Terbit: 9 Maret 2021
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Pada masa pandemi, seorang individu maupun keluarga dituntut untuk memiliki simpanan dana khusus untuk digunakan untuk kebutuhan mendadak dan mendesak. Simpanan dana khusus ini dikenal dengan sebutan dana darurat.

Pantang Diabaikan, Ini Pentingnya Dana Darurat di Masa Pandemi Covid-19

Dana Darurat di Masa Pandemi Covid-19

Di masa normal, dana darurat saja sudah teramat penting dimiliki untuk meng-cover keperluan-keperluan darurat seperti kerusakan rumah, pengobatan anggota keluarga, sampai menanggung biaya hidup saat kepala keluarga kehilangan pemasukan. Apalagi di masa pandemi, di mana hal-hal yang tak terduga bisa terjadi pada seseorang maupun keluarga.

Salah satu hal yang patut diwaspadai saat pandemi adalah risiko tertularnya COVID-19, baik pada diri kita atau anggota keluarga lainnya. Perlu diketahui, dana darurat sangat berperan sekali dalam kondisi seperti ini.

Mengapa demikian? Simak selengkapnya beberapa hal yang menjadikan dana darurat sebagai pos keuangan yang harus diperhatikan di masa pandemi sebagaimana disampaikan oleh Lifepal.co.id.

1. Keperluan tes Covid-19

Jika ada satu anggota keluarga yang terpapar Covid-19, tentu anggota keluarga lain yang tinggal serumah membutuhkan tes serupa. Tes Covid-19 bisa dikatakan tidak murah.

Untuk Anda ketahui, ada sejumlah tes Covid-19 yang kerap kita dengar, yaitu PCR Swab, Rapid Test Antigen/Swab Antigen, dan Rapid Test Antibodi. PCR Swab kerap disebut tes paling akurat, namun dari segi biaya, PCR Swab merupakan tes termahal.

Jika ada salah satu anggota keluarga yang tinggal satu rumah dengan kita positif tertular Covid-19, maka kebutuhan akan tes ini akan semakin besar.

Mari berhitung, jika salah satu dari 4 anggota keluarga terpapar Covid-19, maka Anda harus mempersiapkan biaya tes untuk seluruh anggota di rumah. Lebih lagi apabila Anda memiliki asisten rumah tangga yang tinggal di kediaman Anda. Anda pun sepatutnya mengajaknya untuk menjalani tes tersebut.

Bagi sebagian karyawan, mungkin mendapat fasilitas tes Covid-19 dari perusahaan tempat mereka bekerja. Namun, bagi yang tidak memperoleh fasilitas semacam ini, tentu membutuhkan dana darurat untuk membiayai tes Covid-19.

Asuransi kesehatan tidak menanggung biaya tes Covid-19 tanpa adanya rujukan dari dokter. Asuransi hanya menanggung biaya tes apabila kita merasakan gejala-gejala penyakit ini, dan kita diberi surat rujukan tes Covid-19 dari dokter.

2. Kebutuhan membeli obat-obatan maupun vitamin

Meski hanya berstatus orang tanpa gejala (OTG), atau positif terjangkit Covid-19 namun tanpa menunjukkan gejala berat, seorang anggota keluarga tetap perlu asupan vitamin dan obat-obatan.

Ketika Anda atau anggota keluarga Anda memutuskan untuk melakukan isolasi mandiri karena menjadi OTG, maka akan ada tambahan pengeluaran lain yakni obat-obatan maupun suplemen. Pengeluaran untuk membeli vitamin maupun obat-obatan ini adalah kebutuhan mendesak.

Harga obat-obatan dan suplemen tidak dapat dikatakan murah. Jika satu orang di rumah Anda menjadi OTG, maka kebutuhan akan suplemen juga akan berlaku pada seluruh orang di rumah tersebut lantaran semua anggota rumah tentu wajib meningkatkan daya kekebalan tubuhnya.

3. Kebutuhan membeli masker dan alat sanitasi

Demi mencegah penularan lebih lanjut, keluarga membutuhkan alat pelindung diri, seperti yang paling sederhana adalah masker misalnya. Sebab, jika tinggal serumah, kontak langsung yang cukup intensif bisa memperbesar potensi penularan.

Alat sanitasi juga harus tersedia selama isolasi mandiri berlangsung. Semprotan antiseptik, sabun, tissue basah, juga sebaiknya tersedia dalam jumlah yang cukup di rumah.

4. Jasa semprot desinfektan

Rumah tetap perlu disterilkan, kendati anggota keluarga yang semula positif Covid-19 telah dinyatakan negatif melalui hasil tes terbaru. Sebab, rumah Anda belum aman dari virus tersebut.

Droplet dari mulut maupun hidung pasien yang tertinggal di bagian-bagian rumah berpotensi masih dapat menularkan virus Covid-19. Maka, diperlukan penyemprotan desinfektan secara menyeluruh di rumah.

Penyemprotan dapat dilakukan secara mandiri dengan membeli alat penyemprot dan zat desinfektannya. Namun, jika ingin praktis, ada jasa penyemprotan meski biayanya tidak murah. Dikutip dari beberapa sumber, jasa penyemprotan desinfektan ini memasang harga bervariasi, dari Rp3 ribu per meter persegi hingga Rp1 juta per 250 meter persegi.

Dilakukan secara mandiri maupun membayar jasa penyemprotan, tentu membutuhkan biaya. Oleh karena itu, lagi-lagi di sinilah pentingnya memiliki dana darurat yang memadai di masa pandemi.

Lantas, berapakah besaran dana darurat yang dapat dikatakan “memadai”? Idealnya, besaran dana darurat adalah tiga, enam, sampai sembilan kali pengeluaran bulanan. Kita pun lalu dihadapkan pada masalah lain. Masalah tersebut tak lain adalah bagaimana cara mengumpulkan dana darurat hingga mencapai jumlah ideal?

Cara Mengumpulkan Dana Darurat

Mengisi pos dana darurat bisa dilakukan dengan cara mencicil dari pendapatan bulanan maupun mengambilnya dari pos pengeluaran lain yang tidak terpakai selama pandemi, seperti pos pengeluaran hiburan atau gaya hidup.

Mudahnya, alokasikan saja dana minimal 10% dari penghasilan bulanan untuk mengisi pos dana darurat. Jika mau lebih cepat, tak ada salahnya menyisihkan dana 30% dari penghasilan, namun dengan catatan hal ini tidak mengganggu kebutuhan pengeluaran pokok Anda.

Kemudian, di manakah kita sebaiknya menyimpan dana darurat? Beberapa instrumen yang digemari masyarakat untuk menyimpan dana darurat adalah rekening tabungan dan instrumen investasi reksa dana pasar uang. Sebab, Anda hanya membutuhkan waktu singkat untuk mencairkannya, sehingga cocok untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya darurat.


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi