Terbit: 16 November 2020 | Diperbarui: 17 November 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Ada berbagai mitos melahirkan, dari yang ringan hingga yang membuat khawatir. Biasanya setiap wanita hamil akan diberi tahu banyak cerita seputar persalinan. Meskipun beberapa di antaranya berguna, terdapat cerita lain yang perlu diuji kebenarannya. Simak penjelasan lengkap mengenai mitos setelah melahirkan.

13 Mitos Melahirkan yang Harus Dipahami oleh Bumil

Berbagai Mitos Melahirkan yang Harus Anda Pahami

Perlu Anda pahami bahwa tidak semua mitos diciptakan sama, beberapa cerita bisa menyesatkan akan tetapi ada juga cerita yang bertujuan untuk menghindari Anda dari masalah kesehatan. Berikut adalah berbagai mitos seputar kehamilan yang sebaiknya tidak Anda percaya, antara lain:

1. Operasi Caesar Lebih Mudah Dilakukan

Meskipun operasi caesar mungkin memiliki beberapa keuntungan bagi beberapa orang, prosedur ini bukanlah sesuatu yang ‘mudah’ untuk dilakukan. Tidak ada yang mudah dalam menjalani operasi perut besar. Lebih penting lagi, ibu yang melahirkan dengan prosedur ini tidak membuatnya menjadi lebih rendah dari wanita yang melahirkan secara normal.

2. Dokter Lebih Senang Melakukan Operasi Caesar

Pertimbangan untuk melakukan operasi caesar bukan berdasarkan keinginan pribadi dokter. Pertimbangan utamanya adalah kondisi kesehatan ibu dan janin. Beberapa dokter menyeimbangkan keahlian dan kondisi medis pasien. Pada umumnya dokter akan menghormati otonomi ibu hamil dalam memilih jenis persalinan.

3. Persalinan Menyebabkan Trauma

Mitos setelah melahirkan lainnya yang cukup umum beredar di masyarakat adalah persalinan selalu menimbulkan trauma. Meski persalinan bisa menyakitkan tidak berarti bahwa rasa sakit itu secara inheren bersifat traumatis. Selain itu, tidak berarti bahwa setiap orang harus dipaksa melalui rasa sakit saat melahirkan.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku PTH - Advertisement

Ketika seorang wanita bisa mengatasi rasa sakit saat persalinan, rasa sakit biasanya tidak membuatnya terlalu traumatis. Terkadang, pengalaman melahirkan itu sendiri bahkan bisa memberdayakan.

4. Hanya Ada Satu Cara Melahirkan yang Benar

Di rumah atau di rumah sakit? Dengan bidan atau dokter? Kelahiran vagina atau operasi caesar? Epidural atau tanpa obat? Water birth atau tidak? Doula atau tanpa doula? Induksi atau persalinan spontan? Pilihan tersebut adalah berbagai metode yang bisa Anda pilih. 

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa beberapa opsi di atas relatif lebih aman. Beberapa orang dengan cepat menunjukkan bahwa metode persalinan yang mereka sukai jauh lebih unggul daripada metode lainnya.

Meski begitu, klaim penelitian tersebut dan pendapat orang lain tidak memberikan gambaran lengkap tentang ‘cara yang benar untuk melahirkan’.

5. Air Ketuban Pecah secara Dramatis

Sebagian besar orang akan mengira bahwa pecah ketuban terjadi secara tiba-tiba. Padahal, pada sebagian besar kasus air ketuban tidak akan pecah dengan sendirinya, karena dokterlah yang memecahnya dengan alat khusus.

Hanya sekitar 10 persen wanita yang mengalami pecah ketuban secara spontan. Jika Anda menduga mengalami pecah ketuban, perawatan di rumah sakit harus segera dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi.

6. Bius Epidural Meningkatkan Peluang Operasi Caesar

Para peneliti menemukan bahwa tidak ada peningkatan risiko operasi caesar ketika ibu hamil mengalami epidural dibandingkan dengan wanita yang diberi pereda nyeri analgesik. Meski prosedur ini dapat memperlambat second stage of labor (bagian yang mendorong), hal itu tidak memperlambat perkembangan persalinan.

7. Bentuk Pinggul Memudahkan Persalinan

Ukuran pinggul tidak menentukan seberapa mudah atau sulit proses persalinan. Panggul wanita bukanlah tulang yang kokoh karena terdiri dari ligamen dan beberapa tulang yang dirancang untuk bergerak dan kendur saat melahirkan.

Tulang tengkorak bayi juga belum menyatu, sehingga memungkinkannya masuk dan bergerak melalui jalan lahir.

Baca Juga: Pijat Setelah Melahirkan: 10 Manfaat dan Panduan Melakukannya

8. Munculnya Gumpalan Lendir Tanda akan Bersalin

Saat Anda melihat mucus plug atau gumpalan lendir, hal itu bisa menjadi tanda bahwa mulut rahim mulai menipis dan mengalami sedikit pembukaan. Sedikit pembukaan pada mulut rahim dan keluarnya lendir ini tidak menandakan bahwa persalinan segera terjadi.

Meski keadaan ini dapat menjadi patokan bahwa persalinan sudah dekat, namun Anda tidak perlu terburu-buru untuk mendapatkan penanganan. Keadaan ini bisa terjadi beberapa hari hingga beberapa minggu sebelum persalinan yang sebenarnya.

9. Konsumsi Minyak Jarak, Makanan Pedas, atau Berkendara dapat Mempercepat Persalinan

Tidak ada bukti kuat bahwa beberapa hal tersebut membuat janin keluar lebih cepat. Justru, berbagai hal itu bisa membuat Anda diare, mulas, atau bokong terasa sakit. Janin akan siap keluar saat waktunya tiba.

10. Jika Anda Hamil dengan Anak Kembar, Anda Harus Melakukan Operasi Caesar

Jika bayi pertama yang dilahirkan dalam posisi sungsang, tidak aman untuk melahirkan melalui per vaginam (keluar lewat vagina). Akan tetapi jika janin pertama yang keluar kepala terlebih dahulu, maka persalinan selanjutnya kemungkinan akan melahirkan normal.

11. Janin yang Kecil Memudahkan Persalinan

Ini adalah mitos melahirkan yang umum beredar di masyarakat. Padahal ukuran janin tidak membuat proses persalinan berkurang atau berlebih rasa sakitnya. Beberapa wanita merasa bahwa berjongkok atau posisi tubuh merangkak jauh lebih nyaman daripada berbaring. Posisi janin saat bergerak melalui jalan lahir lah yang dapat memengaruhi mudah tidaknya proses persalinan.

12. Tidak Boleh Mengonsumsi  Air Putih selama Masa Nifas

Mitos setelah melahirkan ini sebaiknya Anda hindari terutama jika ibu sedang menyusui. Ginjal akan memproduksi lebih banyak urine dalam beberapa minggu pertama setelah bayi lahir untuk menghilangkan kelebihan cairan yang menumpuk selama kehamilan.

13. Rutin Mengonsumsi Hati dan Daging

Masa nifas adalah adalah masa di mana tubuh wanita mengalami perubahan dari masa kehamilan ke keadaan sebelum hamil. Ini juga merupakan masa ketika kebutuhan nutrisi tubuh tinggi karena kehilangan darah dari persalinan dan menyusui.

Beberapa orang meyakini bahwa kehamilan telah ‘mendinginkan’ tubuh seorang ibu hamil, sehingga Anda membutuhkan makanan makanan ‘panas’ seperti daging.

Apa pun keyakinan Anda, penting untuk melakukan diet yang seimbang daripada hanya mengonsumsi jenis makanan tertentu untuk mengisi kembali nutrisi tubuh yang hilang, khususnya jika terjadi selama menyusui. Jika perlu, suplemen zat besi atau vitamin dapat dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pascamelahirkan.

Nah, itulah berbagai mitos melahirkan yang harus dipahami oleh ibu hamil.

 

  1. Anonim. Common myths about giving birth. https://www.pregnancybirthbaby.org.au/common-myths-about-giving-birth (Diakses pada 16 November 2020).
  2. Anonim. Confinement After Pregnancy: 12 Myths and Facts. https://www.healthxchange.sg/women/post-pregnancy/confinement-after-pregnancy-myths-facts (Diakses pada 16 November 2020).
  3. Oganowski, Kristen. 2015. 8 Birthing Myths We Need to Forget. https://mom.com/pregnancy/18750-lets-erase-these-8-childbirth-myths (Diakses pada 16 November 2020).
  4. Zuidam, TJoanne Van. Top 10 Myths About Labor and Delivery. https://www.thebump.com/a/labor-myths (Diakses pada 16 November 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi