Satu dari sekian macam penyakit tulang yang kerap dialami—terutama oleh orang lanjut usia—adalah osteoporosis. Ya, osteoporosis memang identik dengan faktor bertambahnya usia. Lantas, apa itu osteoporosis dan bagaimana penanganannya?

osteoporosis-doktersehat

Apa Itu Osteoporosis?

Osteoporosis adalah kondisi di mana tulang menjadi rapuh dan rentan mengalami keretakan.

Saat memasuki usia lanjut, tulang seseorang tidak lagi mampu beregenerasi secara optimal sebagaimana waktu muda. Bukan menjadi masalah apabila ‘cadangan’ massa tulang masih memadai, namun jika tidak, risiko osteoporosis jadi semakin besar. Itu sebabnya, osteoporosis erat kaitannya dengan bagaimana seseorang merawat kesehatan tulangnya selagi berusia muda.

Osteoporosis bisa terjadi di seluruh tulang, namun kondisi ini lebih umum menyerang tulang belakang, tulang panggul, dan tulang pergelangan tangan. Baik pria maupun wanita, semuanya memiliki potensi untuk mengalami masalah tulang yang satu ini. Pada wanita, risiko osteoporosis semakin besar ketika sudah memasuki masa menopause.

Penyebab Osteoporosis

Seperti yang sudah dijelaskan, osteoporosis atau pengeroposan tulang dipicu oleh menurunnya aktivitas produksi struktur dan jaringan tulang baru. Ada beberapa faktor yang ditengarai memainkan peran penting dalam menyebabkan terjadinya osteoporosis ini.

Salah satu faktor utama penyebab osteoporosis adalah penurunan atau terhentinya produksi hormon. Pada wanita, hormon yang dimaksud yakni hormon estrogen (itu sebabnya menopause meningkatkan risiko osteoporosis) yang sangat diperlukan oleh tulang. Sementara pada pria, kadar hormon testosteron yang rendah juga disebut-sebut berkaitan dengan timbulnya osteoporosis.

Tak ketinggalan, asupan mineral kalsium dan fosfat yang kurang dari kata ideal juga berpotensi menyebabkan seseorang lebih rentan mengalami osteoporosis di masa mendatang. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk memenuhi kebutuhan mineral dan fosfat mulai dari sekarang,

Selain itu, sejumlah gangguan pada kelenjar tubuh juga kerap dikaitkan dengan osteoporosis, yaitu:

  • Hipertiroidisme
  • Hiperparatiroidisme
  • Penyakit kelenjar pituitari
  • Penyakit kelenjar adrenal

Faktor Risiko Osteoporosis

Sejumlah faktor risiko berperan penting dalam memperbesar potensi seseorang terkena osteoporosis. Faktor-faktor risiko tersebut meliputi:

  • Usia
  • Ras (orang kulit putih dan Asia lebih rentan mengalami osteoporosis)
  • Ukuran badan (tinggi dan berat)
  • Keturunan (genetik)
  • Penurunan produksi hormon seksual
  • Kurang aktif bergerak
  • Merokok
  • Minum alkohol
  • Riwayat operasi saluran pencernaan
  • Anoreksia atau bulimia
  • Menderita penyakit Crohn
  • Menderita penyakit Celiac
  • Terapi obat-obatan (kortikosteroid, obat kanker, dsb.)

Ciri dan Gejala Osteoporosis

Osteoporosis pada awalnya mungkin tidak menunjukkan ciri atau gejala khusus. Penyakit tulang ini umumnya baru dapat terdeteksi setelah penderita mengalami kerusakan tulang (patah, retak, dsb.) ketika mengalami trauma berskala kecil sekalipun seperti terjatuh. Bahkan, penderita osteoporosis bisa saja mengalami patah tulang ketika batuk atau bersin.

Seiring berjalannya waktu, rasa nyeri pada tulang—terutama yang mengalami cedera—akan semakin parah. Sakit pada punggung yang berlangsung dalam waktu cukup lama juga bisa menjadi ciri-ciri dari penyakit osteoporosis ini.

Berikut adalah ciri atau gejala osteoporosis lainnya yang juga harus Anda ketahui dan waspadai:

  • Tubuh semakin membungkuk
  • Tinggi badan mengalami penurunan
  • Nyeri di area leher dan punggung bagian bawah

Segera periksakan diri Anda ke dokter apabila merasakan tanda-tanda yang sudah disebutkan di atas karena kemungkinan ini merupakan gejala osteoporosis. Pastikan Anda ditangani oleh dokter spesialis tulang yang berpengalaman guna mendapatkan penanganan medis optimal.

Diagnosis Osteoporosis

Dalam mendiagnosis osteoporosis, dokter akan melakukan serangkaian prosedur pemeriksaan. Berikut adalah tahapan-tahapan diagnosis osteoporosis yang umum dilakukan.

1. Anamnesis

Pertama-tama, Anda akan dimintai keterangannya terkait keluhan yang dirasakan:

  • Sudah berapa lama kondisi ini berlangsung?
  • Gejala apa saja yang dirasakan?
  • Apakah sudah pernah berobat sebelumnya?
  • Apakah memiliki alergi obat?

2. Pemeriksaan Fisik

Selanjutnya, Anda akan menjalani pemeriksaan fisik yang meliputi:

  • Tes tekanan darah
  • Pengukuran tinggi badan
  • Pengukuran berat badan

Dokter juga mungkin akan menekan pelan area tulang yang dicurigai mengalami osteoporosis ini.

3. Pemeriksaan Penunjang

Sampailah pada tahapan krusial dari diagnosis osteoporosis. Ada beberapa macam tes yang dilakukan oleh dokter, yaitu:

  • X-Ray, adalah tes untuk menganalisis tingkat kepadatan tulang sekaligus mengukur kadar mineral yang ada di dalamnya
  • Dual energy X-Ray absorptiometry (DXA), adalah tes dengan menggunakan 2 buah alat X-Ray. Cara ini mampu menghasilkan citra tulang yang lebih baik daripada X-Ray biasa
  • Quantitative computerized tomography (QCT), adalah alat yang secara fungsi tidak jauh beda dengan X-Ray yakni untuk mengukur tingkat kepadatan tulang
  • Quantitative ultrasound (QUS), adalah tes yang umumnya digunakan untuk memeriksa kondisi tulang tumit. Tes ini juga termasuk ke dalam jenis tes pencitraan. Akan tetapi, mampu menghasilkan gambar yang lebih jelas ketimbang X-Ray

Masih ada lagi beberapa jenis tes penunjang untuk mendiagnosis osteoporosis seperti peripheral dual energy X-Ray absorptiometry dan peripheral quantitative computerized tomography. Mana yang nantinya akan digunakan oleh dokter tentunya tergantung dari kondisi pasien.

Pengobatan Osteoporosis

Setelah diagnosis selesai dilakukan, dokter baru dapat menentukan metode pengobatan yang akan dilakukan pada pasien. Umumnya, cara mengobati osteoporosis adalah dengan memberikan obat-obatan seperti:

  • Obat bisfosfonat (Alendronate, Ibandronate, Risedronate, Asam Zoledronik)
  • Obat denosumab
  • Obat teriparatide
  • Obat abaloparatide
  • Obat romosozumab
  • Terapi hormon

Selain itu, dokter juga biasanya akan memberikan suplemen mengandung kalsium dan vitamin D untuk mengobati pasien osteoporosis ini.

Pencegahan Osteoporosis

Tak bisa dipungkiri, proses penuaan tidak menutup kemungkinan Anda untuk mengalami osteoporosis. Akan tetapi, penyakit ini sejatinya dapat dicegah atau setidaknya diminimalisir risikonya.

Berikut adalah cara mencegah atau meminimalisir penyakit osteoprosis:

  • Mencukupi kebutuhan kalsium dan vitamin D
  • Tidak merokok
  • Membatasi konsumsi alkohol
  • Menjaga berat badan
  • Aktif berolahraga

Itu dia informasi mengenai osteoporosis yang perlu Anda ketahui. Semoga bermanfaat dan jaga selalu kesehatan diri Anda, ya!

 

Informasi kesehatan ini telah ditinjau oleh dr. Jati Satriyo

Sumber:

  1. MacGill, M. 2019. What to know about Osteoporosis. https://www.medicalnewstoday.com/articles/155646.php (Diakses pada 18 Desember 2019)
  2. How Osteoporosis is Diagnosed? https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/osteoporosis/in-depth/osteoporosis/art-20304599 (Diakses pada 18 Desember 2019)
  3. Osteoporosis: Diagnosis and Treatment. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/osteoporosis/diagnosis-treatment/drc-20351974 (Diakses pada 18 Desember 2019)
  4. Osteoporosis – Overview. https://medlineplus.gov/ency/article/000360.htm (Diakses pada 18 Desember 2019)