Terbit: 17 Januari 2020
Ditulis oleh: Mutia Isni Rahayu | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Penebalan dinding rahim adalah hal wajar yang terjadi sebelum menstruasi. Namun apabila kondisi ini terjadi di luar siklus tersebut, maka kondisi ini disebut dengan hiperplasia endometrium. Kondisi ini tidak dapat disepelekan dan memiliki potensi untuk berkembang menjadi kanker rahim. Ketahui selengkapnya tentang mebebalnya dinding rahim abnormal atau hiperplasia endometrium.

Penebalan Dinding Rahim: Penyebab, Gejala, Pengobatan

Apa Itu Penebalan Dinding Rahim?

Penebalan dinding rahim adalah kondisi di mana lapisan rahim (endometrium) menebal. Menebalnya dinding rahim yang tidak normal disebut dengan hiperplasia endometrium.

Endometrium merupakan lapisan rahim bagian dalam yang lapisannya dapat menumpuk dan dikeluarkan setiap bulan sebagai respons dari siklus perubahan hormon yang terjadi pada setiap wanita. Pada dasarnya menebalnya dinding rahim merupakan kondisi yang wajar terjadi pada paruh pertama menstruasi seseorang.

Ovarium menghasilkan estrogen dan progesteron sebagai respons terhadap stimulasi hormon dari otak. Perubahan dan keseimbangan hormon estrogen dan progesteron seharusnya terjadi secara teratur dan tepat waktu sehingga menciptakan siklus menstruasi yang juga teratur.

Apabila terjadi ketidakseimbangan hormon, kelainan dapat terjadi dan menyebabkan dinding rahim menebal abnormal. Penebalan lapisan endometrium yang tidak teratur ini yang disebut dengan hiperplasia endometrium.

Penyebab Penebalan Dinding Rahim

Siklus menstruasi sangat bergantung pada kesemimbangan hormon estrogen dan progesteron. Umumnya hiperlapsia endometrium terjadi akibat hormon-hormon ini tidak seimbang.

Penyebab penebalan dinding rahim paling umum adalah karena terlalu banyak estrogen dan terlalu sedikit progesteron. Kondisi ini dapat menyebabkan pertumbuhan sel berlebih.

Berikut adalah berbagai kondisi yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon terjadi:

  • Menopause, artinya anda tidak berovulasi lagi dan tubuh tidak menghasilkan hormon progesteron.
  • Perimenopause, fase yang terjadi sebelum menopause di mana ovulasi masih terjadi namun waktunya tidak teratur sehingga menyebabkan hormon tidak seimbang.
  • Seseorang yang sudah melewati menopause dan pernah atau sedang menggunakan estrogen dapat mengalami hiperplasia endometrium
  • Memiliki siklus yang tidak teratur, ketidaksuburan, atau sindrom ovarium polikistik (PCOS)
  • Mengonsumsi obat-obatan yang meniru estrogen.
  • Mengalami obesitas

Faktor Risiko Penebalan Dinding Rahim

Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami penebalan dinding rahim tidak normal atau hiperplasia endometrium. Faktor risikonya termasuk:

  • Berusia di atas 35 tahun
  • Mulai menstruasi di usia muda
  • Mencapai menopause pada usia lanjut
  • Belum pernah hamil
  • Memiliki kondisi kesehatan lain seperti diabetes, penyakit tiroid, atau penyakit kandung empedu
  • Merokok
  • Memiliki riwayat keluarga kanker rahim, kanker ovarium, atau kanker usus besar.

Jenis Penebalan Dinding Rahim

Penebalan dinding rahim dibedakan menjadi dua jenis, bergantung pada keberadaan sel yang tidak biasa yang disebut dengan atypia.

Kedua jenis hiperplasia endometrium meliputi:

  • Hiperplasia endometrium tanpa atypia. Jenis penebalan dinding rahim ini tidak melibatkan sel abnormal.
  • Hiperplasia endometrium atipikal. Jenis ini ditandai dengan pertumbuhan berlebih sel tidak biasa dan dianggap sebagai pre-kanker, yang artinya kondisi ini dapat berpotensi menjadi kanker rahim apabila tidak dilakukan perawatan.

Gejala Penebalan Dinding Rahim

Secara umum gejala dari penebalan dinding rahim adalah pendarahan rahim yang tidak biasa. Apa saja yang termasuk dengan pendarahan rahim tidak biasa?

Berikut adalah beberapa tanda dan gejala dari hiperplasia endometrium:

  • Menstruasi terjadi lebih lama dan lebih berat dari biasanya.
  • Siklus menstruasi lebih pendek hingga kurang dari 21 hari
  • Mengalami pendarahan vagina padahal telah menopause
  • Mengalami pendarahan di antara menstruasi
  • Tidak mengalami menstruasi (pra-menopause)

Diagnosis Penebalan Dinding Rahim

Dokter akan memulai pemeriksaan dengan wawancara untuk mengetahui gejala dan riwayat kesehatan Anda. Setelah mengetahui riwayat kesehatan Anda dan melakukan pemeriksaan fisik, dokter mungkin akan merekomendasikan beberapa pemeriksaan lain yang dapat membantu diagnosis hiperlapsia endometrium.

Berikut adalah beberapa pemeriksaan yang dilakukan untuk hiperplasia endometrium:

  • USG transvaginal. Pemeriksaan ini dapat membantu melihat kondisi rahim dan indung telur, serta dapat mengukur ketebalan endometrium. Prosedur ini melibatkan penempatan alat kecil di vagina yang dapat mengubah gelombang suara menjadi gambar.
  • Hiteroskopi. Pemeriksaan ini menggunakan sebuah alat kecil yang dilengkapi cahaya dan kamera yang dimasukkan ke rahim melalui leher rahim untuk memeriksa kondisi dalam rahim.
  • Biopsi rahim. Pemeriksaan ini melibatkan pengambilan sampel jaringan rahim untuk memastikan keberadaan sel kanker.

Pengobatan Penebalan Dinding Rahim

Perawatan untuk hiperlapsia endometrium bisa dalam bentuk terapi hormon atau pembedahan. Pemilihan perawatan dipertimbangkan berdasarkan kondisi pasien dan kondisi menebalnya dinding rahim yang dialami.

Beberapa faktor yang memengaruhi pemilihan perawatan hiperplasia endometrium adalah seperti ada tidaknya sel atypia, sudah atau belum menopause, rencana kehamilan di masa depan, dan riwayat kanker dalam keluarga.

Terkadang hiperplasia endometrium tanpa atypia gejalanya tidak memburuk dan dapat hilang dengan sendirinya tanpa perawatan. Jika kondisi ini terjadi, dokter mungkin hanya akan menyarankan Anda untuk mengawasi gejala.

Namun apabila kondisi ini memburuk, maka pengobatan yang mungkin disarankan adalah:

1. Terapi hormonal

Terapi hormonal untuk mengatasi hiperlapsia endometrium adalah terapi menggunakan hormon progesteron.

Progestin yang merupakan bentuk sintetis dari hormon progesteron biasanya digunakan untuk terapi ini. Progestin tersedia dalam beberapa bentuk mulai dari sediaan pil, obat injeksi, dan juga IUD.

2. Operasi

Prosedur operasi histerektomi biasanya dijadikan pilihan untuk pengobatan hiperplasia atipikal.

Operasi ini dilakukan untuk mengangkat rahim dan menurunkan risiko kanker. Operasi ini hanya dapat dilakukan oleh wanita yang tidak merencanakan kehamilan di masa depan. Biasanya prosedur ini hanya disarankan apabila wanita sudah mencapai menopause atau yang memiliki risiko kanker tinggi.

  1. Anonim. 2019. Endometrial Hyperplasia. https://familydoctor.org/condition/endometrial-hyperplasia/. (Diakses 17 September 2019).
  2. Chisholm, Andrea. 2019. Risk Factors for Endometrial Hyperplasia. https://www.verywellhealth.com/endometrial-hyperplasia-risk-factors-types-and-treatments-4067214. (Diakses 17 September 2019).
  3. Pietrangelo, Ann. 2018. What Is Endometrial Hyperplasia and How Is It Treated?. https://www.healthline.com/health/endometrial-hyperplasia. (Diakses 17 September 2019).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi