Terbit: 28 Juli 2020 | Diperbarui: 4 Agustus 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Ada beberapa cara mencegah bayi lahir prematur yang harus diperhatikan ibu hamil. Kelahiran prematur menjadi masalah yang patut diperhatikan mengingat kasusnya mencapai sekitar 15 juta kasus per tahun berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO). Simak informasi mengenai pencegahan bayi lahir prematur berikut ini!

15 Cara Mencegah Bayi Lahir Prematur (Dilengkapi Penyebabnya)

Apa Penyebab Bayi Lahir Prematur?

Kelahiran prematur adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan situasi ketika seorang bayi lahir sebelum hari perkiraan lahir (HPL). Idealnya, bayi akan lahir di antara minggu ke-40 dan ke-42. Nah, bayi dikatakan lahir secara prematur apabila lahir 3 bulan—atau bahkan lebih kurang lagi—dari HPL tersebut.

Belum dapat dipastikan apa yang menjadi penyebab bayi lahir prematur, namun para ahli menduga ada sejumlah faktor yang (mungkin) menjadi pemicu terjadinya kelahiran prematur ini. Faktor-faktor risiko tersebut mulai dari kondisi medis hingga gaya  hidup ibu, seperti:

  • Jarak antar kehamilan berdekatan
  • Pernah melahirkan secara prematur sebelumnya
  • Hamil anak kembar
  • Serviks yang pendek
  • Masalah pada rahim dan plasenta
  • Kebiasaan merokok dan minum alkohol
  • Infeksi saat hamil
  • Menderita penyakit kronis (diabetes, hipertensi, jantung, dsb.)
  • Perdarahan vagina saat hamil
  • Stres
  • Usia (terlalu muda atau terlalu tua)

Cara Mencegah Bayi Lahir Prematur

Terlepas dari belum pastinya penyebab atau faktor risiko bayi lahir prematur, ada sejumlah cara yang bisa Anda lakukan untuk mencegah—atau setidaknya meminimalir—kelahiran prematur. Apa saja cara mencegah bayi lahir prematur tersebut?

1. Menjaga Jarak Kehamilan

Salah satu faktor risiko yang dapat meningkatkan peluang ibu untuk melahirkan bayinya secara prematur adalah jarak antar kehamilan sebelumnya dengan kehamilan sekarang yang berdekatan. Hal ini tentu saja perlu menjadi perhatian bagi Anda yang mungkin sedang merencanakan kehamilan selanjutnya.

Lantas, berapa jarak antar kehamilan yang sekiranya aman? Para ahli berpendapat bahwa idealnya, kelahiran selanjutnya terjadi 18 bulan pasca ibu melahirkan anak sebelumnya. Waktu 18 bulan dianggap cukup untuk tubuh mempersiapkan diri sebelum kembali menjalani kehamilan.

Oleh sebab itu, sebaiknya tunda dulu kehamilan Anda yang selanjutnya sebelum 18 bulan terhitung dari kelahiran bayi sebelumnya. Terapkan langkah-langkah untuk mencegah kehamilan seperti menggunakan alat kontrasepsi saat berhubungan badan.

2. Melakukan Pemeriksaan Kandungan secara Rutin

Langkah pencegahan bayi lahir prematur selanjutnya adalah dengan melakukan pemeriksaan kandungan secara rutin. Pemeriksaan kandungan  pra-melahirkan yang dilakukan sejak dini dan teratur dapat membantu dokter menentukan dan membantu Anda dalam menangani faktor risiko persalinan prematur dan memastikan kehamilan Anda berjalan dengan baik.

3. Melakukan Pemeriksaan Kesehatan  Tubuh

Selain pemeriksaan kandungan, cara mencegah bayi lahir prematur adalah dengan juga melakukan pemeriksaan kesehatan tubuh Anda. Pastikan jika tubuh Anda dalam kondisi yang baik. Pasalnya, kelahiran prematur juga bisa dipicu oleh sejumlah masalah kesehatan lainnya yang diderita oleh tubuh.

4. Mengendalikan Penyakit Kronis

Apabila ternyata Anda juga sedang menderita masalah kesehatan kronis tertentu, maka langkah yang bisa dilakukan untuk setidaknya meminimalisir risiko bayi lahir prematur adalah dengan melakukan pengendalian terhadap penyakit yang tengah diderita tersebut. Jenis penyakit kronis yang dimaksud antara lain adalah:

  • Diabetes
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • Preeklampsia

Sampaikan pada dokter jika di saat yang bersamaan Anda juga sedang mengalami kondisi-kondisi di atas agar bisa segera ditangani lebih lanjut.

5. Menjaga Berat Badan

Kehamilan akan membuat berat badan Anda bertambah, namun sudah seharusnya bagi Anda untuk menjaga agar kenaikan berat badan tidak terlalu signifikan. Hal ini juga merupakan salah satu cara untuk mencegah terjadinya kelahiran prematur.

Mengapa bisa demikian? Jawabannya tak lain karena berat badan yang naik secara drastis dapat meningkatkan risiko terjadinya diabetes atau bahkan preeklampsia. Nah, kedua kondisi inilah yang lantas berpotensi menyebabkan bayi lahir prematur.

Guna mengetahui batasan berat badan ideal saat hamil, Anda bisa mengonsultasikan hal ini dengan dokter kandungan. Pastikan untuk mengikuti semua saran yang diberikan oleh dokter.

6. Mengonsumsi Vitamin Selama Kehamilan

Cara mencegah bayi lahir prematur lainnya yang juga tidak boleh luput dari perhatian Anda adalah dengan mengonsumsi suplemen vitamin selama menjalani kehamilan. Salah satu jenis nutrisi yang paling disarankan adalah asam folat.

Asam folat—selain berfungsi untuk membantu tumbuh kembang janin—juga berperan penting dalam mencegah terjadinya abrupsi plasenta dan preeklampsia yang mana keduanya adalah faktor risiko kelahiran prematur. Namun, jangan lupakan juga jenis vitamin yang lainnya. Ikuti arahan dokter mengenai apa saja nutrisi dan vitamin yang harus dipenuhi saat hamil.

7. Makan Makanan Bergizi

Selain dari suplemen vitamin, Anda juga diharuskan untuk selalu makan makanan yang bergizi seperti buah, sayuran. Makanan adalah sumber berbagai macam nutrisi yang penting untuk menjaga agar Anda dan juga janin yang tengah dikandung tetap dalam keadaan sehat.

Apabila Anda dan calon buah hati sehat, maka kehamilan seharusnya berjalan dengan normal sampai nanti hari kelahiran tiba. Selain buah dan sayuran, ikan adalah jenis makanan bervitamin lainnya yang juga tidak boleh Anda lewatkan. Pasalnya, pada ikan terkandung sejumlah nutrisi penting seperti asam lemak omega-3.

Menurut sejumlah penelitian, asam lemak omega-3 efektif untuk membantu meminimalisir risiko bayi lahir prematur. Selain itu, omega-3 juga baik untuk membantu perkembangan otak bayi.

Baca Juga: Tanda-Tanda Akan Melahirkan Prematur, Apa Saja?

8. Minum Air Putih yang Banyak

Minum air putih yang banyak adalah langkah pencegahan bayi lahir prematur yang harus Anda lakukan secara konsisten selama hamil. Ya, air putih bertujuan untuk menjaga agar tubuh senantiasa terhidrasi. Pasalnya, dehidrasi juga sedikit banyak dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan yang berujung pada kelahiran prematur.

9. Menghindari Kebiasaan ‘Buruk’

Seperti yang sudah disinggung di awal, gaya hidup tidak sehat juga bisa menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya kelahiran prematur. Gaya hidup tidak sehat yang dimaksud antara lain adalah sebagai berikut:

  • Merokok
  • Mengonsumsi minuman beralkohol
  • Mengonsumsi obat-obatan terlarang

Maka dari itu, Anda disarankan untuk menghentikan kebiasan-kebiasaan tersebut jika tidak ingin memperbesar peluang melahirkan buah hati secara prematur.

10. Jangan Tunda Berkemih

Tidak menunda-nunda untuk buang air kecil adalah cara mencegah bayi lahir prematur lainnya yang harus Anda ketahui. Mengapa bisa demikian?

Ya, menunda untuk segera berkemih—selain menimbulkan ketidaknyamanan—juga bisa memicu terjadinya peradangan pada kandung  kemih. Jika terus dibiarkan, dikhawatirkan rahim akan mengalami iritasi yang berujung pada kontraksi prematur.

11. Terapi Hormon Progesteron 17P

Mencegah terjadinya kelahiran prematur juga bisa dengan melakukan terapi hormon progesteron 17P. Sebagai hormon yang memang perannya sangat penting bagi ibu hamil, progesteron harus senantiasa dalam kadar yang ideal guna mencegah masalah kehamilan termasuk bayi lahir prematur.

Penerapan terapi hormon progesterone pun sudah umum dilakukan. Pasalnya, terapi ini telah terbukti mampun menurunkan risiko kelahiran prematur sebanyak 30 persen.

12. Mengendalikan Stres

Stres saat hamil adalah hal yang wajar, namun jika tidak dikendalikan dengan baik, stres dapat menimbulkan masalah yang salah satunya mungkin kelahiran prematur. Oleh sebab itu, sangat pentiung bagi Anda untuk senantiasa mengendalikan stres selama menjalani kehamilan.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengendalikan stres saat hamil, mulai dari melakukan olahraga hingga yoga. Tak lupa, dukungan dari pasangan dan orang-orang terdekat juga merupakan ‘obat’ stres yang efektif.

13. Merawat Kesehatan Gigi

Merawat kesehatan gigi juga menjadi cara mencegah bayi lahir prematur. Pasalnya, masalah pada gigi seperti perdarahan gusi ternyata dapat meningkatkan risiko terjadinya kelahiran prematur.

Pastikan untuk rajin menggosok gigi setiap hari. Selain itu, lakukan pemeriksaan gigi secara rutin dengan dokter.

14. Menjaga Kebersihan Tubuh

Kelahiran prematur juga erat kaitannya dengan penyakit akibat infeksi. Oleh sebab itu, mencegah diri dari infeksi bakteri, virus, dan organism ‘jahat’ lainnya juga menjadi salah satu cara mencegah bayi lahir prematur.

Selain dengan meningkatkan daya tahan tubuh melalui berbagai macam cara seperti olahraga dan minum vitamin, Anda juga harus menjaga kebersihan diri seperti rajin mencuci tangan. Tangan yang kotor sebagaimana yang kita ketahui merupakan salah satu sumber bakteri atau kuman.

15. Mengobati Keputihan/Infeksi Vagina

Peradangan pada vagina dan serviks menyebabkan adanya zat prostaglandin yang dapat mempermudah pembukaan serviks dan memicu persalinan prematur, apabila saat hamil anda mengalami keputihan yang banyak, berbau atau menyebabkan gatal sebaiknya segera periksa ke dokter Sp Kandungan.

 

  1. Anonim. 10 Ways to Lower Your Chances of Having Preemie. https://healthcare.utah.edu/womenshealth/pregnancy-birth/preterm-birth/10-ways-to-reduce-risk-of-another-birth.php (Diakses pada 28 Juli 2020)
  2. Anonim. Preterm Labor. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/preterm-labor/symptoms-causes/syc-20376842 (Diakses pada 28 Juli 2020)
  3. Anonim. Understanding Preterm Labor and Birth — Prevention. https://www.webmd.com/baby/understanding-preterm-labor-birth-prevention (Diakses pada 28 Juli 2020)
  4. Bellefonds, C. 2018. Preterm labor. https://www.whattoexpect.com/pregnancy/preterm-labor/ (Diakses pada 28 Juli 2020)
  5. WHO. 2018. Preterm Birth. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/preterm-birth (Diakses pada 28 Juli 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi