc-20356007. (Diakses pada 21 Juli 2020)
  5. Schimelpfening, Nancy. 2020. Causes and Risk Factors of Depression. https://www.verywellmind.com/common-causes-of-depression-1066772. (Diakses pada 21 Juli 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi