Terbit: 28 Desember 2020 | Diperbarui: 30 Desember 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Pandemi belum juga usai, kini publik dunia kembali dikejutkan dengan kabar adanya mutasi virus Corona D614G. Celakanya, beberapa sumber mengatakan jika virus ini 10 kali lebih menular ketimbang virus SARS-Cov-2 sebelumnya. Benarkah demikian? Simak informasi selengkapnya berikut ini!

Mutasi Virus Corona D614G, Ini yang Perlu Diketahui

Apa Itu Mutasi Virus Corona D614G?

D614G adalah istilah yang disematkan pada virus Corona jenis SARS-Cov-2 yang mengalami mutasi. SARS-Cov-2 yang menjadi ‘’biang keladi” dari pandemi COVID-19 ini sejatinya mengalami sejumlah mutasi. D614G sendiri merupakan satu dari 4 (empat) rangkaian mutasi virus yang mana keempatnya tersebut saling berkaitan (mutasi G, GH, GR, dan GV). Selain itu, ada juga jenis mutasi L, O, S, dan V.

Mutasi terjadi pada spike dari virus ini. Spike sendiri merupakan protein berbentuk paku yang terdapat pada permukaan “tubuh” virus Corona. Protein inilah yang berfungsi membantu virus untuk mengikat dan menginfeksi sel inang, dalam hal ini manusia. Awalnya, strain virus adalah D614 (berasal dari Wuhan, Tiongkok). Kemudian, asam amino 614 pada virus mengalami perubahan dari D (asam aspartat) menjadi G (glisin).

Kendati demikian, tingkat mutasi pada virus Corona SARS-Cov-2 masih lebih rendah ketimbang jenis virus lainnya seperti:

  • Virus influenza
  • HIV

Mutasi Virus Corona D614G Lebih Infeksius, Benarkah?

Pertama kali terdeteksi di Eropa pada Februari silam, mutasi virus Corona D614G saat ini mendominasi kasus positif COVID-19 di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Terbaru, mutasi virus ini juga terjadi di negara tetangga yakni Malaysia dan Filipina.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Cetaphil Promo - Advertisement

Lantas, apakah mutasi virus ini lebih menular dan berbahaya? Studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari University of Hong Kong—rilis pada September 2020—menyebutkan bahwasanya D614G memang memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi (high infectivity) ketimbang strain sebelumnya yang berasal dari kota Wuhan, Tiongkok.

Menteri Kesehatan Malaysia yakni Dr. Noor Hisham Abdullah dalam suatu kesempatan bahkan menyebut jika mutasi pada SARS-Cov-2 ini membuat virus tersebut jadi 10 kali lebih menular. Persentase tingkat kecepatan penularan antarmanusia pun lebih tinggi, yakni 20 persen. Celakanya lagi, virus jadi lebih “tahan lama” di dalam tubuh manusia.

Kendati memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi, para peneliti meyakini bahwa gejala COVID-19 yang ditimbulkan saat seseorang terinfeksi virus dari strain ini tidak mengalami perubahan berarti, dalam artian sama seperti gejala akibat paparan virus SARS-Cov-2 strain sebelumnya. Gejala-gejala yang muncul utamanya masih berupa:

  • Batuk
  • Demam tinggi
  • Hidung tersumbat
  • Sakit tenggorokan
  • Tidak bisa mencium bau

Implikasi Mutasi Virus Corona D614G

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, ada sejumlah implikasi yang harus diperhatikan terkait dengan mutasi virus Corona D614G ini. Implikasi yang dimaksud tersebut adalah sebagai berikut:

  • Kemampuan menyebar lebih cepat pada manusia. Sudah ada bukti bahwa mutasi D614G memiliki kemampuan infeksi yang lebih tinggi. Berdasarkan uji laboratorium, varian G614 berkembang biak lebih cepat di sel epitel pernapasan manusia, mengalahkan virus D614 yang bersaing. Ada juga bukti bahwa varian G614 menyebar lebih cepat daripada virus tanpa mutasi.
  • Kemampuan untuk menyebabkan penyakit yang lebih ringan atau lebih parah pada manusia. Ada anggapan jika virus Corona yang sudah mengalami mutasi dapat menimbulkan gejala yang lebih ringan atau bahkan lebih parah. Namun, hal ini masih memiliki bukti ilmiah yang kurang. Perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasinya.
  • Kemampuan untuk menghindari deteksi dengan tes diagnostik tertentu. Kebanyakan tes reaksi berantai polimerase (PCR) komersial memiliki beberapa target untuk mendeteksi virus, sehingga bahkan jika mutasi memengaruhi salah satu target, target PCR lainnya akan tetap berfungsi.
  • Kerentanan yang menurun terhadap agen terapeutik seperti antibodi monoklonal.
  • Kemampuan untuk menghindari peningkatan imunitas hasil vaksinasi. Vaksin resmi FDA bersifat “poliklonal”, menghasilkan antibodi yang menargetkan beberapa bagian protein. Virus kemungkinan perlu mengakumulasi banyak mutasi pada protein untuk menghindari kekebalan yang dihasilkan oleh vaksin atau oleh infeksi alami.

Dari implikasi-implikasi tersebut, implikasi yang terakhir kemungkinan akan menjadi yang paling mengkhawatirkan karena begitu sebagian besar populasi manusia sudah melakukan vaksinasi, akan ada tekanan kekebalan yang justru dapat mendukung dan mempercepat munculnya varian virus ini. Kendati demikian, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan guna memastikan kebenarannya.

Cara Mencegah Penularan Mutasi Virus Corona D614G

Kabar baiknya, virus ini lebih mudah untuk teratasi. Ya, berdasarkan sejumlah uji laboratorium, para peneliti mengklaim jika virus mutasi ini memiliki ‘kelemahan’. Dikatakan bahwasanya salah satu tutup spike virus Corona tersebut justru mempermudah antibodi dan vaksin untuk menonaktifkannya.

Walaupun demikian, mencegah diri Anda dari terpapar COVID-19, khususnya oleh strain ini mengingat tingkat penularannya yang lebih mudah dan cepat. Apa saja yang bisa Anda lakukan sebagai cara mencegah penularan mutasi virus Corona ini? Pada dasarnya, langkah-langkah pencegahan terhadap infeksi virus tersebut masih sama, yaitu:

  • Memakai masker saat beraktivitas di tempat umum (gunakan masker bedah atau N95. Jangan gunakan masker kain atau scuba karena tingkat proteksinya sangat rendah).
  • Menjaga jarak (physical distancing) minimal 1 meter dengan orang lain.
  • Rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau bisa juga menggunakan hand sanitizer.
  • Hindari kerumunan. Jika tidak ada kebutuhan mendesak, sebaiknya tetap di rumah.
  • Minum vitamin untuk meningkatkan kekebalan tubuh.
  • Minum air putih yang banyak.
  • Makan makanan yang bergizi.

Itu dia informasi mengenai mutasi virus Corona D614G yang perlu Anda ketahui. Jaga selalu kesehatan diri dan keluarga. Jika merasakan gejala-gejala yang mengarah COVID-19, segera lakukan uji antigen atau PCR di fasilitas kesehatan terdekat.

 

  1. Anonim. 2020. Common SARS-CoV-2 mutation may make COVID-19 more susceptible to a vaccine. https://www.sciencedaily.com/releases/2020/11/201112144040.htm (accessed on 28 December 2020)
  2. Anonim. 2020. Implications of the Emerging SARS-CoV-2 Variant VOC 202012/01. https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/more/scientific-brief-emerging-variant.html (accessed on 28 December 2020)
  3. Anonim. 2020. Newer variant of COVID-19-causing virus dominates global infections. https://www.sciencedaily.com/releases/2020/07/200702144054.htm (accessed on 28 December 2020)
  4. Anonim. 2020. Coronavirus: as infectious strain D614G spreads in Malaysia and Philippines, should we be worried? https://www.scmp.com/week-asia/explained/article/3097777/coronavirus-infectious-strain-d614g-spreads-malaysia-and (accessed on 28 December 2020)
  5. Hou, Y et al. 2020. SARS-CoV-2 D614G variant exhibits efficient replication ex vivo and transmission in vivo. https://science.sciencemag.org/content/370/6523/1464 (accessed on 28 December 2020)
  6. Plante, J. A et al. 2020. Spike mutation D614G alters SARS-CoV-2 fitness. https://www.nature.com/articles/s41586-020-2895-3 (accessed on 28 December 2020)
  7. Thomas, L. 2020. D614G mutation now the dominant variant in the global COVID-19 pandemic. https://www.news-medical.net/news/20200925/D614G-mutation-now-the-dominant-variant-in-the-global-COVID-19-pandemic.aspx (accessed on 28 December 2020)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi