Terbit: 10 Agustus 2020 | Diperbarui: 3 November 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Paru-paru basah atau dalam istilah medis disebut pneumonia adalah infeksi pada paru-paru dengan gejala yang berkisar dari ringan hingga mengancam nyawa. Simak informasi lengkap tentang gejala, penyebab, pengobatan, dan lainnya di bawah ini!

Paru-Paru Basah: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Pencegahan, dll

Apa Itu Paru-Paru Basah?

Paru-paru basah adalah infeksi di salah satu atau kedua paru-paru yang menyebabkan terbentuknya sel paru-paru yang disebut alveoli, seharusnya berisi udara menjadi terisi cairan atau nanah.

Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh peradangan atau inflamasi baik yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau benda asing, yang mengakibatkan penderitanya mengalami batuk berdahak atau bernanah, demam, menggigil, dan sesak napas.

Infeksi paru-paru yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus, dan jamur ini berkisar dari yang ringan hingga yang mengancam jiwa. Penyakit ini paling serius pada bayi dan anak-anak, orang berusia di atas 65 tahun, memiliki masalah kesehatan, atau sistem imun yang lemah

Gejala Paru-Paru Basah

Tanda dan gejalanya beragam dari yang ringan hingga parah. Ini tergantung sejumlah faktor seperti jenis kuman penyebab infeksi, usia, dan kesehatan secara keseluruhan. Gejala yang ringan biasanya mirip dengan flu atau pilek, tetapi dapat bertahan lebih lama.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Cetaphil Promo - Advertisement

Berikut ini sejumlah tanda dan gejala paru-paru basah:

  • Nyeri dada saat bernapas atau batuk.
  • Batuk disertai dahak.
  • Kebingungan atau perubahan kesadaran mental (biasanya diatas usia 65 tahun).
  • Sesak napas.
  • Mengalami kelelahan akibat napas yang berat.
  • Demam yang disertai berkeringat dan menggigil.
  • Lebih rendah dari suhu tubuh normal (biasanya di atas usia 65 tahun dan sistem imun lemah).
  • Mual, muntah, dan diare.

Sedangkan pada bayi baru lahir dan balita mungkin tidak menunjukkan ciri-ciri paru-paru basah. Adapun gejalanya mungkin muntah, demam, batuk, gelisah, lelah, lemas, sesak napas, dan kesulitan makan.

Kapan Waktu yang Tepat Harus ke Dokter?

Jika Anda atau anak mengalami gejala paru-paru basah, jangan menunggu sampai gejalanya bertambah parah sebelum mendapatkan perawatan medis. Sebaiknya segera ke dokter jika mengalami gejala berikut, termasuk mengalami sesak napas, kebiruan di bibir dan ujung jari, nyeri dada, demam tinggi, atau batuk berdahak yang parah.

Ciri-ciri paru-paru basah harus mendapatkan perhatian medis jika termasuk dalam kelompok berisiko tinggi seperti orang di atas usia 65 tahun, anak berusia di bawah dua tahun, memiliki masalah kesehatan yang mendasarinya, atau sistem kekebalan yang lemah. Untuk orang yang rentan, gejalanya dapat dengan cepat menjadi kondisi yang mengancam nyawa.

Baca Juga: 12 Gejala Paru-Paru Basah yang Harus Dikenali dan Diwaspadai!

Penyebab Paru-Paru Basah

Infeksi paru-paru dapat disebabkan oleh berbagai organisme, termasuk bakteri, virus, dan jamur. Infeksi ini biasanya diklasifikasikan menurut jenis kuman yang menyebabkannya.

1. Bakteri

Bakteri adalah penyebab paling sering mengakibatkan infeksi paru-paru, yang dapat terjadi dengan sendirinya. Kondisi ini juga dapat berkembang setelah mengalami infeksi virus tertentu seperti pilek atau flu. Berikut ini beberapa jenis bakteri yang menjadi penyebab paru-paru basah:

  • Streptococcus pneumoniae.
  • Legionella pneumophila atau biasa disebut penyakit Legionnaires.
  • Mycoplasma pneumoniae.
  • Chlamydia pneumoniae.
  • Haemophilus influenzae.

2. Virus

Virus yang menginfeksi saluran pernapasan dapat menyebabkan kantung udara berisi cairan di paru-paru. Gejala sering kali ringan dan hilang dengan sendirinya dalam waktu beberapa minggu, tapi terkadang cukup serius sehingga memerlukan perawatan medis.

Jika menderita penyakit ini akibat virus, juga berisiko terkena bakteri yang disebutkan sebelumnya. Jenis virus yang dapat menjadi penyebab paru-paru basah, di antaranya:

  • Respiratory syncytial virus (RSV).
  • Beberapa virus flu dan flu biasa.

3. Jamur

Paru-paru basah yang disebabkan infeksi jamur lebih sering terjadi pada orang yang memiliki masalah kesehatan kronis atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Berikut ini beberapa jenis jamur yang menyebabkan infeksi paru-paru:

  • Pneumocystis pneumonia (PCP).
  • Coccidioidomycosis, yang menyebabkan demam lembah.
  • Histoplasmosis.
  • Cryptococcus.

Faktor Risiko Paru-Paru Basah

Siapa pun dapat terkena infeksi paru-paru, namun berikut ini berbagai faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami paru-paru basah:

  • Usia. Meski dapat menyerang siapa saja, tetapi yang berisiko tinggi mengalami penyakit ini adalah anak-anak di bawah usia 2 tahun dan di atas usia 65 tahun.
  • Sedang dirawat di rumah sakit. Seseorang berisiko lebih tinggi jika sedang dirawat di unit perawatan intensif rumah sakit, terutama jika menggunakan mesin untuk membantu bernapas (ventilator).
  • Penyakit kronis. Lebih berisiko jika memiliki masalah kesehatan seperti asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), atau penyakit jantung.
  • Sistem kekebalan tubuh lemah. Pengidap HIV/AIDS yang pernah menjalani transplantasi organ, menjalani kemoterapi, atau penggunaan steroid jangka panjang berisiko tinggi terkena penyakit paru-paru basah.
  • Merokok. Mengisap asap rokok dapat merusak kekebalan tubuh terhadap bakteri dan virus yang menyebabkan infeksi paru-paru.

Diagnosis Paru-Paru Basah

Jika dokter menduga pasien mengalami penyakit ini, mungkin akan disarankan untuk menjalani beberapa tes untuk memastikan diagnosis dan mempelajari lebih lanjut tentang infeksi yang dialami pasien.

Berikut ini beberapa tes untuk mendiagnosis penyakit paru-paru basah:

  • Tes darah. Tes untuk untuk memastikan infeksi dan mengidentifikasi kuman yang menyebabkan penyakit pada pasien. Rontgen dada. Ini adalah pemeriksaan yang menggunakan radiasi gelombang elektromagnetik untuk menghasilkan gambar dada bagian dalam, sehingga memudahkan dokter mencari lokasi dan tingkat peradangan di paru-paru.
  • Pulse oksimetri untuk mengukur tingkat oksigen dalam darah Anda. Pneumonia dapat mencegah paru-paru Anda memindahkan cukup oksigen ke aliran darah Anda.
  • Tes sputum. Tes dengan mengambil sampel lendir (sputum) dari batuk untuk mencari sumber infeksi.

Jika dianggap sebagai pasien berisiko tinggi karena usia dan kesehatan secara keseluruhan, atau jika dirawat di rumah sakit, dokter mungkin akan melakukan beberapa tes tambahan, di antaranya:

  • CT (computed tomographyscan dada. Pemeriksaan ini untuk menghasilkan gambar paru-paru yang lebih rinci dan mencari abses atau komplikasi lainnya.
  • Analisis gas darah. Tes untuk mengukur jumlah oksigen dalam sampel darah yang diambil dari arteri, biasanya di pergelangan tangan.
  • Analisis kultur cairan pleura. Pemeriksaan dengan mengambil sedikit cairan dari sekitar jaringan yang mengelilingi paru-paru, kemudian sampel dianalisis dan mengidentifikasi bakteri penyebab paru-paru basah.
  • Bronkoskopi. Tes ini digunakan untuk memeriksa saluran udara paru-paru. Jika dirawat di rumah sakit dan perawatan tidak bekerja dengan baik, dokter mungkin akan melihat apakah ada hal lain yang memengaruhi saluran udara, seperti penyumbatan. Dokter juga dapat mengambil sampel cairan atau biopsi jaringan paru-paru.

Pengobatan Paru-Paru Basah

Perawatannya tergantung pada jenis pneumonia yang diderita, seberapa parah, dan kondisi kesehatan secara umum. Berikut ini beberapa cara menyembuhkan paru-paru basah:

1. Obat-obatan

Dokter mungkin akan meresepkan obat untuk membantu mengobati infeksi paru-paru. Obat yang diresepkan tergantung pada penyebabnya. Berikut ini beberapa obat paru-paru basah yang mungkin diresepkan dokter:

  • Bakteri. Antibiotik oral dapat mengobati sebagian besar kasus pneumonia akibat bakteri. Selalu minum seluruh antibiotik, bahkan jika mulai pulih. Jika tidak melakukannya dapat memperlambat penyembuhan infeksi, dan mungkin lebih sulit untuk diobati di kemudian hari.
  • Virus. Obat antibiotik tidak dapat melawan virus penyebab paru-paru basah. Dalam beberapa kasus, dokter mungkin meresepkan antivirus. Namun, kebanyakan kasus pneumonia akibat virus akan sembuh sendiri dengan perawatan di rumah.
  • Jamur. Obat antijamur digunakan untuk melawan pneumonia akibat jamur. Pasien mungkin harus meminum obat ini selama beberapa minggu untuk menghilangkan gejala infeksi.

2. Perawatan di Rumah

Dokter mungkin juga merekomendasikan obat bebas atau over the counter (OTC) untuk meredakan nyeri dan demam. Beberapa obat paru-paru basah ini di antaranya:

  • Aspirin
  • Ibuprofen
  • Acetaminophen

Dokter mungkin juga menyarankan minum obat pereda batuk agar bisa istirahat. Namun, batuk pada dasarnya membantu mengeluarkan cairan dari paru-paru, jadi batuk tidak sepenuhnya dihilangkan. Pasien dapat membantu pemulihan dan mencegah kekambuhan dengan memperbanyak waktu istirahat dan minum cairan yang banyak.

3. Perawatan di Rumah Sakit

Jika gejala penyakit ini sangat parah atau memiliki masalah kesehatan lainnya, pasien mungkin memerlukan perawatan di rumah sakit. Perawatan di rumah sakit memudahkan dokter memantau detak jantung, suhu tubuh, dan pernapasan.

Berikut ini cara menyembuhkan paru-paru basah di rumah sakit:

  • Antibiotik injeksi. Antibiotik disuntikkan ke pembuluh darah lalu menuju ke organ, terutama paru-paru.
  • Terapi pernapasan. Pemberian obat-obatan tertentu langsung ke paru-paru atau mengajari pasien melakukan latihan pernapasan untuk memaksimalkan oksigenasi.
  • Terapi oksigen. Terapi ini untuk menjaga kadar oksigen tetap dalam aliran darah. Terapi oksigen diterima melalui selang dua cabang pada kedua lubang hidung, masker oksigen, atau ventilator, tergantung pada tingkat keparahan.

Komplikasi Paru-Paru Basah

Penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi, terutama pada orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah atau kondisi kronis seperti diabetes. Berikut ini beberapa komplikasi dari paru-paru basah:

  • Kondisi kronis yang memburuk. Penyakit ini dapat memperburuk keadaan jika memiliki kondisi kesehatan tertentu yang sudah diderita sebelumnya. Kondisi ini seperti gagal jantung kongestif dan emfisema. Untuk orang tertentu, infeksi paru-paru dapat meningkatkan risiko serangan jantung.
  • Bakteremia. Bakteri dari infeksi pneumonia dapat menjalar ke aliran darah. Ini dapat menyebabkan tekanan darah rendah (hipotensi) yang berbahaya, syok septik, dan bahkan kegagalan organ.
  • Abses paru-paru. Kondisi ini ditandai dengan kemunculan rongga di paru-paru yang berisi nanah. Penggunaan antibiotik bisa mengobati gejala ini, atau terkadang memerlukan drainase paru atau pembedahan untuk mengeluarkan nanah.
  • Gangguan pernapasan. Kondisi di mana paru-paru tidak dapat menyediakan oksigen yang cukup ke seluruh tubuh. Jika mengalami kesulitan mendapatkan oksigen yang cukup saat bernapas, kemungkinan memerlukan ventilator.
  • Acute respiratory distress syndrome (ARDS). Ini adalah bentuk gagal pernapasan yang berat akibat penumpukan cairan di alveoli. Kondisi ini masuk dalam kondisi darurat medis.
  • Efusi pleura. Jika tidak diobati, kemungkinan akan mengalami penumpukan cairan di sekitar paru-paru atau disebut efusi pleura. Pleura adalah selaput tipis yang melapisi bagian luar paru-paru dan bagian dalam tulang rusuk. Cairan mungkin akan terinfeksi dan perlu dikeringkan.
  • Kematian. Dalam beberapa kasus, penyakit ini dapat menyebabkan kematian.

Baca Juga: 11 Cara Menjaga Kesehatan Paru-Paru (Sehat Sampai Tua)

Pencegahan Paru-Paru Basah

Berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk mencegah infeksi pada paru-paru:

  • Vaksinasi. Mendapatkan vaksin dapat mencegah beberapa jenis pneumonia dan flu. Konsultasikan dengan dokter tentang mendapatkan vaksin karena panduan vaksinasi telah berubah seiring waktu. Jadi, pastikan untuk meninjau status vaksinasi dengan dokter bahkan jika ingat sebelumnya pernah menerima vaksin pneumonia.
  • Memastikan anak-anak mendapatkan vaksinasi. Dokter mungkin menyarankan vaksin pneumonia yang berbeda untuk anak-anak di bawah usia 2 tahun dan anak-anak usia 2-5 tahun yang berisiko terkena penyakit pneumokokus. Dokter juga merekomendasikan suntikan flu untuk anak-anak di atas usia 6 bulan.
  • Jangan merokok. Mengisap asap rokok dapat menyebabkan paru-paru mengalami iritasi dan peradangan yang memicu batuk, dan pada akhirnya menyebabkan infeksi pernapasan.
  • Menjaga sistem kekebalan tetap kuat. Istirahat dengan waktu tidur yang cukup, olahraga secara teratur, dan makan makanan yang sehat dapat mencegah penyakit paru-paru basah.
  • Menjaga kebersihan. Guna melindungi tubuh dari infeksi saluran pernapasan yang terkadang menyebabkan pneumonia, rajinlah mencuci tangan atau menggunakan pembersih tangan berbahan dasar alkohol.

 

  1. Anonim. 2020. Pneumonia. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/4471-pneumonia. (Diakses pada 10 Agustus 2020)
  2. Anonim. 2020. Learn About Pneumonia. https://www.lung.org/lung-health-diseases/lung-disease-lookup/pneumonia/learn-about-pneumonia. (Diakses pada 10 Agustus 2020)
  3. Anonim. 2020. Pneumonia. https://medlineplus.gov/pneumonia.html. (Diakses pada 10 Agustus 2020)
  4. Mayo Clinic Staff. 2020. Pneumonia. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pneumonia/symptoms-causes/syc-20354204. (Diakses pada 10 Agustus 2020)
  5. Normandin, Bree dan Jill S. 2019. Everything You Need to Know About Pneumonia. (Diakses pada 10 Agustus 2020)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi