Orgasme Saat Hamil, Apa Efeknya pada Tubuh?

orgasme-saat-hamil-doktersehat

DokterSehat.Com – Seks saat hamil adalah sesuatu yang normal untuk dilakukan. Namun pada beberapa kasus, ibu hamil mengalami ketidaknyaman atau sulit menikmati aktivitas seksual dengan pasangannya. Padahal, mendapatkan orgasme adalah salah satu hal yang ingin dirasakan saat melakukan hubungan intim. Lantas, apa yang terjadi jika orgasme saat hamil? Apa dampak yang bisa terjadi pada ibu hamil? Cek penjelasannya di bawah ini.

Seks saat Hamil

Sebelum menjelaskan mengenai orgasme saat hamil, hal penting yang harus diketahui adalah meski aktivitas seksual diperbolehkan saat hamil, seorang pria harus melakukannya dengan benar.

Ada waktu-waktu tertentu yang memperbolehkan pria berhubungan seks dengan pasangannya. Namun, ada juga waktu-waktu tertentu atau kondisi yang cukup riskan, sehingga seks tidak dianjurkan dan orgasme saat hamil muda tidak disarankan terjadi.

Waktu terbaik yang bisa dilakukan untuk melakukan hubungan intim adalah pada trimester kedua atau bulan ke 4 hingga 6. Pada trimester kedua ini janin sudah menempel dengan kuat dan pertumbuhannya berjalan dengan baik. Saat seks dilakukan kemungkinan terjadi tekanan saat penetrasi tidak akan mengganggu janin.

Lantas, apakah hubungan intim tidak bisa dilakukan di trimester pertama? Pada trimester pertama aktivitas seksual sebenarnya bisa dilakukan. Namun, pada kondisi ini biasanya kesehatan wanita sedang tidak maksimal. Saat hamil muda tubuh akan akan cenderung mengalami mual dan muntah, sehingga diwaktu ini banyak ibu hamil tidak bisa melakukan banyak aktivitas.

Tidak Ada Masalah Kesehatan

Selama tidak ada riwayat keguguran atau masalah lain seperti rahim yang lemah, seks masih bisa dilakukan. Namun, kalau masalah itu terjadi, seks lebih baik tidak dilakukan terlebih dahulu daripada terjadi masalah yang tidak diinginkan.

Pada trimester kedua, ibu hamil biasanya tidak mengalami mual dan gangguan khas hamil seperti pada trimester pertama. Pada saat ini ibu hamil mulai memiliki tenaga yang kuat sehingga bisa menikmati setiap permainan seks yang dilakukan dengan lebih intens. Manfaatkan tiga bulan ini untuk melakukan hubungan intim, namun tidak melakukannya secara berlebihan agar tidak menimbulkan risiko kesehatan lainnya.

Memasuki trimester akhir umumnya masalah kehamilan sudah tidak ada. Meski demikian, perubahan bentuk tubuh wanita menyulitkannya untuk melakukan posisi seks tertentu. Kondisi perut yang terus membesar menyebabkan wanita tidak nyaman melakukan berbagai posisi seks yang ekstrem.

Meski rekomendasi untuk melakukan seks dengan pasangan hanya terjadi pada trimester kedua saja, melakukan seks pada satu atau dua bulan akhir sebelum melahirkan juga dianjurkan. Seks pada bulan-bulan ini bisa membuka jalan janin untuk keluar dari rahim dengan lebih lancar.

Seks saat Hamil yang Dilarang

Seks saat hamil yang tidak dianjurkan adalah tiga bulan awal. Pada bulan ini wanita akan sering sekali mengalami gangguan kesehatan. Setiap pagi ibu hamil sering mengalami gangguan mual dan pusing yang cukup tinggi. Kondisi ini menyebabkan wanita mengalami muntah berkali-kali hingga membuat tubuh kerap lemas setiap saat.

Selain itu, jika wanita mengalami gangguan pada rahim seperti dinding rahim lemah sehingga berisiko sebabkan keguguran, seks tidak disarankan. Jika dipaksakan melakukan hubungan seksual, hal itu menyebabkan janin terkena tekanan kuat dan berisiko meningkatkan keguguran.

Mengingat kondisi seperti di atas, hubungan seks saat hamil tidak disarankan. Kalau pria ingin mendapatkan kepuasan secara seksual ada cara lain yang bisa dilakukan yaitu dengan melakukan karezza.

Karezza adalah aktivitas pemanasan yang dilakukan dengan baik sehingga kepuasan bisa didapatkan tanpa harus berhubungan badan. Sedangkan jika Anda dan pasangan ingin melakukan seks seperti biasa, konsultasi dahulu dengan dokter. Jika dokter mengizinkan Anda melakukan seks, maka lakukanlah.

Penting untuk memilih posisi seks yang tepat dan aman. Melakukan seks dengan aman dan tidak terlalu intens, maka Anda dan pasangan tetap bisa mendapatkan kenikmatan serta menghindari masalah yang mungkin terjadi.

Sementara itu, jika dokter tidak mengizinkan berhubungan seksual, lebih baik ditahan dahulu daripada terjadi masalah pada janin.

Mengalami Orgasme Saat Hamil

Kalau seks boleh dilakukan, apakah wanita boleh melakukannya hingga mendapatkan orgasme? Adakah dampak buruk dari orgasme saat hamil? Apakah orgasme saat hamil muda berbahaya? Itulah beberapa pertanyaan yang sering muncul dan sering kali membuat bingung pasangan.

Seks saat hamil boleh dilakukan asal pada waktu dan kondisi yang tepat. Jika kondisi tidak memungkinkan, jangan dipaksa karena bisa berakibat buruk pada kandungan. Lakukan komunikasi yang baik dengan pasangan untuk menghindari berbagai masalah yang terjadi.

Berikut adalah beberapa dampak orgasme saat hamil yang bisa terjadi, di antaranya:

1. Membuat Kejang Otot Rahim

Pada dasarnya, orgasme saat hamil bisa membuat kejang otot rahim. Kejang yang terjadi selama beberapa menit ini kerap menimbulkan rasa sakit. Beberapa wanita juga merasa seperti akan melahirkan begitu orgasme terjadi. Meski sakit, rasa nikmat juga dirasakan oleh wanita seperti orgasme saat mereka tidak hamil.

2. Bisa Memicu Kontraksi

Jika kondisi kandungan baik, orgasme saat hamil tidak akan menyebabkan gangguan. Namun, jika ada gangguan pada janin, orgasme saat hamil muda bisa memicu kontraksi hebat dan janin akan bergejolak. Saat mengalami kondisi ini, segera temui dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Pada beberapa kasus, seorang wanita dapat lebih mudah mendapatkan orgasme saat hamil, namun pada kasus yang lain kehamilan juga dapat mengganggu kemampuan untuk mendapatkan orgasme.

3. Aliran Darah ke Rahim Meningkat

Meningkatnya aliran darah ke rahim dan organ seks lainnya dapat membuat orgasme jauh lebih intens. Hormon juga berperan, terutama oksitosin, diproduksi di akhir kehamilan dan setelah kelahiran. Banyak wanita yang melaporkan peningkatan orgasme melalui fase menyusui juga.

4. Perubahan Bentuk Perut

Ketika otot-otot rahim dan perut berkontraksi, perut sering membentuk bentuk runcing atau segitiga. Perubahan ini adalah sesuatu yang normal dan sama sekali tidak berbahaya.

5. Muncul Kram

Dampak orgasme saat hamil berikutnya adalah munculnya kram. Ini adalah kondisi yang normal yang disebabkan oleh kontraksi uterus. Kram yang terjadi umumnya terasa seperti kram saat menstruasi. Intensitas kram dari wanita hamil berbeda-beda tergantung orgasme yang dirasakan.

Pada akhirnya, orgasme saat hamil bukanlah ancaman bagi kehamilan yang sehat. Situasi di mana seorang ibu hamil disarankan untuk menghindari orgasme selama kehamilan adalah ketika dia berisiko melahirkan prematur atau terjadi perdarahan plasenta.

 

Informasi kesehatan ini telah ditinjau dr. Jati Satriyo

Sumber:

  1. Web MD. Sex During and After Pregnancy. https://www.webmd.com/baby/guide/sex-and-pregnancy. (Diakses pada 16 September 2019).
  2. Shinn, Lora. 2018. Will It Hurt the Baby? Plus 9 More Questions About Safe Pregnancy Sex. https://www.healthline.com/health/pregnancy/pregnant-sex. (Diakses pada 16 September 2019).
  3. Mayo Clinic. Sex during pregnancy: What’s OK, what’s not. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/pregnancy-week-by-week/in-depth/sex-during-pregnancy/art-20045318. (Diakses pada 16 September 2019).
  4. Odes, Rebecca. 2010. 5 THINGS YOU MIGHT NOT KNOW ABOUT ORGASMS IN PREGNANCY. https://www.babble.com/pregnancy/5-things-you-might-not-know-about-orgasms-in-pregnancy/. (Diakses pada 20 September 2019).
  5. Sex in pregnancy. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3080531/. (Diakses pada 20 September 2019).