Generasi Milenial Rentan Mengalami Masalah Kesehatan di Usia Tua

Doktersehat-generasi-milenial

DokterSehat.Com – Generasi milenial adalah mereka yang lahir antara tahun 1980-an sampai 2000-an, generasi milenial juga dikenal sebagai generasi Y. Dibanding generasi sebelumnya—generasi  X, generasi milenial memiliki ciri khas yang unik dalam penggunaan teknologi dan pemahaman soal budaya. Bahkan, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa generasi milenial cenderung memiliki gangguan kesehatan di usia tua.

Menurut lembaga Think Thank Health Foundation, generasi milenial adalah generasi pertama yang memiliki kesehatan yang lebih buruk di usia paruh baya daripada orang tua mereka.

Laporan ini mengatakan, masalah kesehatan pada generasi milenial ini disebabkan beberapa hal seperti pekerjaan, hubungan sosial, kepemilikan properti (tempat tinggal)—yang saat ini memengaruhi mereka yang berusia 20 sampai 30-an sebagai faktor yang dapat menyebabkan risiko lebih tinggi mengembangkan penyakit seperti kanker, diabetes, dan penyakit jantung di kemudian hari.

Menurut laporan tersebut, secara keseluruhan kesehatan generasi milenial terkait dengan stres jangka panjang, kecemasan, depresi atau kualitas hidup yang lebih rendah. “Kaum muda saat ini menghadapi tekanan yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya,” kata Jo Bibby, direktur strategi di Health Foundation.

Secara khusus, laporan tersebut menemukan bahwa generasi milennial berada di bawah tekanan psikologis jam kerja yang tidak aman, kontrak kerja, pengangguran, dan perkembangan ekonomi. Laporan itu juga mengungkapkan, pesatnya perkembangan media sosial membuat generasi milenial tertekan akibat berusaha untuk menjaga pertemanan di dunia maya dan dunia nyata.

Dalam survei terhadap 2.000 orang berusia 22 hingga 26 tahun, hanya 31% yang mengatakan bahwa mereka memiliki hubungan yang kuat dan pertemanan yang mendukung untuk berkembang.

Sementara 46%  lainnya mengatakan mereka memiliki dukungan keuangan dan keluarga yang cukup. Empat puluh sembilan persen lainnya mengatakan mereka memiliki dukungan emosional dari keluarga, sementara 80% mengatakan mereka merasa di bawah tekanan untuk berperilaku dengan cara tertentu karena media sosial.

Bibby mengatakan , meskipun ada perbaikan dalam kesehatan pada generasi milenial, mereka bisa terkikis oleh ‘ketidakstabilan dan ketidakstabilan kehidupan banyak orang muda yang dihadapi,”

Menurut sebuah studi dari Kings College London, generasi milenial yang kesepian dua kali berisiko mengembangkan masalah-masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan dibandingkan dengan mereka yang merasa lebih terhubung dengan orang lain. The Office for National Statistics juga menemukan bahwa generasi milenial lebih cenderung mengalami kesepian kronis daripada kelompok usia lainnya.

Michael Marmot, seorang profesor epidemiologi dan kesehatan masyarakat di University College London, mengatakan: “Saya setuju dengan mereka bahwa kita mungkin menyimpan masalah untuk masa depan, di samping masalah apa pun dari penyakit mental, kejahatan dan sejenisnya yang mungkin terjadi sekarang juga,”

Penyakit yang Berisiko Dialami Generasi Milenial

  • Sakit leher

Banyak generasi milenial yang menghabiskan waktu pekerjaan lebih dari 40 jam dalam seminggu dan mengharuskannya untuk tetap berada di belakang meja. Oleh karena itu, perhatikan sinyal yang diberikan tubuh Anda.

Menghabiskan waktu di depan komputer sepanjang hari, tidak memberi kesempatan tubuh Anda untuk pulih. Jika hal ini dibiarkan dalam waktu yang lama, maka Anda akan mulai merasakan rasa sakit pada leher. Cobalah untuk berjalan-jalan satu jam sekali atau cobalah teknik yoga di kantor.

  • Gangguan mata

Mata tegang bisa terjadi akibat terlalu lama menatap layar elektronik. Sebuah studi menunjukkan 68 % generasi milenial mengalami gangguan mata dengan gejala mulai dari sakit kepala, nyeri di belakang mata, kepekaan terhadap cahaya, dan kelelahan mata

  • Obesitas

Gaya hidup generasi milenial menuntut mereka untuk bergerak lebih cepat. Kondisi ini pada akhirnya memengaruhi selera mereka dalam memilih makanan. Makanan yang praktis dan cepat disaji lebih disukai ketimbang harus memasaknya sendiri.

Hampir semua generasi milenial tidak akan menolak jika disuguhi piza, mi goreng, hamburger, nugget, dan ayam goreng. Padahal makanan tersebut mengandung tinggi kalori dan lemak jenuh yang tentunya dapat merugikan kesehatan.

Jika dikonsumsi berlebihan, makanan cepat saji dapat menaikkan risiko obesitas, di mana hal ini akan meningkatkan risiko seseorang terkena diabetes, darah tinggi, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung.

  • Stroke

Bersamaan dengan peningkatan obesitas , peningkatan risiko stroke untuk orang dewasa muda juga dapat terjadi. Sebuah penelitian dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menemukan bahwa risiko stroke untuk pria dan wanita muda telah meningkat dalam 20 tahun terakhir, dengan kejadian hampir dua kali lipat untuk pria berusia 18 hingga 34 tahun.

Kelompok usia yang lebih muda memiliki tingkat yang lebih tinggi dari tekanan darah tinggi yang tidak diobati, obesitas, diabetes, dan stroke. Meski begitu, penelitian lebih lanjut harus dilakukan untuk melihat apakah peningkatan risiko stroke pada kelompok usia yang lebih muda adalah temuan yang sebenarnya, atau hanya diisolasi untuk penelitian ini.