Terbit: 21 September 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Pantangan rematik harus dihindari jika tidak ingin kondisi semakin memburuk. Ada sejumlah makanan tertentu dan kegiatan lainnya yang harus dihindari bagi penderita rematik atau dalam istilah medis disebut rheumatoid arthritis (RA). Ketahui informasi selengkapnya di bawah ini!

12 Pantangan Rematik yang Harus Dihindari, Jangan Dilanggar!

Makanan Pantangan Rematik yang Harus Dihindari

Apa yang Anda makan dapat memberikan dampak baik atau sebaliknya jika memiliki masalah kesehatan tertentu. Ada berbagai makanan yang perlu dihindari karena memiliki kalori berlebih dan memicu peradangan yang memperburuk gejala rematik.

Berikut ini sejumlah makanan pantangan rematik:

1. Gula dan Tepung Olahan

Makan makanan dengan kandungan karbohidrat sederhana yang mudah diuraikan oleh tubuh dapat menyebabkan kadar gula darah melonjak. Makanan tersebut termasuk makanan ringan dan minuman manis, roti dan pasta dari tepung putih, dan nasi putih.

Lonjakan gula darah dapat memicu tubuh memproduksi bahan kimia pro-inflamasi atau disebut sitokin yang dapat memperburuk gejala rematik jika peradangan terjadi pada persendian. Makanan tersebut juga dapat menyebabkan penambahan berat badan, sehingga membuat persendian stres.

2. Makanan Digoreng

Makanan yang digoreng tidak hanya menjadi pantangan kolesterol, tetapi juga menjadi pantangan rematik. Menurut peneliti dari Mount Sinai School of Medicine, mengurangi makanan yang digoreng bisa menurunkan tingkat peradangan.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism di tahun 2009, melaporkan bahwa makanan yang digoreng mengandung racun atau disebut produk akhir glikasi lanjutan, yang dapat meningkatkan oksidasi dalam sel-sel tubuh.

Makanan yang digoreng juga mengandung banyak lemak dan menyebabkan penambahan berat badan.

3. Daging Merah

Daging merah mengandung lemak jenuh tingkat tinggi yang dapat memperparah peradangan dan juga memicu obesitas. Daging merah juga mengandung asam lemak omega-6, yang menyebabkan peradangan jika mengonsumsinya terlalu banyak.

Sebagian penderita rematik telah melaporkan bahwa gejalanya membaik ketika berhenti atau menghindari makan daging merah. Namun, potongan daging merah tanpa lemak dapat memberikan protein dan nutrisi penting untuk penderita rematik, sehingga tidak menyebabkan peradangan tambahan.

4. Garam

Garam adalah salah satu bumbu dasar untuk setiap makanan karena dapat meningkatkan cita rasa masakan. Meskipun garam biasanya tidak berbahaya, tetapi menambahkan garam yang berlebihan dan bahan pengawet lainnya dapat menyebabkan peradangan sendi karena rematik.

Makanan olahan biasanya mengandung garam tinggi, jadi sebaiknya hindari makanan tersebut atau cari pilihan makanan rendah garam. Alih-alih menambahkan garam sebagai penyedap rasa untuk masakan, cobalah berinovasi dengan bumbu pengganti garam seperti bawang merah dan bawang putih, kunyit, atau jahe.

Jangan lupa, sebaiknya tidak menaruh wadah garam di atas meja untuk membantu menjalani pantangan rematik.

5. Gluten

Gluten adalah salah satu protein yang ditemukan dalam biji-bijian seperti gandum, gandum hitam, dan barley, yang dapat menyebabkan peradangan sendi pada sebagian orang.

Dokter meyakini bahwa efeknya bisa lebih besar bagi orang dengan gangguan autoimun seperti penyakit celiac atau rheumatoid arthritis.

Baca Juga: Rheumatoid Arthritis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

6. Makanan yang Diproses

Makanan olahan yang banyak tersedia di supermarket hingga makanan siap saji atau makanan sedikit pemasakan, cenderung mengandung bahan yang menyebabkan peradangan sendi.

Makanan tersebut biasanya ditambahkan gula, tepung olahan, dan lemak jenuh, yang semuanya membuat makanan menjadi menggugah selera tetapi juga tidak sehat.

Oleh karena itu, sebaiknya selalu baca informasi gizi dan daftar bahan makanan olahan pada kemasan untuk membuat pilihan bijak yang tidak dapat memperburuk gejala rematik Anda.

7. Alkohol

Minum alkohol dalam jumlah sedang sebenarnya telah terbukti menurunkan risiko rheumatoid arthritis dan memperlambat perkembangannya, menurut penelitian yang diterbitkan dalam Rheumatic Disease Clinics of North America di tahun 2012.

Namun, minum alkohol terlalu banyak dapat menyebabkan lonjakan kadar C-reactive protein (CRP) tubuh, menurut penelitian yang diterbitkan dalam Alcohol and Alcoholism di tahun 2009.

CRP adalah sinyal peradangan yang kuat, dan temuan penelitian menunjukkan bahwa minum alkohol berlebihan dapat meningkatkan peradangan dan merusak rheumatoid arthritis.

Pantangan Rematik Lainnya yang Harus Dihindari

Selain makanan dan minuman tertentu, terdapat beberapa hal lainnya yang harus dihindari agar tidak memperparah kondisi dan mengurangi gejala rematik.

Berikut ini beberapa hal yang harus dihindari penderita rematik:

1. Merokok

Merokok secara signifikan dapat meningkatkan risiko rematik. Orang dengan riwayat merokok terkait dengan peningkatan risiko rematik. Ini adalah satu-satunya faktor risiko yang dapat dikendalikan. Merokok juga dapat menyebabkan gejala rematik berkembang lebih cepat.

Jika Anda perokok dan memiliki rematik, sebaiknya segera berhenti jika tidak ingin kondisinya memburuk. Berhenti merokok akan sangat mengurangi kemungkinan terkena rematik di kemudian hari.

2. Terlalu Banyak Istirahat

Ketika mengalami nyeri sendi dan kelelahan, kondisi ini menyebabkan sulit untuk bangun dan bergerak. Namun di sisi lain, olahraga secara teratur sangat penting untuk kesehatan. Terlalu banyak istirahat ketika rematik kambuh dapat memperburuk rasa sakit, kelelahan, dan kekakuan.

Saat rematik terasa, kurangi aktivitas tetapi jangan berhenti beraktivitas secara total. Untuk menyiasatinya, lakukan latihan fleksibilitas yang lembut seperti yoga dan tai chi.

Ketika merasa lebih baik, tingkatkan aktivitas dengan menambah latihan kekuatan untuk memperkuat otot di sekitar persendian. Lakukan juga latihan kardio untuk jantung, tulang, dan suasana hati.

3. Kelebihan Berat Badan

Orang dengan kelebihan berat badan berisiko lebih tinggi mengembangkan rheumatoid arthritis (RA). Wanita yang didiagnosis dengan RA di bawah usia 55 tahun cenderung mengalami kelebihan berat badan alias obesitas.

Guna mengurangi risiko terkena RA, lakukan pantangan rematik dengan mengambil langkah-langkah untuk menjaga berat badan yang lebih sehat, termasuk makan makanan yang sehat dan rajin berolahraga.

Baca Juga: 15 Obat Rematik Alami Tradisional dan Medis

4. Olahraga Berat

Orang dengan RA harus menghindari olahraga berat atau olahraga apa pun yang menyebabkan rasa sakit, termasuk latihan berdampak tinggi yang memberi tekanan berlebihan pada sendi.

Namun, tidak ada latihan khusus yang harus dihindari setiap penderita RA. Kondisi setiap orang berbeda, dan aktivitas yang menyebabkan rasa sakit bagi satu orang mungkin tidak memiliki efek yang sama pada orang lain.

5. Polutan Lingkungan

Sejumlah peneliti telah mengidentifikasi bahwa paparan beberapa polutan lingkungan sejak kecil dapat meningkatkan risiko RA. Meskipun Anda mungkin tidak selalu bisa menghindari paparan polutan lingkungan, cobalah sebisa mungkin hindari serat asbes atau silika.

Jika bekerja yang berhubungan dengan bahan kimia berbahaya, pastikan memakai perlengkapan keselamatan yang lengkap setiap saat.

 

  1. Anonim 2019. 6 Rheumatoid Arthritis Mistakes to Avoid. https://www.webmd.com/rheumatoid-arthritis/mistakes-with-ra. (Diaskes pada 21 September 2020)
  2. Durning, Marijke V. 8 Foods to Avoid When You Have Rheumatoid Arthritis. https://www.healthgrades.com/right-care/rheumatoid-arthritis/8-foods-to-avoid-when-you-have-rheumatoid-arthritis. (Diaskes pada 21 September 2020)
  3. Gál, Kat. 2018. Best exercises for rheumatoid arthritis pain. https://www.medicalnewstoday.com/articles/322917. (Diaskes pada 21 September 2020)
  4. Nall, Rachel. 2020. Preventing Rheumatoid Arthritis. https://www.healthline.com/health/rheumatoid-arthritis-prevention. (Diaskes pada 21 September 2020)
  5. Thompson Jr, Dennis. 2014. 6 Foods to Avoid With Rheumatoid Arthritis. https://www.everydayhealth.com/hs/guide-to-managing-ra/foods-to-avoid/. (Diaskes pada 21 September 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi