7 Mitos Lemak dan Kolesterol yang Banyak Dipercaya tapi Menyesatkan

mitos-lemak-dan-kolesterol-doktersehat
photo cedit: pexels

DokterSehat.Com – Begitu mendengar kata kolesterol dan lemak, apa yang langsung Anda pikirkan? Sebagian besar dari kita akan langsung berpikir tentang penyakit dan hal tidak sehat lainnya. Lemak bisa memicu obesitas, sedangkan kolesterol bisa memicu stroke.

Apakah dua komponen yang ada pada makanan itu memang hanya memberikan keburukan saja? Jawabannya adalah tidak. Banyak sekali mitos kolesterol dan lemak yang menyesatkan dan salah kaprah.

Mitos lemak dan kolesterol yang salah

Selama ini kita sering mempercayai banyak sekali mitos tentang lemak dan kolesterol. Nah, dari beberapa mitos yang beredar, beberapa hal di bawah inilah yang sering menyesatkan.

  1. Makanan berkolesterol tinggi buruk untuk kesehatan

Selama ini kita selalu menganggap kalau makanan dengan tinggi kolesterol seperti telur, buruk sekali untuk kesehatan tubuh. Telur mengandung kolesterol tinggi sehingga dianggap berbahaya kalau dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Sebenarnya telur merupakan bahan makanan paling sehat di dunia. Nutrisi yang dikandungnya lengkap. Selain itu, kolesterol yang terkandung di dalam telur tidak meningkatkan LDL, tapi HDL yang merupakan kolesterol baik di dalam tubuh.

Mengonsumsi telur dengan takaran yang benar bisa menjaga pembuluh darah. Saat plak muncul akibat LDL tinggi, HDL akan mengikisnya sehingga kemungkinan terjadi masalah jantung dan stroke akan rendah.

  1. LDL selalu memicu serangan jantung

Masalah kolesterol ini memang sangat kompleks dan tidak bisa hanya berfokus pada satu jenis saja. LDL memang dikenal sebagai penyebab utama gangguan pada jantung. Namun, gangguan tidak semudah itu muncul akibat LDL.

Dari beberapa penelitian yang dilakukan, diketahui kalau separuh pasien gangguan jantung justru memiliki LDL yang rendah. Jadi, kita harus melakukan pengamatan menyeluruh agar tidak kecolongan dan kondisi tubuh jadi memburuk.

  1. Minyak dari sayur dan biji sangat sehat

Salah satu kesalahan terbesar yang sering sekali kita lakukan dalam konsumsi lemak adalah menganggap minyak sayur dan biji-bijian sehat. Bahkan minyak ini dianggap sebagai salah satu pencegah gangguan jantung yang muncul pada tubuh.

Minyak dari sayur dan biji-bijian ternyata mengandung banyak sekali omega-6 dan minyak jenuh yang berpotensi menyebabkan inflamasi di tubuh. Dengan kondisi ini, jantung tidak akan terlindungi, bahkan kemungkinan mengalami gangguan jantung akan besar.

Kalau Anda tetap ingin menggunakan minyak jenis ini, sebisa mungkin membuat batasan. Misal dalam satu hari hanya menggunakan 2-3 sendok makan saja.

  1. Lemak jenuh sumber gangguan jantung

Lemak jenuh yang dikonsumsi dengan jumlah benar dan terbatas ternyata tidak menyebabkan gangguan pada jantung. Lemak ini meningkatkan LDL tapi tidak terlalu signifikan. Selain itu HDL yang menjaga kesehatan jantung juga ikut naik saat lemak masuk ke dalam tubuh.

Namun, propaganda lemak tidak sehat tetap saja dipercaya oleh banyak orang. Yang paling penting dari mengonsumsi lemak adalah membatasi jumlah dan tidak berlebihan. Dengan melakukan itu, peluang memunculkan masalah akan rendah.

  1. Makan berlemak memicu obesitas

Selama ini kita selalu percaya kalau mengonsumsi banyak lemak akan membuat kita gemuk. Padahal lemak adalah salah satu dari trio makro nutrien yang sangat dibutuhkan oleh tubuh karena menghasilkan energi yang besar.

Jadi, jangan takut kalau ingin mengonsumsi lemak. Makan saja dengan takaran yang tepat dan jenis yang benar. Tubuh akan mendapatkan energi besar sehingga produktivitas Anda meningkat.

  1. Margarin lebih baik daripada mentega

Margarin tidak lebih baik dari mentega. Bahan ini terbuat dari minyak sayur dan lemak trans yang dikenal buruk untuk kesehatan.

Mentega terbuat dari lemak sapi. Bahan ini justru baik untuk kesehatan karena bisa menjaga kesehatan dari jantung. Asal dikonsumsi dengan jumlah terbatas dan margarin terbuat dari susu sapi yang makan rumput, peluang terjadi masalah jantung akan rendah.

  1. Makanan berjenis low-fat sangat baik untuk kesehatan

Selama ini kita sering sekali mendengar diet rendah lemak. Kalau mengonsumsi sedikit lemak, kemungkinan terjadi gemuk akan rendah. Sebaliknya, diet tinggi karbohidrat tidak akan menjadi masalah karena nutrisi ini sangat dibutuhkan untuk sumber energi.

Faktanya tidak ada bukti yang menunjukkan diet rendah lemak sangat baik untuk kesehatan. Bahkan kekurangan lemak bisa memicu kondisi lemas pada tubuh karena lemak juga sumber energi.

Selain itu, beberapa jenis makanan di luaran sana dengan label low-fat banyak yang memiliki kandungan gula yang tinggi. Gula atau karbohidrat bisa memicu obesitas dan diabetes.

Cara mengonsumsi lemak dan kolesterol yang benar

Lemak dan kolesterol memiliki manfaat untuk tubuh asalkan Anda melakukan beberapa hal di bawah ini.

  • Mengonsumsi dengan ukuran yang tidak terlalu banyak. Misal kalau ingin mengonsumsi telur rebus atau goreng, batasi 2-3 butir saja per hari.
  • Kalau ingin mengonsumsi makanan dengan kandungan lemak, batasi juga jumlahnya. Kebutuhan lemak harian setiap orang sekitar 15-20 persen dari total kalori harian.
  • Pilih jenis lemak yang baik untuk tubuh. Lemak tidak jenuh adalah yang terbaik atau yang berasal dari buah seperti alpukat. Lemak dari ikan laut seperti salmon atau tuna.
  • Imbangi lemak atau kolesterol dengan sayur dan buah. Jangan terlalu banyak karbohidrat kalau mengonsumsi sesuatu yang berlemak karena bisa memicu sembelit.
  • Kalau Anda terbiasa mengonsumsi makanan dengan kadar lemak tinggi dan kolesterol imbangi juga dengan olahraga. Mengapa olahraga? Karena tubuh tidak akan memiliki endapan kolesterol dan lemak karena terpakai saat melakukan olah tubuh.

Lemak dan kolesterol tidak selamanya buruk untuk kesehatan. Selama kita tahu ukuran yang tepat, gangguan tidak akan terjadi pada tubuh. Nah, kira-kira mitos apa saja yang sering Anda percayai selama ini?