Terbit: 11 Agustus 2020
Ditulis oleh: dr. Iqbal Fahmi | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Sejak awal pandemi, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengumumkan bahwa COVID-19 dapat menular melalui droplet. Namun, belakangan ada 239 ilmuwan dari 32 negara yang menyampaikan surat terbuka untuk WHO yang menyimpulkan bahwa COVID-19 juga bisa menular secara airborne atau melalui udara.

Penularan COVID-19 Lewat Udara (Airborne) dan Pencegahannya

Apa Itu Penularan Melalui Udara (Airborne)?

Saat batuk, bersin, atau berbicara seseorang dapat mengeluarkan percikan cairan dari mulut atau hidungnya, baik percikan liur atau lendir dari saluran pernapasan. Percikan ini dapat menjadi pembawa berbagai macam penyakit, termasuk COVID-19. Percikan yang ukurannya lebih dari 5 mikron (1 mikron = 1/1.000 mm) disebut dengan droplet. Sebagai perbandingan, sehelai rambut manusia memiliki diameter sekitar 70-100 mikron.

Satu droplet saja bisa membawa cukup banyak virus karena ukuran virus SARS-CoV-2 hanya sekitar 0,1 mikron. Saat seseorang batuk atau bersin, droplet dapat menyembur sejauh 1-2 meter sebelum akhirnya jatuh ke permukaan karena gravitasi. Droplet bisa saja melayang lebih jauh ketika ada angin atau saat orang bergerak.

Droplet bisa saja jatuh di mata, hidung, atau mulut seseorang yang berdekatan dengan penderita COVID-19 dan penularan pun terjadi. Selain itu, droplet bisa saja jatuh di permukaan benda yang sering disentuh dan akhirnya akan menular jika seseorang tidak menjaga kebersihan tangannya.

Dua cara penularan ini yang menjadi dasar himbauan untuk selalu menjaga jarak, desinfeksi permukaan, menggunakan masker dan face shield, dan mencuci tangan.

Namun, ada percikan yang lebih kecil dari droplet, ukurannya kurang dari 5 mikron. Percikan ini disebut dengan aerosol. Memiliki ukuran yang kecil membuat aerosol lebih ringan, sehingga lebih lama melayang di udara.

Aerosol bisa melayang di udara hingga berjam-jam sebelum akhirnya jatuh di permukaan atau hilang menguap karena panas. Penularan melalui aerosol ini yang dimaksud dengan penularan melalui udara atau airborne. Campak dan tuberculosis (TBC) adalah contoh penyakit lain yang dapat menular melalui airborne.

Bukti Penularan COVID-19 Melalui Udara

Awalnya, WHO dalam panduannya mengumumkan bahwa penularan airborne hanya terjadi di fasilitas kesehatan saat tenaga medis melakukan tindakan medis yang menghasilkan aerosol, seperti nebulisasi, pemasangan alat bantu napas, selang oksigen, dan lain-lain.

Pada akhirnya WHO memperbarui panduannya setelah para ilmuwan menyampaikan bukti-bukti terjadinya penularan secara airborne di luar fasilitas kesehatan.

Para ilmuwan menduga bahwa penularan airborne adalah cara penularan yang dominan di pandemi ini. Berbeda dengan keluarga virus corona lain, seperti SARS-CoV dan MERS-CoV yang persebarannya tidak seluas dan secepat Covid-19.

Bukti pertama adalah munculnya klaster paduan suara di Washington, AS.

Klaster ini terdiri dari 61 orang yang berkumpul di sebuah ruangan untuk paduan suara dengan durasi 2,5 jam. Saat itu ada 1 orang yang bergejala. Sepekan kemudian dilaporkan beberapa peserta mengalami gejala Covid-19. Akhirnya, didapat 53 orang terinfeksi Covid-19, termasuk 3 orang yang dirawat inap dan 2 orang meninggal.

Selanjutnya, ada klaster restoran di Guangzhou, Cina yang berawal dari 1 pasien tanpa gejala.

Kejadian bermula pada Januari 2020, ketika sebuah keluarga dengan riwayat perjalanan dari Wuhan mengunjungi restoran di Guangzhou dalam perayaan Tahun Baru Imlek. Total orang yang berinteraksi saat itu adalah 91 orang dengan durasi kontak antara 50-70 menit. Akhirnya, dilaporkan ada 10 orang terkonfirmasi Covid-19 dari 3 keluarga.

Selain itu, di berbagai negara juga telah banyak dilaporkan klaster-klaster lainnya, seperti klaster bar, bus, sekolah, tempat ibadah, dan perkantoran yang saat ini juga marak terjadi di Indonesia. Klaster-klaster ini dapat menjadi bukti awal bahwa penularan airborne dapat terjadi karena sebagian besar penularan terjadi dengan jarak lebih dari 2 meter.

Kesamaan dari semua klaster di atas adalah lokasi penularan yang berada dalam ruang tertutup, minim aliran udara, dan durasi paparan yang cukup lama.

Penularan COVID-19 di Ruangan Tertutup

WHO dalam panduan terbarunya akhirnya menyebutkan bahwa ada kemungkinan penularan aerosol secara airborne pada kondisi tertentu, seperti dalam ruangan tertutup yang padat pengunjung dan tanpa ventilasi dalam waktu yang lama.

Aktivitas seperti berbicara kencang, makan, atau bernyanyi juga meningkatkan risiko terbentuknya aerosol. Pada aktivitas tersebut, durasi paparan lebih dari 30 menit dikatakan dapat berisiko tinggi.

Penularan airborne bukan berarti virus dari luar dapat terbang masuk ke rumah atau gedung-gedung.

Aerosol dapat membawa cukup banyak virus jika terakumulasi di suatu ruangan tertutup sehingga konsentrasinya tinggi. Saat aliran udara baik, udara yang bersih akan mencegah aerosol berkumpul. Selain itu, sinar matahari atau sinar UV akan membuat aerosol hilang menguap dan membunuh virus.

Fenomena ini mirip dengan orang yang merokok di ruangan tertutup. Asap rokok bisa dianalogikan sebagai aerosol pembawa virus. Jika ada yang merokok, orang lain yang tidak merokok akan mencium aroma rokok dalam waktu tertentu, walaupun jaraknya berjauhan dengan perokok.

Saat aroma rokok mulai tercium, artinya seseorang juga telah menghirup komponen rokok dan menjadi perokok pasif. Berbeda halnya jika merokok di alam terbuka. Dengan jumlah perokok, jarak, dan durasi yang sama bisa saja aroma rokok tidak terhirup.

Cara Mencegah Penularan COVID-19 Melalui Udara

Semakin banyaknya bukti-bukti penularan COVID-19 secara airborne akan sangat berpengaruh terhadap kebijakan dan peraturan yang dibuat, terutama untuk lingkungan yang tertutup, seperti kantor, sekolah, tempat ibadah, hingga transportasi umum.

Aktivitas di tempat tertutup bukan sepenuhnya dilarang, tapi harus dengan adaptasi kebiasaan baru. Diperlukan prosedur berlapis yang lebih ketat jika ingin mengaktifkan kembali aktivitas di tempat tersebut.

Penggunaan masker, face shield, dan desinfeksi permukaan saja tidak cukup.

Partikel aerosol yang sangat kecil bahkan dapat menyusup menembus masker N95. Pengukuran suhu tubuh sebelum memasuki gedung juga tidak membuat sepenuhnya aman karena juga ada penular yang belum menunjukkan gejala seperti di Guangzhou.

Berikut hal yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan COVID-19:

  • Kapasitas orang yang masuk harus dikurangi untuk menghindari kerumunan
  • Membuat batasan waktu untuk tiap orang yang masuk
  • Physical distancing lebih dari 2 meter
  • Buka ventilasi ruangan semaksimal mungkin, lebih baik jika ada cahaya matahari yang masuk
  • Rutinkan desinfeksi udara dan permukaan menggunakan sinar ultraviolet (UV)
  • Gunakan filter penyaring udara
  • Sebisa mungkin juga gunakan masker di dalam ruangan
  • Hindari melakukan aktivitas berisiko di dalam ruangan, seperti kontak fisik, berbicara kencang, makan atau minum, atau bernyanyi.

Seluruh tindakan di atas dilakukan untuk melengkapi usaha-usaha yang sudah rutin dilakukan sebelumnya, seperti selalu menggunakan masker dan face shield di luar rumah, rutin mencuci tangan, monitor suhu tubuh, dan menjalani gaya hidup bersih dan sehat.

Masker bedah atau kain memang tidak terlalu efektif untuk melindungi diri dari aerosol, tapi penggunaan masker paling tidak dapat mencegah droplet atau aerosol tersembur lebih jauh sehingga melindungi orang di sekitar penggunanya.

 

Informasi kesehatan ini disponsori:
logo-cimsa-ugm-doktersehat

 

 

 

  1. Covaci, A. (2020) ‘How can airborne transmission of COVID-19 indoors be minimised?’, Environment International, 142(), pp. 1-7 [Online]. Available at: https://doi.org/10.1016/j.envint.2020.105832 (Accessed: 6 Agustus 2020).
  2. De Carlo, P. (2020) Mounting evidence suggests coronavirus is airborne, Available at: https://hub.jhu.edu/2020/07/16/evidence-coronavirus-is-airborne/ (Accessed: 6 Agustus 2020).
  3. Dupont, K. (2020) Poor Ventilation In Restaurants And Buses: A Major Factor In COVID-19 Transmission, Says Hong Kong Study, Available at: https://healthpolicy-watch.news/poor-ventilation-in-restaurants-and-buses-a-major-factor-in-covid-19-transmission-says-hong-kong-study/ (Accessed: 6 Agustus 2020).
  4. Fears, A.C., et al. (2020) ‘Persistence of Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 in Aerosol Suspensions’, Emerging Infectious Diseases, 26(9).
  5. Hamner, L., et al. (2020) High SARS-CoV-2 Attack Rate Following Exposure at a Choir Practice — Skagit County, Washington, March 2020, USA: CDC.
  6. Lu, J., et al. (2020) ‘COVID-19 Outbreak Associated with Air Conditioning in Restaurant, Guangzhou, China, 2020’, Emerging Infectious Diseases, 26(7), pp. 1628-1631.
  7. Patel, N.V. (2020) If the coronavirus is really airborne, we might be fighting it the wrong way, Available at: https://www.technologyreview.com/2020/07/11/1005087/coronavirus-airborne-fighting-wrong-way/ (Accessed: 6 Agustus 2020).
  8. Schuit, M., et al. (2020) ‘Airborne SARS-CoV-2 Is Rapidly Inactivated by Simulated Sunlight’, The Journal of Infectious Diseases, (222), pp. 564-571.
  9. WHO (2020) Advice on the use of masks in the context of COVID-19, Geneva: WHO.
  10. Zhang, R., et al. (2020) ‘Identifying airborne transmission as the dominant route for the spread of COVID-19’, PNAS Latest Articles, pp. 1-7.


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi