Terbit: 9 Mei 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Mitos terkait dengan seks dan masturbasi banyak bermunculan di luar sana. Kalau kita tidak jeli dalam memilah mana yang benar dan mana yang salah, bisa saja kita langsung percaya.

3 Mitos Masturbasi yang Aneh dan Masih Banyak Dipercaya

Akhirnya, kita dapat dengan mudah menyebarkan berita bohong atau mitos. Tentu kita harus mengetahui faktanya agar bisa menghilangkan mitos.

Ini dia beberapa mitos masturbasi yang sangat salah dan dipercaya banyak orang:

1. Bisa sebabkan botak

Ada banyak teori yang menjadi cikal-bakal mitos masturbasi bisa menyebabkan rambut rontok dan kebotakan. Salah satu teori yang masih hidup adalah masalah protein yang dikeluarkan.

Saat mengalami ejakulasi, seorang pria akan mengeluarkan cukup banyak protein di dalam air mani. Kalau cairan ini terus keluar, maka kadar protein di tubuh bisa turun.

Banyaknya protein yang keluar ini dianggap bertanggung jawab dengan kerontokan. Faktanya, kerontokan bisa terjadi karena faktor gen dan kesehatan kulit kepala. Keluarnya banyak protein tidak berpengaruh apa-apa.

2. Membuat pria jadi impotensi

Ada banyak faktor yang menyebabkan pria mengalami impotensi. Salah satu faktornya adalah kegemukan, sehingga testosteron dalam tubuh pun turun.

Melakukan masturbasi sesekali tidak akan menyebabkan impotensi. Gangguan ereksi ini bisa saja terjadi kalau pria kecanduan video pornografi dan selalu masturbasi berlebihan setiap hari.

3. Gangguan Penglihatan

Saat mengalami ejakulasi, pandangan pria akan mengalami gangguan beberapa saat. Kondisi ini akan normal lagi setelah beberapa menit. Meski rutin melakukan masturbasi, pria tidak akan mengalami buta.

Hal yang berbahaya dari masturbasi adalah kecanduan. Kalau pria sudah kecanduan masturbasi, mereka bisa mengalami stres, cemas, dan penurunan produktivitas kerja.

Itulah tiga mitos tentang masturbasi yang sudah sepantasnya tidak kita percayai. Semoga bisa menambah pengetahuan Anda.


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi