Terbit: 4 Juni 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Paraplegia adalah kondisi medis yang menyebabkan gangguan fungsi motorik atau sensorik pada tubuh bagian bawah. Hal ini paling sering disebabkan oleh cedera traumatis pada tulang belakang. Simak gejala, penyebab, diagnosis, hingga pengobatan paraplegia selengkapnya di bawah ini.

paraplegia-doktersehat

Apa Itu Paraplegia?

Paraplegia adalah cedera saraf tulang belakang yang melumpuhkan anggota tubuh bagian bawah. Hal ini disebabkan akibat kerusakan parah pada sumsum tulang belakang dan sistem saraf. Pada umumnya, kondisi ini memengaruhi batang tubuh, kaki, dan area panggul, yang membuat bagian tubuh yang terkena tidak bisa bergerak.

Gejala Paraplegia

Terdapat banyak gejala yang bisa terjadi saat seseorang mengalami kondisi ini. Meski begitu, beberapa gejala ini dapat berubah dari waktu ke waktu. Berikut adalah sejumlah gejala yang mungkin terjadi, antara lain:

  • Hilangnya sensasi di tubuh bagian bawah
  • Phantom pain dan nyeri di bagian bawah tubuh
  • Disfungsi seksual dan penurunan libido
  • Disrefleksia otonom

Selain beberapa gejala di atas, masalah sekunder lain yang bisa dihadapi penderita paraplegia adalah seperti infeksi dan masalah kulit yang timbul sebagai akibat dari sedentary lifestyle. Bahkan, penderita juga mungkin berisiko mengalami depresi, terutama pada tahap awal cedera karena begitu banyak penyesuaian baru yang perlu dilakukan.

Kapan Waktu yang Tepat ke Dokter?

Mati rasa atau kelumpuhan dapat terjadi segera atau datang secara bertahap karena perdarahan yang terjadi di dalam atau di sekitar sumsum tulang belakang. Jika Anda mengalami kondisi, tindakan medis harus segera dilakukan.

Waktu antara cedera dan perawatan adalah sesuatu yang sangat penting dalam menentukan tingkat keparahan komplikasi dan kemungkinan tingkat pemulihan.

Penyebab Paraplegia

Paraplegia adalah kondisi yang bisa disebabkan oleh kerusakan otak atau sumsum tulang belakang. Dalam banyak kasus, kondisi ini terjadi setelah mengalami cedera traumatis pada daerah thoracic, lumbar, atau sacrum.

Selain itu, kondisi bawaan seperti spina bifida, yaitu cacat lahir yang terjadi akibat terganggunya pembentukan tabung saraf selama bayi dalam kandungan, diketahui juga merupakan penyebab kondisi ini.

Selain itu, beberapa kondisi kronis juga dapat menyebabkan kondisi ini, antara lain:

  • Tumor atau lesi pada tulang belakang atau otak
  • Kondisi neurologis seperti stroke atau cerebral palsy
  • Kondisi autoimun seperti multiple sclerosis

Faktor Risiko

Meskipun kondisi sering terjadi akibat kecelakaan dan bisa terjadi pada siapa saja, terdapat beberapa faktor tertentu yang membuat seseorang lebih berisiko mengalami kondisi ini, antara lain:

  • Lebih sering terjadi pada pria
  • Berada di antara usia 16 sampai 30 tahun
  • Sering melakukan aktivitas-aktivitas yang berisiko
  • Mengalami gangguan tulang atau sendi

Diagnosis Paraplegia

Diagnosis yang bisa dilakukan oleh dokter adalah dengan menilai gejala dan riwayat medis. Dokter juga mungkin akan bertanya tentang kecelakaan yang baru-baru ini dialami dan riwayat keluarga dengan kondisi tertentu.

Tes lain yang mungkin diperlukan untuk membantu diagnosis paraplegia, di antaranya:

  • MRI/CT Scan kepala. Prosedur ini diperlukan untuk ¬†mengetahui adakah kerusakan pada otak atau stroke.
  • Sinar-X/Rontgen vertebra. Prosedur ini diperlukan untuk memeriksa adanya tumor atau patah tulang belakang.
  • Magnetic Resonance Imaging (MRI) Vertebra. Prosedur ini diperlukan untuk mengetahui adakah jepitan saraf / HNP atau pembentukan massa yang dapat menekan sumsum tulang belakang.
  • Elektromiografi. Tes diperlukan untuk mengetahui penjalaran rangsang pada saraf tepi dan respon otot.

Pengobatan Paraplegia

Pada dasarnya setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda-beda, sehingga perawatan antara satu dengan yang lain tidaklah sama. Perawatan intensif memberi Anda kesempatan terbaik untuk pulih, terutama ketika Anda mulai menerima perawatan segera setelah cedera.

Beberapa opsi perawatan yang bisa dilakukan, di antaranya:

  • Operasi penyelarasan sumsum tulang belakang.
  • Konsumsi obat untuk mengurangi risiko infeksi, pembekuan darah, dan masalah sekunder lainnya.
  • Terapi fisik diperlukan untuk membantu mendapatkan kembali sebanyak mungkin fungsi tubuh dengan mengajarkan otak dan sumsum tulang belakang mengatasi cedera. Beberapa terapi yang dicoba adalah yoga, weightlifting, water aerobics, dan seated aerobics.
  • Psikoterapi diperlukan untuk membantu mengadopsi coping skill, strategi yang digunakan seseorang untuk mengatasi tekanan atau permasalahan tertentu agar menjadi lebih baik.
  • Occupational training diperlukan untuk membantu mempelajari keterampilan baru, mendapatkan kembali keterampilan lama, dan menemukan cara baru untuk mengatasi cedera.
  • Alternative modalities. Prosedur ini hanya boleh dilakukan dengan persetujuan dokter. Beberapa orang yang menggunakan teknik akupunktur, pijat, terapi chiropractic, atau perawatan holistik lainnya ternyata dapat membantu mengurangi gejala.

Komplikasi Paraplegia

Cedera pada tulang belakang menyebabkan banyak perubahan pada tubuh, salah satunya adalah menurunnya kemampuan mengontrol kandung kemih. Berikut adalah berbagai komplikasi lainnya yang bisa terjadi, antara lain:

  • Infeksi ginjal
  • Perubahan gerakan usus
  • Hilangnya kemampuan kulit untuk menerima rangsangan
  • Tekanan darah rendah
  • Peningkatan risiko pneumonia
  • Gangguan tonus otot
  • Penurunan berat badan
  • Mengganggu kesuburan dan fungsi seksual
  • Nyeri saraf
  • Depresi

Pencegahan Paraplegia

Paraplegia adalah kondisi yang memiliki dampak yang besar bagi kehidupan seseorang karena membuat aktivitas sehari-harinya dapat terganggu. Beberapa pencegahan yang bisa dilakukan antara lain:

  • Berkendara dengan aman. Kecelakaan mobil dan motor adalah adalah salah satu penyebab paling umum dari paraplegia.
  • Periksa kedalaman air sebelum menyelam. Pastikan bahwa Anda tidak menyelam ke air yang dangkal.
  • Upaya pencegahan agar tidak terjatuh. Bisa dengan menambahkan pegangan di tangga atau meletakan keset antislip di kamar mandi.
  • Jangan berkendara saat mabuk atau di bawah pengaruh obat-obatan.

 

  1. Anonim. Paraplegia. https://www.apollohospitals.com/patient-care/health-and-lifestyle/diseases-and-conditions/paraplegia. (Diakses pada 4 Juni 2020).
  2. Anonim. What is Paraplegia?. https://sciprogress.com/paraplegia-explained/. (Diakses pada 4 Juni 2020).
  3. Anonim. Spinal cord injury. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/spinal-cord-injury/symptoms-causes/syc-20377890. (Diakses pada 4 Juni 2020).
  4. Anonim. Paraplegia | Paraplegic: Definition, Causes, Symptoms and Treatment. https://www.spinalcord.com/paraplegia. (Diakses pada 4 Juni 2020).
  5. Kandola, Aaron. 2020. Everything you need to know about paraplegia. https://www.medicalnewstoday.com/articles/what-is-paraplegia. (Diakses pada 4 Juni 2020).
  6. Smith, Yolanda. What is Paraplegia?. https://www.news-medical.net/health/What-is-Paraplegia.aspx. (Diakses pada 4 Juni 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi