Terbit: 7 Januari 2021 | Diperbarui: 8 Januari 2021
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Sembelit alias susah buang air besar (BAB) dapat diatasi dengan sejumlah macam obat, baik itu obat bebas (over-the-counter medicines) maupun obat yang memerlukan resep dari dokter. Berikut adalah macam-macam obat sembelit yang bisa Anda konsumsi manakala mengalami gangguan pencernaan yang satu ini.

11 Macam Obat Sembelit (Bebas & Resep)

Apa Itu Sembelit?

Sembelit adalah gangguan pencernaan yang membuat feses menjadi sangat keras hingga sulit untuk dikeluarkan. Kurangnya asupan serat menjadi salah satu penyebab utama dari masalah ini. Namun, ada juga beberapa faktor lainnya yang menjadi pemicu sembelit, seperti:

  • Kurang olahraga
  • Dehidrasi
  • Obat-obatan
  • Kehamilan
  • Sindrom iritasi usus besar
  • Penyakit lainnya (diabetes, stroke, Parkinson, dll.)

Pilihan Obat Sembelit (Obat Bebas)

Sembelit atau dalam bahasa medisnya disebut sebagai konstipasi umumnya bukan merupakan kondisi yang serius dan dapat sembuh selang beberapa hari. Akan tetapi, kondisi ini tentu saja akan menimbulkan ketidaknyaman hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Untuk itu, ada sejumlah obat yang bisa dikonsumsi agar sembelit bisa segera sembuh.

1. Suplemen Serat

Jenis obat yang pertama adalah suplemen serat. Suplemen ini bekerja dengan cara menyerap air untuk membantu membentuk tinja yang bertekstur lebih lunak sehingga lebih mudah pula untuk dikeluarkan.

Pilihan suplemen serat antara lain meliputi:

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Kids Baby - Advertisement

  • Kalsium polikarbofil
  • Serat Metilselulosa
  • Psyllium
  • Dekstrin gandum

2. Pencahar Osmotik

Pencahar osmotik (laksatif osmotik) membantu menjaga air di dalam usus, yang melunakkan tinja dan dapat menyebabkan buang air besar jadi lebih mudah.

Obat pencahar osmotik tersedia dalam bentuk:

  • Enema
  • Supositoria
  • Oral

Obat ini bekerja dengan cepat. Bentuk oral dapat bekerja dalam 30 menit. Sementara itu, reaksi yang lebih cepat berlaku untuk obat dalam bentu supositoria dan enema.

Obat sembelit dari golongan osmotik meliputi:

  • Magnesium hidroksida
  • Magnesium sitrat
  • Polietilen glikol
  • Sodium fosfat
  • Gliserin

3. Obat Pelunak Tinja

Obat sembelit yang satu ini bekerja dengan cara meningkatkan pasokan air dan lemak ke dalam feses, sehingga membuat gerakan usus menjadi lebih lembut. Ini sering kali direkomendasikan untuk mencegah Anda mengejan saat buang air besar yang mungkin penting jika Anda baru saja menjalani operasi atau melahirkan.

Biasanya, pelunak feses membutuhkan waktu 1 hingga 3 hari untuk diterapkan. Docusate adalah obat pelunak tinja yang umum digunakan.

Jenis obat ini tersedia dalam bentuk:

  • Tablet
  • Kapsul
  • Cair
  • Enema
  • Supositoria

Pelunak tinja atau feses memiliki sedikit efek samping dan aman untuk penggunaan jangka panjang.

4. Pencahar Stimulan

Obat pencahar stimulan memicu otot-otot di usus Anda berkontraksi, dan pada akhirnya menggerakkan tinja melalui usus. Biasanya, obat pencahar stimulan oral bekerja dalam 6 sampai 10 jam.

Obat pencahar stimulan tersedia dalam bentuk:

  • Cairan oral
  • Kapsul oral
  • Enema
  • Supositoria

Jenis obat pencahar stimulan meliputi:

  • Bisacodyl
  • Senna atau sennoside

Salah satu efek samping yang lebih umum dari obat pencahar stimulan adalah kram perut. Faktanya, produk ini lebih mungkin menyebabkan efek ini dibandingkan obat pencahar lainnya.

Anda tidak boleh menggunakan obat pencahar stimulan sebagai pengobatan jangka panjang. Tubuh Anda mungkin menjadi toleran terhadap jenis obat ini. Jika itu terjadi, konstipasi malah akan bertambah parah saat Anda berhenti minum obat pencahar.

5. Pencahar Pelumas

Pencahar pelumas melapisi feses agar lebih mudah melewati usus Anda. Obat pencahar ini mungkin mulai bekerja dalam 6 hingga 8 jam setelah Anda meminumnya.

Pencahar pelumas sebaiknya tidak digunakan dalam jangka panjang. Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan ketergantungan yang berarti Anda akan selalu membutuhkan pencahar pelumas untuk buang air besar. Selain itu, penggunaan jangka panjang bisa membuat Anda kekurangan vitamin tertentu, termasuk vitamin A, D, E, dan K.

Minyak mineral adalah pencahar pelumas yang paling umum. Ini tersedia dalam bentuk enema dan sifatnya generik. Minyak mineral juga tersedia dalam bentuk cairan yang dapat diminum (oral).

Efek samping yang lebih umum dari pencahar pelumas termasuk sakit perut dan kram. Pelumas ini juga dapat membuat tubuh Anda kurang menyerap obat dan vitamin tertentu. Tanyakan kepada dokter sebelum menggunakan obat sembelit yang satu ini.

Baca Juga: 22 Cara Mengatasi Sembelit (Paling Lengkap)

Pilihan Obat Sembelit (Obat Resep)

Selain obat yang dijual secara bebas dan dapat Anda gunakan tanpa perlu resep dokter, ada juga obat sembelit lainnya yang justru hanya dapat digunakan setelah mendapat resep dari dokter. Biasanya, obat-obatan ini difungsikan untuk mengatasi sembelit kategori sedang hingga serius yang tidak bisa sembuh dengan obat bebas, sehingga membutuhkan penanganan dari dokter.

Obat resep untuk mengatasi sembelit meliputi:

1. Laktulosa

Obat ini bersifat osmotik yang menarik air ke dalam usus untuk melunakkan tinja. Efek sampingnya termasuk gas, diare, sakit perut, dan kram perut.

2. Linaklotida

Ini adalah kapsul yang biasanya akan Anda minum sekali sehari saat terserang sembelit. Ini digunakan untuk mengobati sembelit idiopatik kronis (CIC) dan sindrom iritasi usus besar dengan sembelit (IBS-C).

Linaklotida dapat meredakan sembelit Anda dengan menarik air ke dalam usus, sehingga tinja lebih mudah keluar, dan membantu buang air besar lebih sering terjadi. Efek samping yang paling umum adalah diare. Dokter mungkin meresepkan obat ini jika pengobatan lain tidak berhasil.

3. Lubiprostone

Dokter Anda mungkin menyarankan obat ini jika Anda mengalami sembelit kronis atau sembelit karena opioid. Ini juga digunakan untuk mengobati IBS-C (yang berarti sembelit adalah gejala utama) pada wanita.

Obat tersebut melunakkan tinja dengan memasukkan lebih banyak air ke dalamnya, sehingga tinja bisa keluar dengan mudah. Anda minum obat ini dua kali sehari dengan makanan. Beberapa kemungkinan efek samping adalah sakit kepala, mual, diare, sakit perut, dan muntah.

4. Plekanatida

Ini tablet yang Anda minum sekali sehari. Ini membantu tubuh Anda membuat cairan di usus Anda, yang membantu tinja Anda bergerak melalui usus. Dokter Anda mungkin menyarankannya jika perawatan Anda yang lain tidak berhasil. Obat ini dibuat khusus untuk orang yang mengalami konstipasi idiopatik kronis (CIC) dan IBS-C. Diare adalah salah satu efek samping yang mungkin terjadi.

5. Polyethylene Glicol

Obat berbentuk bubuk  ini diminum dengan cara melarutkannya dalam air. Saat Anda meminumnya, obat akan menempatkan banyak air ke dalam usus besar untuk membantu feses keluar.

Efek samping dari obat ini dapat berupa mual, kembung, kram, dan muntah. Beri tahu dokter jika muntahan Anda berdarah atau terlihat seperti bubuk kopi, atau jika jantung Anda mulai berdetak cepat, mengalami sesak napas, dan sakit perut.

6. Prucalopride

Obat resep untuk mengatasi sembelit lainnya adalah prucalopride. Obat ini biasanya diminum satu kali sehari. Ini membantu pergerakan usus  besar untuk mengeluarkan tinja. Obat ini juga umumnya digunakan untuk mengatasi sembelit idiopatik kronis (CIC), yakni sembelit jangka panjang tanpa penyebab yang jelas.

Efek samping yang umum adalah sakit kepala, sakit perut, mual, diare, muntah, pusing, dan kelelahan. Selain itu, mengonsumsi obat ini juga bisa mengubah suasana hati atau perilaku Anda. Segera hubungi dokter apabila gejala efek samping tidak kunjung mereda.

 

  1. Anonim. Medicines to Treat Constipation. https://www.webmd.com/digestive-disorders/prescription-medications-to-treat-constipation#1 (accessed on 7 January 2021)
  2. Anonim. 2019. Over-the-Counter and Prescription Constipation Medications. https://www.healthline.com/health/constipation-medication#otc-medications (accessed on 7 January 2021)
  3. Moores, D. 2019. What You Should Know About Constipation. https://www.healthline.com/health/constipation#causes (accessed on 7 January 2021)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi