Terbit: 24 Juni 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Palpitasi atau jantung berdebar adalah kondisi yang membuat jantung berdetak dengan cepat atau berdetak tidak teratur. Peningkatan detak jantung ini bisa terasa di dada, tenggorokan, atau leher. Simak gejala palpitasi, penyebab, hingga cara mengatasinya di bawah ini.

Palpitasi: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Palpitasi?

Seperti penjelasan sebelumnya, palpitasi adalah kondisi di mana jantung berdetak cepat hingga menimbulkan perasaan berdebar. Stres, olahraga, atau konsumsi obat-obatan adalah kondisi yang bisa memicu palpitasi jantung.

Meskipun jantung berdebar bisa mengkhawatirkan, kondisi ini biasanya tidak berbahaya. Dalam kasus yang jarang terjadi, palpitasi dapat menjadi menjadi gejala kondisi jantung yang lebih serius—seperti gangguan irama jantung (aritmia)—yang mungkin memerlukan perawatan.

Gejala Palpitasi

Gejala utama yang pasti dirasakan adalah jantung berdetak cepat, kuat, dan tidak beraturan. Selain itu, palpitasi juga dapat menimbulkan gejala lainnya, antara lain:

  • Tekanan pada dada atau tenggorokan
  • Sesak napas
  • Mual
  • Berkeringat
  • Kepala terasa ringan, sensasi seperti akan pingsan

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Jika palpitasi berlangsung hanya beberapa detik dan jarang terjadi, evaluasi medis umumnya tidak perlu dilakukan. Akan tetapi, jika Anda memiliki riwayat penyakit jantung dan palpitasi jantung yang sering atau semakin memburuk dari waktu ke waktu, konsultasi dengan diperlukan dokter.

Segera dapatkan bantuan medis jika jantung berdebar disertai dengan:

  • Rasa nyeri pada dada
  • Pingsan
  • Napas pendek yang parah
  • Pusing parah

Penyebab Palpitasi

Sering kali penyebab jantung Anda berdebar tidak dapat ditemukan. Berikut adalah beberapa penyebab umum palpitasi adalah:

  • Respons emosional yang kuat seperti stres, kecemasan, atau serangan panik
  • Depresi
  • Latihan berat
  • Paparan stimulan seperti kafein, nikotin, kokain, amfetamin, obat flu, atau obat batuk yang mengandung pseudoefedrin
  • Demam
  • Perubahan hormon berhubungan dengan menstruasi, kehamilan, atau menopause
  • Terlalu banyak atau terlalu sedikit hormon tiroid

Kadang-kadang jantung berdebar dapat menjadi tanda masalah serius, seperti kelenjar tiroid yang terlalu aktif (hipertiroidisme) atau irama jantung yang tidak normal (aritmia).

Faktor Risiko

Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko mengalami palpitasi. Berikut ini adalah beberapa hal yang membuat seseorang memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami kondisi tersebut, antara lain:

  • Sangat stres
  • Memiliki gangguan kecemasan atau memiliki serangan panik yang teratur
  • Sedang hamil
  • Minum obat yang mengandung stimulan, seperti obat pilek atau asma
  • Memiliki kelenjar tiroid yang terlalu aktif (hipertiroidisme)
  • Memiliki masalah jantung lainnya seperti aritmia, cacat jantung, serangan jantung sebelumnya, atau operasi jantung sebelumnya

Diagnosis Palpitasi

Diagnosis awal yang umum dilakukan dokter adalah mendengarkan jantung menggunakan stetoskop dan bertanya tentang riwayat kesehatan. Dokter juga mungkin mencari tanda-tanda medis yang dapat menyebabkan jantung berdebar, seperti kelenjar tiroid yang bengkak.

Jika dokter mencurigai bahwa jantung Anda berdebar karena aritmia atau kondisi jantung lainnya, beberapa tes yang mungkin disarankan, di antaranya:

  • Elektrokardiogram

Dalam tes noninvasif ini, seorang tenaga medis menempatkan timah di dada yang merekam sinyal listrik yang membuat jantung berdetak. Tes ini dapat membantu dokter mendeteksi masalah detak jantung dan struktur jantung yang dapat menyebabkan jantung berdebar.

Tes bisa dilakukan saat Anda beristirahat atau selama berolahraga (stress electrocardiogram).

  • Holter Monitoring

Prosedur ini mengharuskan Anda memakai perangkat khusus untuk merekam EKG terus-menerus, biasanya selama 24 hingga 72 jam. Selain itu, Anda juga diharuskan membuat catatan harian saat merasakan palpitasi. Holter monitoring digunakan untuk mendeteksi jantung berdebar yang tidak ditemukan selama tes EKG reguler.

  • Event Recording

Jika Anda tidak memiliki irama jantung yang tidak teratur saat Anda mengenakan holter monitoring atau jika kejadian tersebut terjadi kurang dari sekali seminggu, dokter Anda mungkin merekomendasikan event recording.

Perangkat EKG portabel ini dimaksudkan untuk memantau aktivitas jantung selama seminggu hingga beberapa bulan dan digunakan setiap hari. Akan tetapi, alat ini hanya digunakan untuk merekam saat gejala palpitasi muncul.

  • Ekokardiogram

Tes non invasif ini menciptakan gambar jantung yang bergerak menggunakan gelombang suara. Tes ini dapat menunjukkan aliran darah dan masalah struktur jantung.

Pengobatan Palpitasi

Pada dasarnya, pengobatan tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Sering kali, palpitasi adalah kondisi yang tidak berbahaya dan bisa hilang dengan sendirinya, sehingga tidak diperlukan perawatan khusus.

Jika dokter tidak menemukan penyebabnya, ia mungkin menyarankan Anda untuk menghindari hal-hal yang dapat memicu palpitasi. Beberapa langkah yang bisa dilakukan, antara lain:

  • Latihan relaksasi
  • Yoga
  • Tai Chi
  • Biofeedback
  • Penggunaan aromaterapi
  • Menghindari alkohol
  • Menghindari nikotin
  • Menghindari kafein
  • Menghindari obat-obatan yang bertindak sebagai stimulan seperti obat batuk, obat pilek, suplemen herbal, dan suplemen nutrisi tertentu

Jika perubahan gaya hidup seperti di atas tidak membantu, Anda mungkin akan diberi resep obat beta-blocker atau calcium-channel blocker. Sementara jika palpitasi disebabkan oleh obat, dokter akan mencoba menemukan pengobatan yang berbeda.

Akan tetapi, jika dokter menemukan penyebab yang mendasari palpitasi jantung, perawatan akan fokus untuk mengatasi kondisi yang menyebabkannya.

Komplikasi Palpitasi

Jika palpitasi disebabkan oleh kondisi jantung, beberapa kemungkinan komplikasi yang bisa terjadi, di antaranya:

  • Stroke

Jika palpitasi disebabkan oleh kondisi di mana bilik atas jantung bergetar dan bukannya berdetak dengan baik (atrial fibrilasi), darah dapat menggumpal dan menyebabkan gumpalan terbentuk. Jika gumpalan terlepas, hal itu bisa menyumbat arteri otak dan menyebabkan stroke.

  • Gagal jantung

Kondisi ini dapat terjadi jika jantung memompa secara tidak efektif untuk waktu yang lama karena aritmia, seperti atrial fibrilasi. Mengendalikan laju aritmia yang menyebabkan gagal jantung dapat meningkatkan fungsi jantung.

  • Henti Jantung

Meski kondisi ini jarang terjadi, jantung berdebar dapat disebabkan oleh aritmia dan dapat menyebabkan jantung berhenti berdetak secara efektif.

Pencegahan Palpitasi

Jika dokter merasa bahwa perawatan medis tidak diperlukan, Anda dapat mengambil langkah-langkah ini untuk mengurangi kemungkinan mengalami palpitasi:

  • Jika Anda cemas atau stres, cobalah latihan relaksasi, pernapasan dalam, yoga, atau tai chi.
  • Batasi atau hentikan asupan kafein. Hindari juga minuman berenergi.
  • Hindari rokok dan produk tembakau lainnya.
  • Berolahraga secara teratur.
  • Ikuti diet yang sehat.
  • Batasi asupan alkohol.
  • Usahakan agar tekanan darah dan kadar kolesterol tetap terkendali.

 

  1. Anonim. Heart Palpitations. https://www.webmd.com/heart-disease/guide/what-causes-heart-palpitations#1. (Diakses pada 24 Juni 2020).
  2. Anonim. Heart palpitations. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/heart-palpitations/symptoms-causes/syc-20373196. (Diakses pada 24 Juni 2020).
  3. Pietrangelo, Ann. 2020. What You Should Know About Heart Palpitations. https://www.healthline.com/health/heart-palpitations. (Diakses pada 24 Juni 2020).
  4. Wedro, Benjamin. Palpitations Causes and Symptoms. https://www.medicinenet.com/palpitations_overview/article.htm#what_are_palpitations. (Diakses pada 24 Juni 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi