Terbit: 6 Juli 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Obat Parkinson pada dasarnya dibutuhkan untuk mengendalikan gejala umum yang terkait dengan keadaan ini. Tidak ada pengobatan standar untuk penyakit ini, karena perawatan untuk setiap orang dengan Parkinson didasarkan pada gejalanya. Apa saja obat Parkinson di apotik yang bisa Anda gunakan? Simak penjelasan selengkapnya berikut ini.

Berbagai Obat Parkinson yang Membantu Meredakan Gejala

Mengenali Berbagai Obat Parkinson

Apa saja obat Parkinson yang bisa Anda gunakan? Terdapat banyak obat yang tersedia untuk mengobati gejala Parkinson, namun belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit ini. Berikut adalah berbagai obat yang bisa Anda gunakan, di antaranya:

  • Levodopa dan Carbidopa

Levodopa adalah salah satu obat Parkinson di apotik. Obat ini paling sering diresepkan karena kemampuannya dalam mengendalikan gejala, terutama gerakan tubuh yang lambat dan bagian tubuh yang kaku.

Levodopa bekerja ketika sel-sel otak mengubahnya menjadi dopamin. Dopamin adalah bahan kimia yang digunakan otak untuk mengirim sinyal yang membantu Anda menggerakkan tubuh. Orang dengan Parkinson tidak memiliki cukup dopamin di otak untuk mengontrol gerakan.

Sinemet adalah campuran levodopa dan obat lain yang disebut carbidopa. Obat Parkinson ini mencegah banyak efek samping umum dari levodopa, seperti mual, muntah, dan irama jantung yang tidak teratur.

Sinemet memiliki efek samping jangka pendek paling sedikit dibandingkan dengan obat lainnya. Akan tetapi, obat ini dapat meningkatkan peluang Anda untuk beberapa masalah jangka panjang, seperti gerakan yang tidak disengaja.

Orang yang menggunakan levodopa selama 3-5 tahun mungkin mengalami kegelisahan, kebingungan, atau gerakan yang tidak biasa dalam beberapa jam setelah meminumnya. Perubahan jumlah atau waktu dosis biasanya akan mencegah efek samping ini.

Sementara itu, safinamide adalah obat tambahan yang dapat diresepkan ketika individu yang menggunakan levodopa dan carbidopa mengalami terobosan gejala Parkinson yang sebelumnya terkendali. Studi menunjukkan bahwa menambahkan obat ini membantu mengurangi gejala. Efek samping yang paling umum adalah mual, jatuh, gerakan tak terkendali yang tidak terkendali, dan lain-lain.

  • Agonis Dopamin

Tidak seperti levodopa, agonis dopamin tidak berubah menjadi dopamin. Sebaliknya, obat ini meniru efek dopamin di otak. Obat ini tidak seefektif levodopa dalam mengobati gejala. Namun, obat ini dapat bertahan lebih lama dan dapat digunakan dengan levodopa untuk mengurangi efek levodopa.

Agonis dopamin termasuk pramipexole, ropinirole, dan rotigotine. Apomorphine adalah agonis dopamin injeksi kerja pendek yang digunakan untuk bantuan cepat.

Beberapa efek samping agonis dopamin mirip dengan efek samping carbidopa-levodopa. Akan tetapi, obat ini dapat mencakup mencakup halusinasi, kantuk, dan perilaku kompulsif . Jika Anda menggunakan obat-obatan ini dan  berperilaku tidak sesuai dengan karakter, konsultasi dengan dokter diperlukan.

  • MAO B Inhibitor

Obat-obatan ini termasuk selegiline, rasagiline, dan safinamide. Obat ini membantu mencegah kerusakan dopamin otak dengan menghambat enzyme monoamine oxidase B (MAO B). Enzim ini memetabolisme dopamin otak.

Efek samping dari MAO B inhibitor mungkin termasuk sakit kepala, mual, atau insomnia. Ketika ditambahkan ke carbidopa-levodopa, obat-obatan ini meningkatkan risiko halusinasi. Meski begitu obat jenis ini tidak sering digunakan dalam kombinasi. Konsultasi dengan dokter diperlukan jika Anda mengonsumsi obat tambahan dengan MAO B inhibitor.

Beberapa bukti menunjukkan bahwa selegiline dapat memperlambat perkembangan penyakit Parkinson. Efek samping yang umum termasuk mual, pusing, pingsan, dan sakit perut.

Sedangkan studi pada hewan menunjukkan bahwa rasagiline juga dapat memperlambat perkembangan Parkinson. Efek samping yang bisa terjadi termasuk sakit kepala, nyeri sendi, gangguan pencernaan, dan depresi.

  • Catechol O-methyltransferase (COMT) Inhibitor

Entacapone dan opicapone adalah obat utama dari kelas ini. Obat ini sedikit memperpanjang efek terapi levodopa dengan memblokir enzim yang memecah dopamin.

Efek samping termasuk peningkatan risiko gerakan tak terkendali (diskinesia), terutama disebabkan oleh peningkatan efek levodopa. Efek samping lainnya termasuk diare, mual atau muntah.

Tolcapone (Tasmar) adalah COMT inhibitor lain yang jarang diresepkan karena risiko kerusakan hati yang serius dan gagal hati.

  • Antikolinergik

Obat-obatan ini digunakan selama bertahun-tahun untuk membantu mengendalikan tremor yang terkait dengan penyakit Parkinson. Beberapa obat antikolinergik  termasuk benztropine atau trihexyphenidyl.

Efek samping yang bisa terjadi saat mengonsumsi obat ini adalah gangguan memori, kebingungan, halusinasi, sembelit, mulut kering, dan gangguan buang air kecil. Dikarenakan efek samping yang ditimbulkannya, obat ini jarang diresepkan pada lansia.

  • Amantadine

Dokter mungkin meresepkan amantadine untuk meredakan gejala penyakit Parkinson tahap awal yang ringan. Obat ini juga dapat diberikan dengan terapi carbidopa-levodopa selama tahap akhir penyakit Parkinson untuk mengontrol gerakan tak sadar (diskinesia) yang disebabkan oleh carbidopa-levodopa.

Efek samping mungkin termasuk bintik-bintik ungu pada kulit, pembengkakan pergelangan kaki, atau halusinasi.

Obat ini bekerja dengan meningkatkan jumlah dopamin yang dapat digunakan sel-sel otak untuk mengurangi gejala Parkinson.

Studi terbaru menemukan bahwa Symmetrel dapat membantu meringankan gerakan tak sadar yang dapat terjadi dengan terapi levodopa. Akan tetapi, obat ini dapat menyebabkan efek samping seperti kebingungan dan masalah memori.

Baca Juga: 13 Gejala Penyakit Parkinson yang Paling Umum

Pedoman Pengobatan untuk Penyakit Parkinson

Perlu diketahui, pada dasarnya tidak ada obat Parkinson paling ampuh di apotik. Bersama dengan dokter, Anda harus mencoba beberapa pendekatan pengobatan untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

Namun, terdapat beberapa pedoman umum yang harus Anda perhatikan saat meminum obat Parkinson, antara lain:

  • Jangan membagi pil atau mengeluarkan bubuk dari kapsul kecuali dokter menyarankan untuk melakukannya.
  • Minumlah 6 sampai 10 gelas air sehari.
  • Aktivitas fisik dapat membantu tubuh mencerna dan menyerap obat.
  • Ketahui nama obat dan cara mengonsumsinya. Ketahui nama generik dan merek, dosis dan efek samping yang mungkin bisa terjadi.
  • Jangan berhenti mengonsumsi atau mengganti obat sebelum konsultasi dengan dokter.
  • Konsumsi obat pada waktu yang sama setiap hari.
  • Jika Anda melewatkan satu dosis pada waktu yang dijadwalkan, jangan panik. Ambil segera setelah Anda ingat. Tetapi jika sudah hampir waktunya untuk dosis berikutnya, lewati dosis yang terlewat dan kembali ke jadwal pengobatan reguler.
  • Jangan menyimpan obat-obatan yang sudah kedaluwarsa. Tanyakan pada apoteker bagaimana cara membuangnya.
  • Simpan obat di tempat kering yang jauh dari kelembapan (kecuali dokter atau apoteker memberi tahu Anda bahwa obat tersebut perlu didinginkan).
  • Jangan berbagi obat Anda dengan orang lain.
  • Bawalah obat tambahan saat bepergian jika Anda perlu tinggal lebih lama dari yang direncanakan.

Jika Anda memiliki sejumlah keraguan terkait perawatan yang sedang dijalani, pastikan untuk bertanya pada dokter atau apoteker.

paket obat isolasi mandiri doktersehat

 

  1. Anonim. 2020. Medications for Parkinson’s Disease. https://www.webmd.com/parkinsons-disease/guide/drug-treatments. (Diakses pada 6 Juli 2021).
  2. Anonim. Parkinson’s disease. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/parkinsons-disease/diagnosis-treatment/drc-20376062. (Diakses pada 6 Juli 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi