Terbit: 22 April 2020
Ditulis oleh: Mutia Isni Rahayu | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Anfix adalah obat dengan kandungan bahan aktif Cefixime. Obat ini termasuk ke dalam jenis antibiotik sefalosporin, yaitu antibiotik spektrum luas yang digunakan untuk mengatasi beberapa jenis infeksi bakteri. Ketahui selengkapnya tentang obat ini mulai dari manfaat, dosis, efek samping, dan lainnya melalui artikel ini!

Anfix: Manfaat, Dosis, Efek Samping, Dll

Rangkuman Informasi Obat Anfix

Nama Obat Anfix
Kandungan Obat Cefixime
Kelas Terapi Obat Antibiotik
Kategori Obat resep
Manfaat Obat Mengatasi infeksi bakteri
Kontraindikasi Hipersensitivitas
Sediaan Obat Kapsul tablet

Anfix Obat Apa?

Anfix adalah obat dengan kandungan Cefixime, yang merupakan salah satu antibiotik jenis sefalosporin. Cara kerja obat ini adalah dengan menghambat pertumbuhan bakteri yang menyebabkan infeksi.

Cefixime bekerja lebih lama jika dibandingkan dengan sefalosporin yang diberikan secara oral lainnya. Obat ini hanya diindikasikan untuk infeksi akut.

Manfaat Anfix

Secara umum kegunaan Anfix adalah untuk mengatasi infeksi bakteri. Berikut adalah beberapa kondisi yang dapat diatasi dengan menggunakan obat ini:

  • Infeksi saluran kemih ringan akibat Escherichia coli dan Proteus mirabilis
  • Otitis media akibat Haemophilus influenzae , Moraxella catarrhalis, dan Streptococcus  pyogenes
  • Faringitis dan tonsilitis akibat Streptococcus pyogenes
  • Bronkitis akut dan bronkitis kronik akibat Streptococcus pneumoniae  dan Haemophilus  influenzae
  • Pengobatan demam tifoid pada anak-anak

Dosis Anfix

Obat ini hadir dalam sediaan kapsul, yang setiap kapsulnya mengandung 200 mg Cefixime. Berikut adalah dosis Anfix yang disarankan:

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Tempo Scan Baby Fair - Advertisement
  • Dewasa: 200-400 mg (1-2 kapsul), diberikan dalam dosis tunggal atau terbagi dalam 2 dosis per hari. Pengobatan dilakukan selama 7 hari dan dapat dilanjutkan hingga 14 hari jika diperlukan.
  • Anak-anak di atas 6 bulan dengan berat kurang dari 50 kg: 8 mg/kg diberikan dalam dosis tunggal atau terbagi menjadi dua dosis per hari.

Dosis di atas adalah dosis yang disarankan. Dosis dapat berganti menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pasien. Jangan pernah mengganti dosis tanpa berdiskusi dengan dokter maupun apoteker.

Petunjuk Penggunaan Anfix

Penggunaan obat ini sebaiknya digunakan sesuai dengan aturannya. Berikut adalah petunjuk penggunaan Anfix:

  • Obat ini dapat dikonsumsi bersamaan atau tidak bersamaan dengan makanan.
  • Gunakan obat sesuai dengan dosis yang disarankan.
  • Gunakan obat ini di waktu yang sama setiap harinya.
  • Apabila dosis terlewat, segera konsumsi obat ini saat ingat atau ambil dosis selanjutnya apabila waktunya sudah terlalu dekat dengan dosis selanjutnya.
  • Jika tidak sengaja menggunakan obat ini melebihi dosis yang disarankan, segera konsultasikan dengan dokter.
  • Obat ini termasuk antibiotik sehingga semua obat yang telah diresepkan harus dihabiskan meskipun gejala sudah membaik. Jangan hentikan penggunaan obat tanpa izin dari dokter.

Petunjuk Penyimpanan Anfix

Simpan obat ini sesuai dengan petunjuk penyimpanannya untuk mencegah obat rusak dan efektivitasnya menurun. Berikut adalah petunjuk penyimpanan Anfix yang harus diperhatikan:

  • Simpan obat ini pada suhu antara 20-30°C.
  • Simpan obat ini di tempat kering dan tidak lembap, jangan simpan di kamar mandi.
  • Hindari obat dari cahaya atau sinar matahari langsung.
  • Hindari obat dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.
  • Jika obat sudah memasuki masa expired, jangan buang obat sembarangan, diskusikan dengan apoteker tentang petunjuk pembuangan obat ini.

Efek Samping Anfix

Setiap obat berpotensi menimbulkan efek samping, begitu juga dengan Anfix. Berikut adalah berbagai efek samping Anfix yang mungkin timbul:

  • Diare
  • Konstipasi
  • Nyeri perut
  • Agitasi
  • Tinja gelap
  • Gusi berdarah
  • Sakit dada
  • Panas dingin
  • Batuk
  • Kebingungan
  • Urine gelap
  • Detak jantung cepat
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Gatal atau ruam kulit
  • Radang sendi
  • Nyeri otot
  • Nafsu makan menurun
  • Sakit tenggorokan
  • Reaksi alergi

Efek samping yang terjadi pada setiap orang mungkin berbeda-beda. Efek samping dapat terjadi akibat penggunaan obat berlebihan, interaksi obat, penggunaan jangka panjang, atau karena kondisi tertentu dari pasien.

Jika Anda merasakan gejala efek samping serius atau reaksi alergi, segera hentikan penggunaan obat Anfix dan konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dan hentikan penggunaan obat.

Interaksi Obat Anfix

Interaksi obat dapat terjadi ketika Anfix digunakan bersama dengan jenis obat-obatan lain tertentu. Interaksi obat menyebabkan efektivitas obat menurun dan dapat meningkatkan potensi terjadinya efek samping.

Berikut adalah beberapa jenis obat yang sebaiknya tidak digunakan bersamaan dengan Anfix:

  • Vaksin hidup
  • Antikoagulan
  • Nifedipine
  • Probenecid
  • Carbamazepine

Daftar di atas kemungkinan bukan merupakan daftar lengkap. Beri tahu dokter apabila Anda sedang mengonsumsi atau belakangan mengonsumsi obat-obatan tertentu termasuk obat resep, non-resep, hingga obat herbal.

Penggunaan obat-obatan di atas bersamaan dengan Anfix masih mungkin dilakukan jika memang dibutuhkan. Dokter akan menyesuaikan penggunaan dan dosis untuk menurunkan risiko dari interaksi obat.

Konsumsi alkohol juga dapat menyebabkan interaksi obat, maka sebaiknya dihindari. Diskusikan juga dengan dokter tentang jenis makanan atau minuman yang sebaiknya dihindari selama penggunaan obat Anfix untuk menghindari interaksi obat.

Peringatan dan Perhatian Anfix

Anfix termasuk ke dalam golongan obat keras yang penggunaannya harus melalui resep dokter. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan Anfix:

  • Jangan gunakan obat ini pada pasien yang hipersensitif terhadap Cefixime dan komponen lain yang terkandung pada obat ini. Pasien yang alergi dengan antibiotik Penisilin biasanya juga akan alergi terhadap sefalosporin.
  • Hati-hati penggunaan pada pasien dengan gangguan pendarahan, gangguan ginjal, dan fenilketonuria.
  • Obat ini masuk kategori B untuk ibu hamil menurut FDA. Penelitian pada hewan membuktikan tidak adanya kerusakan pada janin, namun belum dilakukan studi terkontrol pada manusia atau penelitian pada hewan menunjukkan efek merugikan, namun telah dilakukan penelitian yang memadai pada ibu hamil dan tidak menunjukkan risiko pada janin.
  • Konsultasikan dengan dokter tentang penggunaan obat ini apabila Anda sedang dalam masa menyusui.
  • Penggunaan antibiotik harus dihabiskan sesuai dengan yang diresepkan, meskipun gejala sudah membaik. Jangan hentikan penggunaan obat tanpa berdiskusi dengan dokter.

 

  1. Anonim. 2019. Cefixime (Oral Route). https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/cefixime-oral-route/side-effects/drg-20073374?p=1. (Diakses 21 Desember 2019).
  2. Anonim. Cefixime. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/cefixime?mtype=generic. (Diakses 21 Desember 2019).
  3. PIONAS BPOM. Sefalosporin. http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-5-infeksi/51-antibakteri/512-sefalosporin-dan-antibiotik-beta-laktam-lainnya/5121. (Diakses 21 Desember 2019).
  4. PIONAS BPOM. Sefiksim. http://pionas.pom.go.id/monografi/sefiksim. (Diakses 21 Desember 2019).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi