Terbit: 17 Februari 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Laksatif obat apa? Obat laksatif adalah jenis obat-obatan yang dapat mengatasi masalah konstipasi dan melancarkan buang air besar. Obat pencahar laksatif memiliki mekanisme kerja sesuai dengan jenisnya.

Laksatif – Manfaat, Dosis, dan Efek Samping

Baca terus untuk mengetahui lebih lanjut tentang jenis-jenis obat laksatif berdasarkan cara kerjanya. Setiap jenis obat pencahar laksatif akan mencakup masing-masing informasi terkait bentuk sediaan, indikasi, kontraindikasi, manfaat, dosis, dan efek sampingnya.

  • Nama Golongan Obat : Laksatif
  • Kelas Terapi: Sistem Saluran Cerna » Pencahar
  • Monografi Obat: (sesuai jenisnya)

Jenis-jenis obat laksatif dan cara kerjanya

Berdasarkan cara kerjanya, obat laksatif terdiri dari beberapa jenis. Efek laksatif juga dipengaruhi oleh cara kerja obat pencahar laksatif. Anda bisa melihat informasi mengenai beberapa jenis obat laksatif untuk disesuaikan dengan kondisi yang dialami.

Berikut ini adalah beberapa jenis obat pencahar laksatif berdasarkan cara kerjanya:

1. Pembentuk Massa Feses

Jenis obat laksatif yang pertama adalah jenis pembentuk massa feses. Kandungan bahan aktif yang memiliki efek laksatif jenis ini adalah Ispaghula sekam. Nama merk obat yang mengandung ispaghula sekam adalah Mulax.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Family Fest - Advertisement

Berikut ini adalah informasi penting yang perlu Anda ketahui mengenai laksatif jenis pembentuk massa feses.

Cara kerja

Cara kerja obat laksatif adalah dengan cara meningkatkan massa feses. Peningkatan massa feses ini kemudian akan merangsang gerak peristaltik usus. Efek laksatif jenis ini membutuhkan waktu beberapa hari.

Indikasi

Apabila Anda memiliki masalah sembelit atau susah buang air besar karena feses sedikit dan keras maka Anda bisa menggunakan obat pencahar laksatif jenis ini. Laksatif jenis pembentuk massa feses ini dapat meningkatkan massa feses.

Indikasi penggunaan obat laksatif jenis pembentuk massa feses juga bisa diberikan kepada pasien-pasien yang akan menjalani penanganan diare kronis, kolostomi, ilestomi, hemoroid, atau fisura ani.

Kontraindikasi

Pasien yang mengalami kesulitan menelan sebaiknya tidak menggunakan obat laksatif jenis pembentuk massa feses. Selain itu, kontraindikasi juga berlaku bagi pasien yang mengalami obstruksi ususdan atoni kolon.

Bentuk sediaan

Bentuk sediaan dari laksatif yang dapat membentuk massa otot adalah bersifat serbuk. Setiap satu sachet obat Mulax memiliki kandungan ispaghula sekam sebanyak 7 gram.

Manfaat

Manfaat obat pencahar laksatif jenis pembentuk massa feses ini sama seperti manfaat serat makanan di dalam saluran cerna. Laksatif jenis ini dapat menambah meningkatkan dan membentuk massa feses sehingga terangsang untuk buang air besar.

Selain itu, manfaat obat pencahar ini juga dapat membantu pemeriksaan pasien-pasien dengan kondisi diare kronis, kolostomi, ilestomi, hemoroid, dan fisura ani. Dengan begitu, masalah pasien akan segera teratasi.

Dosis

Dosis obat Mulax atau yang mengandung bahan aktif Ispaghula sekam bagi orang dewasa adalah sebanyak 1 sachet dalam sehari di dalam satu gelas air. Informasi mengenai dosis tersebut merupakan dosis terbagi 1 hingga 3 kali.

Pada anak di atas usia 6 tahun maka dosisnya adalah setengah dari dosis orang dewasa. Ini dikarenakan pencernaan anak-anak belum sekuat pencernaan orang dewasa. Anda dapat menggunakannya obat ini sebelum maupun setelah makan.

Efek Samping

Setiap obat umumnya memiliki efek samping tertentu. Penggunaan obat laksatif dapat mengakibatkan perut kembung, perut tegang, obstruksi saluran cerna, dan hipersensitivitas.

Informasi tambahan

Sebaiknya obat ini tidak diberikan saat menjelang tidur. Jenis pencahar laksatif ini dapat mengembang bila terkena air. Oleh karena itu, sebaiknya hati-hati jika meminum obat ini bersama air.

2. Stimulan

Ada pula obat laksatif jenis stimulan. Kandungan bahan aktif yang memiliki efek laksatif stimulan di antaranya adalah bisakodil, dantron, gliserol, natrium dokusat, dan natrium pikosulfat.

Berikut ini adalah informasi penting yang perlu Anda ketahui mengenai laksatif jenis stimulan.

Cara kerja

Obat laksatif stimulan bekerja dengan cara merangsang usus. Rangsangan yang diberikan memiliki tujuan, yaitu untuk meningkatkan motilitas usus. Namun, perlu diingat hal ini akan menyebabkan kram perut.

Indikasi

Indikasi penggunaan obat pencahar laksatif jenis stimulan berbeda-beda tergantung bahan aktifnya. Penggunaan obat laksatif yang berbahan bisakodil diperuntukkan bagi pasien yang mengalami konstipasi dan pasien yang akan menjalani prosedur bedah dan radiologi.

Pemakaian laksatif stimulan dengan kandungan dantron hanya untuk konstipasi pada pasien yang mengalami sakit parah. Berbeda dengan dantron, obat laksatif berbahan gliserol dan natrium dokusat memiliki indikasi berupa konstipasi.

Pada obat pencahar laksatif stimulan dengan kandungan natrium pikosulfat baru bisa digunakan oleh pasien-pasien yang mengalami konstipasi dan pengosongan usus bagi yang akan menjalani beberapa terapi pengobatan seperti bedah, endoskopi, dan radiologi perut.

Kontraindikasi

Laksatif stimulan tidak dapat digunakan jika pasien mengalami obstruksi usus. Obat laksatif stimulan berbahan bisakodil dan natrium pikosulfat juga tidak bisa diberikan pada pasien dengan dehidrasi berat.

Bentuk sediaan

Bentuk sediaan obat laksatif stimulan memiliki beberapa jenis bentuk sediaan. Beberapa jenis bentuk sediaan laksatif stimulan tersebut adalah supositoria, tablet salut selaput, dan tablet salut enterik.

Manfaat

Manfaat laksatif stimulan adalah untuk memberikan rangsangan terhadap usus sehingga terjadi peningkatan motilitas usus. Dengan begitu, Anda akan terangsang untuk buang air besar.

Dosis

Dosis oral untuk obat berbahan bisakodil bagi dewasa adalah 5-10 mg untuk malam hari. Apabila diperlukan maka bisa ditingkatkan menjadi 15-20 mg. Pada anak-anak di bawah usia 10 tahun, dosisnya adalah 5 mg.

Obat berbahan bisakodil dengan bentuk sediaan suppositoria memiliki dosis yang berbeda. Dosis dewasa adalah 10 mg di pagi hari, sedangkan untuk anak-anak dosisnya adalah setengah dari dosis dewasa.

Dosis obat laksatif stimulan dengan kandungan dantron memiliki dosis sebanyak 25-75 mg sebelum tidur pada orang dewasa dan 25 mg sebelum tidur pada anak-anak. Laksatif dengan bahan natrium dokusat memiliki dosis sebanyak 500 mg sehari dalam dosis terbagi.

Orang dewasa yang akan menggunakan obat laksatif stimulan berbahan natrium pikosulfat perlu menggunakan dosis sebanyak 5-15 mg malam hari. Dosis tersebut pada anak usia 2-5 tahun adalah 2,5 mg dan pada anak usia 5-10 tahun adalah 2,5-5 mg.

Efek Samping

Efek samping yang umum dari penggunaan obat laksatif stimulan adalah kram perut. Apabila digunakan untuk jangka panjang maka memiliki efek samping berupa diare. Obat pencahar laksatif stimulan dengan bahan bisakodil memiliki efek samping khusus.

Obat berbahan bisakodil memiliki efek samping berupa gripping (tablet) dan iritasi lokal (supositoria). Warna urin bisa berwarna merah jika menggunakan obat laksatif stimulan dengan bahan aktif dantron.

3. Pelunak Feses

Jenis obat laksatif selanjutnya adalah tipe pelunak feses. Bahan aktif yang termasuk laksatif jenis ini adalah parafin cair. Simak informasi selengkapnya mengenai obat pencahar laksatif jenis pelunak feses.

Cara kerja

Cara kerja dari obat laksatif jenis ini adalah dengan cara membuat lunak dan melumasi feses. Sebenarnya, ada pula bahan aktif natrium dokusat yang termasuk pencahar jenis stimulan yang memiliki efek laksatif yang dapat melunakkan feses.

Indikasi

Penggunaan obat pencahar laksatif dengan jenis pelunak feses ini hanya digunakan pada pasien yang mengalami masalah buang air besar atau konstipasi.

Kontraindikasi

Pasien yang memiliki usia di bawah 3 tahun tidak boleh menggunakan obat pencahar laksatif jenis pelunak feses ini. Hal ini bertujuan untuk mencegah efek samping yang tidak diinginkan. Sebaiknya, tidak menggunakan obat ini untuk jangka panjang.

Bentuk sediaan

Ada tiga bentuk sediaan obat laksatif dengan bahan aktif parafin cair. Obat pencahar laksatif tipe pelunak feses ini tersedia dalam bentuk tablet, emulsi, dan cairan atau larutan.

Manfaat

Manfaat obat laksatif jenis ini adalah untuk melancarkan buang air besar dan mengatasi masalah konstipasi dengan cara melunakkan feses.

Dosis

Dosis obat laksatif berbahan parafin cair dengan bentuk sediaan larutan adalah sebanyak 10 mL. Penggunaan dengan dosis tersebut sebaiknya tidak dilakukan sebelum tidur.

Efek Samping

Efek samping dari obat-obatan laksatif berbahan parafin dapat menyebabkan lubang bokong teriritasi jika digunakan untuk jangka panjang. Selain itu, efek samping yang mungkin timbul seperti reaksi granulomatosa, pnemonia lipoid dan gangguan penyerapan vitamin-vitamin larut lemak.

4. Pencahar Osmotik

Ada pula jenis obat pencahar laksatif dengan jenis pencahar osmotik. Kandungan obat laksatif jenis ini ada dua, yaitu garam magnesium dan laktulosa.

Cara kerja

Laksatif jenis pencahar osmotik ini bekerja dengan cara menahan cairan dalam usus secara osmosis. Cara kerja lainnya adalah dengan memodifikasi penyebaran air yang ada di dalam feses atau tinja.

Indikasi

Obat laksatif pencahar osmosis yang mengandung bahan aktif garam magnesium dapat  digunakan jika pasien mengalami konstipasi dan ingin menjalani bedah atau endoskopi. Pasien yang mengalami konstipasi atau ensefalopati hepatik baru bisa menggunakan laksatif pencahar osmosis berbahan laktulosa.

Kontraindikasi

Obat pencahar laksatif berbahan garam magnesium tidak dapat digunakan jika pasien memiliki penyakit saluran cerna akut. Pasien dengan kondisi galaktosemia atau obstruksi usus tidak dapat menggunakan obat laksatif berbahan laktulosa.

Bentuk sediaan

Laksatif tipe pencahar osmosis yang mengandung bahan aktif garam magnesium umumnya tersedia dalam bentuk serbuk. Bentuk sediaan laksatif berbahan aktif laktulosa adalah sirup.

Manfaat

Manfaat obat laksatif jenis pencahar osmosis adalah untuk mengatasi masalah susah buang air besar dan dapat mengosong usus guna terapi pengobatan seperti endoskopi atau bedah.

Dosis

Dosis obat berbahan garam magnesium adalah sebanyak  2-4 g di dalam segelas air (magnesium hidroksida), sedangkan untuk magnesium sulfat memiliki dosis sebesar 5-10 g di dalam segelas air. Minumlah saat perut kosong.

Pada obat laksatif pencahar osmosis berbahan laktulosa, dosis orang dewasa untuk masalah sembelit adalah 10 gram sebanyak 2 kali sehari. Dosis untuk anak-anak di bawah 1 tahun adalah 1,5 g di dalam 25 mL larutan dan anak usia 1-5 tahun sebanyak 3 g dalam 5 mL larutan.

Dosis obat berbahan laktulosa dengan indikasi ensefalopati hepatik adalah 20-30 gram dengan frekuensi 3 kali sehari. Perhatikanlah konsistensi feses karena perubahan dosis diperlukan jika feses sudah mulai lunak.

Efek Samping

Laksatif tipe pencahar osmosis dapat menimbulkan beberapa efek samping. Efek samping laksatif pencahar osmosis dengan bahan aktif garam magnesium berupa kolik. Gangguan seperti kembung, kram dan perut tidak nyaman merupakan efek samping obat pencahar laksatif berbahan laktulosa.

 

 

Sumber:

  1. PIONAS-BPOM: Pencahar. http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-1-sistem-saluran-cerna-0/16-pencahar [diakses pada 15 Februari 2019]


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi