Terbit: 2 Mei 2018
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Ketika kita berolahraga, tubuh kita menjadi panas dan mulai merasa kemerahan. Tetapi sesuatu yang lain terjadi yakni nafsu makan kita menurun setelah latihan. Para peneliti bahkan mencari tahu mengapa dan bagaimana hal ini terjadi.

Olahraga 45 Menit Dapat Menurunkan Nafsu Makan

Penelitian kini menunjukkan bahwa olahraga aerobik, seperti berlari, bersepeda, dan berenang, sebenarnya menurunkan nafsu makan dengan mengubah tingkat hormon yang mendorong keadaan kelaparan kita.

Namun, mekanisme biologis yang mendasari yang diatur dalam gerakan, dan yang memberitahu tubuh kita untuk mengeluarkan lebih sedikit hormon yang mendorong rasa lapar, tetap tidak pasti.

Namun baru-baru ini, para peneliti dari Albert Einstein College of Medicine di Bronx, NY, seperti melansir dari Medical News Today, mengambil langkah-langkah untuk memahami apa yang terjadi di dalam tubuh setelah latihan. Mereka tertarik dengan bagaimana latihan selama 45 menit selalu menurunkan nafsu makan dari biasanya.

Peneliti percaya bahwa fakta bahwa panas tubuh meningkat selama latihan dapat memainkan peran dalam memberi sinyal pada otak bahwa nafsu makan perlu turun. Mereka berpikir prosesnya mungkin mirip dengan apa yang terjadi di dalam tubuh ketika kita mengonsumsi makanan yang sangat pedas.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku RT Mandiri - Advertisement

Sensasi panas menurunkan nafsu makan

Ketika kita mengonsumsi makanan yang mengandung cabai pedas, suhu tubuh kita tampaknya naik, dan nafsu makan kita berkurang. Itu karena cabai mengandung senyawa yang disebut “capsaicin,” yang berinteraksi dengan reseptor sensoris (reseptor TRPV1) di dalam tubuh, membawa sensasi panas dan memerah. Capsaicin juga telah terbukti membuat penurunan nafsu makan, yang membuat senyawa ini menjadi target penelitian untuk perawatan penurunan berat badan.

Setelah melatih pikiran ini, peneliti bertanya-tanya apakah peningkatan panas tubuh yang dirasakan setelah berolahraga mungkin tidak merangsang neuron di area otak yang bertanggung jawab dengan homeostasis, pengaturan proses tubuh dasar, termasuk makan.

Reseptor saraf mengatur nafsu makan

Para peneliti memutuskan untuk memperbesar satu set neuron yang mengoordinasikan pengurangan nafsu makan, yang disebut neuron “proopiomelanocortin” (POMC). Sel-sel ini ditemukan di area hipotalamus yang dikenal sebagai “nukleus arkuata”, dan beberapa sel tidak disaring oleh penghalang darah otak.

Ini adalah membran yang mencegah sebagian besar sel-sel di otak agar tidak terkena fluktuasi yang serius dalam komposisi plasma darah, sehingga melindungi fungsi saraf.

Tetapi karena beberapa sel otak POMC memiliki lebih banyak komunikasi langsung dengan sisa sistem dan berinteraksi dengan hormon yang dilepas ke dalam darah, mereka berpikir mereka juga dapat merespons fluktuasi suhu tubuh.

Untuk menguji hipotesis ini, para peneliti pertama bereksperimen dengan jaringan hipotalamus tikus yang mengandung sel otak POMC. Mereka mengekspos jaringan ini terlebih dahulu ke capsaicin, dan kemudian memanas, untuk melihat apakah sel-sel ini akan mampu merespons kedua rangsangan.

Pada tahap berikutnya dari penelitian mereka, para ilmuwan melakukan berbagai tes menggunakan tikus, untuk memahami bagaimana neuron POMC mengurangi nafsu makan setelah reseptor TRPV1 mereka diaktifkan.

Para peneliti melihat bahwa ketika mereka mengekspos nukleus arkuata tikus ke capsaicin, hewan cenderung makan lebih sedikit selama 12 jam berikutnya.

Para ilmuwan, bagaimanapun, mampu memblokir hilangnya nafsu makan yang terkait dengan paparan capsaicin baik dengan memblokir reseptor TRPV1 neuron POMC sebelum memberikan senyawa, atau dengan mematikan gen yang mengkodekan reseptor tersebut pada tikus.

Peneliti juga menaruh tikus di treadmill, membiarkan mereka berlari selama 40 menit. Dengan cara ini, mereka menciptakan kondisi yang khas dari sesi latihan rutin.

Sebagai hasil dari latihan ini, suhu tubuh hewan awalnya melonjak, dan kemudian mencapai tertinggi setelah 20 menit. Panas tubuh tetap tinggi selama lebih dari satu jam, dan selera makan tikus tampak menurun.

Tikus percobaan yang berolahraga memiliki asupan makanan sekitar 50 persen lebih rendah setelah sesi treadmill daripada tikus percobaan lainnya yang tidak mengambil bagian dalam latihan.

Hasilnya, latihan treadmill tidak berpengaruh pada nafsu makan tikus yang reseptor TRPV1 telah ditekan. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan panas tubuh karena aktivitas fisik menstimulasi reseptor yang relevan di otak untuk mengurangi keinginan akan makanan.

Studi para peneliti memberikan bukti bahwa suhu tubuh dapat bertindak sebagai sinyal biologis yang mengatur perilaku makan, sama seperti hormon dan nutrisi.

Pengetahuan baru ini akhirnya dapat mengarah pada peningkatan strategi untuk menurunkan berat badan.  Teman Sehat, cocok buat kamu yang ingin diet!


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi