Penyakit Reproduksi Wanita yang Persulit Kehamilan

doktersehat-kehamilan-mengecat-rambut-berbahaya

DokterSehat.Com – Kehamilan selalu diinginkan oleh pasangan suami istri khususnya mereka yang baru saja menikah. Sayangnya, tidak semua kehamilan didapatkan dengan mudah. Beberapa pasangan harus berjuang keras karena ada masalah alat reproduksi pria maupun wanita. Masalah ini membuat kehamilan susah terjadi meski hubungan seks intens dilakukan.

Masalah kesuburan pada pria bisanya dipicu pada kelainan sperma dan obesitas. Sementara itu pada wanita, susah hamil bisa dipicu karena penyakit-penyakit di bawah ini.

1. Uterine fibroid
Fibroid sebenarnya sel jaringan rahim yang ada pada setiap wanita. Sayangnya, pertumbuhan fibroid ini kadang berjalan dengan cepat sehingga ukurannya semakin membesar. Sel yang tumbuh dan tidak bisa dikendalikan ini akan membuat rahim jadi susah dijadikan tempat tumbuh janin, dampaknya kehamilan susah terjadi.

Untuk membuat wanita tetap bisa hamil, dokter kerap menyarankan wanita untuk menjalani prosedur pengangkatan fibroid. Setelah pengangkatan ini, kesuburan wanita bisa kembali dan kehamilan semakin besar peluangnya.

2. Endometriosis
Endometriosis adalah keadaan saat dinding rahim tumbuh di luar rongga rahim. Dinding ini bisa tumbuh ke arah tuba falopi atau ke bagian perut lainnya. Pertumbuhan yang tidak normal dari endometriosis ini menyebabkan sel telur jadi susah keluar karena saluran tersumbat. Selain itu, jaringan ini juga bisa menyebabkan radang panggul.

Untuk mengembalikan kesuburan wanita, tindakan operasi pengangkatan jaringan parut harus dilakukan. Jika cara ini tidak berhasil, dokter akan menyarankan pasangan melakukan program bayi tabung.

3. Sindrom ovarium polikistis
Sindrom ovarium polikisis menyebabkan ovarium yang dihasilkan wanita mengalami pembesaran. Ovarium akan dipenuhi cairan folikel yang mengganggu pembuahan oleh sperma. Sindrom ini biasanya ditandai dengan menstruasi tidak teratur dan obesitas.

Agar wanita bisa mendapatkan kehamilan, mereka harus melakukan penurunan berat badan secara berkala agar ovarium kembali normal dan risiko diabetes tipe 2 juga menurun.