Terbit: 17 Januari 2020 | Diperbarui: 25 Januari 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Nyeri yang terjadi di perut bagian bawah sering sekali dialami oleh banyak orang. Pria atau wanita bisa mengalaminya dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Ada yang nyerinya cukup ringan dan tidak menyebabkan banyak efek pada tubuh. Namun, ada juga yang nyerinya cukup intens dan menjadi salah satu tanda dari penyakit yang harus diwaspadai.

10 Kondisi Kesehatan yang Menyebabkan Nyeri Perut Bawah

Penyebab Nyeri Perut Bawah

Nyeri di perut bagian bawah sampai ke belakang dan mendekati tulang panggul bisa terjadi dengan intensitas berbeda-beda. Sayangnya nyeri di area itu bisa muncul karena banyak hal. Oleh karena itu kita harus tahu karakteristik nyeri dan lokasi agar bisa tahu kira-kira sedang terjadi apa pada tubuh.

  1. Gangguan Proses Pencernaan Makanan

Gangguan pencernaan makanan adalah masalah yang paling sering muncul meski tergolong ringan. Gangguan pencernaan ini bisa terjadi kalau kita makan terlalu banyak. Akibat makan terlalu banyak lambung jadi terisi banyak makanan dan pencernaan berjalan sangat lambat.

Selain masalah makan terlalu banyak dan cepat, nyeri pada perut juga bisa disebabkan oleh makanan yang berlemak dan juga pedas. Mengonsumsi terlalu banyak kafein seperti kopi dan teh juga memicu kembung. Kalau hal di atas Anda lakukan, perut akan nyeri di bagian bawah meski tidak semua orang mengalaminya.

  1. Sembelit dan Gas

Kalau Anda jarang sekali mengonsumsi makanan yang mengandung serat, kemungkinan besar akan mengalami sembelit. Hal yang sama juga akan terjadi kalau Anda jarang minum air putih sebanyak 6-8 gelas setiap harinya. Sembelit akan membuat feses tidak bisa dikeluarkan dan berhenti di usus.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Sensodyne - Advertisement

Karena feses yang menumpuk tidak bisa dikeluarkan, proses fermentasi di usus besar akan terus berjalan dan tidak bisa dihentikan. Akibat fermentasi ini gas akan terus dihasilkan dan membuat perut semakin penuh. Akhirnya perut akan kembung dan kita sering mengeluarkan gas atau kentut.

  1. Kram Otot di Sekitar Perut Bawah

Pernahkah Anda berolahraga seperti lari yang intens lalu tubuh mendadak tidak nyaman. Perut kram dan terasa sangat kaku. Hal yang sama mungkin juga akan berlaku kalau Anda baru saja melakukan latihan di perut. Sit-up, push-up, dan sejenisnya akan membuat otot di perut menjadi sangat kaku.

  1. Gastritis

Gangguan pada maag hingga infeksi bakteri yang menyebabkan gastritis akan membuat lapisan dari perut semakin lemah. Dampaknya, Anda akan sering mengalami nyeri yang sangat intens, mual, dan juga muntah. Kalau Anda mengalami gastritis, penanganan yang serius harus dilakukan agar tidak menyebabkan masalah yang lebih fatal.

  1. Nyeri PMS

Nyeri yang muncul saat PMS atau pre menstrual syndrom juga menyebabkan beberapa wanita merasa tidak tahan. Rasa nyeri ini biasanya terjadi cukup intens atau sangat sakit sehingga beberapa wanita ada yang sampai pingsan. Bahkan, ada yang tidak bisa melakukan apa-apa saat nyeri muncul. Beberapa wanita ada yang tidak merasakan nyeri intens.

Mengingat intensitas dari nyeri PMS ini berbeda-beda antara orang satu dengan yang lain, ada baiknya untuk mengenali diri sendiri. Kalau Anda merasa tidak tahan dan sering nyeri sebelum haid, periksakan diri ke dokter. Beberapa wanita ada yang diminta mengubah gaya hidup dan diberi obat nyeri.

  1. Appendicitis (Usus Buntu)

Perpanjangan dari usus besar yang sering disebut dengan susu buntu ini kerap sekali menyebabkan masalah kalau sampai inflamasi. Inflamasi yang terjadi akan menyebabkan mual, muntah, demam, dan pembengkakan di perut. Kalau infeksi tidak juga diatasi, kemungkinan besar bisa memicu masalah yang lebih serius. Pengobatan hingga operasi diperlukan untuk mengatasinya.

  1. Gangguan Ginjal

Gangguan pada ginjal juga bisa menyebabkan nyeri di bagian bawah tubuh. Nyeri ini terjadi karena ginjal mengalami infeksi yang cukup parah. Selanjutnya ginjal juga bisa memiliki batu ginjal yang sangat berbahaya. Dua hal itu memicu nyeri yang sangat intens dan harus segera ditangani agar tidak mengalami gagal ginjal.

  1. Gangguan Pergerakan Usus

Otot yang ada di susu bisa mengalami gangguan atau malah rusak. Kondisi ini menyebabkan pergerakan feses jadi mengalami gangguan. Akibatnya usus mengalami infeksi karena terus-terusan membawa kotoran. Gangguan ini akan terjadi terus-menerus dan membuat Anda jadi sulit buang air besar setiap harinya.

  1. Hernia

Hernia adalah kondisi yang menyebabkan organ yang ada di dalam tubuh, biasanya perut tertekan ke bawah atau bagian lain dan keluar dari lokasinya. Kondisi ini menyebabkan masalah yang besar baik pada pria atau wanita. Kalau usus menekan ke bawah hingga ke area kemaluan, rasa sakitnya di perut bagian bawah akan intens.

  1. Gangguan Reproduksi Wanita

Gangguan reproduksi wanita ada banyak dan hampir semuanya memiliki gejala yang sama, nyeri di perut bagian bawah. Beberapa gejala yang menyebabkan masalah ini adalah endometriosis, kista, hingga kehamilan ektopik. Rasa nyeri yang muncul biasanya dibarengi dengan beberapa tanda lain seperti perdarahan yang intens saat menstruasi.

Wanita yang mengalami masalah dengan reproduksinya disarankan untuk melakukan pengobatan. Endometriosis biasanya menyebabkan nyeri yang sangat parah dan butuh operasi atau terapi. Hal senada juga berlaku untuk kista. Kalau Anda merasa sering mengalami nyeri di perut, ada baiknya untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

Inilah beberapa ulasan tentang penyebab nyeri pada perut bagian bawah. Karena penyebab nyeri ada banyak dan intensitasnya berbeda-beda, kita disarankan untuk lebih teliti lagi dalam melihat dan merasakan apa yang terjadi. Kalau Anda tidak yakin sedang mengalami sakit apa, ada baik untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

 

Sumber:

  1. Kahn, April. 2015. What’s Causing Your Abdominal Pain and How to Treat It. https://www.healthline.com/health/abdominal-pain. (Diakses pada 17 Januari 2020)
  2. Fletcher, Jenna. 2018. What causes pain in the lower left abdomen?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/320069.php. (Diakses pada 17 Januari 2020)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi