Terbit: 9 September 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Imunosupresan adalah golongan obat yang digunakan untuk menekan atau menurunkan sistem imun. Ketahui informasi selengkapnya mulai dari fungsi obat, dosis, efek samping, dan lainnya di bawah ini!

Imunosupresan: Fungsi, Dosis, Efek Samping, dll

Rangkuman Informasi Obat Imunosupresan

Berikut ini adalah rangkuman informasi umum tentang imunosupresan:

Nama Obat Imunosupresan
Kandungan Obat Imunosupresan
Kelas Obat
  • Kortikosteroid
  • Penghambat janus kinase
  • Penghambat calcineurin
  • Penghambat mTOR
  • Penghambat IMDH
Kategori Obat Obat resep
Manfaat Obat Mengatasi penyakit autoimun dan transplantasi organ
Kontraindikasi Obat
  • Alergi obat tertentu
  • Penyakit ginjal atau hati
  • Riwayat cacar air atau herpes zoster
  • Kehamilan dan menyusui
Sediaan Obat
  • Tablet
  • Kapsul
  • Cairan
  • Injeksi

Apa Itu Imunosupresan?

Imunosupresan adalah golongan obat yang dapat menekan atau mengurangi kekuatan sistem kekebalan tubuh. Obat ini biasanya diberikan kepada pasien yang akan menerima transplantasi organ.

Beberapa golongan obat yang juga disebut obat antipenolakan ini digunakan untuk mengurangi kemungkinan tubuh menolak organ yang ditransplantasikan seperti hati, jantung, atau ginjal.

Golongan imunosupresan lainnya sering kali digunakan untuk mengobati gangguan autoimun seperti lupus, psoriasis, dan rheumatoid arthritis.

Golongan obat memiliki beberapa jenis. Obat dapat diresepkan bergantung pada kondisi pasien, yakni apakah menjalani transplantasi organ, mengalami gangguan autoimun, atau kondisi lainnya. Biasanya obat diresepkan lebih dari satu jenis.

Berikut ini beberapa jenis obat imunosupresan:

  • Biologis: Abatacept, adalimumab, anakinra, certolizumab, etanercept, golimumab, infliximab, dan lainnya.
  • Kortikosteroid: Prednison, budesonide, dan prednisolon.
  • Penghambat janus kinase: Tofacitinib.
  • Penghambat calcineurin: Siklosporin, tacrolimus.
  • Penghambat mammalia target of rapamycin (mTOR): Sirolimus dan everolimus.
  • Penghambat inosine monophosphate dehydrogenase (IMDH): Azathioprine, dan leflunomide, dan mycophenolate.
  • Antibodi monoklonal: Basiliximab dan daclizumab.

Fungsi Imunosupresan

Semua golongan obat ini dapat diberikan berdasarkan resep dari dokter. Obat tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, cairan, dan suntikan. Dokter mungkin meresepkan kombinasi obat.

Tujuan dari terapi imunosupresan ini adalah untuk menemukan rencana pengobatan yang akan menekan sistem kekebalan tubuh dengan efek samping yang paling sedikit dan tidak berbahaya.

Berikut ini beberapa fungsi obat imunosupresan:

1. Kondisi Autoimun

Obat ini dapat digunakan untuk mengobati penyakit autoimun. Autoimun adalah penyakit yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri.

Obat ini berfungsi melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga membantu mengurangi dampak penyakit autoimun pada tubuh.

Sejumlah penyakit autoimun yang diobati dengan imunosupresan, di antaranya:

  • Rheumatoid arthritis
  • Psoriasis
  • Lupus
  • Penyakit Crohn
  • Sklerosis ganda
  • Alopecia areata

Baca Juga: Penyakit Autoimun: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan

2. Transplantasi Organ

Obat ini biasanya diberikan pada pada pasien yang menerima transplantasi organ. Alasanya karena sistem kekebalan tubuh menganggap organ yang ditransplantasikan sebagai benda asing. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh menyerang organ asing tersebut. Hal ini menyebabkan kerusakan parah dan membutuhkan pengangkatan organ.

Obat ini berfungsi melemahkan sistem kekebalan tubuh untuk mengurangi reaksi tubuh terhadap organ asing. Obat-obatan memungkinkan organ yang ditransplantasikan akan tetap sehat dan mencegah kerusakan.

Peringatan dan Perhatian Imunosupresan

Penggunaan golongan obat ini dapat menimbulkan masalah bagi orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Sebelum menggunakan obat, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika memiliki salah satu dari kondisi berikut:

  • Alergi obat tertentu.
  • Penyakit ginjal atau hati.
  • Riwayat cacar air atau herpes zoster.

Kehamilan dan Menyusui

Beberapa dari golongan obat ini dapat menyebabkan cacat lahir, sementara yang lain memiliki risiko lebih ringan selama kehamilan dan menyusui.

Jika berencana untuk program hamil, bicarakan dengan dokter sebelum menggunakan obat imunosupresan. Dokter mungkin akan memberi tahu tentang risiko obat tertentu yang mungkin Anda pakai.

Jika hamil saat mengonsumsi obat ini, sebaiknya segera beri tahu dokter untuk mengurangi kondisi yang tidak diinginkan.

Interaksi Imunosupresan dengan Obat Lainnya

Sebelum mulai menggunakan obat ini, pastikan untuk memberi tahu dokter tentang semua obat yang sedang dikonsumsi seperti obat resep atau obat bebas dan vitamin atau suplemen.

Dokter dapat memberi tahu Anda tentang kemungkinan interaksi obat yang mungkin disebabkan oleh imunosupresan yang sedang digunakan. Seperti efek samping yang ditimbulkan, risiko interaksi obat bergantung pada obat spesifik yang Anda gunakan.

Baca Juga: 16 Jenis Penyakit Autoimun yang Sering Terjadi & Patut Diwaspadai!

Efek Samping Imunosupresan

Efek samping golongan obat ini sangat bervariasi bergantung jenis obat yang digunakan. Guna mengetahui efek samping yang mungkin berisiko, tanyakan kepada dokter atau apoteker tentang efek obat tertentu.

Namun, semua golongan obat ini memiliki risiko infeksi yang serius. Ketika obat ini melemahkan sistem imun, tubuh menjadi kurang tahan terhadap infeksi. Ini berarti obat akan membuat tubuh lebih mungkin terkena infeksi. Hal ini juga berarti bahwa infeksi apa pun yang diderita akan lebih sulit diobati.

Sebaiknya segera hubungi dokter jika mengalami salah satu gejala infeksi berikut:

  • Demam atau menggigil.
  • Nyeri di sebagian punggung bawah.
  • Susah buang air kecil.
  • Sering buang air kecil.
  • Nyeri saat buang air kecil.
  • Kelelahan atau lemah yang tidak biasa.

Tes dan Perubahan Dosis Imunosupresan

Selama perawatan menggunakan obat ini, pasien akan menjalani tes darah secara teratur. Tes ini dapat membantu dokter memantau seberapa efektif obat dan apakah perubahan dosis imunosupresan diperlukan. Tes juga membantu dokter mengetahui apakah obat menyebabkan efek samping.

Jika memiliki penyakit autoimun, dokter mungkin menyesuaikan dosis obat berdasarkan bagaimana kondisi pasien merespons obat.

Sedangkan jika pasien menerima transplantasi organ, dokter mungkin akan mengurangi dosis imunosupresan. Hal ini karena risiko penolakan organ berkurang dari waktu ke waktu, sehingga kebutuhan obat-obatan bisa menurun.

Namun, kebanyakan orang yang pernah menjalani transplantasi perlu mengonsumsi setidaknya satu obat imunosupresan sepanjang hidupnya.

Dosis Imunosupresan

Berikut ini adalah dosis obat ini untuk beberapa masalah kesehatan:

1. Azathioprine

Azathioprine dapat digunakan untuk mengobati rheumatoid arthritis dan sebagai obat antipenolakan bagi orang-orang yang pernah menjalani transplantasi ginjal. Dalam miositis, biasanya diminum dan paling baik dikonsumsi dengan makanan untuk menghindari sakit perut.

Awal dosis biasanya sebanyak 50 miligram dua kali sehari, kemudian dosisnya ditingkatkan 50 miligram setiap dua sampai empat minggu. Obat ini mungkin diperlukan dalam waktu hingga enam bulan sampai gejala membaik.

2. Tacrolimus

Tacrolimus adalah obat yang juga dikembangkan sebagai obat antipenolakan untuk transplantasi organ. Obat bekerja dengan cara menghambat produksi interleukin-2 (IL-2), molekul yang mendorong perkembangan dan proliferasi sel T dalam sistem kekebalan tubuh.

Obat ini digunakan sebagai pengobatan lini kedua pada miositis, terutama untuk pasien yang memiliki penyakit paru-paru interstitial.

Tacrolimus diminum dengan dosis 1 mg dua kali sehari dan ditingkatkan perlahan sampai kadar darah yang optimal tercapai.

2. Mycophenolate Mofetil

Obat ini digunakan untuk mencegah penolakan pada pasien transplantasi organ dan untuk mengobati penyakit autoimun lainnya.

Dalam myositis, biasanya diminum secara oral dengan dosis sebanyak 250-500 miligram dua kali sehari, kemudian dosis ditingkatkan secara bertahap menjadi dosis 2000-3000 miligram per hari. Penderita masalah ginjal sebaiknya menggunakan dosis yang lebih rendah.

Dosis obat untuk penyakit autoimun dan masalah kesehatan yang telah dijelaskan di atas hanya beberapa, tetapi masih ada banyak golongan obat dari imunosupresan yang tidak dijelaskan di sini.

Baca Juga: Transplantasi Organ: Jenis, Proses, Prosedur, Manfaat, Risiko, dll

Petunjuk atau Cara Pakai Imunosupresan

Berikut ini adalah beberapa cara mengguakan golongan imunosupresan:

  • Selalu minum obat pada waktu yang sama setiap hari.
  • Jangan melewatkan atau lupa satu dosis pun. Jika tidak sengaja melewatkan satu dosis, hubungi dokter.
  • Jangan berhenti minum atau mengubah dosis obat apa pun tanpa sepengetahuan dan persetujuan dokter.
    Hubungi dokter jika mengalami efek samping pengobatan, misalnya muntah atau diare.
  • Jangan minum obat selain yang diresepkan oleh dokter, termasuk obat yang dijual bebas atau yang diresepkan oleh dokter lain tanpa terlebih dahulu menghubungi dokter.

Petunjuk Penyimpanan Obat Imunosupresan

Guna mempertahankan fungsi dan mencegah obat dari kerusakan, sebaiknya simpan obat dengan baik dan jangan menyimpannya sembarangan. Berikut beberapa cara atau petunjuk penyimpanan obat yang benar:

  • Simpan obat di tempat sejuk dan kering, dengan kisaran suhu 20°C-25°C.
  • Jangan menyimpan obat di tempat yang berair, lempap, panas, atau terpapar sinar matahari.
  • Jangan menyimpan obat di dekat wastafel, kompor, dan peralatan yang mengeluarkan suhu panas.
  • Simpan obat di lemari atau kotak P3K, laci, atau lemari dapur.
  • Jangan lupa menutup kotak obat atau tutup botol dengan rapat.
  • Jauhkan obat dari jangkauan anak-anak.

_

Itulah penjelasan lengkap tentang apa itu imunosupresan. Informasi tentang fungsi obat sampai dosis tidak dapat menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Oleh karena itu, sebaiknya menggunakan obat sesuai petunjuk pada kemasan atau saran dari dokter!

 

  1. Anonim. 2015. What are immunosuppressants?. https://www.kidney.org/atoz/content/immuno. (Diakses pada 9 September 2020)
  2. Anonim. Tanpa Tahun. Immunosuppressants. https://sclerodermanews.com/immunosuppressants/. (Diakses pada 9 September 2020)
  3. Anonim. Tanpa Tahun. Immunosuppressant Medications. https://columbiasurgery.org/kidney-transplant/immunosuppressant-medications. (Diakses pada 9 September 2020)
  4. Anonim. Tanpa Tahun. Immunosuppressants. https://www.myositis.org/about-myositis/treatment-disease-management/medications/immunosuppressants/. (Diakses pada 9 September 2020)
  5. Giorgi, Anna. 2019. About Immunosuppressant Drugs. https://www.healthline.com/health/immunosuppressant-drugs. (Diakses pada 9 September 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi