Banyak peneliti telah mencoba untuk mengetahui bagaimana PTSD dapat dicegah setelah orang mengalami kejadian traumatis. Pihak militer telah mencoba mengumpulkan informasi mengenai anggota baru, termasuk skrining psikologis, untuk lebih memahami mengapa beberapa orang mengembangkan PTSD dan yang lainnya tidak.

ptsd-doktersehat

Selain itu, penelitian lain menyelidiki apakah zat kimiawi, seperti tingkat kortisol rendah dapat membantu memprediksi siapa yang mungkin mengembangkan PTSD. Meski begitu, penelitian masih belum sepenuhnya memahami prediktor psikologis atau kimiawi.

Pencegahan PTSD yang masih dalam penelitian

Terdapat beberapa penelitian yang mencoba berbagai obat yang diberikan setelah kejadian traumatis untuk melihat apakah obat-obatan dapat mencegah PTSD. Idenya adalah bahwa obat tertentu mungkin dapat menurunkan respon fisiologis yang intens tepat setelah trauma dan mencegah otak membentuk kenangan traumatis.

Propranolol, obat beta-blocker yang mencegah beberapa efek adrenalin, menunjukkan janji awal dalam penelitian, namun penelitian selanjutnya tidak begitu meyakinkan. Karena kadar kortisol dalam tubuh tampaknya lebih rendah pada orang dengan PTSD. Sementara itu, hidrokortison (obat mirip kortisol) diberikan setelah mengalami trauma dan mengurangi tingkat perkembangan PTSD.

Dalam sebuah studi tunggal, morfin juga dipercaya mampu mencegah konsolidasi kenangan ketakutan di amigdala, namun penelitian lebih lanjut akan diperlukan untuk membuktikan seberapa efektif dan bagaimana cara kerjanya.

Selain penggunaan obat-obat tertentu, dukungan keluarga, dukungan secara agama, psikoterapi, dan pendidikan tentang aspek medis PTSD sangat penting dalam mencegah PTSD. Upaya untuk mengurangi frekuensi kejadian traumatis, seperti pelecehan dan kekerasan anak atau trauma seksual, juga merupakan cara penting untuk menurunkan tingkat PTSD , depresi dan bunuh diri.

Prognosis Post Traumatic Stress Disorder

Prognosis untuk PTSD bergantung pada tingkat keparahan dan lamanya seseorang menderita kelainan ini. Mayoritas pasien dengan PTSD merespons psikoterapi, namun belum ada yang bisa memprediksi siapa yang akan merespon dengan baik. Studi telah menunjukkan pada kondisi lain seperti OCD (gangguan obsesif kompulsif) bahwa psikoterapi sebenarnya dapat mengubah fungsi kimia otak. Sehingga masuk akal untuk mengasumsikan bahwa perubahan ini dapat dilakukan pada kondisi PTSD juga.

Ada risiko signifikan bagi seseorang dengan PTSD jika mereka tidak menerima perawatan. Gejala PTSD cenderung terus mengganggu kehidupan seseorang di rumah, tempat kerja, atau hubungan dengan orang sekitar. Mereka bisa saja kehilangan pekerjaan atau keluarga karena mudah tersinggung, cemas, atau mati rasa sehingga mengganggu kemampuan mencintai dan bekerja.

PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder): 1 2 3 4 5 6 7 8