Duphaston – Manfaat, Dosis, dan Efek Samping

duphaston-obat-apa-doktersehat

DokterSehat.Com – Duphaston obat apa? Duphaston adalah obat yang bisa mengatasi beberapa masalah medis yang terkait dengan hormon kewanitaan yaitu hormon progesteron dan hormon estrogen. Duphaston termasuk obat yang dijual bebas di pasaran.

Baca terus untuk mengetahui lebih lanjut tentang obat duphaston termasuk informasi tentang bentuk sediaan duphaston, indikasi duphaston, kontraindikasi duphaston, manfaat duphaston, dosis duphaston, dan efek samping duphaston.

  • Nama: Duphaston
  • Kelas Terapi: Hormon Kelamin » Hormon Perempuan
  • Monografi Obat: Didrogesteron

Bentuk Sediaan Duphaston

Obat duphaston yang ada di pasaran tersedia dalam satu jenis bentuk sediaan. Bentuk sediaan obat duphaston adalah tablet. Duphaston dijual dalam kemasan box di mana setiap satu box berisi 20 tablet.

Ada satu bahan aktif di dalam obat duphaston. Kandungan tersebut adalah didrogestron yang merupakan bahan aktif pada kelas hormon perempuan. Jadi, obat duphaston memang terkait dengan masalah medis kewanitaan.

Indikasi Duphaston

Pemberian obat duphaston harus memiliki indikasi tertentu dan tidak boleh sembarangan digunakan tanpa adanya indikasi pasti. Indikasi penggunaan obat duphaston adalah sebagai adjuvan atau terapi kombinasi pada terapi sulih estrogen.

Selain itu, beberapa perempuan yang mengalami gejala kekurangan progesteron bisa menggunakan obat duphaston. Beberapa masalah kekurangan hormon progesteron sangat terkait dengan sikulas haid seperti sindrom pramenstruasi dan nyeri haid (dismenoria).

Obat duphaston juga dapat digunakan pada perempuan yang mengalami amenorea sekunder, endometriosis, pendarahan rahim disfungsional, kemungkinan aborsi, dan infertilitas karena insufisiensi hormon luteal.

Kontraindikasi Duphaston

Para perempuan yang memiliki kontraindikasi duphaston tidak bisa menggunakannya meskipun memiliki indikasi. Konsultasilah dengan dokter untuk mendapatkan solusi pengobatan yang lebih tepat.

Beberapa kontraindikasi obat duphaston seperti alergi dengan didrogesteron, pendarahan vagina yang belum didiagnosis, neoplasma tergantung progesteron yang diketahui maupun yang suspek.

Obat duphaston tidak boleh pada pencegahan hiperplasia endometrium karena sedang terapi hormon estrogen dalam jangka panjang. Adanya gangguan tromboplebitis atau tromboemboli pada pasien juga memiliki kontraindikasi terhadap duphaston.

Perempuan yang memiliki gangguan fungsi hepar, riwayat penyakit serebrovaskular atau arteri koroner, riwayat herpes kehamilan, riwayat jaundice kolestatik, sindroma Dubin-Johnson, sindroma Rotor, dan anemia sickle-cell tidak bisa memakai obat duphaston.

Selain itu, jika Anda memiliki tumor hati baik jinak maupun ganas akibat penggunaan kontrasepsi oral maka tidak boleh menggunakan obat duphaston. Sebaiknya obat duphaston tidak diberikan pada anak di bawah usia 18 tahun.

Manfaat Duphaston

Ada beberapa manfaat penggunaan obat duphaston. Manfaat obat duphaston bisa sebagai adjuvan pada terapi sulih estrogen. Manfaat duphaston juga bisa untuk mengatasi sindrom pramenstruasi dan nyeri haid (dismenoria).

Obat duphaston bermanfaat untuk mengatasi masalah amenorea sekunder, endometriosis, pendarahan rahim disfungsional, kemungkinan aborsi, dan infertilitas karena insufisiensi hormon luteal.

Dosis Obat Duphaston

Manfaat obat duphaston bisa Anda dapatkan jika menggunakan obat duphaston sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Dosis duphaston berbeda-beda tergantung pada masalah medis yang dialami oleh pasien.

Dosis duphaston pada terapi sulih estrogen adalah sebanyak 10 mg per hari. Penggunaannya selama 10-12 hari per bulan. Dosis tersebut bisa ditambahkan menjadi 20 mg/hari selama 10-12 hari apabila terjadi withdrawal bleeding yang mengganggu.

Pada terapi estrogen siklis, dosisnya adalah 10 mg/hari selama 12-14 hari terakhir dari terapi estrogen. Wanita yang mengalami sindrom pramenstruaasi memerlukan dosis obat duphaston sebanyak 2x sehari pada hari 12-26.

Wanita yang mengalami dismenorea atau nyeri haid memerlukan dosis  10 mg sebanyak 2x sehari. Konsumsi mulai hari ke 5 sampai hari ke 25. Dosis obat duphaston pada kasus endometriosis adalah 10 mg 2x sehari dari hari ke 5 hingga hari ke-25 atau terus-menerus.

Pada kasus amenore sekunder, dosis duphaston adalah sebanyak 2x sehari pada hari ke 11-25. Apabila pasien mengalami pendarahan rahim abnormal karena ketidakseimbangan hormone maka dosisnya adalah 10-20 mg sebanyak 1-2x sehari selama 5-10 hari.

Dalam rangkan mencegah pendarahan lebih berat maka dosisnya menjadi 10-20 mg 1-2x sehari pada hari ke 11-25 dari siklus. Kasus untuk kemungkinan aborsi adalah 40 mg sekaligus lalu 10 mg setiap delapan jam hingga gejalanya hilang.

Obat duphaston perlu diberikan sebanyak 2 kali sehari dari hari ke-11 hingga hari ke-25 pada siklus haid pada pasien dengan masalah infertilitas karena insufisiensi luteal. Dosis tersebut harus dilanjutkan setidaknya enam kali berturut-turut.

Efek Samping Duphaston

Penggunaan obat duphaston yang tidak sesuai dengan dosis seperti overdosis dapat menimbulkan beberapa efek samping. Selain itu, efek samping duphaston juga bisa timbul jika pasien memiliki kontraindikasi namun tetap memakainya.

Efek samping duphaston bisa menyebabkan tanda-tanda reaksi alergi pada pasien yang memiliki hipersensitivitas pada bahan aktif yaitu didrogesteron. Beberapa tanda-tanda reaksi alergi tersebut seperti gatal-gatal, ruam kulit, sesak napas, dan sakit kepala.

Apabila Anda mengalami hal tersebut setelah mengonsumsi obat duphaston maka hentikanlah pemakaian duphaton dan segeralah mencari bantuan medis terdekat. Ini bertujuan agar Anda mendapatkan penanganan yang tepat dengan segera.

Efek samping obat duphaston lainnya yang dapat ditimbulkan adalah adanya gangguan menstruasi. Duphaston bisa berefek pada munculnya gejala yang mirip dengan sindrom pramenstruasi.

Beberapa gejala yang mirip dengan sindrom pramenstruasi di antaranya seperti kembung, kekurangan cairan, breast tenderness, berat badan bertambah, mual, sakit kepala, pusing, insomnia, mengantuk, depresi, reaksi kulit, urtikaria, pruritus, kulit kemerahan, jerawat.

Obat duphaston juga memiliki efek samping seperti hirsutisme dan alopesia. Efek samping duphaston berupa reaksi anafilaktik dan penyakit kuning juga memiliki kemungkinan untuk terjadi para pasien.

Jadi, berkonsultasilah dengan dokter untuk memastikan adanya indikasi dan kontraindikasi agar terhindar dari efek samping yang telah disebutkan. Di samping itu, Anda harus menggunakan duphaston sesuai dengan dosis agar tidak mendapat efek sampingnya.

 

Sumber:

  1. PIONAS-BPOM: Duphaston. http://pionas.pom.go.id/obat-baru/duphaston [diakses pada 11 Februari 2019]
  2. PIONAS-BPOM: Progestogen. http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-6-sistem-endokrin/64-hormon-kelamin/641-hormon-perempuan/6412-progestogen [diakses pada 11 Februari 2019]