Terbit: 6 Februari 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Penyakit kanker adalah salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Di antara berbagai jenis kanker, kanker paru-paru adalah penyumbang tertinggi penyebab kematian. Data dari International Agency for Research on Cancer (IARC) menunjukkan bahwa terdapat 26.000 kematian akibat kanker paru-paru terjadi di Indonesia.

Pentingnya Pemeriksaan Dini Kanker Paru-Paru untuk Para Perokok

Kasus Kanker Paru-Paru di Indonesia

Kanker jenis ini masuk dalam tiga besar jenis kanker dengan pengidap baru tertinggi setelah kanker payudara dan serviks uteri. Jumlah pengidap baru kanker paru-paru tahun 2018 mencapai 30.000 orang.

Selain itu, data IARC menunjukkan bahwa  di Indonesia prevalensi kanker paru-paru lebih tinggi pada laki-laki, yaitu 19,4 per 100.000 penduduk. Adapun angka rata-rata kematiannya mencapai 10,9 per 100.000 penduduk.

Kanker paru tidak hanya jenis kanker dengan kasus baru tertinggi dan penyebab utama kematian akibat kanker pada penduduk laki-laki, namun kanker jenis ini juga memiliki persentase kasus baru cukup tinggi pada penduduk perempuan, yaitu sebesar 13,6% dan kematian akibat kanker paru-paru sebesar 11,1%.

Pemeriksaan Dini Kanker Paru-Paru

Meningkatnya penderita kanker paru-paru tentu tidak bisa dipisahkan dari berbagai macam faktor. Mulai dari gaya hidup dan kondisi lingkungan sangat berpengaruh terhadap kecenderungan seseorang untuk terpapar pemicu kanker.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Family Fest - Advertisement

Menurut Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD, KHOM, FINASIM, FACP, Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Pusat, salah upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah berkembangnya tumor adalah dengan gaya hidup sehat.

“Gaya hidup sehat itu membuat badan kita mempunyai pertahanan tubuh, sehingga bisa menekan (tumor), jadi tumor yang jadi bisa ditekan terus,” kata dr. Aru di Jakarta, Rabu, 5 Februari 2020.

Sebagai mantan perokok, dr. Aru menyadari bahwa potensi kanker bisa terjadi pada dirinya karena aktivitas yang dilakukannya di masa lalu. Merokok adalah aktivitas yang biasa dilakukannya sejak bangku SMA. Keputusannya untuk berhenti merokok baru dilakukannya saat memasuki usia 35 tahun.

“Saya bisa jadi (menderita) kanker (tapi) saya nggak tahu kapan, karena sudah berburu berbuat kesalahan dari awal. Kanker bisa muncul nanti,” ungkapnya.

Berkaca dari kesalahan yang dilakukannya di masa lalu, dr. Aru menyadari salah satu langkah yang bisa dilakukannya adalah rutin melakukan pemeriksaan dini kanker paru-paru. “Satu-satunya jalan, saya tiap tahun rontgen. Untuk mencegah kanker yang sudah jadi saya nggak bisa,” katanya.

Tidak Memiliki Gejala pada Tahap Awal

Dibanding kanker jenis lainnya, sering kali kanker paru-paru tidak memiliki gejala di tahap awal. Menurut dr. Aru beberapa gejala kanker paru-paru yang penting untuk disadari adalah:

  • Berat badan turun berlebihan.
  • Benjolan yang tidak hilang.
  • Mudah lelah.
  • Pendarahan yang terjadi di tempat dan waktu yang tidak lazim.
  • Sesak dan batuk yang tidak hilang-hilang.
  • Nyeri yang tidak hilang di satu tempat.

Sering kali sel kanker sulit terdeteksi karena pada tahap awal belum menunjukan perubahan fisik dan baru terlihat ketika sel sudah berkembang dalam stadium lanjut.

Sementara menurut dr. Elisna Syahruddin, Ph.D., Sp.P (K), meski gejala kanker paru-paru sulit dikenali, hal penting yang harus dipahami adalah mengenali kondisi tubuh apakah memiliki faktor risiko untuk mengalami kanker jenis ini.

“Kalau dia punya faktor risiko, dia harus segera waspadalah,” ungkapnya.

Faktor Risiko Kanker Paru-Paru

Beberapa faktor risiko dapat dikendalikan, misalnya, dengan berhenti merokok. Sementara faktor-faktor lain tidak dapat dikendalikan, seperti riwayat keluarga.

Faktor risiko untuk kanker paru-paru meliputi:

  • Merokok

Risiko kanker paru-paru meningkat dengan jumlah rokok yang dibakar setiap hari dan berapa lama seseorang merokok.

  • Menjadi Perokok Pasif

Bahkan jika Anda tidak merokok, risiko kanker paru-paru bisa meningkat jika Anda terpapar asap rokok.

  • Paparan Gas Radon

Gas radon diproduksi oleh pemecahan alami uranium di tanah, batu dan air yang akhirnya menjadi bagian dari udara yang Anda hirup. Tingkat radon yang tidak aman dapat menumpuk di bangunan apa pun, termasuk rumah.

  • Paparan Asbes dan Karsinogen Lainnya

Paparan asbes di tempat kerja dan zat lain yang diketahui menyebabkan kanker seperti arsenik, kromium dan nikel, juga dapat meningkatkan risiko terkena kanker paru-paru, terutama jika Anda seorang perokok.

  • Riwayat Keluarga

Jika Anda memiliki orang tua atau saudara kandung dengan kanker paru-paru, Anda memiliki peningkatan risiko penyakit ini.

Menurut dr. Elisna, faktor risiko utama kanker paru-paru adalah rokok. Jika seseorang dicurigai menderita kanker paru-paru, foto rontgen dada, bronkoskopi, dan CT scan adalah prosedur diagnosis yang wajib dilakukan.

Meski merokok adalah penyebab paling besar penyakit paru-paru, memburuknya kualitas udara juga turut memperbesar kemungkinan terpaparnya zat kimia berbahaya dan karsinogenik masuk ke dalam tubuh.


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi