Pasien Bipolar Cenderung Punya Kreatifitas Tinggi

Doktersehat.com – Tiap manusia mengalami pasang surut emosi. Terkadang berada pada puncak emosi, namun terkadang merasa sangat depresi. Gangguan ini seperti memiliki dua kutub emosi, oleh karena itu disebut gangguan bipolar (Bipolar Disorder). Gejala gangguan bipolar dapat mengganggu pekerjaan, sekolah, hubungan sosial, dan mengganggu kehidupan sehari-hari.

Meskipun gangguan bipolar ini bisa diobati, banyak orang tidak mengenali tanda-tanda peringatan dan mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan. Karena gangguan bipolar cenderung memburuk tanpa pengobatan, penting untuk mengetahui apa saja gejala-gejala mirip. Mengenali masalah merupakan langkah pertama untuk mengendalikan gejala.

Gangguan bipolar (juga dikenal sebagai manik depresi) menyebabkan pergeseran serius dalam suasana hati, energi, berpikir, dan perilaku yang ekstrim (di satu sisi sangat bersemangat, di sisi lain sangat depresi). Lebih dari sekadar suasana hati yang berlangsung sekilas, gangguan bipolar dapat berlangsung berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Dan tidak seperti suasana hati biasa, perubahan suasana gangguan bipolar sangat hebat sehingga mereka mengganggu kinerja.

Selama episode manic, penderita begitu bersemangat bekerja, tidak begitu tertekan dengan tagihan utang, atau merasa cukup sehat walaupun istrihat cuma dua jam. Sedangkan selama episode depresi, penderita sangat malas bangun, penuh kebencian, putus asa, dan begitu tertekan dengan masalah social yang dialami.

Tidak ada jenius besar yang pernah hidup tanpa memiliki suatu jenis kegilaan,” kata Aristoteles. Sekarang psikiater telah menemukan nampaknya ucapan filsuf Yunani tersebut ada benarnya.

Para peneliti mempelajari 300.000 orang yang dirawat di rumah sakit karena penyakit mental dan menemukan pasien yang memiliki gangguan bipolar lebih cenderung bekerja pada profesi kreatif.

Keluarga pasien bipolar yang tidak memiliki gangguan mental juga lebih mungkin terlibat dalam pekerjaan kreatif sebagai desainer, artis, musisi, penulis atau dosen universitas.

Gangguan bipolar, juga dikenal sebagai gangguan manik depresi dan mempengaruhi sekitar 1 persen dari populasi di AS. Bipolar ditandai dengan perubahan suasana hati ekstrim yang sangat tidak stabil dari sangat senang kemudian tiba-tiba menjadi sangat sedih atau depresif.

Gangguan bipolar dapat berlangsung berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Tidak seperti perubahan suasana hati biasa, perubahan suasana hati pada penderita bipolar sangat hebat sehingga mengganggu kinerja.

“Kebanyakan orang yang kreatif tidak memiliki penyakit mental, dan kebanyakan orang yang sakit mental biasanya tidak kreatif. Namun ada tingkat yang tidak proporsional dari gangguan jiwa, terutama gangguan bipolar, pada individu yang sangat kreatif,” kata peneliti Profesor Kay Redfield dari Johns Hopkins University of Medicine seperti dukutip dari The Independent, Jumat (4/11/201).

“Tidak diketahui mengapa hal itu terjadi, tapi mungkin ada suatu gen kreativitas yang tidak hanya berperan pada jenis profesi tertentu, tetapi dalam bipolar juga,” kata Dr Lori Altshuler dari UCLA Mood Disorders Research Program yang tidak ikut dalam penelitian.

“Pasien bipolar memiliki anatomi otak yang tidak biasa. Berkurangnya pengaturan otak bagian frontal yang berperan dalam kemampuan afektif mempengaruhi amigdala dan striatum sehingga meningkatkan ketidakstabilan afektif serta kompulsifitas,” kata Katherine P. Rankin, Ph.D. dari University of California-San Francisco.

Gagasan mengenai berkurangnya pengaturan tersebut nampaknya menyebabkan pasien bipolar lebih peka dan reaktif terhadap rangsangan dari luar.

“Otak orang-orang kreatif tampaknya lebih terbuka terhadap rangsangan yang masuk dari lingkungan sekitarnya,” pungkas Katheri

Sumber : detikhealth.com