Terbit: 13 Oktober 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Belum usai wabah virus Corona (COVID-19), kini ada lagi yang namanya norovirus. Ketahui informasi selengkapnya mengenai infeksi virus yang satu ini mulai dari ciri dan gejala, penyebab, hingga pengobatan dan pencegahannya.

Norovirus: Gejala, Penyebab, Pengobatan, Pencegahan, dll

Apa Itu Norovirus?

Norovirus adalah sejenis virus yang menyebabkan seseorang mengalami gejala mual, muntah, dan diare. Virus ini sudah ada sejak lama, namun sebagaimana dilansir dari Global Times China, puluhan mahasiswa Shanxi University of Finance and Economics yang terletak di kota Taiyuan, Tiongkok baru-baru ini dilaporkan terpapar virus yang pertama kali muncul pada tahun 1972 silam tersebut.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC), virus ini termasuk jenis virus yang sangat menular. Seseorang dapat terinfeksi virus apabila mengalami kontak langsung dengan orang lain yang sudah lebih dulu terinfeksi, atau bisa juga ketika ia mengonsumsi makanan maupun minuman yang telah terkontaminasi.

Ciri dan Gejala Norovirus

Infeksi norovirus ditandai oleh sejumlah gejala yang terdiri dari:

  • Mual
  • Muntah
  • Diare
  • Sakit kepala
  • Sakit perut
  • Perut kram
  • Demam ringan
  • Nyeri otot
  • Badan terasa tidak enak

Gejala-gejala tersebut biasanya muncul dalam kurun waktu 12 hingga 48 jam pasca terinfeksi dan akan berlangsung selama satu hingga tiga hari. Pada beberapa kasus, infeksi virus ini tidak menunjukkan tanda atau gejala yang signifikan. Namun, virus tetap dapat menular ke orang lain.

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Anda disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter apabila merasakan gejala-gejala yang mengarah pada penyakit ini. Pada beberapa orang, infeksi mungkin tidak berbahaya dan bisa sembuh dalam kurun waktu beberapa minggu ke depan. Kendati demikian, pengobatan sedini mungkin tetap perlu dilakukan agar penyakit bisa cepat sembuh sebelum menular ke orang lain.

Penanganan medis yang cepat juga diperlukan guna mencegah infeksi virus semakin berkembang dan bisa menyebabkan komplikasi yang mungkin saja membahayakan, terutama pada orang-orang dengan kondisi medis tertentu, lansia, dan anak-anak.

Penyebab Norovirus

Penyebab penyakit ini adalah infeksi norovirus. Awalnya, virus masih diberi nama Norwalk Virus, merujuk pada kota Norwalk di Connecticut, AS yang menjadi tempat di mana wabah virus tersebut pertama kali terjadi.

Virus ini menginfeksi saluran pencernaan. Itu sebabnya gejala infeksi virus terasa di area perut. Virus masuk ke dalam tubuh setelah seseorang mengalami kontak langsung dengan orang lain yang sudah lebih dulu terinfeksi. Tidak hanya itu, konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi juga dapat menyebabkan penyakit yang menurut CDC menyerang 19-21 juta warga AS setiap tahunnya ini.

Kendati virus bisa menyerang kapan saja, para ahli sepakat jika musim dingin menjadi saat-saat di mana potensi wabah menjadi lebih besar. Itulah juga yang membuat penyakit ini dijuluki “winter vomiting bug”.

Faktor Risiko Norovirus

Sejumlah faktor dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terserang infeksi virus ini. Faktor-faktor tersebut meliputi:

  • Mengonsumsi makanan dan minuman yang tidak terjamin higienitasnya.
  • Tinggal atau beraktivitas di lingkungan dengan sanitasi buruk.
  • Kontak langsung dengan penderita norovirus.
  • Memiliki imunitas tubuh yang buruk.
  • Memiliki gangguan medis tertentu.
  • Berusia lanjut.
  • Bayi dan anak-anak.
  • Riwayat operasi transplantasi organ.

Diagnosis Norovirus

Dalam mendiagnosis masalah medis yang satu ini, dokter akan melakukan 3 (tiga) tahap pemeriksaan, yaitu:

  • Anamnesis
  • Pemeriksaan fisik
  • Pemeriksaan penunjang

1. Anamnesis

Pertama-tama, dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pasien terkait dengan keluhan yang dialami. Pertanyaan meliputi:

  • Apa saja gejala yang dirasakan?
  • Sudah berapa lama gejala muncul?
  • Apakah pernah mengalami kondisi ini sebelumnya?
  • Makanan dan minuman apa saja yang dikonsumsi sehari-hari?
  • Apakah sering membeli makanan dan minuman di luar?
  • Bagaimana kondisi lingkungan tempat tinggal?
  • Apakah baru-baru ini melakukan kontak dengan orang lain dengan gejala yang mirip?

Sampaikan informasi sejelas mungkin pada dokter pada sesi anamnesis ini. Informasi yang jelas dibutuhkan oleh dokter untuk mengidentifikasi penyebab gejala yang dirasakan.

2. Pemeriksaan Fisik

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik singkat seperti mengukur berat badan dan memeriksa mata pasien. Pasien juga mungkin diminta untuk memberikan sampel urine. Ini bertujuan untuk mencari tahu apakah urine tersebut mengindikasikan pasien mengalami dehidrasi atau tidak. Caranya dengan memerhatikan warna dan volume urine.

3. Pemeriksaan Penunjang

Untuk memastikan kondisi, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang di sini yaitu uji laboratorium terhadap sampel feses pasien.

Setelah pasien menyerahkan sampel feses, dokter akan menganalisis sampel tersebut untuk mencari tahu apakah ada norovirus di dalamnya atau tidak.

Pengobatan Norovirus

Apabila hasil diagnosis menunjukkan bahwa pasien positif terinfeksi virus tersebut, dokter akan segera melakukan penanganan medis. Sebenarnya, tidak ada pengobatan khusus untuk mengatasi infeksi ini. Beberapa hal yang mungkin disarankan oleh dokter adalah:

  • Minum air putih yang banyak.
  • Istirahat yang cukup.
  • Mengonsumsi larutan oralit.

Lamanya waktu penyembuhan bergantung pada imun penderita. Semakin baik, semakin cepat pula pasien untuk sembuh dari penyakit ini.

Selama masa penyembuhan, pasien juga diminta untuk sementara waktu menghindari makanan maupun minuman yang mengandung banyak gula. Sebaliknya, pasien diminta untuk mengonsumsi makanan-makanan seperti berikut ini:

  • Sup
  • Bubur
  • Roti
  • Biskuit
  • Kentang
  • Yogurt
  • Sayuran
  • Telur
  • Buah-buahan

Komplikasi Norovirus

Apabila tidak segera ditangani, infeksi dapat berujung pada komplikasi berupa kehilangan banyak cairan alias dehidrasi. Tanda-tanda dari dehidrasi tersebut adalah sebagai berikut:

  • Mulut dan tenggorokan kering
  • Penurunan volume urine
  • Urine berwarna gelap
  • Mata cekung
  • Mudah mengantuk
  • Tubuh terasa lemas
  • Sakit kepala
  • Kepala pusing
  • Kebingungan
  • Peningkatan detak jantung

Pencegahan Norovirus

Infeksi ini dapat dicegah. Caranya adalah sebagai berikut:

  • Rajin mencuci tangan.
  • Memastikan makanan dan minuman yang hendak dikonsumsi terjamin kebersihannya.
  • Hindari kontak dengan penderita infeksi virus ini untuk sementara waktu.
  • Hindari beraktivitas di luar ruangan dan kontak dengan orang lain apabila terinfeksi virus ini untuk mencegah penularan lebih luas.

 

  1. Anonim. Norovirus Infection. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/norovirus/symptoms-causes/syc-20355296 (diakses pada 13 Oktober 2020)
  2. Anonim. Norovirus. https://www.webmd.com/food-recipes/food-poisoning/norovirus-symptoms-and-treatment (diakses pada 13 Oktober 2020)
  3. Anonim. 2020. Stomach flu outbreak overwhelms North China university’s health clinic. https://www.globaltimes.cn/content/1203135.shtml (diakses pada 13 Oktober 2020)
  4. Centers for Disease Control and PreventionNorovirus. https://www.cdc.gov/norovirus/index.html (diakses pada 13 Oktober 2020)
  5. Pietrangelo, A. 2017. Everything You Need to Know About Norovirus. https://www.healthline.com/health/norovirus#treatment (diakses pada 13 Oktober 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi