Menangani Bell’s Palsy dengan Terapi

Doktersehat-penyakit-bell's-palsy
Photo Source: stylecraze.com

DokterSehat.Com – Bell’s palsy atau orang Indonesia sering menyebutnya dengan belpasi merupakan suatu keadaan di mana seseorang seperti terserang penyakit stroke ringan (meskipun tak sama persis).

Dalam dunia medis, bell’s palsy adalah kelumpuhan pada salah satu sisi otot di wajah yang bersifat sementara. Pada umumnya, penderita tidak bisa menggerakan area bibir baik sebelah kiri atau sebelah kanan.

Selain itu, mata penderita akan susah untuk menutup atau mengedip dan biasanya hanya menyerang wajah satu sisi saja, baik itu kiri ataupun kanan.

baca juga: Waspadai Gejala dan Tanda Peringatan Stroke pada Pria

Perbedaan Bell’s Palsy dengan Stroke

Pada penderita bell’s palsy yang terserang hanya saraf tepi saja, sedangkan pada penderita stroke yang terserang adalah saraf pusat. Oleh sebab itu, penderita bell’s palsy tidak akan mengalami gangguan pada ingatan, berbeda dengan penderita yang terkena stroke.

Berbeda dengan stroke, bell’s palsy terjadi akibat disfungsi saraf VII (saraf fascialis). Kelumpuhan pada sisi wajah ditandai dengan kesulitan menggerakan sebagian otot wajah, seperti mata tidak bisa menutup, tidak bisa meniup, dan lain-lain.

Penyebab Bell’s Palsy

Sampai saat ini apa yang menjadi penyebab bell’s palsy masih menjadi perdebatan. Ada yang menduga terkait infeksi (pembengkakan) pada telinga, karena letaknya yang dekat membuat radang di telinga akan memicu munculnya bell’s palsy.

Namun ada juga yang menghubungkannya dengan infeksi beragam virus, terutama yang paling sering adalah virus herpes simpleks. Virus ini akan menyerang langsung ke daerah susunan saraf nervus VII sehingga menyebabkan pembengkakan (udema).

Biasanya dokter akan segera memberikan obat anti udema (seperti asiklofir) karena biasanya terjadi sumbatan di bagian saraf yang terjepit. Secara umum, pemberian obat berlangsung sekitar 2 minggu dan diharapkan bisa segera mengempiskan saraf yang bengkak atau paling tidak agar gangguannya tak semakin berat.

Selain itu, dokter juga akan memberikan obat tetes mata agar mata yang tidak bisa berkedip tidak kering atau mengalami iritasi.

Terapi untuk Bell’s Palsy

Selain pemberian obat, gangguan bell’s palsy juga perlu mendapatkan terapi khusus. Menurut dr. Amendi Nasution Sp.KFR (K) dari Departemen Rehabilitasi Medik RSCM, terapi sangat penting untuk menstimulasi otot yang mengalami kelumpuhan. Menurutnya, jika penderita bell’s palsy tidak distimulasi, otot yang lumpuh lama-kelamaan akan mengecil.

Menurut dokter Amendi, terdapat sejumlah terapi yang bisa dilakukan antara lain: menggunakan alat elektrikal stimulasi, masase (pijat), dan terapi kaca (mirror exercise). Elektrikal stimulasi merupakan suatu alat stimulasi otot yang bertujuan untuk mencari otot  yang lemah selanjutnya diberi rangsangan tertentu agar lebih kuat atau tak mengecil.

Sedangkan masase merupakan suatu manipulasi sistemik dan ilmiah dari jaringan tubuh dengan maksud perbaikan atau pemulihan. Masase memberi efek mengurangi udema, memberi relaksasi otot dan mempertahankan tonus otot.

Sementara terapi kaca bisa dilakukan di depan cermin. Penderita diminta untuk mengembungkan mulutnya supaya otot yang mengalami gangguan terstimulasi.

Pada intinya, jika semua proses terapi sudah dilalui, peluang penderita untuk sembuh total sangat besar. Artinya, otot dan saraf yang mengalami kelumpuhan tersebut bisa berfungsi kembali seperti semula.

Apalagi jika bell’s palsy terjadi pada anak, gangguan ini umumnya lebih cepat disembuhkan ketimbang pada orang dewasa. Bila diobati dengan baik, sekitar 90-95% anak akan kembali normal.

baca juga: 5 Gejala Stroke yang Tidak Boleh Anda Abaikan

Penaganan Bell’s Palsy

  • Segera bawa anak ke dokter bila curiga terkena bell’s palsy. Dalam waktu 2×24 jam, anak harus mendapat pengobatan. Pertolongan yang cepat akan mencegah gangguan ini menjadi lebih parah.
  • Lakukan terapi sesuai anjuran dokter. Awalnya terapi bisa jadi dilakukan setiap hari. Setelah kondisi mulai membaik, terapi dilakukan sesuai kebutuhan. Terapi yang tak dilakukan secara rutin dan konsisten berisiko memunculkan kembali gejala bell’s palsy.