Terbit: 6 Juli 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Parainfluenza adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan beberapa jenis virus. Meski ringan, gejala penyakit ini dapat memburuk bahkan mengancam nyawa. Selengkapnya ketahui gejala, penyebab, pengobatan, pencegahan di bawah ini!

Parainfluenza: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Pencegahan, dll

Apa Itu Parainfluenza?

Parainfluenza adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan sekelompok virus atau disebut human parainfluenza virus (HPIV). Terdapat empat jenis virus dalam kelompok ini, yang masing-masing menyebabkan berbagai gejala dan penyakit. Semua bentuk HPIV menyebabkan infeksi di area pernapasan bagian atas atau bawah tubuh seseorang.

Tanda dan gejala HPIV tampak seperti flu biasa. Ketika kondisinya ringan, virus sering kali salah didiagnosis. Kebanyakan orang sehat yang terinfeksi HPIV akan sembuh tanpa perawatan. Namun, orang dengan sistem kekebalan yang lemah berisiko mengembangkan infeksi yang mengancam jiwa.

Gejala Parainfluenza

Dalam kebanyakan kasus, gejala dan ciri-ciri parainfluenza tidak parah dan mungkin mirip dengan flu biasa. Gejala umum dari empat jenis HPIV, termasuk:

  • Demam
  • Hidung meler
  • Hidung tersumbat
  • Sesak napas
  • Mengi
  • Batuk
  • Nyeri dada
  • Sakit tenggorokan

Terkadang gejalanya akan semakin memburuk dan dapat menyebabkan infeksi pada tabung bronkial utama paru-paru (bronkitis), saluran udara yang lebih kecil (bronkiolitis), atau paru-paru itu sendiri (pneumonia). HPIV dapat mengancam nyawa pada bayi, lansia, atau orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera ke rumah sakit jika anak mengalami gejala dan ciri-ciri parainfluenza berupa sesak napas, mengi, croup (infeksi saluran pernapasan pada anak), anak di bawah 18 bulan mengembangkan semua jenis gejala pernapasan atas, dan gejala bertambah buruk atau tidak membaik setelah minum obat.

Penyebab Parainfluenza

Seperti flu biasa, penyakit parainfluenza mudah ditularkan dari orang ke orang. Virus ini cukup kuat dan dapat hidup di permukaan benda yang keras hingga 10 jam, seperti gagang pintu, pegangan tangga, tombol lift, permukaan meja, dan permukaan benda lainnya.

Jika tangan menyentuh permukaan benda yang sudah terkontaminasi, kemudian menyentuh hidung atau mulut, kemungkinan akan terinfeksi.

Virus ini juga dapat menginfeksi melalui kontak dekat dengan orang yang terinfeksi melalui droplet, yaitu percikan bersin atau mulut. Biasanya gejala parainfluenza muncul setelah dua atau tujuh hari terpapar virus.

Infeksi parainfluenza lebih sering terjadi pada musim dingin. Sebagian besar penyakit ini terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun, tetapi bisa terjadi pada usia berapa pun.

Faktor Risiko Parainfluenza

Faktor yang meningkatkan risiko infeksi HPIV sebagian besar anak di bawah usia 5 tahun. Berikut penjelasan selengkapnya:

  • Anak laki-laki lebih sering dipengaruhi oleh croup, bronkiolitis, dan pneumonia daripada anak perempuan.
  • Croup paling sering terjadi pada anak-anak usia 3 bulan hingga 5 tahun.
  • Croup lebih sering terjadi di musim hujan.
  • Anak-anak di bawah usia 2 tahun lebih mungkin terkena pneumonia atau bronkiolitis.
  • Bronkiolitis biasanya terjadi pada musim hujan.
  • Usia 2 hingga 6 bulan paling sering terkena bronkiolitis.
  • Pneumonia dapat terjadi sepanjang tahun, tetapi biasanya di musim hujan.
  • Memiliki risiko radang paru-paru.
  • Sebanyak 10 hingga 15 persen anak-anak dengan infeksi pernapasan menderita pneumonia.
  • Infeksi berulang dapat terjadi setelah infeksi pertama, tetapi biasanya ringan.

Baca Juga: Influenza: Penyebab, Gejala, Pengobatan, Pencegahan, dll

Diagnosis Parainfluenza

Jika memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, dokter mungkin akan memastikan diagnosis jenis HPIV tertentu.

Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik untuk menentukan apakah gejala cocok dengan HPIV. Dokter mungkin akan melakukan swab tenggorokan atau hidung untuk diagnosis yang lebih akurat. Prosedur ini dapat mendeteksi dan mengidentifikasi keberadaan virus dalam kultur sel.

Dokter juga dapat mendiagnosis virus tertentu dengan mendeteksi antigen yang dibuat tubuh pasien untuk melawan virus.

Selain itu, beberapa tes mungkin diperlukan untuk memastikan diagnosis, di antaranya:

  • Rontgen dada. Pemeriksaan menggunakan gelombang elektromagnetik untuk menghasilkan gambar dada bagian dalam, yang memudahkan dokter mengidentifikasi masalah kesehatan.
  • CT (computed tomography) scan. Pemeriksaan yang menggunakan sinar-X untuk menghasilkan gambar anatomi bagian dalam tubuh dengan bantuan komputer, khususnya bagian dada.

Jenis Parainfluenza

Penyakit Parainfluenza (HPIV) terdiri dari empat jenis yang semuanya menyebabkan infeksi pernapasan, tetapi jenis infeksi, gejala, dan lokasi infeksi tergantung pada jenis virus.

Berikut ini empat jenis parainfluenza:

  • HPIV-1. Jenis ini merupakan penyebab utama croup pada anak-anak. Wabah croup biasanya terjadi di musim gugur.
  • HPIV-2. Juga sering menjadi penyebab croup di musim gugur dan jumlah penderitanya rendah. Lebih jarang terjadi daripada HPIV-1.
  • HPIV-3. Jenis ini sebagian besar terkait dengan pneumonia, bronkitis, dan bronkiolitis. Kondisi ini sering menyebabkan infeksi di musim semi dan awal musim panas, tetapi bisa muncul sepanjang tahun.
  • HPIV-4. Merupakan jenis yang jarang terjadi dari jenis lainnya. Ini terkait dengan penyakit yang lebih parah. Berbeda dengan jenis lainnya, HPIV-4 tidak ada pola musiman.

Pengobatan Parainfluenza

Belum ada pengobatan khusus untuk mengatasi penyakit parainfluenza. Namun, sering kali penderitanya akan membaik dengan sendirinya.

Adapun pengobatan parainfluenza berguna untuk meredakan gejala, di antaranya:

1. Acetaminophen

Obat ini mengurangi rasa sakit dan demam, baik dengan atau tanpa resep dokter. Namun, sebaiknya berkonsultasi dengan apoteker atau dokter tentang dosis dan aturan pakai.

Acetaminophen dapat menyebabkan kerusakan hati jika tidak dikonsumsi dengan benar. Jangan menggunakannya lebih dari 4 gram.

2. Obat Antiinflamasi Nonsteroid (OAINS)

Salah satu golongan obat ini adalah ibuprofen, yang membantu mengurangi pembengkakan, nyeri, dan demam. Obat tersedia dengan atau tanpa perintah dokter.

OAINS dapat menimbulkan efek samping seperti perdarahan lambung atau masalah ginjal pada orang tertentu. Jika minum obat pengencer darah, selalu tanyakan pada apoteker atau dokter apakah obat ini aman untuk Anda. Jangan lupa baca aturan pakai pada kemasan obat dan ikuti petunjuknya.

Anak-anak dan remaja yang mengalami demam dan infeksi virus tidak boleh menggunakan aspirin yang masuk dalam golongan OAINS.

3. Obat Antivirus

Obat ini berguna untuk mengobati penyakit yang disebabkan infeksi virus, yang dapat dikonsumsi berdasarkan resep dokter. Obat antivirus dapat mematikan virus, menghambat, dan membatasi perkembangan virus dalam tubuh. Penggunaan obat antivirus hanya diberikan berdasarkan saran dari dokter.

Baca Juga: 9 Obat Flu Alami yang Paling Manjur untuk Anak dan Dewasa

Komplikasi Parainfluenza

Penyakit ini dapat menyebabkan infeksi bakteri sekunder, merupakan komplikasi yang paling umum. Obstruksi jalan napas pada croup dan bronkiolitis bisa parah dan bahkan mengancam nyawa.

Pencegahan Penyakit Parainfluenza

Tidak ada vaksin yang dapat mencegah infeksi HPIV. Namun, ada sejumlah langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengurangi risikonya.

Berikut sejumlah cara mencegah parainfluenza:

  • Sering mencuci tangan. Mencuci tangan menggunakan sabun setelah memakai kamar mandi, mengganti popok anak, bersin, menyentuh benda di fasilitas umum, sebelum menyiapkan atau sesudah makan. Gunakan hand sanitizer jika tidak ada sabun dan air.
  • Jangan menyentuh wajah. Jika belum mencuci tangan, jangan menyentuh bagian wajah seperti mata, hidung, atau mulut.
  • Menutup mulut saat bersin atau batuk. Sebaiknya tutup mulut atau hidung ketika batuk atau bersih menggunakan tisu atau arahkan ke siku tangan. Jika memakai tisu, segera buang dan cuci tangan.
  • Membersihkan benda yang digunakan bersama. Bersihkan benda yang digunakan untuk bersama dengan pembersih pembunuh kuman, termasuk permukaan meja, gagang pintu, dan sakelar lampu. Juga jangan berbagi handuk, peralatan makan, dan piring dengan orang yang sakit atau terinfeksi HPIV. Cucilah seprai, handuk, peralatan makan, dan piring dengan sabun dan air.
  • Menggunakan masker jika sakit. Masker dapat membantu mencegah penyebaran virus kepada orang lain. Memakai masker terutama saat berada di tempat ramai.
  • Jauhi orang lain jika sedang sakit. Sebaiknya tetap berada di rumah sampai 24 jam setelah demam dan gejala hilang.

 

  1. Anonim. 2020. Parainfluenza. https://medlineplus.gov/ency/article/001370.htm. (Diakses pada 6 Juli 2020)
  2. Anonim. Tanpa Tahun. Human Parainfluenza Viruses (HPIV) Symptoms & Causes. http://www.childrenshospital.org/conditions-and-treatments/conditions/h/human-parainfluenza-viruses-hpiv/symptoms-and-causes. (Diakses pada 6 Juli 2020)
  3. Anonim. 2020. Parainfluenza. https://www.drugs.com/cg/parainfluenza.html. (Diakses pada 6 Juli 2020)
  4. Duda, Kristina. 2020. What Is Parainfluenza?. https://www.verywellhealth.com/what-is-parainfluenza-770639#causes. (Diakses pada 6 Juli 2020)
  5. Ellis, Mary E. 2018. Parainfluenza. https://www.healthline.com/health/cold-flu/parainfluenza#symptoms. (Diakses pada 6 Juli 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi