Terbit: 24 September 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Pemeriksaan protein urine adalah satu dari sekian banyak prosedur pemeriksaan medis guna mendeteksi ada atau tidaknya masalah pada tubuh Anda. Simak informasi lengkap mengenai pemeriksaan ini mulai dari tujuan, tata laksana, hingga biayanya.

Pemeriksaan Protein Urine: Tujuan, Tata Laksana, dll

Apa Itu Pemeriksaan Protein Urine?

Pemeriksaan protein urine adalah prosedur pemeriksaan yang—sesuai dengan namanya—dilaksanakan untuk memeriksa kandungan protein di dalam urine. Hal ini diperlukan, utamanya bagi sebagian kalangan karena adanya kandungan protein pada urine bisa menjadi pertanda dari suatu gangguan medis, khususnya organ ginjal.

Ya, idealnya urine yang kita keluarkan tidak mengandung protein. Kalaupun ada, kadarnya tidak tinggi. Prosedur pemeriksaan ini umumnya menjadi bagian dari medical check-up rutin untuk memantau kondisi kesehatan tubuh.

Tujuan Pemeriksaan Protein Urine

Tujuan dari pemeriksaan protein urine ini adalah untuk memeriksa apakah ada kandungan protein yang banyak pada urine. Seperti yang sudah dijelaskan, idealnya di dalam urine hanya ada sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali kandungan protein. Jika ditemukan kandungan protein yang banyak, hal ini tentu mengindikasikan ada yang tidak beres dengan organ ginjal.

Ginjal yang sehat berfungsi untuk memfiltrasi dan menyerap protein yang masuk ke dalam tubuh. Sebaliknya, ginjal yang bermasalah akan menyebabkan proses penyerapan (absorpsi) protein menjadi terganggu yang lantas membuat protein justru ikut terbuang bersama urine.

Dengan dilakukannya pemeriksaan urine ini, segala kemungkinan yang mengarah pada gangguan fungsi ginjal dapat dideteksi. Ini tentu saja penting agar dokter bisa segera melakukan penanganan medis demi mencegah komplikasi yang bisa membahayakan Anda.

Siapa yang Perlu Melakukan Pemeriksaan Protein Urine?

Pemeriksaan kandungan protein di dalam air seni ini utamanya dilakukan pada orang-orang yang memiliki gangguan medis tertentu. Gangguan medis yang dimaksud antara lain sebagai berikut:

  • Tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • Penyakit ginjal
  • Diabetes

Selain ketiga kondisi di atas, wanita hamil juga disarankan untuk menjalani pemeriksaan ini. Pasalnya, kehamilan juga bisa menyebabkan proses absorpsi protein terganggu yang mana hal ini menjadi pertanda dari preeklampsia yang tentu saja berbahaya.

Memeriksa urine untuk mengetahui kandungan protein di dalamnya pun bisa dilakukan oleh Anda yang tidak memiliki masalah kesehatan sekalipun. Hal ini tentu bersifat preventif, yakni mencegah atau meminimalisir kemungkinan untuk mengalami gangguan ginjal di kemudian hari. Anda bisa melakukan tes protein urine ini secara berkala bersamaan dengan pemeriksaan kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Kapan Melakukan Pemeriksaan Protein Urine?

Tes ini sebaiknya dilakukan secara berkala apabila Anda mengalami gejala-gejala yang mengarah pada gangguan ginjal maupun gangguan kesehatan lainnya atau jika Anda sudah terbukti mengalami gangguan medis tertentu yang berkaitan. Mengenai waktu dan frekuensi pemeriksaan, hal ini akan ditentukan oleh dokter dengan memerhatikan kondisi Anda.

Sementara untuk tes protein urine yang bersifat preventif, Anda bisa melakukannya setiap beberapa bulan atau beberapa tahun sekali. Konsultasikan mengenai waktu ideal untuk melakukan tes ini dengan dokter.

Tata Laksana Pemeriksaan Protein Urine

Bagaimana dengan tata laksana pemeriksaan protein urine? Hal ini mungkin dipengaruhi oleh kondisi pasien dan juga kesiapan fasilitas medis, namun seharusnya tidak ada perbedaan yang signifikan terkait dengan tata laksana tersebut.

Berikut adalah informasi yang perlu Anda ketahui terkait tata laksana tes protein urine.

1. Pra Pemeriksaan

Sebelum pemeriksaan dilakukan, dokter akan terlebih dahulu melakukan anamnesis guna mengetahui riwayat medis pasien. Hal ini termasuk obat-obatan apa yang pernah atau sedang dikonsumsi. Pasalnya, konsumsi obat-obatan tertentu juga dapat berdampak pada kadar protein di dalam urine.

Obat-obatan yang dimaksud antara lain sebagai berikut:

  • Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS)
  • Obat antibiotik
  • Obat antijamur
  • Heroin
  • Obat lithium
  • Obat rheumatoid arthritis

Apabila Anda mengonsumsi salah satu atau beberapa dari jenis obat-obatan tersebut, dokter mungkin akan meminta Anda untuk sementara waktu menghentikan konsumsinya. Tidak lupa, dokter juga akan meminta Anda untuk minum air putih yang banyak dan tidak melakukan aktivitas fisik berat terlebih dahulu guna mengoptimalkan akurasi tes nantinya.

2. Pelaksanaan Pemeriksaan

Pemeriksaan urine untuk mengetahui kadar protein di dalamnya dilakukan dengan cara mengambil sampel urine, lalu sampel tersebut akan diteliti lebih lanjut di laboratorium. Sampel urine yang diambil terbagi menjadi 2 (dua), yaitu:

  • Sampel urine sewaktu, yakni sampel yang diambil beberapa saat sebelum pemeriksaan.
  • Sampel urine 24 jam, yakni sampel yang telah diambil dalam kurun waktu 24 jam sebelum pemeriksaan.

Pengambilan sampel dapat dilakukan di fasilitas kesehatan, maupun dibawa dari rumah Anda. Berikut adalah tata cara pengambilan sampel yang benar:

  • Bersihkan tangan terlebih dahulu dengan sabun atau cairan antiseptik.
  • Bersihkan alat kelamin dengan tisu khusus (biasanya disediakan oleh pihak fasilitas kesehatan).
  • Saat berkemih tempatkan urine di dalam wadah yang juga sudah disediakan.
  • Bersihkan bagian luar wadah dengan tisu pembersih. Setelah itu, tutup wadah dengan rapat sebelum diserahkan ke petugas medis.

Setelah sampel urine diserahkan, silahkan tunggu sampai dokter atau petugas medis selesai melakukan analisis di laboratorium.

Hasil Pemeriksaan Protein Urine

Hasil pemeriksaan protein urine akan mengarah kepada dua kemungkinan, yakni normal dan abnormal. Berikut kriteria kandungan protein yang normal:

  • Tes urine acak, kadar protein 0-20 mg/dL.
  • Tes urine 24 jam, kadar protein >80 mg/dL.

Apabila hasil tes menunjukkan kadar protein melebihi batas, ini artinya ada masalah pada kesehatan tubuh Anda. Beberapa kondisi medis yang kemungkinan dialami adalah sebagai berikut:

  • Infeksi ginjal
  • Infeksi saluran kemih
  • Gagal ginjal
  • Glomerulonefritis
  • Sindrom nefrotik
  • Diabetes
  • Hipertensi
  • Gangguan jantung
  • Limfoma Hodgkin
  • Lupus
  • Rheumatoid arthritis
  • Malaria
  • Preeklampsia

Kendati demikian, tingginya kadar protein di dalam urine juga bisa menjadi pertanda lainnya yang terbilang ringan seperti:

  • Dehidrasi
  • Demam
  • Hipotermia
  • Stres

Oleh sebab itu, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut apabila diketahui kadar protein dalam urine Anda termasuk tinggi.

Biaya Pemeriksaan Protein Urine

Harga tes protein urine mungkin saja berbeda-beda di tiap fasilitas kesehatan, tergantung dari kecakapan tenaga medis dan fasilitas yang diberikan. Pastikan Anda memilih fasilitas kesehatan yang memiliki reputasi baik dalam menerapkan prosedur pemeriksaan seperti ini.

 

  1. Anonim. Urine Protein Test. https://my.clevelandclinic.org/health/diagnostics/12983-urine-protein-test (diakses pada 24 September 2020)
  2. Anonim. 2020. Protein in Urine. https://www.kidneyfund.org/kidney-disease/kidney-problems/protein-in-urine.html (diakses pada 24 September 2020)
  3. O’Connell, K. 2018. Urine Protein Test. https://www.healthline.com/health/urine-protein-test (diakses pada 24 September 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi