Terbit: 6 Mei 2021 | Diperbarui: 7 Mei 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Nyeri panggul adalah kondisi yang bisa terjadi pada pria dan wanita. Keadaan ini dapat dikategorikan sebagai nyeri akut atau kronis. Simak penjelasan lengkap mengenai gejala lain yang menyertai, penyebab, hingga cara mengatasinya.

Nyeri Panggul: Penyebab, Diagnosis, dan Penanganan

Apa Itu Nyeri Panggul?

Pada banyak kasus, nyeri pada bagian ini bisa menjadi tanda bahwa ada masalah pada organ reproduksi wanita. Meski begitu, nyeri dapat muncul pada pria dan dapat berasal dari penyebab lain.

Namun pada wanita, rasa sakit di area ini bisa menjadi indikasi bahwa mungkin ada masalah dengan salah satu organ reproduksi di daerah panggul (rahim, ovarium, saluran tuba, leher rahim, dan vagina). Bahkan, rasa nyeri juga bisa disebabkan oleh efek psikologis.

Perlu Anda ketahui, nyeri pada panggul juga dapat menyebabkan gejala lain, antara lain:

  • Kram menstruasi.
  • Nyeri haid.
  • Pendarahan.
  • Buang air kecil yang menyakitkan atau sulit.
  • Sembelit atau diare.
  • Kembung atau gas.
  • Darah terlihat saat buang air besar.
  • Rasa tidak nyaman saat berhubungan.
  • Demam atau kedinginan.
  • Rasa sakit di daerah pinggul.
  • Rasa tidak nyaman di area selangkangan.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Jika Anda tiba-tiba mengalami nyeri yang parah, segera dapatkan perawatan medis. Tiga kemungkinan penyebabnya adalah usus buntu, kehamilan ektopik, dan torsio ovarium, di mana ketiga hal tersebut merupakan keadaan darurat yang membutuhkan penanganan dengan segera.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Darlie - Advertisement

Jika Anda mengalami rasa sakit yang terus-menerus atau berkepanjangan, Anda harus dievaluasi oleh dokter agar dapat menerima diagnosis dan pengobatan yang tepat. Banyak penyebab nyeri pada panggul bisa menjadi serius jika tidak ditangani.

Sementara itu, kram ringan dan rasa sakit yang berhubungan dengan menstruasi adalah hal yang normal dan tidak memerlukan perhatian medis kecuali jika Anda memiliki tingkat nyeri yang tinggi (dismenore).

Penyebab Nyeri Panggul

Beberapa jenis penyakit dan kondisi dapat menyebabkan nyeri panggul. Rasa sakit panggul kronis dapat terjadi karena lebih dari satu kondisi.

Selain itu, rasa sakit di area ini juga bisa berasal dari sistem pencernaan, reproduksi, atau kemih. Beberapa nyeri panggul, terutama panggul kronis, juga dapat timbul dari otot dan jaringan ikat (ligamen) pada struktur dasar panggul. Kadang-kadang, rasa sakit mungkin disebabkan oleh iritasi saraf di panggul.

Sementara itu, ketidaknyamanan yang timbul dari sistem reproduksi wanita mungkin disebabkan oleh kondisi seperti:

  • Adenomiosis.
  • Kehamilan ektopik (atau kondisi terkait kehamilan lainnya).
  • Endometriosis.
  • Kram menstruasi.
  • Keguguran (sebelum minggu ke-20) atau kematian janin dalam kandungan.
  • Mittelschmerz (nyeri ovulasi).
  • Kanker ovarium.
  • Kista ovarium.
  • Penyakit radang panggul (PID).
  • Fibroid rahim.
  • Vulvodynia.

Sedangkan penyebab lain pada wanita atau pria, di antaranya:

  • Radang usus buntu.
  • Kanker usus besar.
  • Sembelit.
  • Penyakit Crohn.
  • Divertikulitis.
  • Fibromyalgia.
  • Hernia inguinalis.
  • Interstitial Cystitis.
  • Obstruksi usus.
  • Sindrom iritasi usus.
  • Batu ginjal.
  • Pelecehan fisik atau seksual di masa lalu.
  • Kejang otot dasar panggul.
  • Prostatitis.
  • Kolitis ulseratif.
  • Infeksi saluran kemih.

Baca Juga: Nyeri Punggung: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Pencegahan, dll

Nyeri Panggul saat Hamil Muda

Sekitar 80 persen wanita hamil mengalami nyeri di beberapa titik, sebagian besar pada trimester terakhir ketika tekanan pada daerah panggul sangat intens.

Seiring dengan pertumbuhan janin, peningkatan volume darah, dan hukum gravitasi, tekanan vagina dan panggul adalah keluhan umum bagi banyak calon ibu.

Menariknya, rasa nyeri panggul saat hamil tidak hanya terjadi pada trimester ketiga ketika rasa sakit dan perasaan berat secara umum menyerang. Beberapa wanita juga melaporkan tekanan vagina dan panggul pada trimester pertama dan kedua.

Penyebab nyeri panggul saat hamil muda sulit didiagnosis, namun yakinlah bahwa hal ini adalah sesuatu yang normal.

Penting untuk mengetahui perbedaan antara nyeri dan tekanan panggul, karena tekanan panggul menandakan dimulainya penipisan dan pelebaran serviks yaitu tanda dari dimulainya persalinan.

Tekanan di daerah panggul dan rektal terasa seperti kram (mirip dengan kram saat menstruasi) dan ketidaknyamanan pada selangkangan, serta sering kali disertai dengan rasa sakit di punggung bawah.

Diagnosis Nyeri Panggul

Guna membantu dokter mendiagnosis penyebab rasa sakit, Anda harus mencatat kapan rasa nyeri terjadi, seberapa parah keadaannya, dan hal apa yang apa yang Anda lakukan untuk meringankannya. Ini adalah cara yang sangat baik untuk melacak rasa sakit dan membantu langkah pertama proses diagnosis lebih efisien.

Riwayat Kesehatan

Saat Anda menemui dokter untuk konsultasi mengenai hal ini, bersiaplah untuk menjawab pertanyaan tentang kapan hal itu terjadi, apa yang memicunya, apa yang meredakannya, dan berapa lama Anda mengalaminya.

Selain itu, dokter mungkin menanyakan pertanyaan tentang riwayat kesehatan keluarga, apakah memiliki riwayat anggota keluarga yang menderita fibroid atau kanker.

Dokter juga akan menanyakan riwayat seksual, bisa terkait tentang jumlah pasangan seksual dan apakah Anda pernah mengalami infeksi menular seksual.

Pemeriksaan Fisik

Saat mengevaluasi rasa sakit, bagian penting dari pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan panggul, di mana dokter akan memeriksa kelainan (misalnya, nyeri tekan atau massa) dalam sistem reproduksi.

Karena rasa sakit pada area ini mungkin berhubungan dengan organ lain selain sistem reproduksi, kemungkinan besar dokter akan melakukan pemeriksaan perut dan punggung bawah untuk mengevaluasi sumber rasa sakit di usus atau ginjal.

Tes Khusus

Berdasarkan temuan dari riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik, dokter perlu melakukan lebih banyak tes untuk menemukan penyebab nyeri dengan pasti. Beberapa tes tersebut, antara lain:

  • Kolonoskopi untuk memeriksa kelainan pada usus besar.
  • Sigmoidoskopi untuk memeriksa bagian bawah usus besar.
  • Urinalisis untuk memeriksa infeksi saluran kemih dan masalah ginjal.
  • Pap smear dan swab vagina untuk skrining kanker serviks dan infeksi.

Tes Pencitraan

Bergantung pada dugaan penyebab rasa sakit, tes pencitraan mungkin dapat dilakukan. Ultrasonografi sering kali merupakan tes pencitraan pertama yang digunakan untuk mengevaluasi rasa sakit, tetapi tes lain mungkin termasuk CT scan pada perut dan panggul atau laparoskopi panggul.

Penanganan Nyeri Panggul

Pada dasarnya, perawatan bervariasi berdasarkan penyebabnya, seberapa kuat rasa sakitnya, dan seberapa sering kondisi ini terjadi. Terkadang nyeri panggul diobati dengan obat-obatan, termasuk antibiotik.

Jika rasa sakit disebabkan oleh masalah pada salah satu organ yang ada di sekitar panggul, pengobatan mungkin melibatkan pembedahan atau prosedur lain. Seorang dokter dapat memberikan informasi lebih lanjut tentang berbagai perawatan untuk mengurangi rasa sakit. Terapi fisik juga dapat membantu dalam beberapa kasus.

Selain itu, karena nyeri panggul kronis dapat membuat stres, penelitian telah menunjukkan manfaat bekerja sama dengan konselor, psikolog, atau psikiater.

 

  1. Anonim. Pelvic pain. https://www.mayoclinic.org/symptoms/pelvic-pain/basics/causes/sym-20050898. (Diakses pada 6 Mei 2021).
  2. Anonim. Pelvic Pain. https://my.clevelandclinic.org/health/symptoms/12106-pelvic-pain. (Diakses pada 6 Mei 2021).
  3. Fayed, Lisa. 2021. Causes of Pelvic Pain in Women and Men. https://www.verywellhealth.com/pelvic-pain-causes-513760. (Diakses pada 6 Mei 2021).
  4. O’Connor, Amy. 2020. Pelvic Pain During Pregnancy. https://www.whattoexpect.com/pregnancy/symptoms-and-solutions/pelvic-discomfort.aspx. (Diakses pada 6 Mei 2021).
  5. Timmons, Jessica. 2016. Why Vaginal Pressure During Pregnancy Is Totally Normal. https://www.healthline.com/health/pregnancy/vaginal-pressure. (Diakses pada 6 Mei 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi