Anda Mengalami Bell’s Palsy? Ini Pengobatan yang Bisa Dilakukan

Doktersehat-penyakit-belpasi

DokterSehat.Com– Bell’s palsy atau yang sering disebut belpasi merupakan suatu keadaan di mana seseorang seperti terserang penyakit stroke ringan–meskipun tidak sama persis. Pada umumnya, penderita Bell’s palsy tidak bisa menggerakan area bibir baik sebelah kiri atau sebelah kanan. Selain itu, mata penderita juga akan susah untuk menutup atau mengedip dan biasanya hanya menyerang wajah satu sisi saja, baik itu kiri ataupun kanan.

Tanda-Tanda Penyakit Bell’s palsy

  • Hipersensitivitas terhadap bunyi.
  • Pelemahan sisi yang di tandai dengan mulut terkulai.
  • Penutupan mata yang tidak menyeluruh di sisi yang melemah
  • Pelemahan facial unilateral, terkadang disertai nyeri pegal di sekitar sudut rahang atau di belakang telinga.

Penyebab Penyakit Bell’s palsy

  • Penyakit akibat virus herpes simplex atau herpes zoster.
  • Tumor, iskemia, trauma lokal atau meningitis.
  • Saraf kranial ketujuh yang mengalami rintangan oleh reaksi inflamatorik.

baca juga: Awas! Asap Knalpot Kendaraan Berisiko Penyakit Saraf dan Fungsi Fisik

Cara Pengobatan Penyakit Bell’s palsy

Sekitar 80-85% kasus dapat sembuh spontan dalam 3 bulan. Akan tetapi beberapa penelitian mengatakan obat antivirus dan antiinflamasi efektif untuk mempercepat proses penyembuhan apalagi jika pemberiannya sedini mungkin.

Jika Bell’s Palsy menimbulkan nyeri, hal itu dapat diatasi dengan analgetik seperti parasetamol dan ibuprofen, untuk pertumbuhan serabut saraf yang rusak dapat digunakan terapi vitamin dengan menggunakan vitamin B6 dan B12.

Evaluasi terhadap derajat kerusakan saraf dapat dilakukan setelah melewati fase akut dengan menggunakan pemeriksaan elektromiografi (EMG) pada minggu kedua dengan memeriksa refleks kedip (blink reflex). Dengan demikian pemeriksaan ini dapat digunakan untuk memprediksi prognosis penyakit.

Sedangkan, botolinum toxin type A atau yang lebih dikenal dengan botox merupakan alternatif terapi yang dapat digunakan dan berfungsi untuk relaksasi otot-otot wajah. Alternatif terapi lainnya berupa akupuntur, stimulasi galvanik dan biofeedback.

Selain terapi utama, hal penting yang menjadi perhatian dalam tatalaksana penyakit Bell’s Palsy ini adalah mata. Kelopak mata yang tidak dapat menutup sempurna akan dapat menimbulkan masalah baru, iritasi serta infeksi mata akan rentan terjadi jika tidak dilakukan perhatian khusus pada masalah ini.

Hal yang dapat dilakukan berupa pemberian air mata buatan, mengedipkan mata secara manual, penggunaan pemberat kelopak mata hingga tindakan operatif.

Latihan wajah

Tindakan lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyakit Bell’s Palsy adalah dengan  fisioterapi. Seorang ahli fisioterapi akan mengajari Anda beberapa latihan yang bisa memperkuat otot-otot wajah.

Hal ini dilakukan untuk meningkatkan koordinasi dan jangkauan gerakan. Prosedur ini sangat membantu dalam kasus-kasus Bell’s palsy, meski tidak semua orang sesuai dengan prosedur ini.

Latihan ini biasanya dilakukan minimal 2-3 kali sehari, akan tetapi kualitas latihan lebih utama daripada kuantitasnya.  Pada fase akut dapat dimulai dengan kompres hangat dan pemijatan pada wajah, hal ini berguna mengingkatkan aliran darah pada otot-otot wajah.

Kemudian latihan dilanjutkan dengan gerakan-gerakan wajah tertentu yang dapat merangsang otak untuk tetap memberi sinyal untuk menggerakan otot-otot wajah. Sebaiknya latihan ini dilakukan di depan cermin.

baca juga: Gangguan Saraf pada Mata dan Pengobatannya

Gerakan yang dapat dilakukan berupa:

  • Tersenyum.
  • Mengerucutkan mulut, kemudian bersiul.
  • Mengatupkan bibir.
  • Mengerutkan hidung.
  • Mengerutkan dahi.
  • Gunakan telunjuk dan ibu jari untuk menarik sudut mulut secara manual.
  • Mengangkat alis secara manual dengan keempat jari.

Sementara itu, jika Anda mengalami kelumpuhan wajah secara tiba-tiba, sebaiknya segera bawa ke rumah sakit. Pengobatan Bell’s palsy efektif jika dilakukan 3 hari pertama setelah gejala muncul.

Pada beberapa kasus, Bell’s palsy dapat pulih sepenuhnya. Pengobatan yang dilakukan biasanya diperlukan untuk mempercepat proses penyembuhan dan mencegah munculnya komplikasi.