Terbit: 14 Januari 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Parosmia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan gangguan pada indra penciuman. Ketahui penjelasan selengkapnya mengenai gejala, penyebab, hingga cara mengobatinya.

Parosmia: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Parosmia?

Parosmia adalah keadaan yang membuat Anda kehilangan kemampuan untuk mendeteksi seluruh aroma yang ada di sekitar dengan benar. Terkadang, aroma yang biasanya enak saat Anda hirup bisa memiliki bau yang kuat dan tidak menyenangkan. Kondisi ini juga sering disalahartikan sebagai phantosmia, keadaan yang menyebabkan Anda mendeteksi ‘bau hantu’ atau bau yang sebenarnya tidak ada.

Parosmia berbeda karena orang yang mengidapnya dapat mendeteksi bau, akan tetapi mendeteksi bau yang lain. Misalnya, bau harum dari roti yang baru dipanggang mungkin bagi penderita akan terasa seperti bau menyengat dan busuk.

Gejala Parosmia

Pada dasarnya tingkat keparahan gejala bervariasi pada setiap orang. Namun gejala utama dari keadaan ini adalah merasakan bau busuk yang terus-menerus, terutama saat ada makanan. Anda mungkin juga mengalami kesulitan mengenali atau memperhatikan beberapa bau yang ada di sekitar.

Aroma yang tadinya Anda anggap menyenangkan mungkin sekarang menjadi menyengat dan mengganggu. Jika Anda mencoba mengonsumsi makanan yang baunya ‘tidak enak’, hal itu bisa menyebabkan perasaan mual.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku PTH - Advertisement

Baru-baru ini, parosmia juga dikaitkan dengan gejala virus Corona (COVID-19). Namun kasus ini banyak terjadi pada pasien Corona yang ada di luar negeri. Di Indonesia belum banyak penelitian terkait hal ini.

Keadaan ini dapat terjadi pada pasien COVID-19 karena virus SARS-CoV-2 yang memengaruhi jalur pemrosesan penciuman seseorang. Bisa di reseptor saraf penciuman (saraf kranial 1), saraf penciuman, atau pusat persepsi saraf penciuman.

Penyebab Parosmia

Penyebab keadaan ini adalah rusaknya scent-detecting neurons, bisa karena virus atau kondisi kesehatan lainnya.  Neuron-neuron ini melapisi hidung dan memberi tahu otak bagaimana cara menafsirkan informasi kimiawi yang membentuk bau. Kerusakan neuron ini mengubah cara aroma mencapai otak.

Berikut berbagai penyebab umum parosmia adalah:

1. Cedera Kepala atau Trauma Otak

Cedera otak traumatis/traumatic brain injury (TBI) telah dikaitkan dengan kerusakan penciuman. Meskipun durasi dan tingkat keparahan kerusakan bergantung pada cedera, tinjauan literatur medis menunjukkan bahwa munculnya gejala dari keadaan ini setelah TBI adalah sesuatu yang jarang terjadi. Trauma otak juga bisa disebabkan oleh kerusakan akibat kejang.

2. Infeksi Bakteri atau Virus

Salah satu penyebab keadaan ini adalah kerusakan penciuman akibat flu atau virus. Infeksi saluran pernapasan bagian atas dapat merusak neuron penciuman. Hal ini lebih sering terjadi pada populasi yang lebih tua.

Sebuah penelitian terhadap 56 orang yang memiliki keadaan ini menunjukkan bahwa, lebih dari 40 persen partisipan mengalami infeksi saluran pernapasan atas yang diyakini terkait dengan permulaan keadaan ini.

3. Merokok dan Paparan Bahan Kimia

Sistem penciuman dapat mengalami kerusakan akibat merokok. Seiring waktu, racun dan bahan kimia dalam rokok dapat menyebabkan keadaan ini. Paparan bahan kimia beracun dan polusi udara tinggi juga dapat menyebabkan hal ini.

4. Efek Samping Pengobatan Kanker

Radiasi dan kemoterapi dapat menyebabkan keadaan ini. Sebuah studi mengungkapkan, efek samping ini menyebabkan penurunan berat badan dan malnutrisi karena keengganan makanan terkait dengan parosmia.

5. Kondisi Neurologis

Salah satu gejala pertama penyakit Alzheimer dan Parkinson adalah hilangnya indra penciuman. Selain itu, lewy body dementia dan penyakit Huntington juga menyebabkan kesulitan dalam merasakan bau dengan benar.

6. Tumor

Tumor pada sinus bulbs, korteks frontal, dan rongga sinus dapat menyebabkan perubahan pada indra penciuman. Meski begitu, tumor sendiri jarang menyebabkan parosmia. Lebih sering, orang yang memiliki tumor mengalami phantosmia.

7. Multiple Sclerosis

Terdapat sebuah kasus di mana seorang wanita yang berusia 36 tahun dilaporkan mengembangkan keadaan ini 3 bulan sebelum didiagnosis multiple sclerosis (MS). Selain itu, sebuah studi yang mengevaluasi fungsi ortho-and retronasal olfactory pada pasien MS menemukan bahwa 75% dari 16 pasien yang diteliti menunjukkan gangguan penciuman kuantitatif, 6,25% melaporkan parosmia dan 18,75% melaporkan phantosmia.

Baca Juga: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA): Gejala, Penyebab dan Pengobatan

Diagnosis Parosmia

Kondisi ini dapat didiagnosis oleh ahli otolaringologi atau populer dengan sebutan dokter Telinga Hidung Tenggorokan (THT). Meski begitu, tidak ada tes standar untuk kondisi ini, diagnosis didasarkan pada pengalaman pasien. Sedangkan metode kualitatif untuk mengevaluasi fungsi penciuman adalah Sniffin ‘Sticks Test (SST).

Selain itu, pemeriksaan lain yang mungkin dilakukan oleh dokter adalah menanyakan tentang:

  • Riwayat kanker di keluarga dan kondisi neurologis.
  • Infeksi baru yang Anda alami.
  • Faktor gaya hidup seperti merokok.
  • Obat-obatan yang saat ini Anda konsumsi.

Jika dokter mencurigai bahwa penyebab keadaan ini terkait dengan neurologis atau terkait kanker, pemeriksaan lanjutan mungkin diperlukan seperti rontgen sinus, biopsi area sinus, atau MRI.

Pengobatan Parosmia

Meski keadaan ini bisa diobati, tetapi tidak semua kasus mampu diatasi. Jika kondisi ini disebabkan oleh faktor lingkungan, pengobatan kanker, atau merokok, indra penciuman bisa kembali normal setelah pemicu dihilangkan.

Terkadang pembedahan diperlukan untuk mengatasi keadaan ini. Penghalang hidung, seperti polip atau tumor, mungkin perlu diangkat.

Beberapa perawatan lain yang bisa Anda lakukan adalah:

  • Menggunakan klip hidung untuk mencegah bau masuk ke hidung.
  • Zinc.
  • Vitamin A.
  • Antibiotik.

Meski begitu, penelitian lebih lanjut masih harus dilakukan untuk membuktikan keefektifan obat atau suplemen dalam mengatasi gangguan pada indra penciuman ini. Konsultasi dengan dokter diperlukan untuk mendapatkan pengobatan yang terbaik.

Pemulihan

Parosmia adalah kondisi yang tidak permanen. Neuron mungkin dapat memperbaiki dirinya sendiri seiring waktu. Sebanyak 60 persen kasus yang disebabkan oleh infeksi, fungsi penciuman pulih pada tahun-tahun berikutnya.

Waktu pemulihan bervariasi sesuai dengan penyebab dan pengobatan yang Anda gunakan. Jika keadaan ini disebabkan oleh virus atau infeksi, indra penciuman dapat kembali normal tanpa pengobatan. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk pulih sepenuhnya antara dua hingga tiga tahun.

Usia, jenis kelamin, dan seberapa baik indra penciuman berperan dalam prognosis jangka panjang. Konsultasi dengan dokter diperlukan jika Anda mengalami perubahan pada indra penciuman.

 

  1. Ciurleo, Rosella, Simona De Salvo, Lilla Bonanno, Silvia Marino, Placido Bramanti, dan Fabrizia Caminiti. Parosmia and Neurological Disorders: A Neglected Association. https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fneur.2020.543275/full. (Diakses pada 14 Januari 2021).
  2. Ika. 2021. Parosmia as the New Covid-19 Symptom. https://www.ugm.ac.id/en/news/20584-parosmia-as-the-new-covid-19-symptom. (Diakses pada 14 Januari 2021).
  3. Watson, Kathryn. 2018. Parosmia. https://www.healthline.com/health/parosmia#diagnosis. (Diakses pada 14 Januari 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi