Obsessive Love Disorder (OLD): Penyebab, Gejala, Penanganan

obsessive-love-disorder-doktersehat

DokterSehat.Com – Pernah mencintai seseorang dengan sangat berlebihan? Cinta dan obsesi sering kali sulit untuk dibedakan. Jika Anda mencintai seseorang dengan hingga terobsesi, Anda mungkin mengalami Obsessive Love Disorder. Kondisi ini harus ditangani dengan tepat jika tidak ingin membahayakan Anda maupun orang yang Anda cintai.

Apa Itu Obsessive Love Disorder (OLD)?

Obsessive Love Disorder atau yang disingkat OLD mengacu pada kondisi di mana seseorang terobsesi dengan seseorang yang ia pikir dicintainya. Seseorang yang mengalami kondisi ini akan merasa perlu untuk menjaga dan melindungi orang yang dicintainya secara obsesif tersebut.

Sikap ini kemudian berkembang menjadi sikap ingin mengendalikan orang yang dicintainya tersebut. Hingga saat ini belum ada klasifikasi medis dan psikologis untuk kondisi ini. Obsessive Love Disorder sering kali dikaitkan dengan kondisi gangguan mental lainnya.

Seseorang yang memiliki gejala Obsessive Love Disorder harus mendapatkan penanganan yang tepat, karena jika dibiarkan kondisi tersebut dapat memicu terciptanya hubungan yang tidak sehat dengan pasangannya tersebut. Perawatan Obsessive Love Disorder bertujuan untuk mengurangi gejala, mencegah komplikasi, dan memperbaiki hubungan.

Penyebab Obsessive Love Disorder

Penyebab Obsessive Love Disorder bisa dikatakan tidak ada, kondisi ini hampir selalu terkait dengan gangguan mental lain.

Berikut adalah gangguan mental yang bisa jadi pemicu Obsessive Love Disorder:

1. Attachment disorder

Attachment disorder adalah kelompok gangguan mental yang merujuk pada seseorang yang memiliki masalah kelekatan emosional, contohnya seperti kurang empati atau justru obsesi terhadap orang lain.

Gangguan yang termasuk attachment disorder adalah disinhibited social engagement disorder (DSED) dan reactive attachment disorder (RAD). Seorang yang mengalami DSES dapat menjadi terlalu ramah dan kurang berhati-hati pada orang asing. Sedangkan RAD menyebabkan seseorang merasa stres dan kesulitan untuk bergaul.

Kondisi ini dapat berkembang selama masa anak-anak disebabkan oleh pengalaman negatif dengan orang tua maupun pengaruh anak.

2. Borderline disorder (gangguan kepribadian ambang)

Gangguan kepribadian ditandai dengan gangguan citra diri yang disertai dengan mood swing atau perubahan suasana hati yang parah.

Kondisi ini dapat menyebabkan seseorang merasa marah hingga sangat bahagia dalam hitungan menit atau jam. Jika dikaitkan dengan Obsessive Love Disorder, gangguan kepribadian ambang ini dapat menyebabkan peralihan antara rasa cinta berlebihan dengan perasaan meremehkan yang juga berlebihan.

3. Cemburu delusional

Cemburu delusional menyebabkan seseorang percaya pada kejadian atau fakta yang sebenarnya tidak terjadi. Jika dikaitkan dengan cinta yang obsesif, seseorang dengan gangguan ini dapat berpikir bahwa seseorang yang dicintainya membalas perasaannya, padahal orang tersebut sudah dengan jelas berkata sebaliknya.

4. Erotomania

Erotomania termasuk ke dalam jenis delusi.

Gangguan ini menyebabkan penderitanya percaya bahwa seseorang (yang terkenal atau status sosialnya jauh lebih tinggi) memiliki ketertarikan atau mencintainya. Penderita erotomania dapat meneror dengan muncul secara tiba-tiba seperti di rumah atau tempat kerja orang yang ia obsesikan

5. Obsessive-compulsive disorder (OCD)

OCD atau gangguan obsesif kompulsif adalah kombinasi dari pikiran obsesif dan ritual kompulsif.

Kondisi ini dapat mengganggu kehidupan sehari-hari penderitanya. Terkait dengan Obsessive Love Disorder, kondisi ini dapat membuat seseorang terus-menerus menuntut jaminan dalam hubungannya sehingga dapat mengganggu hubungan tersebut.

Gejala Obsessive Love Disorder

Gejala Obsessive Love Disorder mungkin saja tidak muncul pada awal hubungan, tapi gejalanya dapat terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Berikut ini beberapa gejala yang mungkin ditunjukkan oleh seseorang yang mengalami Obsessive Love Disorder:

  • Memiliki pikiran obsesif terhadap satu orang, hal ini dapat memengaruhi hubungan penderita dengan orang sekitarnya. Seseorang dengan OLD cenderung kesulitan mempertahankan pertemanan dan hubungan keluarga karena terlalu sibuk dengan obsesinya pada satu orang.
  • Memiliki ketertarikan yang dalam pada orang tersebut. Cenderung ingin selalu menghabiskan waktu bersama bahkan dengan porsi yang berlebihan.
  • Merasa bahwa melindungi orang tersebut merupakan sebuah kebutuhan
  • Berpikir dan bertindak posesif. Ditunjukkan dengan selalu ingin mengetahui keberadaan, kegiatan, dan dengan dengan siapa pasangan menghabiskan waktu. Selalu meneror dengan pesan singkat hingga panggilan telepon, dan ingin mengetahui seluruh kegiatan pasangan dan bersama siapa ia melakukannya.
  • Cemburu berlebihan ketika pasangannya melakukan interaksi dengan orang lain.
  • Tidak mudah menerima penolakan dari pasangannya.
  • Memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah.

Diagnosis Obsessive Love Disorder

Diagnosis Obsessive Love Disorder dapat dilakukan oleh psikiater atau ahli kesehatan mental profesional dengan cara mengevaluasi kondisi pasien secara menyeluruh.

Pertama-tama akan dilakukan wawancara dengan pasien untuk membicarakan tentang gejala dan hubungan percintaan pasien.

Selain itu, psikiater juga mungkin akan menanyakan tentang keluarga dan riwayat penyakit mental yang mungkin dimiliki. Diagnosis dari dokter juga diperlukan untuk menyingkirkan adanya kemungkinan penyebab lain.

Hingga kini Obsessive Love Disorder belum masuk ke dalam klasifikasi American Psychological Association’s Diagnostic dan Statistical Manual of Mental Disorders (DSM). Psikiater dapat mendiagnosis gangguan mental lain yang menjadi pemicu dari kondisi ini.

Penanganan Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder harus ditangani dengan tepat agar tidak semakin memburuk dan membahayakan penderita maupun pasangannya. Berikut adalah cara mengatasi Obsessive Love Disorder:

  • Meminta bantuan seorang profesional. Terapis atau konselor dapat merekomendasikan beberapa terapi seperti terapi perilaku kognitif, terapi bicara, atau terapi perilaku dialektik untuk membantu mengatasi gangguan yang dapat memicu pada Obsessive Love Disorder.
  • Menggunakan obat seperti antidepressan, anti-kecemasan, antipsikotik, atau obat untuk menstabilkan suasana hati bergantung pada gejala yang dirasakan. Penggunaan obat harus di bawah pengawasan dokter.
  • Menghindari individu atau objek yang membuat Anda terobsesi. Cara ini tentunya berat untuk dilakukan, tapi layaknya orang yang merasakan kecanduan, seseorang sudah seharusnya menghindari hal yang membuatnya kecanduan tersebut.
  • Mencari hobi atau kegiatan baru. Cara ini akan mendistraksi Anda dari hanya terobsesi pada satu orang saja. Selain itu, Anda juga dapat meningkatkan kepercayaan diri dan mendapatkan pengalaman baru.

 

Sumber:

  1. Obsessive Love Disorder – https://www.healthline.com/health/obsessive-love-disorder diakses 19 Juni 2019
  2. The Difference Between Healthy and Obsessive Love – https://www.medicinenet.com/confusing_love_with_obsession/views.htm diakses 19 Juni 2019