Terbit: 25 November 2020 | Diperbarui: 26 April 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Diuretik atau sering juga disebut pil air adalah obat yang dirancang untuk meningkatkan jumlah air dan garam yang dikeluarkan dari tubuh melalui urine. Ketahui fungsi obat diuretik hingga efek sampingnya pada tubuh.

Diuretik: Fungsi, Efek Samping, Cara Pakai, dll

Diuretik Obat Apa?

Ini adalah obat yang digunakan untuk mengobati beberapa kondisi termasuk gagal jantung, tekanan darah tinggi, penyakit hati, dan beberapa jenis penyakit ginjal. Penggunaan obat ini juga membantu meningkatkan ekskresi zat tertentu dari tubuh

Fungsi Diuretik

Diuretik adalah obat yang umum digunakan bersama dengan jenis obat lain (terapi tambahan) pada edema yang berhubungan dengan gagal jantung kongestif, sirosis hati, terapi kortikosteroid, dan terapi estrogen.

Obat ini juga dapat digunakan untuk edema yang disebabkan oleh disfungsi ginjal (misalnya, sindrom nefrotik, glomerulonefritis akut, dan gagal ginjal kronis). Selain itu, obat ini juga dapat digunakan untuk ekskresi kalsium urine, sehingga berguna mencegah batu ginjal yang mengandung kalsium.

Bahkan, obat yang sering disebut pil air ini adalah satu-satunya agen terapeutik untuk mengobati hipertensi. Pada  beberapa kasus, juga digunakan dalam kombinasi dengan obat antihipertensi lain untuk mengobati bentuk hipertensi yang lebih parah.

Baca Juga: Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi): Penyebab, Gejala, Obat, dll

Jenis Diuretik

Obat ini memiliki beberapa jenis. Ketiga jenis obat tersebut adalah thiazide, loop, dan potassium-sparing diuretics. Berikut penjelasan selengkapnya:

Thiazide Diuretics

Thiazide adalah jenis yang paling sering diresepkan untuk mengobati tekanan darah tinggi. Selain membantu mengeluarkan cairan dari tubuh, obat ini juga membuat pembuluh darah menjadi rileks. Thiazide terkadang dikonsumsi dengan obat lain yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah. Contoh obat ini antara lain:

  • Chlorthalidone.
  • Hydrochlorothiazide.
  • Metolazone.
  • Indapamide.

Loop Diuretics

Obat ini menghambat reabsorpsi natrium di nefron (bagian terkecil ginjal), sehingga meningkatkan jumlah air yang dikeluarkan dalam urine. Obat ini sering digunakan untuk mengobati gagal jantung. Contoh obat ini meliputi:

  • Torsemide.
  • Furosemide.
  • Bumetanide.

Potassium-Sparing Diuretics

Jenis obat ini berguna untuk mengurangi kadar cairan dalam tubuh tanpa menyebabkan tubuh kehilangan kalium dan nutrisi penting lainnya. Obat ini dapat diresepkan untuk seseorang yang berisiko memiliki kadar kalium rendah. Kadar kalium yang rendah dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti aritmia.

Potassium-sparing tidak mengurangi tekanan darah sebaik obat diuretik lainnya. Oleh karena itu, dokter mungkin meresepkan dengan obat lain yang membantu menurunkan tekanan darah. Beberapa contoh obat ini, antara lain:

  • Amiloride.
  • Triamterene.
  • Spironolactone.
  • Eplerenone.

Osmotic Diuretics

Obat ini berguna untuk menghambat reabsorpsi natrium dan air, serta meningkatkan osmolaritas darah serta filtrat ginjal. Osmotic diuretics umumnya digunakan untuk mengurangi tekanan intrakranial pada tengkorak, pengobatan oliguria, dan transportasi obat ke otak.

Beberapa contoh obat ini, antara lain:

  • Glycerin.
  • Isosorbide.
  • Mannitol IV.
  • Urea.

Interaksi Diuretik

Thiazide diuretics yang diberikan bersamaan dengan obat antidiabetik (seperti oral agents dan insulin Apidra, Exubera, Humulin 70-30, Humalog Mix 50-50, Humalog 75-25, Humulin R, Humulin N, Humulin 50-50, Velosulin, Humalog, Lantus, Levemir, Novolog, Novolog Mix 50/50, Novolog Mix 70/30) bisa menurunkan efektivitas obat antidiabetik, sehingga mungkin dosis obat antidiabetik perlu ditingkatkan.

Penggunaan digoxin dan diuretik (thiazide dan loop diuretics) secara bersamaan dapat menyebabkan kelemahan, kram, dan detak jantung tidak teratur.

Sementara itu, lithium (eskalith, lithobid, lithonate, lithotabs) yang diberikan bersamaan dengan diuretik (thiazide dan loop diuretics) dapat menyebabkan toksisitas lithium karena penurunan eliminasi lithium oleh ginjal. Tingkat lithium harus dipantau untuk memastikan keamanan.

Sedangkan potassium-sparing diuretics yang diberikan dengan angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitors atau obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) telah dikaitkan dengan peningkatan kadar kalium (hiperkalemia).

Hiperkalemia berat bisa menyebabkan kelemahan otot, kelelahan, dan detak jantung lambat (bradikardia). Obat ini sering diresepkan dengan obat lain untuk tekanan darah tinggi dan penyakit jantung untuk meningkatkan efektivitasnya. Namun penggunaannya berpotensi menyebabkan kelainan elektrolit (seperti penurunan kadar kalium).

Efek Samping Diuretik

Jika dikonsumsi sesuai resep, obat ini umumnya dapat ditoleransi dengan baik oleh tubuh. Namun, obat ini juga dapat menyebabkan beberapa efek samping.

Berikut adalah beberapa efek samping yang lebih umum, antara lain:

  • Kalium dalam darah terlalu sedikit.
  • Kalium dalam darah terlalu banyak (untuk potassium-sparing diuretics).
  • Kadar natrium rendah.
  • Sakit kepala.
  • Pusing.
  • Haus.
  • Peningkatan gula darah.
  • Kram otot.
  • Peningkatan kolesterol.
  • Ruam kulit.
  • Encok.
  • Diare.

Dalam kasus yang jarang terjadi, obat ini dapat menyebabkan efek samping yang serius seperti:

  • Reaksi alergi.
  • Gagal ginjal.
  • Detak jantung tidak teratur.

Jika Anda memiliki efek samping yang mengganggu saat menggunakan obat ini, konsultasi dengan dokter diperlukan. Dokter mungkin meresepkan obat atau kombinasi obat yang berbeda untuk membantu mengurangi efek samping.

Terlepas dari apakah Anda mengalami efek samping atau tidak, jangan berhenti mengonsumsi obat tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Baca Juga: 11 Makanan yang Mengandung Yodium Selain Garam

Cara Pakai Diuretik

Meski obat ini umumnya aman, akan tetapi terdapat beberapa risiko yang harus Anda waspadai terutama jika memiliki masalah medis atau sedang mengonsumsi obat lainnya. Pastikan untuk memberi tahu dokter jika Anda memiliki salah satu dari kondisi berikut:

  • Diabetes.
  • Pankreatitis.
  • Lupus.
  • Encok.
  • Masalah menstruasi.
  • Masalah ginjal.
  • Sering dehidrasi.

Jika dokter meresepkan obat ini, jangan ragu untuk menanyakan pertanyaan apa pun yang membuat Anda khawatir. Pertimbangkan untuk membahas pertanyaan-pertanyaan seperti:

  • Bagaimana saya tahu obat ini berfungsi sebagaimana mestinya?
  • Obat apa saja yang mungkin berinteraksi dengan diuretik?
  • Haruskah saya mengikuti diet rendah garam saat mengonsumsi obat ini?
  • Apakah tekanan darah dan fungsi ginjal saya harus diperiksa?
  • Haruskah saya mengonsumsi suplemen kalium atau menghindari makanan yang mengandung kalium?

 

  1. Ellis, Mary Ellen. 2019. What to Know About Diuretics. https://www.healthline.com/health/diuretics. (Diakses pada 25 November 2020).
  2. Mandal, Ananya. What Are Diuretics Used For?. https://www.news-medical.net/health/What-Are-Diuretics-Used-For.aspx. (Diakses pada 25 November 2020).
  3. Ogbru, Annette (Gbemudu). Diuretics. https://www.rxlist.com/diuretics/drug-class.htm. (Diakses pada 25 November 2020).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi