Morning Sickness Terkait dengan Autisme pada Anak

hamil-morning-sickness-doktersehat
Photo Source: Flickr/koadmunkee

DokterSehat.Com– Morning sickness adalah kondisi yang membuat ibu hamil mengalami gejala tidak nyaman di pagi hari seperti mual-mual dan muntah. Banyak orang yang menganggap hal ini sebagai sesuatu yang wajar, namun ibu hamil bisa saja sampai tidak bisa mengonsumsi makanan. Padahal, mereka membutuhkan nutrisi demi memastikan bahwa janin bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.

Kaitan antara Morning Sickness dengan Autisme

Pakar kesehatan menyebut ibu hamil yang mengalami morning sickness ternyata memiliki peluang lebih besar untuk memiliki anak dengan kondisi autisme. Risiko ini lebih besar 53 persen.

Sebagai informasi, morning sickness terjadi pada lima persen ibu hamil. Mereka yang mengalami kondisi ini bisa mengalami sensasi mual dengan intens dan memuntahkan hampir semua makanan atau minuman yang mereka konsumsi. Hal ini bisa berimbas pada masalah dehidrasi yang bisa membahayakan baik itu bagi ibu ataupun bagi sang bayi. Selain itu, hal ini juga bisa membuat bayi mengalami gangguan asupan nutrisi.

“Hasil penelitian yang kami lakukan menghasilkan fakta yang cukup penting karena anak yang terlahir dari ibu dengan kondisi morning sickness memiliki risiko lebih besar terkena autisme,” ucap Darios Getahun, salah satu peneliti dari Kaiser Permenente Southern California Department of Research and Evaluation.

“Hasil penelitian kami juga menunjukkan bahwa ada peluang untuk melakukan diagnosis lebih awal atau melakukan intervensi pada anak dengan risiko autisme yang lebih besar,” lanjutnya.

Penelitian yang dipublikasan hasilnya dalam American Journal of Perinatology ini melibatkan 500 ribu ibu hamil dan anak-anak yang lahir di tahun 1991 hingga 2014 di negara bagian California, Amerika Serikat. Mereka mengecek kondisi anak yang terlahir dari ibu dengan masalah morning sickness dan yang tidak mengalaminya. Hasilnya adalah, lebih banyak anak dengan masalah autisme pada ibu yang mengalaminya.

Pakar kesehatan menyebut morning sickness yang bisa memberikan dampak buruk ini berlangsung pada trimester pertama dan kedua. Hanya saja, jika hal ini terjadi di fase trimester terakhir kehamilan, dampaknya tidak begitu besar.

Mengatasi Morning Sickness

Mengingat morning sickness bisa menyebabkan dampak buruk bagi kesehatan dan membuat risiko gangguan asupan nutrisi pada janin meningkat, pakar kesehatan menyarankan ibu hamil untuk lebih cermat dalam mengatasinya.

Berikut adalah cara-cara untuk mengatasi morning sickness tersebut.

  1. Menghirup Aroma yang Segar

Indera penciuman ibu hamil cenderung jauh lebih sensitif dari biasanya. Aroma yang menyengat sedikit saja bisa memicu mual-mual. Jika sampai mengalaminya, sebaiknya menghirup aroma yang segar seperti aroma lemon atau aroma daun rosemary demi mengatasinya.

  1. Minum Air

Morning sickness bisa menyebabkan dehidrasi yang cukup parah, apalagi jika muntah-muntah selalu terjadi usai makan dan minum. Pastikan untuk memperbanyak asupan air putih demi mencegah dehidrasi yang bisa membahayakan ibu hamil dan kandungannya.

  1. Cermat Memilih Makanan

Jika perlu, carilah informasi terkait makanan yang bisa mencegah datangnya mual-mual atau yang bisa membuat perut menjadi lebih nyaman. Berkonsultasi ke dokter terkait dengan hal ini juga bisa dilakukan.

Selain itu, pakar kesehatan menyarankan ibu hamil untuk mengonsumsi makanan dengan porsi lebih sedikit namun dengan frekuensi lebih banyak dan mengonsumsi camilan seperti biskuit atau roti.

  1. Jahe

Konsumsi minuman jahe hangat bisa menenangkan perut dan membuat sensasi mual mereda.

  1. Beristirahat

Jika sensasi mual tidak tertahankan, tak ada salahnya untuk memilih untuk beristirahat atau tidur demi mengatasinya. Ibu hamil juga bisa melakukan latihan pernapasan atau meditasi untuk meredakan sensasi mual tersebut.

 

Sumber:

  1. Getahun, Darios. 2019. Severe morning sickness linked with higher risk of autism. kaiserpermanente.org/our-story/health-research/news/severe-morning-sickness-linked-with-higher-risk-of-autism. (Diakses pada 9 Oktober 2019).