Terbit: 2 Maret 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Salah satu cara untuk mendapatkan tubuh yang sehat adalah dengan rajin minum susu. Kandungan nutrisi di dalamnya yang tinggi bisa membuat tubuh menjalankan fungsinya dengan baik. Hanya saja, bagi sebagian besar orang Asia, termasuk orang Indonesia, minum susu bisa menjadi masalah tersendiri. Bukan karena harganya yang tak terjangkau, namun karena kecenderungan orang Asia mengalami masalah intoleransi laktosa, kondisi yang membuat tubuh kesulitan mengonsumsi susu.

susu-doktersehat

Mengenal intoleransi laktosa setelah minum susu

Pakar kesehatan menyebut orang Asia cenderung mudah mengalami gejala intoleransi laktosa seperti perut kembung dan tidak nyaman, mual-mual, hingga diare setelah minum susu. Hal ini disebabkan oleh kecenderungan masyarakat Asia yang tidak mampu mencerna kandungan laktosa di dalam susu.

Sebagai informasi, setiap anak yang lahir di dunia, tanpa peduli rasnya, memiliki enzim laktase yang ada di usus halus. Enzim ini berfungsi memecah laktosa agar bisa diolah menjadi glukosa dan galaktosa. Dua kandungan terakhir ini bisa diserap oleh usus, sementara laktosa cenderung sulit untuk dicerna oleh usus. Laktase sangatlah penting bagi pertumbuhan anak karena akan membantu penyerapan nutrisi dari ASI. Sayangnya, setelah usia sekitar lima tahun, terjadi penurunan produksi enzim ini di anak-anak yang berasal dari Asia, termasuk Indonesia. Hal inilah yang akhirnya membuat kita lebih rentan mengalami gejala intoleransi laktosa setelah minum susu.

Apa yang terjadi jika penderita intoleransi laktosa memaksakan diri minum susu?

Pakar kesehatan menyebut penderita intoleransi laktosa kesulitan untuk minum susu dan sebagian produk turunannya seperti es krim. Jika kita tetap mengonsumsinya meskipun tahu bahwa tubuh memiliki kondisi intoleransi laktosa ini, maka kita akan mengalami gejala seperti diare, nyeri perut, perut kembung, mual-mual, hingga muntah. Kondisi ini bisa berlangsung sekitar setengah jam hingga dua jam setelah minum susu. Semakin banyak susu yang dikonsumsi, semakin parah pula gejala intoleransi laktosa yang akan dirasakan.

Jika kita terus mengonsumsi susu dalam jangka panjang meski memiliki intoleransi laktosa, ada kemungkinan kita mengalami dampak jangka panjang seperti rusaknya bagian mikrovili secara permanen. Sebagai informasi, mikrovili adalah salah satu bagian usus halus yang berperan dalam menyerap nutrisi dari makanan yang kita konsumsi dan kemudian mengirimkannya ke darah. Hal ini tentu bisa menyebabkan masalah malnutrisi di kemudian hari.

Beruntung, pakar kesehatan menyebut kasus kerusakan mikrovili pada penderita intoleransi laktosa sangat jarang terjadi karena penderita masalah kesehatan ini cenderung memilih untuk tidak memaksakan diri minum susu.

Mengenal gejala intoleransi laktosa

Jika penasaran apakah kita termasuk dalam orang yang mengalami intoleransi laktosa atau tidak, pakar kesehatan menyarankan kita untuk mencermati beberapa gejala dari kondisi ini.

Berikut adalah beberapa gejala dari intoleransi laktosa.

  1. Sensasi tidak nyaman pada perut

Gejala paling umum dari masalah intoleransi laktosa adalah perut kembung, bergas, dan tidak nyaman. Selain itu, saat kita buang angin, akan muncul aroma yang sangat tidak sedap. Selain itu, kita juga akan mengalami mual-mual. Dalam banyak kasus, setelah minum susu kita akan mengalami gejala diare dengan kotoran yang sangat cair.

  1. Gejalanya muncul dengan cepat

Gejala intoleransi laktosa ini tidak muncul dalam waktu yang lama setelah minum susu. Seringkali, dalam waktu 30 menit atau 2 jam setelah mengonsumsinya, kita akan mengalami gejala pada sistem pencernaan kita. Bahkan, dalam kasus yang cukup ekstrem, tubuh akan langsung mengeluarka reaksi langsung setelah meminumnya.

Jika kita mulai mengalami gejala ini, besar kemungkinan kita mengalami intoleransi laktosa dan sebaiknya lebih cermat dalam memilih serta mengonsumsi susu demi mencegah gejalanya.


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi