Terbit: 21 November 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Orang-orang yang mengikuti lomba lari marathon memang harus mempersiapkan kondisi fisiknya sebaik mungkin karena perlombaan ini tentu sangat berat dan melelahkan. Jika tidak, maka risiko untuk terkena cedera atau jatuh sakit pun meningkat. Bahkan, dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, lomba lari marathon bisa memakan korban jiwa. Sayangnya, hal inilah yang terjadi pada salah satu peserta Borobudur Marathon yang dilaksanakan Minggu lalu, 18 November 2018 di Magelang, Jawa Tengah.

Baru Ikut Borobudur Marathon, Pelari Ini Meninggal

Pakar kesehatan menyebut ada beberapa kemungkinan mengapa ada orang yang sampai meninggal setelah ikut lari marathon, yakni terkena hipoksia atau kondisi yang membuat jantungnya bekerja dengan berlebihan. Sebagai informasi, hipoksia adalah kondisi yang membuat oksigen yang dibawa darah tidak sampai ke otak. Biasanya, kondisi ini disebabkan oleh sebagian besar energi tubuh yang tercurahkan ke otot-otot saat kita sedang berlari. Hal ini membuat jantung tidak mendapatkan energi yang cukup untuk mengalirkan darah yang dipenuhi oksigen hingga ke otak.

Otak yang tidak mendapatkan asupan oksigen pun akhirnya tidak lagi bisa berfungsi. Hal ini berperangaruh besar bagi semua sistem dan organ tubuh sehingga akhirnya membuatnya kolaps atau tidak sadarkan diri. Jika tidak segera ditangani dengan baik, dikhawatirkan korban bisa kehilangan nyawa.

Penyebab kedua mengapa seseorang bisa meninggal setelah atau saat mengikuti lomba lari adalah jantung yang bekerja dengan terlalu berat. Jika sampai hal ini terjadi, maka jantung bisa saja berhenti sehingga tidak akan lagi bisa menjalankan sirkulasi darah. Organ tubuh seperti otak yang tidak mendapatkan oksigen dan nutrisi dari darah pun akhirnya mengalami kematian sel yang bisa membahayakan nyawa.

Kebanyakan pelari yang sampai meninggal biasanya adalah yang memaksakan kondisi tubuh atau memiliki kelainan jantung. Sebagai contoh, saat fisik sebenarnya sudah tidak lagi bisa dipaksakan untuk berlari, seorang pelari tetap terus melaju atau bahkan melakukan sprint menjelang garis finish. Padahal, hal ini akan membuat tubuh, khususnya jantung bekerja dengan jauh lebih keras. Hal ini bisa membuat risiko kematian meningkat.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Family Fest - Advertisement


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi