Terbit: 8 September 2020 | Diperbarui: 9 September 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Amfetamin adalah obat yang digunakan untuk mengatasi ADHD, narkolepsi, obesitas, dan depresi. Selengkapnya ketahui fungsi, dosis, efek samping, dan lainnya di bawah ini!

Amfetamin: Fungsi, Dosis, Efek Samping, dll

Rangkuman Informasi Obat Amfetamin

Berikut ini adalah rangkuman informasi umum tentang obat amfetamin:

Nama Obat Amfetamin
Kandungan Obat Amfetamin
Kelas Obat Stimulan sistem saraf otak
Kategori Obat Obat resep
Manfaat Obat
  • ADHD
  • Narkolepsi
  • Obesitas
  • Depresi
Kontraindikasi Obat Arteriosklerosis lanjut, penyakit kardiovaskular simptomatik, hipertensi sedang sampai berat, dan lainnya.
Sediaan Obat Tablet
 Harga Obat Tablet: Rp300.00 – Rp400.000

Amfetamin Obat Apa?

Amfetamin adalah stimulan sistem saraf pusat yang memengaruhi zat kimia alami di otak dan saraf yang berperan penting pada hiperaktif dan mengontrol impuls. Obat ini dapat menyebabkan ketagihan dan penyalahgunaan jika digunakan tanpa resep dari dokter.

Amfetamin biasanya diresepkan dokter untuk mengobati gangguan attention deficit hyperactivity (ADHD) dan narkolepsi. Obat ini terkadang juga digunakan untuk penyakit depresi dan mengatasi obesitas karena dapat menurunkan nafsu makan.

Merek Dagang Amfetamin

Amfetamin adalah obat yang termasuk ke dalam narkotika golongan 1 yang termasuk dengan ganja, kokain, dan opium. Obat ini juga memiliki merek atau nama lain yang berbeda, di antaranya:

  • Evekeo
  • Adderall
  • Dexedrine
  • Vyvanse
  • Crystal meth
  • Bennies

Fungsi Obat Amfetamin

Amfetamin dapat mengaktifkan reseptor di otak dan meningkatkan aktivitas sejumlah neurotransmiter, yakni norepinephrine dan dopamin. Amfetamin telah diujicobakan untuk mengatasi berbagai macam kondisi.

Fungsi utama amfetamin di antaranya:

1. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

Amfetamin dapat mengatasi beberapa gejala ADHD pada anak-anak, termasuk hiperaktif, mudah marah, ketidakstabilan mood, kesulitan perhatian, dan perilaku impulsif.

Obat Ini telah terbukti meningkatkan perkembangan otak dan pertumbuhan saraf pada anak-anak penderita ADHD.

Pengobatan jangka panjang dengan pengobatan berbasis amfetamin pada anak-anak dapat mencegah perubahan yang tidak diinginkan pada fungsi dan struktur otak.

2. Narkolepsi

Amfetamin dan turunan amfetamin telah digunakan sebelumnya untuk mengobati narkolepsi, yakni rasa kantuk yang berlebihan di siang hari dan serangan tidur yang mendadak.

Penderita narkolepsi merasakan emosi yang kuat dapat memicu hilangnya tonus otot secara tiba-tiba atau cataplexy, yang menyebabkan pingsan dan kemungkinan jatuh. Ini juga memecu serangan tidur yang sering dan tidak terduga.

3. Obesitas

Amfetamin dengan nama dagang Benzedrine pertama kali digunakan untuk mengobati obesitas di tahun 1930-an, karena mampu mengurangi nafsu makan.

Efek samping obat dan potensinya membuat kecanduan dan penyalahgunaan menyebabkan obat ini tidak disukai. Di tahun 1950-an, ketika penggunaan obat dihentikan dilaporkan telah menyebabkan malnutrisi, psikosis, dan depresi sehingga dokter berhenti meresepkannya untuk menurunkan berat badan.

Namun, setelah melakukan penelitian di tahun 2015, peneliti menyarankan bahwa dexamphetamine mungkin cara yang aman dan efektif meningkatkan motivasi untuk perubahan gaya hidup yang menyebabkan penurunan berat badan.

4. Depresi

Amfetamin digunakan untuk mengobati gangguan afektif, gangguan obsesif-kompulsif (OCD), dan skizofrenia sejak tahun 1930-an. Namun di tahun 1950-an dan 1960-an, di tengah kekhawatiran tentang efek sampingnya, obat ini digantikan oleh antidepresan yang baru tersedia.

Dalam kasus yang jarang terjadi, amfetamin digunakan bersama dengan antidepresan standar untuk mengobati beberapa jenis depresi yang tidak merespons pengobatan lain.

Baca Juga: ADHD pada Anak: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Peringatan Obat Amfetamin

Berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum menggunakan amfetamin untuk tujuan pengobatan:

  • Amfetamin mungkin membentuk kebiasaan dan obat ini terkadang disalahgunakan. Beri tahu dokter Anda jika Anda memiliki masalah dengan penyalahgunaan narkoba atau alkohol.
  • Jangan menggunakannya lagi jika pernah mengalami reaksi alergi terhadap obat ini. Menggunakannya kembali bisa berakibat fatal atau bahkan kematian.
  • Stimulan menyebabkan stroke, serangan jantung, dan kematian mendadak pada penderita tekanan darah tinggi (hipertensi), penyakit jantung, atau kelainan jantung.
  • Jangan gunakan amfetamin jika telah menggunakan penghambat MAO dalam 14 hari terakhir, seperti isocarboxazid, linezolid, phenelzine, rasagiline, selegiline, atau atau telah menerima injeksi metilen biru.
  • Amfetamin menyebabkan psikosis baru atau memburuk (pikiran atau perilaku tidak biasa), terutama jika memiliki riwayat depresi, penyakit mental, atau gangguan bipolar.
  • Amfetamin menyebabkan masalah sirkulasi darah yang menyebabkan mati rasa, nyeri, atau perubahan warna pada jari tangan atau kaki.
  • Hubungi dokter segera jika memiliki gejala, termasuk tanda-tanda masalah jantung (nyeri dada, pusing, atau sesak napas), tanda-tanda psikosis (paranoia, agresi, masalah perilaku baru, melihat atau mendengar hal-hal yang tidak nyata), dan tanda-tanda masalah sirkulasi (luka tanpa sebab yang jelas pada jari tangan atau kaki).

Interaksi Amfetamin dengan Obat Lainnya

Interaksi obat dapat mengubah cara kerja obat atau meningkatkan risiko efek samping yang serius. Simpan daftar semua produk yang sedang digunakan (seperti obat resep atau nonresep dan produk herbal) dan beri tahu dokter dan apoteker. Jangan memulai, menghentikan, atau mengubah dosis obat apa pun tanpa persetujuan dari dokter.

Menggunakan obat penghambat MAO (Monoamin-Oksidase) dengan obat amfetamin dapat menyebabkan interaksi obat yang serius atau bahkan mungkin fatal. Hindari penggunaan MAO inhibitor (isocarboxazid, linezolid, methylene blue, moclobemide, phenelzine, procarbazine, rasagiline, safinamide, selegiline, tranylcypromine) selama pengobatan menggunakan obat amfetamin.

Kebanyakan obat penghambat MAO juga tidak boleh diminum selama dua minggu sebelum pengobatan dengan obat ini. Sebaiknya tanyakan kepada dokter kapan harus mulai atau berhenti minum obat ini.

Beberapa produk memiliki bahan dapat meningkatkan detak jantung atau tekanan darah. Segera beri tahu apoteker produk apa yang Anda gunakan, dan tanyakan bagaimana cara menggunakannya dengan aman, terutama obat batuk dan pilek.

Efek Samping Amfetamin

Mengonsumsi obat yang mengandung amfetamin tidak menyebabkan kantuk, namun dapat menyebabkan sejumlah efek samping lainnya yang patut diwaspadai.

1. Efek Samping yang Lebih Umum

Efek samping yang lebih umum yang dapat terjadi setelah menggunakan amfetamin meliputi:

  • Sakit kepala
  • Sakit perut
  • Kesulitan tidur
  • Nafsu makan menurun
  • Rasa tidak enak di mulut
  • Gelisah
  • Pusing
  • Disfungsi seksual
  • Muntah
  • Gatal
  • Diare atau sembelit
  • Mulut kering
  • Penurunan berat badan
  • Perubahan suasana hati

Jika efek samping ini ringan, mungkin akan hilang dalam beberapa hari atau beberapa minggu. Namun, jika efek samping lebih parah atau tidak hilang, konsultasikan dengan dokter atau apoteker.

2. Efek Samping yang Serius

Segera hubungi dokter jika memiliki efek samping yang serius, yakni gejala terasa mengancam jiwa atau jika merasa mengalami keadaan darurat medis. Efek samping yang serius dan gejalanya, termasuk:

Mengonsumsi obat yang mengandung amfetamin menyebabkan masalah jantung yang mengakibatkan kematian mendadak, termasuk stroke, serangan jantung, dan peningkatan tekanan darah. Gejalanya meliputi:

  • Kelemahan di satu bagian atau sisi tubuh.
  • Berbicara cadel.
  • Nyeri di dada, lengan kiri, rahang, atau di antara bahu.

Masalah kesehatan mental:

  • Masalah perilaku dan pikiran yang baru atau memburuk.
  • Penyakit bipolar baru atau yang memburuk.
  • Perilaku agresif yang baru atau memburuk.

Gejala psikotik baru pada anak-anak dan remaja yang memiliki masalah kejiwaan. Gejalanya termasuk:

  • Mendengar suara orang berbicara meski tidak ada yang bersuara.
  • Melihat hal-hal yang tidak nyata.
  • Mempercayai hal-hal yang tidak benar.
  • Curiga.
  • Merasa terlalu bersemangat.

Masalah sirkulasi. Gejalanya bisa meliputi:

  • Jari tangan atau kaki yang terasa mati rasa, dingin, atau nyeri.
  • Jari tangan atau kaki yang berubah warna dari pucat, biru, menjadi merah.
  • Luka tanpa sebab yang jelas di jari tangan atau kaki.

Baca Juga: Narkolepsi: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan

Dosis Amfetamin

Dosis, bentuk, dan seberapa sering meminum obat ini bergantung pada usia, kondisi medis yang sedang diderita, keparahan kondisi, kondisi medis lain yang dimiliki, dan bagaimana reaksi terhadap dosis pertama.

Berikut ini dosis obat yang mengandung amfetamin untuk beberapa masalah kesehatan:

1. Dosis untuk Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

Dosis untuk dewasa antara usia 18 tahun ke atas tidak ada dosis yang tersedia untuk rentang usia ini.

Dosis anak antara usia usia 6 sampai 17 tahun.

  • Dosis awal: 5 miligram sekali atau dua kali sehari.
  • Dosis yang ditingkatkan: Dosis meningkat setiap minggu sebesar 5 miligram sampai respons yang diinginkan terpenuhi.
  • Dosis maksimum: Hanya dalam kasus yang jarang terjadi, perlu melebihi total 40 miligram per hari.
  • Waktu dosis: Dosis pertama saat bangun dan dosis tambahan (1 hingga 2 dosis) setiap 4-6 jam.

Dosis anak antara usia 3 sampai 5 tahun.

  • Dosis awal: 2,5 miligram per hari.
  • Dosis ditingkatkan: Dosis meningkat setiap minggu sebesar 2,5 miligram sampai respons yang diinginkan terpenuhi.

Dosis tablet oral untuk anak antara usia 0 sampai 2 tahun tidak disarankan untuk anak di bawah usia 3 tahun.

2. Dosis untuk Narkolepsi

Obat yang diberikan dalam bentuk tablet oral dengan kekuatan 5 miligram dan 10 miligram untuk dosis dewasa usia 18 tahun ke atas.

  • Dosis umum: 5 hingga 60 miligram per hari berdasarkan respons tubuh.
  • Waktu dosis: Dosis pertama saat bangun tidur dan dosis tambahan (5 atau 10 miligram) setiap 4-6 jam.

Dosis obat untuk anak-anak antara usia 12 sampai 17 tahun, meliputi:

  • Dosis awal: 10 miligram per hari.
  • Dosis yang ditingkatkan: Dosis meningkat setiap minggu sebanyak 10 miligram sampai respons yang diinginkan terpenuhi.

Dosis obat untuk anak usia antara 6 sampai 12 tahun:

  • Dosis awal: 5 miligram per hari.
  • Dosis yang ditingkatkan: Dosis dapat meningkat setiap minggu sebanyak 5 miligram sampai respons yang diinginkan terpenuhi.

Dosis anak antara usia 0 sampai 5 tahun yang aman dan efektif belum ditetapkan untuk kelompok usia ini.

Cara Pakai Amfetamin

Berikut adalah beberapa cara menggunakan obat amfetamin:

  • Baca aturan pakai pada kemasan atau tanyakan kepada dokter atau apoteker.
  • Minum obat ini dengan atau tanpa makanan.
  • Harus diminum saat bangun tidur di pagi hari. Jika menggunakan obat ini di malam hari dapat menyebabkan sulit tidur.
  • Memotong atau menghancurkan tablet oral sebelum diminum.

Petunjuk Penyimpanan Amfetamin

Obat ini sebaiknya disimpan dengan baik dan jangan menaruh sembarangan karena dapat merusak atau mengurangi fungsi obat. Berikut ini beberapa petunjuk penyimpanan obat yang benar:

  • Simpan obat pada suhu kamar antara 20°C atau 25°C.
  • Jangan membekukan obat ini.
  • Jangan menyimpan obat ini di tempat panas dan terpapar sinar matahari.
  • Jangan simpan obat ini di tempat yang basah atau lembap seperti kamar mandi.
  • Jauhkan obat ini dari jangkauan anak-anak.
  • Setelah mengeluarkan tablet dari kemasan, simpanlah dalam wadah plastik yang kaku.
  • Jangan membuang obat ini sembarangan karena dapat mencemari lingkungan.

 

  1. Anonim. 2019. Amphetamine Dosage. https://www.drugs.com/dosage/amphetamine.html. (Diaskes pada 8 September 2020)
  2. Anonim. Tanpa Tahun. Amphetamine ER 1.25 Mg/Ml Oral 24 Hr Extended-Release Suspension Pressors. (Diaskes pada 8 September 2020)
  3. Tim Newman. 2017. Uses and risks of amphetamine. https://www.medicalnewstoday.com/articles/221211. (Diaskes pada 8 September 2020)
  4. University of Illinois. 2018. Amphetamine, Oral Tablet. https://www.healthline.com/health/amphetamine-oral-tablet#about. (Diaskes pada 8 September 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi